Meskipun internet sudah lama ada, terus terang saya baru mengenalnya tahun 1998. Itupun baru mengintip apakabarnya Pak John dan indopubs saja sebagai surat kabar alternatif. Baru kemudian saya berhubungan dengan teman2 melalui internet.

http://www.iht.com/articles/2007/06/27/business/ptend27.php


Karena ajakan teman, saya menulis blog di Multiply.
Teman yang mengajak tadi yaitu yang bekerja di sebuah
perusahaan multinasional sekarang jarang saya temui
tulisannya karena setelah pindah ke Indonesia begitu
sibuk; setelah pulang kerja langsung kuliah MBA di
Prasetya Mulya. Tulisan isterinya juga tidak nongol
lagi karena selain praktek dokter gigi dia juga
mengelola sebuah cafe di BSD.

Sebagai seorang PNS, dapat dimaklumi kalau mulanya
saya takut2 malu2 mengungkapkan opini saya di
apakabar. Perlu diketahui, bahwa di instansi tempat
saya bekerja nama apakabar identik dengan seorang
pegawai yang tidak punya kerja yang tulisannya di
apakabar membikin banyak kuping menjadi merah.

Apakabar bagaikan satu titik saja dari taman bermain
di alam maya. Memang manusia pada hakekatnya ingin
bermain bersama dan keinginan itulah pemicu kuat
suburnya ribuan komunitas online didunia. Sebagian
besar gratis, namun ada yang pakai membayar sedikit.

Untuk apakabar, saya berterima kasih pada Pak John
(John MacDougall) dan penerusnya Elceem.

Sungguh membikin ketawa akhir2 ini apakabar penuh
argumen tentang agama. Para pencipta internet tidak
pernah mengedepankan apa agama mereka. Sergey Brin
CEO Google yang menawarkan jasanya gratis (aneh, tapi
menguntungkan) tanya sendirilah apa ras dan agama dia
mungkin dia tidak pernah peduli. Coba juga gugel
siapa CEO Yahoo yang baru. Mereka mungkin tidak pernah
terlintas mempersoalkan agama mana yang paling unggul.

Kalau mereka orang berTuhan, mungkin mereka yakin
bahwa Tuhan tidak perlu diorganisir, diatur oleh
manusia, apalagi dibatasi oleh manusia. Sungguh aneh,
bukan?

Sekalipun visi dan misi taman bermain apakabar sudah
jelas, namun lucunya seperti play group dan TK di
Indonesia, ada saja anak kecil yang suka menjadi
'bully boy'. Anak kecil ini yang merasa banyak
temannya, suka mempecundangi siapapun yang bukan
golongannya sampai mereka jera dengan harapan mereka
yang bukan golongannya keluar sekolah. Sepengetahuan
saya, gejala 'bullying' ini hanya ada di milis
Indonesia saja.

Salam,
RM