Monday, June 25, 2007   Saya paling takut kepada –maaf– banci. Saya yang pada masa kecil berada di Surabaya sudah biasa melihat dan menonton kesenian lokal yang bernama Ludruk, tetap saja bulu kuduk saya berdiri kalau ada –sekali lagi mohon maaf– banci. Saya tahu orang yang berperan di dalam Ludruk itu rupanya cantik dan lemah gemulai, tetapi saya juga tahu mereka itu laki-laki. Jadi saya selalu membayangkan kalau di bawah baju kebayanya yang feminine itu ada otot kawat balung wesi (otot dari kawat dan tulang dari besi). Ini adalah ungkapan dan cara berbahasa orang Jawa dalam menggambarkan kekuatan yang macho dari orang seperti Ade Rai, misalnya untuk tokoh Raden Gatutkoco.

Sejak masa saya masih sebagai anak kecil, orang yang mempunyai perilaku seksual yang “tidak biasa” akan diusik orang banyak. Masyarakat biasa maupun kalangan agama setidaknya paling sedikit memusuhi kaum ini. Kaum ini adalah kaum yang disebut melakukan kehidupan sosial dan seksualnya dengan mereka yang sejenis.

Laki-laki dengan laki-laki lain dan perempuan dengan perempuan lain. Di Indonesia saya tidak mengetahui aktivitas sehari-hari yang umum mengenalnya sebagai banci – kali ini saya tidak minta maaf lagi. Kalau saya minta maaf sekali lagi maka saya akan menjadi obsolete, kunoooooo …

Paling-paling yang kita ketahui adalah mereka yang datang ke rumah orang di kampung-kampung atau di kota dari pintu ke pintu, ngamen atau menyanyi sedikit genit bergoyang-goyang dan diakhiri dengan minta uang. Tetapi mengenai kehidupan pribadinya kita, atau paling tidak saya, tidak mengetahui apa-apa sama sekali.

Bulu kuduk saya sering berdiri kalau melihat yang cantik dan lemah gemulai, tetapi amat perkasa bentuk tubuhnya. Untuk saya ini pemandangan yang mengerikan.

Karenanya saya, dulu sewaktu saya bertahun-tahun tinggal di sana dan kemudian kalau sedang mengunjungi Jepang, tidak pernah mau pergi dan menyaksikan pertunjukan Kabuki, seni budaya Jepang yang dianggap tinggi, semua pemainnya laki-laki. Demikian juga nasib segala pertunjukan yang menunjukkan perilaku banci seperti itu, tidak saya datangi.

Tahun 1970 di Bugis Street di Singapura adalah tempat para banci keluar pada pukul 12:00 tengah malam. Bertempat di tempat-makan, restoran terbuka di daerah Bugis Street ini, bus-bus berisi turis-turis yang ratusan jumlahnya akan memenuhi restoran-restoran tersebut. Saya pun dua tiga kali berada di situ.

Tetapi kalau para “ladies’ yang aduhai itu keluar saya sendiri jarang melihatnya langsung, karena “penyakit” saya itu. Bulu kuduk berdiri atau merinding!!

Mungkin ada kejadian awal mengapa saya takut banci. Sekitar tahun 1951 an ada keponakan ayah saya yang tinggal di rumah ayah saya. Suatu petang hari saya dibawa ikut naik mobil Fiat kodok 1950 yang atapnya terbuka. Dia melewati daerah dimana banyak banci dan mulai menggoda, caranya pura-pura mau ngomong, padahal kalau bancinya sudah mendekat, dia cuma berteriak: “Een kwartje !! ini bahasa belanda (Dua puluhlima sen!!)” dan tancap gas. Rupanya para banci ini sudah sering digoda cara begitu, maka melayanglah sebuah batu kecil dan kena kepala saya. Tidak ada luka, akan tetapi hati saya luka, karena takut!!

Dan itu berlangsung rupanya sampai lama. Sampai saya sudah berumur.

Pada tanggal 22 Juni pukul 21.00 lewat malam hari saya bersama istri, berdua saja keluar dari rumah, menuju jalan Church dan sekitarnya, karena ada berita rencana berkumpulnya kaum gay dan lesbian yang di’raya’kan selama tiga hari lebih, setiap malam sampai pagi hari. Mereka ini mengadakan pada setiap tahun acara seperti ini, bukan bagi hanya orang Toronto saja, tetapi juga mereka yang berasal dari seluruh Ontario dan Kanada.

Para Gay dan Lesbian berkumpul di Toronto juga bersifat international karena amat banyak yang datang dari Amerika Serikat, khusus untuk acara seperti ini. Acara seperti ini disebut sebagai Gay Pride.

Meskipun saya mengerti arti kata pride yang berarti kebanggaan, tetapi dalam kaitan ini saya masih belum bisa meraba atau mempunyai feeling, apa sebabnya dinamakan demikian. Ya, tiap orang tentu akan dapat saja memberikan alasan mengapa, tetapi saya akan membiarkan begitu saja dulu untuk sementara ini. Mungkin pada suatu saat nanti saya akan dapat mendapat pengertian yang lebih baik.

The gay pride or simply pride campaign has three main premises: that people should be proud of their sexual orientation and gender identity, that sexual diversity is a gift, and that sexual orientation and gender identity are inherent and cannot be intentionally altered. Marches celebrating Pride (pride parades) are celebrated worldwide. Symbols of gay pride include the Greek lambda symbol, and also the pink and black triangles reclaimed from their past use.

Yang terkurung dan tertera didalam box dapat anda jadikan reference dan meringankan beban saya dalam menulis apa itu yang disebut Lesbian, Gay dan kelainan yang lain. (harap sambil menekan tombol ctrl., click juga enter, anda akan terhubung ke reference nya)

Yang patut saya cantumkan adalah sedikit sejarah mengenai kaum ini, kaum yang bukan sedikit jumlahnya, dan diciptakan oleh sebagian alam. Menurut banyak penemuan, kaum ini memang sudah ada jauh sebelum Masehi. Masih jaman nabi Luth juga sudah ada.

Di Jawa Timur di daerah Ponorogo ada kesenian namanya Reog yang mempertunjukkan sebuah “gunungan” seperti di Wayang Kulit, yang tingginya sekitar empat meter, yang jelas berat sekali.

Reog inilah yang membawanya sambil menari-nari. Cara membawanya ialah dengan menggigitnya, yang menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya. Karena posisinya yang seperti itu maka Reog punya kedudukan lebih dari manusia biasa. Tetapi yang aneh, reog ini selalu “mempunyai” semacam pasangan seorang anak laki-laki, yang disebut dengan gemblak. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak yang menganggap perilaku seks Reog adalah tidak biasa seperti orang yang heterosexual.

Jadi meninjau perilaku seksual maka akan menembus jaman ke waktu-waktu yang jauh sampai ke awal manusia.

Dengan kebesaran Allah maka mereka tercipta sebagai sebahagian makhluk yang ada dan hidup didunia selama ini. Meskipun ada “kebiasaan kelainan” saya yang suka merinding kalau melihat mereka ini.

Akan tetapi saya tidak menentang keberadaan mereka, dan juga sama sekali tidak menentang perilaku mereka.

Pada tahun 1987, dua puluh tahun yang lalu, orang di Kanada mulai ditanya pendapatnya mengenai homosexuals. Kata ini yang berarti pelaku hubungan kelamin dengan sejenisnya, rupanya dikesankan agak kasar dan kurang halus dirasakan.

Kemudian sekali, diganti menjadi pertanyaan mengenai homosexuality, yakni perilaku hubungan sejenis.

Hasil pemungutan suara menunjukkan angka yang kecil persentasi (percentage) pendukungnya dibandingkan dengan jumlah yang mengikuti, tetapi tetap saja kenyataannya angka permulaan ini sudah mengejutkan.

Sejak tahun 1987 itu pemungutan suara amat mendukung homosexuality bergerak dari 15% menjadi 40% pada tahun 2001 dan menjadi sekitar 50% – pada tahun 2004.

Hari kedua Hari Sabtu tanggalm 23 Juni, saya pergi agak sore agar dapat memotret dari dekat. Ada sekitar 150 photo yang berhasil saya jeprèt dan click. Kalau jeprèt itu, kata saya, agak emosional dan tergesa-gesa tetapi kalau click itu diintip baik-baik dan diatur lebih baik. Jadi dari jumlah sekian itu saya pilihi nanti mana yang kabur dan kurang berhasil. Bagi anda yang ingin melihat photo-photo ini anda akan bisa melihat dengan membuka website khusus photo saya,

Untuk yang hari Sabtu tgl. 23 Juni 2007:

http://picasaweb.google.com/anwaridarnowo/ChurchStreet –  sedang untuk yang hari ini Minggu tgl 24 Juni,2007:

http://picasaweb.google.com/anwaridarnowo/prideparade

Apa yang anda lihat mengejutkan, jangan disangka bahwa saya tidak terkejut. Saya memang terkejut karena baru pertamakali ini saya melakukan pengamatan seperti itu. Apalagi membawa camera.

Pada kedua peristiwa hari Sabtu serta Minggu saya melakukan pengambilan photo sebanyak lebih kurang tiga ratus lembar secara acak dan amat sedikit melakukan perbaikan photo-photonya. Anda akan bisa merasakan seakan-akan anda berada di sana, kalau melihatnya.

Sebuah gambar (photo) mewakili seribu kata-kata. Ini ditulis oleh majalah Life pada sekitar tahun 1958, dan mungkin masih relevant.

Menurut pendapat yang baru dan mungkin sekali agak bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, masalah yang menyangkut manusia yang memilih melakukan hubungan sejenis sebenarnya sudah didiskusikan dan didebatkan sejak satu abad yang lalu. Akan tetapi karena kurangnya pengetahuan yang sesuai atau karena memang belum tiba waktunya yang tepat, maka perkembangannya tersendat-sendat. Pada tahun 1991 dua orang scientist yang membidangi keahlian biologi organ otak, Simon LeVay dari Salk Institute of Biological Studies di California dan seorang psikiatris dari Princeton University bernama Jefrey Statinover mengemukakan hasil penemuan LeVay. Simon LeVay membuat percobaan langsung terhadap otak 41 orang, 19 orang diantaranya adalah orang-orang yang tergolong gay dan sudah meninggal dunia, 16 orang heterosexual yang meninggal karena ada hubungannya dengan penyakit AIDS dan enam orang perempuan yang seorang diantaranya telah meninggal karena penyakit tersebut. Ada keterkejutan LeVay karena menemukan bahwa sel otak yang ada hubungannya dengan perilaku seksual orang normal, ternyata ukuran besarannya adalah dua kali yang dimiliki oleh mereka yang gay.

Para perempuan yang termasuk enam orang diatas pun memiliki ukuran yang sama dengan mereka yang gay.

Tanggapan tipikal dari Jeffrey Stastinover adalah hal yang ditemukan oleh LeVay adalah sama saja nilainya dengan pengetahuan bahwa otot para atlet lebih besar dari pada yang bukan atlet.

Atau otot yang secara genetic yang termasuk agak lebih besar akan memudahkan orang untuk berkembang menjadi seorang atlet.

Dari Institute Kanker Amerika Serikat muncul pendapat baru dari seorang ahli genetik Dean Hamer yang menemukan pada tahun 1993, bahwa paman dan keponakan laki-laki dari pihak Ibu dalam sebuah keluarga, condong untuk menjadi gay kalau dibandingkan dengan mereka yang dari pihak Ayah. Ini menunjukkan bahwa genus gay kemungkinan ada terdapat di chromosome X yang didapat para anak laki-laki sebagai “pemberian” Ibu. Ada 40 pasang saudara yang gay yang menjadi object Hamer untuk diselidiki DNAnya dengan menjelajahi isi Chromosome X nya. Dia menemukan kenyataan akhir yang menunjukkan bahwa ada dua per tiga dari object yang kuat mengindikasikan seperti itu. Meskipun demikian Hamer sendiri belum hendak mengatakan kesimpulan seperti itu. Akan tetapi pihak media lah yang mula-mula sekali mem”bual”, bahwa genetik gay sudah ditemukan. Kalangan ahli genetik tidak ada yang mendukung berita media tersebut. Mereka berpendapat bahwa genetik gay itu tidak akan pernah bisa ditemukan. Hal ini disebabkan karena genetik perilaku itu adalah lebih kompleks dari pada Genetik Mendel.

Dengan kata lain, ciri-ciri warna mata diyakini sebagai faktor keturunan senilai seratus persen, akan tetapi kontribusi genetik terhadap perilaku, sifat agresif, rasa malu, extrovert dan seterusnya adalah hanya menempati di bawah angka lima puluh persen.

Professor Emeritus dalam bidang biolgi dan biokimia Ruth Hubbard dari Harvard, penulis buku bernama Exploding The Gene Myth , mengatakan bahwa usaha menemukan genetik gay adalah upaya yang sia-sia saja. Betapapun kedua ahli pengetahuan seperti Simon LeVay dan Ruth Hubbard diatas mengemukakan pendapatnya, pada akhir tahun 1990an, upaya ke arah penemuan genetik gay ini menjadi memudar secara perlahan-lahan. Kalau upaya penyelidikan ini buntu dan belum akan ada tanda-tanda akan terjadi dalam waktu dekat, maka apa yang saya baca didada T-shirt pengunjung Church Street akan berlaku. Tulisan di dada di T-shirt itu berbunyi: God Made Me Gay.

Ini photo dijeprèt pada tanggal 23 juni 2007 di Church Street

Bagi yang tidak berhasil melihat gambar ini silakan membuka picasaweb dari google diatas

Baru setitik saja bagian otak yang ditemukan mengenai gay, tetapi sudah pusing tujuh keliling beberapa ahli pengetahuan.

Padahal mereka ini adalah pakar-pakar yang membidangi beberapa bagian dari satu titik itu saja. Karya luar biasa yang berwujud organ bernama otak tiada habis-habisnya membuat kita bingung dan frustasi. Saya yakin, pada waktunya yang tepat di kemudian hari, akan muncul jawaban yang dinanti-nantikan. Mungkin menunggu manusia waktu sudah biasa dianggap lebih dewasa dari pada saat ini. Saya memang sudah condong ikut berpendapat bahwa yang disebut Tuhan itu, adalah pusat di mana kita taruh segala ke-tidaktahu-an kita. Apapun yang kita tidak tahu, tidak mengerti dan tidak paham itu adalah Tuhan.

Kalau belum ada green light, belum ada ijin dari Tuhan, maka segala rasa keinginan tahu manusia tidak akan dapat dipenuhi.

Jadi, saat ini, bukan hanya God Made Me Gay saja yang benar, masih banyak lain yang God Made something, yang pada hakekatnya adalah semua itu made by God.