Sesungguhnya agama samawi itu sama saja dengan kejawen, shinto, kaharingan, parmalim, atau salah satu jenis agama suku manapun yang berhasil dicipta manusia.

Agama itu buatan manusia. Semua agama pada awalnya adalah agama suku, jadi agama itu produk budaya. Nasib agama-agama bisa berbeda, tersebar luas atau tidak, dianut orang atau tidak, tergantung pada ekspansi budaya suku yang menaunginya, tergantung pada manfaat yang ditawarkannya bagi pemeluk baru, atau (ini yang tidak bisa disepelekan): tergantung pada malapetaka yang ditimpakannya pada orang yang menolak.
Sikap menganggap agama sendiri mendapat tempat khusus di hadapan pencipta adalah sikap kekanakan yang menggelikan. Tak ada alasan tuhan lebih sayang sama orang yahudi kecuali tuhan itu ciptaan yahudi juga. Alangkah konyolnya tuhan harus bicara pakai bahasa arab kalau yang ingin disapa adalah orang madura. Sampai habis umur si madura itu tak juga dia bisa sampai pada tingkat kemahiran bahasa arab yang dibutuhkan untuk sekedar berbincang-bincang, konon lagi berkontemplasi.
Perang agama yang sering naif dimaknai sebagai perang memperebutkan kebenaran, memperebutkan surga, pada hakikatnya juga tiada lain adalah persaingan budaya.
Dalam konteks itu, sikap indonesia yang memenangkan 5 agama impor tetapi meminggirkan agama-agama lokal adalah sikap zalim terhadap budaya sendiri. Tabiat masyarakat yang tidak percaya akan budaya sendiri. Masyarakat taklukan.
Kalau dulu dijajah portugis, VOC, belanda, perancis, inggris, jepang, sekarang ada penjajah model baru: agama !
Budaya lokal kita telah ditaklukkan budaya impor, ironisnya yang jadi motor penaklukan itu adalah warga sendiri yang secara sempurna dan menjijikkan mengidentifikasi diri dengan budaya si penakluk.