Setiap kali saya mengritik isi Quran teman saya selalu menyayangkan bahwa saya belajar membaca Quran tanpa iman dan keyakinan, tetapi dengan keragu-raguan. Kritik ini juga sering dilontarkan pada teman-teman penganut agama yang liberal baik Islam maupun Kristen. Apakah dalam membaca ayat yang dianggap suci itu harus dengan iman dulu, atau boleh dengan akal atau bahkan boleh juga dengan keragu-raguan?
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, dari kecil anggota masyarakat
agama sudah diajari untuk beriman dulu, baru mencoba mengerti dan memahami.
Sehingga kalo mempertanyakan kegunaan dan kebaikan ayat tertentu, maka akan
disalahkan sebagai nggak beriman. Maka di Apakabar inipun, yang sering saya
dengar adalah kritik akan tidak adanya iman dalam membaca Quran. Ulil yang
begitu hebat dengan segala kritik dan idenya, akhirnya juga harus buru-buru
mengatakan imannya kuat dan tetap pada Islam sebagai yang benar.

Padahal sebagai manusia berakal, tidak mungkin manusia membaca ayat semulia
apapun tanpa akal. Kecuali ada usaha keras untuk memadamkan api akal
rational yang setiap kali muncul dalam membaca. Dalam Islam jelas sekali
orang bisa membaca ayat suci tanpa memahami dan sepenuhnya dengan iman.
COntohnya: seorang dosen Arab mengangumi pembacaan ayat Quran dari
Indonesia, kemudian beliau menyapa dan mengajak bicara pembaca Quran yang
dari Indonesia tersebut, ternyata pembaca tersebut tidak faham berbahasa
Arab dan tidak mengerti yang dibacanya. Tapi suaranya begitu indah dan merdu
waktu membacakan ayat mulia tersebut. Ini mungkin satu-satunya contoh
pembacaan ayat suci mulia tanpa akal dan logika pemahaman.

Percaya saja: Just believe! adalah seruan para pemimipin agama, pendeta dan
Dai dalam usaha mereka menyebarkan agama, dan sama sekali bukan gunakanlah
akal dan rational dalam memahami agama dan ayat2nya. Karena agama memang
bukan genre yang rational. Kalau toh dianggap rational pasti itu rational
relative subjective bukan rational objective apalagi ilmiah. Rational yang
diyakini sebagai rational oleh kelompok tertentu yang saling meyakinkan
bahwa itu rational (subjective)

, bukan rational dengan logika penerapan masa
kini, bukan pula rational yang bisa dites kebenarannya secara ilmiah. Jadi
semua agama itu tidak rational. Pengikut ISlam yang paling sering bersikeras
mengatakan Islam adalah agama yang paling rational, karena bisa diterapkan
di dunia, tanpa mempertimbangkan bahwa rationalitas manusiapun berkembang
dan berubah.

Percaya adanya phon yang punya roh (dianggap tidak rational), sedangkan
percaya dengan sacrednya kaabah (dianggap rational). Percaya pada dewa2
dianggap rational, sedangkan percaya nabi Isa sebagai Tuhan dianggap
rational? Bahkan percaya adanya Allah, kenabian seseorang, hidup sesudah
mati itu sendiri sama sekali tidak rational obejctive karena tidak bisa
dites kebenarannya.

Nah, jika banyak hal mengenai agama itu tidak rational, mengapa kita
menundukkan diri dan merelakan diri kita membekukan kerationalan kita dan
mempercayai ketidak rationalan? Salah satu jawaban yang sering dilontarkan
adalah, yang objective rational dan ilmiahpun tidak menjawab semua
pertanyaan manusia mengenai alam semesta dan hakekat manusia itu sendiri.
Misalnya adakah hidup sesudah mati?

Baiklah, kalo memang begitu, tapi apakah kita akan membaca alkitab sesuci
apapun hanya dengan iman, kan tidak mungkin. Sekarang, karena agama tidak
rational, bukankah seharusnya kita membaca alkitab termasuk Quran dengan
keragu-raguan. Dengan beriman tetapi juga dengan rational dan pertanyaan.
Makanya kalo di Kristen tokoh yang paling pas dan harus ditiru oleh semua
penganut agama adalah THOMAS. Adalah sangat manusiawi dan masuk akal bagi
manusia yang dikaruniai akal untuk meragukan dan mempertanyakan hal-hal yang
indokrtikan sebagai kebenaran tetapi tidak rational.