Melihat akting Forest Whitaker dalam film Crying Game (1992) dulu, saya melihat dia aktor yang sangat berbakat. Kemampuannya berakting semakin matang ditandai dengan kemenangannya meraih perhargaan Golden Globe, Asosiasi Film Inggris (BAFTA) Award, Screen Actors Guild Award, dan Academy Award (Oscar) 2007 pada film The Last King of Scotland sebagai pemeran tokoh diktator Uganda Idi Amin. Whitaker begitu baik dalam memerankan Idi Amin, kharismanya terasa, kekonyolannya terlihat, dan kemarahannya pun mencekam. Ia benar-benar menjelma menjadi tokoh tersebut. Gestur tubuh, dialek, hingga perubahan ekspresi benar-benar merasuki Whitaker.

IDI AMIN, Presiden Uganda, periode 25 Jan 1971 – 13 Apr 1979

Jenderal Idi Amin Dada Oumee, ia menjuluki dirinya sendiri, "The Last King of Scotland". Karena ia yakin bahwa dirinya sebaiknya mengambil alih kekuasaan dari Ratu Inggris, Elizabeth II, sebagai raja orang Skotlandia. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah ingin jadi Presiden, tentaranyalah yang memintanya. Amin adalah sosok jenderal yang murah senyum dan merakyat, sering bertindak kekanak-kanakan yang membuat orang tertawa. Pada awal kenaikannya sebagai pemimpin Uganda, ia dikenal senang keterbukaan, dan ia diharapkan menjadi pemimpin ideal. Tetapi sejarah juga mencatat ia sekaligus sosok diktaktor yang kejam. Di Afrika kekejaman Idi Amin sebagai diktator hanya dapat disamai oleh Mobutu Seseseko, mantan diktator Kongo yang juga terkenal karena pembantaiannya, dan juga nama-nama diktator pembunuh terkenal lainnya seperti Adolf Hitler dari Jerman, Benito Musollini dari Italia, Joseph Stalin dari Uni Sovyet, dan Nicolai Ceacescu dari Rumania.

Pada tahun 1946, Amin masuk ke dalam dunia militer dengan menjadi tentara kolonial Uganda yang saat itu masih dijajah oleh Inggris. Dia pernah ditugaskan untuk menumpas pemberontakan di Somalia. Lewat jalur militer inilah karir militer Amin cemerlang. Idi Amin memulai karirnya di dinas militer sebagai asisten koki. Dalam Perang Dunia II, Amin pernah ditugaskan ke Birma. Kemudian ia ikut memadamkan pemberontakan pribumi Uganda yang berpangkat perwira. Ada sebuah buku yang berjudul General Amin, ditulis David Martin menulis "Amin itu jenis prajurit yang disukai oleh Perwira Inggris: bertubuh besar dan tidak berpendidikan. Menurut teori mereka, orang semacam ini lebih taat pada atasan dan lebih berani di medan pertempuran." Saat Uganda merdeka di tahun 1962, Amin diangkat sebagai deputi komando tentara dimana saat itu Milton Obote menjabat sebagai Perdana Menteri. Setelah itu Obote menjabat sebagai Presiden Uganda periode 1966-1971. Ketika Obote terkena kasus penyelundupan emas dari Kongo, Amin mendapat angin politik di Uganda. Pada saat Obote menghadiri konfrensi persemakmuran di Singapura, 25 Januari 1971. Idi Amin melakukan kudeta, Obote terpaksa turun, kekuasaan kemudian diambil alih oleh Amin. Obote tidak pulang ke Kampala, Uganda, tetapi Obote ke Darussalam, ibu kota Tanzania, negara sahabatnya Presiden Julius Nyerere.

Ketika Idi Amin memimpin, Uganda menjadi negara yang sangat terkenal di dunia internasional. Suatu hal yang ironis, dimana ketika naik, Amin menyatakan zaman kekejaman sudah berakhir dan mengajak rakyatnya menuju zaman persahabatan tanpa permusuhan. Namun justru dibawah rezim Idi Amin ini rakyat Uganda mennghadapi kejadian yang lebih buruk dari pendahulunya. Pada masa pemerintahannya, angka pembunuhan dan orang hilang sangat besar, antara 300.000 orang atau lebih. Idi Amin meskipun murah senyum dan jenaka, ternyata seorang monster, dia melenyapkan oposisi, korup, dan membungkam pers. Korban diantaranya adalah Benedicto Kiwanuka, mantan Perdana Menteri, Joseph Mubiru mantan Gubernur Bank Central Uganda, dan banyak lagi orang-orang dekatnya sebelumnya juga dibunuh karena dianggap membahayakan posisi Idi Amin. Konon, istana kepresidenan di Kampala dia gunakan juga sebagai tempat interogasi dan penyiksaan. Kebrutalan pemerintahannya membuat majalah Times edisi 7 Maret 1977 menjulukinya sebagai "Wild Man of Africa". Sekjen PBB saat itu, Kurt Waldheim mengatakan bahwa "Uganda adalah negeri tanpa hukum."

Politik yang dilakukan Idi Amin barangkali agak mirip dengan Ku Klux Klan, hanya kebalikannya saja. Jika Ku Klux Klan sangat rasialis terhadap kaum kulit hitam (juga ras lain selain putih), maka Amin membenci ras selain kulit hitam. Ia sangat menjaga kemurnian ras kulit hitam dan khususnya suku asalnya sendiri yakni suku Kakwa. Amin menganiaya etnis minor di Uganda seperti orang-orang keturunan India, Acholi, Thurkana dan Lango. Pada masa pemerintahannya ada satu masa ia mengusir semua orang Asia berwarga-negara Inggris (60.000 jiwa) pada tahun 1972. Mereka diberi waktu sembilan puluh hari untuk angkat kaki dari Uganda. Kemudian ia menetapkan aturan tambahan bahwa orang asing yang sudah menjadi warga-negara Uganda pun harus pergi dari Uganda (sekitar 23.000 jiwa). Mengenai pengusiran orang Asia, Amin mengatakan, "Mereka terlampau berkuasa dan mencemooh kaum kami." Sudah tentu warga negara keturunan asing yang lahir di Uganda kebingungan. Jika mereka pergi, status mereka adalah tanpa negara (stateless). Inggris dan negara-negara persemakmuran Inggris lainnya sibuk untuk mempersiapkan penampungan, warga Uganda yang terusir ini.

Akibat keputusan ini, timbul krisis ekonomi parah di Uganda. Karena sekitar 90% perdagangan dan industrinya dikuasai orang-orang Asia/ orang-orang asing. Rakyat Uganda pribumi sendiri masih sangat agraris tradisional dan kurang kecakapan, modal, dan ketrampilan. Ketika krisis ekonomi terjadi, Amin dengan kebodohannya memerintahkan mencetak uang sebanyak-banyaknya, akibatnya tidak bertambah baik justru membuat nilai mata uang Uganda merosot tajam tak berharga. Pengusiran orang-orang Asia di Uganda sebenarnya sudah direncanakan oleh penguasa sebelum Amin, yaitu PM Milton Obote karena dirasakan terlalu mencengkram ekonomi Uganda, tetapi Obote masih menargetkan waktu lima tahun, dengan alasan mempersiapkan orang Uganda. Salah satu gambaran puncak krisis ketika Menteri Keuangan Emmanuel Wakheya minta suaka ke Inggris karena tidak tahan lagi terhadap keputusan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan rezim militer Idi Amin.

Adolf Hitler adalah diktator yang merasa perlu terus-menerus melakukan 'promosi' demi kelanggengan kuasanya, ia memerintahkan Leni Riefenstahl, seorang sutradara wanita untuk membuat film 'kultus diri' yang berjudul "Triumph of the Will (Triumph des Willens)" film ini dibuat pada tahun 1935 untuk tujuan propaganda, dan film ini meraih sukses. Demikian juga dengan Idi Amin, ia merasa perlu membuat film tentang dirinya, ia menyewa jasa Sutradara Perancis Barbet Schroeder pada tahun 1974 untuk membuat film dokumenter berjudul: "General Idi Amin Dada, A Self Portrait". Di saat shooting, Amin ikut sibuk memerintah para kameramen. Dalam film documenter ini, banyak kekonyolan-kekonyolan yang direkam dan menunjukkan bagaimana Amin gila akan popularitas. Schroeder memutuskan untuk membuat dua versi. Satu versi khusus untuk Uganda dan Idi Amin (yang sesuai keinginan Amin), dan satu versi untuk publik. Amin rupanya ingin tahu pendapat orang tentang film ini di luar Uganda. Amin akhirnya tahu bahwa orang-orang diluar Uganda menertawakannya. Amin lantas meminta Schroeder untuk memotong beberapa adegan konyol di film itu. Schroeder menolak. Kemudian Amin memaksa dengan cara mengumpulkan 200 orang Perancis yang tinggal di Uganda, disebuah hotel yang dijaga ketat oleh tentara Uganda. Schroeder akhirnya paham maksud Amin dengan 200 'sandera' itu. Kemudian Schroeder dengan terpaksa meng-edit sesuai keinginan Amin.

Demikian kekuasaan Amin dirasa sudah melampaui batas wajar. Pada bulan April 1979, Amin berhasil digulingkan oleh tentara nasionalis Uganda yang dibantu Tanzania. Sebelumnya Amin dengan bantuan Libya mencoba menyerang Kagera, provinsi utara Tanzania. Pada kejatuhannya, ia terbang mengungsi ke Libya yang kemudian meminta suaka ke Jeddah, Arab Saudi serta menetap di sana dan meninggal pada tahun 2003.

Pada saat kematiannya di negeri pengasingan, harian di Uganda dan Afrika pada umumnya menyambut kematiannya bukan dengan duka, tetapi dengan kalimat-kalimat sarkasme. Media Afrika memberikan reaksi keras, termasuk media milik negara Uganda, New Vision. Harian itu menuliskan, "Berakhirnya sebuah era, dengan kematian pemimpin lalim Afrika yang paling berdarah." Harian luar negeri juga demikian, misalnya, Harian Italia, La Stampa menyebut Amin sebagai "setengah badut, setengah penjagal". Mereka menunjuk kebiasaan Amin yang konon suka menyimpan kepala manusia yang dibunuh di kulkas dan menjalankan praktik kanibalisme. Harian lain di Inggris News of the World menulis lebih keras "Next stop: hell" (pemberhentian berikutnya adalah neraka). Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengeluhkan kebebasan yang dinikmati Amin yang hidup nyaman, mulai dari pelarian hingga kematiannya di Arab Saudi. Sepertinya, Amin terpidana hingga ke liang lahat, sebuah pelajaran penting untuk para pemimpin diktator lainnya. Idi Amin sungguh merupakan sosok perpaduan buruk antara jiwa kekanakan, kepongahan, kurang pendidikan, sadisme dan kekuasaan absolut. Kekejaman rezim Idi Amin pada dekade 1970-an itu tidak saja membuat dia dan Uganda terkenal, tetapi juga dinilai sebagai bagian dari sejarah terburuk Afrika sepanjang masa.

MOVIE REVIEW :

  The Last King of Scotland menampilkan kisah dimana seorang pemimpin yang pada awalnya begitu popular dan dicintai warganya, kemudian dikenal sebagai diktator paling kejam di Afrika pada tahun 1970an. Film ini adalah gabungan kisah nyata campur kisah fiksi. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Giles Foden. Berkisah tentang petualangan Nicholas Garrigan (James McAvoy). Tokoh Nicholas Garrigan adalah fiksi, namun sosok dr Garrigan ini disadur dari pengalaman nyata dari Bob Astles, seorang perwira Inggris yang sempat membantu pesaing Idi Amin, Milton Obote, dalam perebutan kekuasaan. Astles sendiri dikenal sebagai 'The White Rat' dan Amin memberinya gelar 'Major Bob'.

Garrigan adalah seorang dokter muda asal Skotlandia. Lulus dari almamaternya, ia dengan secara 'sembarang' memilih Uganda sebagai tempat dia mengabdi sebagai seorang dokter. Awal film ini juga bercerita tentang Garrigan yang penuh dedikasi sekaligus seorang flamboyan. Garrigan tiba di Uganda pada 1971. Saat itu adalah masa awal pemerintahan Idi Amin, dimana ketika itu Idi Amin adalah pemimpin yang popular, dan secara tak terduga ada satu kesempatan mempertemukannya dengan Idi Amin (Forest Whitaker).

Persahabatan Garrigan dan Amin bermula dari sebuah insiden kecil. Mobil jip Idi Amin diseruduk seekor banteng dalam kunjungan sang presiden itu ke sebuah dusun kecil di pinggiran Uganda, tempat Garrigan bertugas. Garrigan diminta bantuan untuk memeriksa kondisi Amin. Amin tertarik dengan kecekatan dan keberanian Garrigan, yang kemudian juga memulihkan tangannya yang dikira patah dalam insiden itu. Amin lantas mengundangnya ke istana presiden. Garrigan diminta Amin untuk menjadi dokter pribadinya, ia mengatakan "Jika kamu mau mengabdi pada negara ini, kamu harus menjaga kesehatanku, bapak dari negeri ini." Diceritakan bahwa Garrigan berkali-kali menyelamatkan nyawa Amin. Faktor kebetulan dan keajaiban terjadi dimana Garrigan selalu menjadi sosok yang menyelamatkan Amin dari percobaan pembunuhan. Maka, kemudian Garrigan tak hanya didaulat menjadi dokter kepresidenan, tetapi juga penasihat terpercaya Amin. Akibat perbobaan pembunuhan kepada Amin membuatnya menjadi paranoid, ia kemudian membuat 'double' yaitu sosok yang mirip dengannya lengkap dengan pakaian Jenderal kemana-mana ia pergi. Supaya si pembunuh bisa salah jika ingin membunuh Amin. Tapi dari sana lantas tergambar, kalau Amin adalah jenderal perang yang rapuh, takut kematian. Ada quote yang menarik dari film ini "Jika kamu takut mati, itu artinya kamu punya kehidupan yang berharga yang harus dipertahankan." ini diucapkan Garrigan kepada Amin, dan Amin semakin bersimpati kepdanya.

Namun kejadian demi kejadian membuat Garrigan menjadi mengerti bahwa ia sedang melayani diktaktor brutal yang sedang memimpin negara. Dalam film ini, diceritakan salah satu anggota badan intelijen Inggris menghasut Garrigan untuk membunuh Amin, karena dirasa Garrigan adalah sosok yang tepat, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan Amin. Faktanya, seperti yang di lansir Radio BBC pada 17 Agustus 2003, sehari setelah kematian Amin di pengasingannya di Saudi Arabia, mantan menteri luar negeri Inggris, David Owen, pada periode 1977-1979, mengakui pernah mengusulkan ide ini. Owen mengatakan "Rezim Amin adalah rezim paling buruk yang pernah ada. Sungguh memalukan bagi kita untuk membiarkannya terus berkuasa."

Petualangan Garrigan menjadi semakin kompleks karena ia terlibat hubungan asmara dengan Kay (Kerry Washington), salah satu istri Amin. Ketika tersingkap pengkianatan itu, Amin bahkan memutilasi Kay, istrinya. Garrigan memutuskan pergi dari Uganda. Namun, itu mustahil. Amin terus menguasainya dan bakal membunuhnya jika ia coba-coba kabur.

 Film ini ditutup dengan kejadian sejarah yaitu pembajakan pesawat Air France oleh militan Arab Palestina dan teroris sayap kiri Jerman pada bulan Juli 1976 di Entebbe, Uganda, yang terkenal itu. Kita bisa melihat disini bahwa penulis novel ini, Giles Foden pandai memadukan antara kejadian nyata dan fiksi. Pada kejadian di airport ini, ide Garrigan yang bermaksud membunuh Amin tercium oleh ajudan Amin. Garrigan kemudian disiksa dan digantung dengan cara tulang rusuknya ditusuk dengan dua buah kait. Adegan ini disajikan dengan cukup mencekam, bagaimana kemudian Garrigan dibantu rekannya dr. Thomas Junju (David Oyelowo) untuk keluar dari Uganda dan menyelinap masuk rombongan orang-orang non-Israel yang disandera.

Peristiwa pembajakan pesawat Air France yang mendarat di Uganda ini melahirkan kesepakatan, bahwa sandera-sandera yang tidak berkewarganegaraan Israel dibebaskan. Sedangkan sandera-sandera berkewarganegaraan Israel dan berkebangsaan Yahudi tetap ditahan pembajak di Bandara Entebbe dibawah patronase serdadu Uganda. Namun pada 3 Juli 1976, yaitu empat hari setelah warga non-Yahudi dibebaskan para pembajak, Sayeret Matkal (pasukan elit operasi khusus negara Israel) dipimpin Kolonel Jonathan Netanyahu (kakak mantan Perdana Menteri/PM Israel, Benjamin Netanyahu) menyerbu Entebbe guna membebaskan warga Israel yang disandera lewat Operasi Entebbe yang legendaris itu. Operasi itu berhasil membebaskan para sandera Israel dan langsung dibawa pulang ke Israel, sementara pembajak yang jumlahnya enam orang tewas dibunuh pasukan komando Israel bersama 45 serdadu Uganda yang melindunginya. Sayeret Matkal sendiri hanya kehilangan Kolonel Netanyahu yang mati ditembak penembak jitu serdadu Uganda. Operasi penyelamatan berlangsung di kegelapan malam saat warga Uganda tertidur lelap, termasuk Presiden Idi Amin. Keesokan harinya, Amin baru dikabari bahwa pasukan Israel telah datang tiba-tiba dan berhasil membebaskan para sandera dan langsung membawa mereka ke Israel. Amin murka dan menyampaikan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena dianggap Israel telah melanggar kedaulatan Uganda. Indonesia kala itu juga ikut mengutuk aksi pasukan Sayeret Matkal dalam Operasi Entebbe.Tetapi PBB malah membenarkan aksi militer Israel itu, yang dilakukan demi menyelamatkan warganya yang tersandera. 

Dari segi sinematografi, gambar-gambar film ini mengingatkan kita pada film MUNICH 1972 dengan set yang khas tahun 70-an. Plus gaya rambut dan costume design khas zaman itu. Film ini di-edit secara apik. Adegan demi adegan mengalir membawa ketegangannya masing-masing. Akting prima Forest Whitaker nyaris menutupi akting aktor utama, James McAvoy. Whitaker mampu menjadi sosok Idi Amin, yang jenaka, tapi sekaligus sadis. Whitaker memang layak dapat Oscar!

(Disarikan dari berbagai sumber)