Thursday, June 21, 2007 Saya mengucapkan kata cara begini sudah lama sekali, mungkin lima belas tahunan yang lalu, meskipun saya tidak bisa membuktikannya, karena tulisan pendek saya yang menggunakan kata democrazy ini telah hilang, entah dimana. Kan, pada waktu itu, untuk membuat tulisan seperti itu harus dilakukan underground/di bawah tanah, maksudnya tidak berani terang-terangan. Anda, apalagi yang seumur saya tentu akan mengerti maksud saya. Bayangkan, selama saya hidup, selama tiga puluh dua tahun itu saya hanya mengenal seorang Presiden yang namanya Suharto saja.

Tiga puluh dua tahun itu adalah lebih panjang dari separuh masa umur dewasa saya. Kalau saya menyebut diri saya telah menjadi dewasa pada umur dua puluh enam saja, maka saya hanya berumur dewasa sebanyak dan selama 47 tahun. Separuh masa ini ialah 23 setengah tahun, sedang masa “pemerintahan” Suharto 32 tahun. Masa empat orang Presiden berikutnya setelah Suharto, adalah sekitar sepuluh tahun. Jadi masa dewasa saya yang dibawah Soekarno, saya boleh bilang hanya mengalaminya sekitar lima tahunan.

Lumayanlah dari pada tidak mengalaminya sama sekali.

Mereka yang tidak mengalami, biasanya mendapat informasi mengenai Soekarno, bias dan bengkok yang narasumbernya adalah Nugroho Notosoesanto, sang Jenderal yang ahli hukum dan ingin membuat sejarah sendiri atau sesuai dengan petunjuk yang maha kuasa yang bukan Allah. Yang dimaksud dengan yang maha kuasa itu memang jelas bukan Allah, dalam hal ini, karena yang dimaksudkan adalah Suharto, Bapak Pembangunan, Bapak Segala Macam.

Tiap kali kata ini muncul di tulisan orang lain, saya hanya bisa membatin saja: itu karangan saya. Saya kan tidak memerlukan tanda jasa hanya karena menciptakan kata itu. Saya telah mengucapkannya kepada banyak orang, dan terbahaklah mereka yang mendengarnya.

Ketika itu adalah masa sebelum Suharto jatuh dengan empuk. Saya sebut dengan empuk karena cuma namanya saja yang jatuh berantakan, badannya sendiri tetap ditempat yang nyaman, sampai hari ini. Sebenarnya kalau saya sebut yang maha kuasa seperti diatas, itu benar-benar terbukti bukan hanya sepenjang 32 tahun, tetapi sampai sepuluh tahun kemudian, tahun ini. Masih kuasa sampai hari ini? Iya, dia punya uang berapa? Mau tahu? Banyak web site yang akan mencerahkan informasi yang selama ini telah diputar balikkan didepan mata kita, rakyat Indonesia, sehingga seakan sudah mantap dan kokoh, tidak mungkin diubah lagi. Tetapi segala akal yang busuk itu akan tercium juga bau busuknya dan anda akan merasakan betapa nestapanya kaum buruh yang ditindas oleh system yang salah pilih dan terasa sampai hari ini.

Anda buka web:

Part1: http://www.youtube.com/watch?v=8firb73r67g

Part2: http://www.youtube.com/watch?v=kYaDY-xTzZ0

Part3: http://www.youtube.com/watch?v=tvnEc48A7yM

Part4: http://www.youtube.com/watch?v=4se4jYI9KAc

Part5: http://www.youtube.com/watch?v=h0tIB9m_BBg

Part6: http://www.youtube.com/watch?v=Yf2CSUoxyOk

Part7: http://www.youtube.com/watch?v=BUmyevPS2cY

Membaca segala hal yang telah terungkap, tidak ingin saya untuk mengganti kan posisi dia, Suharto, kalaupun saya bisa. Biarpun segunung besar sekalipun kekayaannya, dan biarpun setinggi langit sekalipun kekuasaannya, saya tetap memilih apa yang telah ditakdirklan atas diri saya selama ini, lengkap dengan segala kelemahan saya dan kekurangan saya. Saya masih menikmati hidup saya, dengan kekurangan dan kelemahan saya tadi, saat ini.

Kalau anda bersama saya membaca Superkoran.info hari ini, membaca dua buah tulisan saudara Berto Lubis berjudul Terima kasih Paman Sam dan Masih Urgenkah kita Memilih? , bersamaan membaca tulisan saya Res Publica maka, lengkaplah nestapa dan derita yang saya rasakan terhadap nasib bangsa Indonesia.

Cita-cita merdeka dan berdaulat yang telah dirintis sejak awal abad yang lalu, pengorbanan harta, harga diri dijajah bangsa lain, air mata dan darah yang tumpah, serta jiwa orang-orang yang nenek moyang kita, terlihat tanpa penghargaan yang pantas dan layak.

Kata orang Jawa itu muspro, orang Arab bilang mubazir dan orang di Kanada menyebutnya wasted. Kita tidak usah berbantah masalah ini, itu adalah kenyataan. Pada tanggal 17 Agustus 2007 nanti hampir pasti saya akan menangis dalam hati saya, melihat dan menyaksikan nasib Indonesia. Semua yang duduk didalam posisi pimpinan merasa paling benar, tetapi tetap melakukan perbuatan yang tidak benar, tidak mengakui bahwa mereka tidak mampu dan mereka ini hanya merasa bahwa yang harus diperbaiki adalah apa yang diluar diri mereka, para pimpinan itu! Sudah hampir lengkap orang-orang baik tersingkirkan digantikan oleh orang-orang yang kadar mutunya malah lebih rendah dari aparat atau keparat orde baru. Bukan saja mutu ilmu dan mutu pengetahuan, tetapi mutu mental dan mutu akal budinya.

Apakah anda merasa pantaskah bila salah seorang Menteri RI yang ingin membicarakan utang Negara RI dengan Jepang, akan datang ke Jepang dengan pesawat terbang Jet Pribadi? Setelah mendapat peringatan agar tidak melakukannya, dia memang datang ke Jepang dengan menggunakan pesawat komersial, bukan menurut seratus persen, sebab pesawat prbadinya diparkir di Hong Kong! Apa pantas seorang Wakil Presiden berkunjung ke China menggunakan pesawat charter yang isinya amat banyak kerabat dan keluarganya sendiri. Rencana pulangnya akan mampir ke Jepang Selatan untuk keperluan sepele. SBY memerintahkan pembatalan kesana, karena semua sedang prihatin, BBM naik harganya. Dana bagaimana membayar kompensasi pesanan Hotel yang batal untuk 70 orang??

Biaya siapa itu?? Biaya negara, yang berarti uang rakyat??

Kedua orang itu, menteri dan Wapres adalah pengusaha kaya raya. Biarpun membayar dengan uang sendiri, saya merasa masih kurang pas dan kurang pantas!!

Kalau memakai uang sendiri saja saya tidak setuju, apalagi dalam rangka tugas negara, negara yang sedang sengsara dan sekarat menghadap predator-predator berbaju apik dan berpendidikan tinggi, berakhlak tinggi, katanya!! Sembahyang tidak pernah lupa, selalu menyebut nama Allah setiap kali berbicara didepan umum, berjanji menghapuskan biaya pendidikan, berjanji begini dan begitu, tidak menepati janji.

Kalau saya sekarang ini menyatakan bahwa saya jelas tidak percaya dengan demos kratos yang telah terjadi selama ini baik di Amerika, Inggris dan negara-negara besar lain, apakah saya salah? Yang membuat saya tidak percaya bukan karena saya memiliki pikiran yang brilliant, akan tetapi karena saya telah digiring menjadi seperti itu. Kata peribahasa:

Awak tak pandai menari, dikatakan lantai berjungkit. Dalam masalah saya dengan demokrasi yang telah saya gambarkan sebagai democrazy adalah: Lantai memang berjungkit, maka awak tak pandai menari !! Itulah yang terjadi. Menurut pendapat saya, demokrasi yang sekarang ini sebenarnya bukan Demos dan Kratos yang sesungguhnya, karena People Power tidak berfungsi seratus persen. Yang terjadi adalah Demos Perwakilan Kratos. Perwakilan adalah Representasi yang berwujud DPR atau Parlemen yang asal katanya adalah parler.

Kata ini mewakili arti: berbicara, to talk, to speak. Yang memang itu kerjanya, bicara, bicara. Kalau terlalu banyak berbicara maka otak menjadi berkurang isi dan mutunya.

Demokrasi yang dikenalkan kepada kita adalah demos-perwakilan-kratos. Kalau saja para perwakilan-perwakilan menjalankan pekerjaannya sesuai janjinya dan sesuai cita-cita luhur semua bangsa, pasti terjadi demokrasi yang baik. Tetapi para penyelenggara Negara, para pejabat legislatif dan judikatifnya tidak berpandangan jauh. Horizonnya dekat sekali, sejauh lingkar perut gendutnya dan sejauh pagar rumahnya sendiri saja.

Saya sekarang tidak percaya bahwa demokrasi yang ada selama ini telah memberikan hasil yang seperti pernah dicita-citakan sebelumnya.

Sepanjang sejarah umur dewasa saya, dimulai pada ketika saya dibolehkan memilih dalam Pemilihan Umum, saya hanya ikut memilih satu kali saja. Itu adalah pemilihan umum dimana akhirnya membuat Suharto turun dari singgasananya. Semangat saya pada waktu itu adalah: inilah kesempatan kita menolong dan membantu Suharto, agar bisa turun. Dia tidak bisa dan tidak mau turun sendiri. Democrazy, crazy.

Crazy lagu yang sekarang dinyanyikan oleh Julio Iglesias dan yang sebagian besar dalam bahasa Indoneia, lebih menyenangkan hati saya…