Siapa gubernur DKI yang akan datang? Bukannya mengecilkan pasangan Adang-Dani, aku kira 90% kursi gubernur DKI sudah di kantong Fauzi-Prijanto.

Coba lihat fakta berikut. Tidak kurang 20 partai politik mendukung
pencalonan Fauzi-Prijanto, dengan jumlah suara pemilu di DPRD DKI sebesar
75.9% (jumlah kursi=57), sedangkan Adang-Dani 'hanya' didukung 23.3% suara
pemilu (kursi dprd = 18) yang merupakan suara partai PKS.

Meskipun kecendrungan pada calon independen makin tinggi, yang bisa
diterjemahkan sebagai penolakan pada status quo (Fauzi wakil gubernur
sekarang), sehingga penerimaan kepada Adang kemungkinan lebih besar
dibandingkan dengan Fauzi, namun kalau kita lihat mesin2 politik dan mesin2
uang yang ada dibalik Fauzi-Prijanto, aku kira kita akan tetap sampai pada
perkiraan di atas.

Tidak usah disebut mesin2 pendukung yang lain, cukup satu saja, Cendana.
Jend.(purn) Hartono, yang boleh dikatakan sebagai representatif dari
cendana, beberapa waktu yang lalu telah menyatakan dukungannya kepada
Fauzi-Prijanto ini.

Bukan rahasia lagi, dukungan parpol2 ini tidak diperoleh secara gratis.
Sejumlah dana yang bukan kecil nilainya bermain. Bahkan kita pernah
mendengar seorang ketua umum partai yang secara gamblang menyatakan akan
men-tender-kan saja cagub yang akan diusung partainya. (Partai ini masuk
dalam 20 partai yang mendukung Fauzi, rupanya Fauzi yang memenangkan tender
tersebut.)

Faisal Basri, seorang balongub (bakal calon gubernur) yang gagal, dalam
salah satu stasiun TV menceritakan pengalamannya audisi ke parpol2.
Diantaranya, pdip yang menurutnya mempunyai mekanisme yang 'lumayan', ada
presentasi, ada penilaian dari anggota partai yang hadir. Hasilnya, Sarwono
ranking ke 1, Faisal ranking ke 2, dan calon yang diusung pdip, Fauzi,
justru di nomor buncit. Selebihnya, partai2 lain yang diikuti, kurang jelas
mekanismenya, dalam arti tidak ada penilaian, tidak jelas hasilnya dsb.
Mungkin ikut audisi Indonesian Idol masih lebih jelas kriterianya.

Dari pengalaman golkar di beberapa pilkada, seperti Atun (Banten), maka
mesin golkar merupakan mesin yang sangat efektif dalam menggoalkan
calon2nya, termasuk issue2 money politik yang sangat sulit dibuktikan itu.

Soal calon independen. Gerakan Jakarta Merdeka yang dimotori oleh M.
Fadjroel Rachman konon sudah berhasil mengumpulkan 1 juta tanda tangan / ktp
untuk mendukung calon independen. Meskipun sudah telat untuk pencalonan kali
ini, agaknya gerakan ini perlu kita dukung, setidaknya untuk pilkada2 daerah
lain dan pilkada dki di masa yang akan datang. Pertanyaan besar yang harus
bisa dijawab jika ada gubernur independen adalah bagaimana mengatasi
rongrongan parpol dalam sistem politik yang prakteknya parlementer?

Jadi, bagaimana sikap warga Jakarta dengan cagub yang ada?

Bagiku, bukan pilihan yang menyenangkan. Fauzi yang nota bene penerus Bang
Yos, dapat diperkirakan kebijaksanaannya tidak akan jauh berbeda dengan yang
sebelumnya. Adang dengan pendukung PKS yang sangat getol dalam menjalankan
syariah islam (al: RUU APP), bukan pilihan yang cocok juga buatku. Golput?