Saya masuk ke Cathay Pacific First class section di Chang I Singapura menuju ke Hong Kong; masuk badan pesawat langsung kekiri dan saya langsung duduk di deret yang terakhir bagian belakang dari section ini. Dimanapan duduk di section ini pasti enak dan menyenangkan, comfortable dan leluasa

. Di deretan agak kedepan saya lihat dia, karena kelihatan sekali hanya kita berdua sajalah yang berasal dari Indonesia. Ada setumpuk majalah dan surat kabar dibagian tengah dari section ini, siapa suka boleh ambil sendiri sesukanya. Saya sedang mau ambil Time Magazine dan tiba-tiba saja dia ada disebelah saya. Saya ulurkan tangan saya kepadanya sambil mengatakan: “Boleh dong saya mengajak bersalaman dengan orang yang terpandang seperti bapak?” Dengan sedikit terkejut dia memandang saya dan menyambut tangan saya: “Ah, tentu saja, saya Juwono” Saya jawab: “Iya, pak saya memang tidak salah karena sudah saya kenali sejak tadi, saya Anwari, Pak”

“Mau kemana, pak Anwari?”

“Saya menuju Toronto, via Anchorage dan Vancouver”

“Kalau begitu kita berpisah di Hong Kong, karena saya ke Tokyo”. Ketika itu pesawat terasa bergerak, untuk taxiing, dan masing-masing kita ke tempat duduk sendiri-sendiri.

Sampai di Hong Kong semua penumpang disilakan turun dan saya hanya transit karena pesawat saya sama. Saya keluar duluan dari badan pesawat karena duduk dekat pintu exit. Langsung saya menuju bus airport yang besar itu.

Bus Airport, sepuluh tahun yang lalu, besar sekali dan menyenangkan, atapnya rendah sekali, mungkin hanya setinggi kepala manusia normal. Saya duduk disamping macam-macam manusia yang terlebih dahulu. Tiba-tiba pak Yuwono duduk disamping kursi saya dan menyalami saya.

“Sering ke Kanada, pak Anwari?”

“Sudah beberapa kali, tetapi tidak sering”

“Apa businessnya”

“Explorasi tambang mineral, pak. Sumber uangnya dari sana, yang interestnya boleh dikatakan nol persen.”

“Bisa ya begitu?”

“Ya selain private placements, saya juga menggunakan Stock Exchange di beberapa tempat. Pakai uang Bank di Indonesia kan tidak akan terbayar interestnya”

Keterangan saya kelihatan diperhatikan, dan kelihatan sambil mengeryitkan kening, beliau mengangguk-angguk dan melanjutkan berkata-kata: “Iya itu baik sekali menggunakan dana murah untuk tingkat eksplorasi”.

“Wah, iya benar, saya sudah beberapa kali mencoba agar bank-bank di Indonesia mau berpartisipasi didalam usaha saya. Terakhir di BNI 46 saya malah ditunjukkan dokumen intern mereka, yang menunjukkan bahwa usaha saya adalah High Risk. Ya sudah, saya bilang thank you dan good bye. Saya juga bilang kepada mereka– Itu Kaltim Prima Coal mendapat investasi sebesar 600 juta US dari bank asing, dan projectnya ditengah hutan Kalimantan seperti saya juga. Apa BNI 46 tidak ingin business ini ?– Saya tinggal pergi saja”

“Iya menyedihkan sekali, pakai uang orang lain tetapi asing dan uang bangsa sendiri tidak bisa ikut karena bunganya tinggi dan mereka juga tidak berani menghadapi risiko business di negerinya sendiri”.

Saya mengangguk dan dalam batin saya, kok sedikit ya, pejabat yang mau berpikir cara begini. Hati saya adem rasanya mendengar kata-kata singkat pak Juwono ini. Berikut ini giliran saya agak terkejut mendengarnya:

“Ada berapa uang untuk investasi yang telah berhasil diperoleh sampai sekarang ?” Jawab saya: “Kira-kira sekitar seratus juta, pak .” Tanya beliau: “US Dollars ?”

Saya mengangguk dan mengiiyakan.

“Wah, waduh apa ada usaha gangguan dari seseorang ?”

“Maksud bapak siapa?”

“Ya keluarganya pak Lurah”, sambil tersenyum dikulum.

“Ah, beruntunglah saya selama ini low profile saja, wong namanya saja eksplorasi, kalau tidak berhasil kan hilang modalnya tidak kembali. Biarpun ada usaha seperti itu dari orang-orangnya Pak Lurah, saya pura-pura bodoh tidak mengerti saja. Sedangkan waktu Ginanjar, yang kawan saya saja sampai hari ini, sebagai Menteri Pertambangan, tidak tahu bahwa saya duduk disini”. Saya berikan kartu nama perusahaan saya, beliau juga memberikan kartu namanya, sambil kita turun dari bus karena telah sampai di Terminal dan saya menuju ke executive lounge-nya.

Kata-katanya selanjutnya adalah menganjurkan saya agar tetap low profile jangan sampai kemasukan anaknya pak Lurah. Saya baca kartu namanya dimana ternulis jabatannya waktu itu sebagai Wakil Gubernur Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional).

Pak Juwono, sampai hari ini saya tidak melupakan pesan Bapak dalam pertemuan dan percakapan dengan Bapak itu, mungkin saja pak Juwono sendiri sudah lupa.

Anwari Doel Arnowo

Toronto, Ontario, Kanada – 4 April 2007