Saturday, September 16, 2006 (Revised Thursday, June 07, 2007)
Siapa yang setuju untuk menyatakan bahwa sebaiknya Agama jangan sekali-kali untuk ikut campur dalam Politik?? Pasti yang setuju banyak dan yang tidak setuju juga banyak sekali. Bagaimana dengan Militer??

Ya, didalam kalangan Militer professional sendiri banyak yang tidak setuju, karena mereka tidak dilatih dan dididik untuk menyukai politik. Yang setuju lebih sedikit tetapi mulutnya banyak. Baik di agama maupun di militer, yang mulutnya banyak adalah para pemuka-pemukanya, berupa jenderal, kolonel, pendeta, pastor, kyai, ustadt dan dai atau bhiksu. Mereka punya sound system yang lengkap dan nyaring serta gampang sekali untuk dipakai sebagai senjata pamungkasnya.

Apa senjata pamungkas pemuka agama? Soal akhirat, soal heaven and hell. Para pemuka agama lupa bahkan melupakan bahwa sepanjang sejarah manusia didunia ini, tak seorangpun pernah ke akhirat, mengalami rasa heaven (sorga) maupun rasa neraka (hell), dan kembali lagi kedunia dengan segar bugar dan mendongeng.

Dua-duanya dipakai secara acak (random) dan free (bebas merdeka) sebagai senjata untuk mengambil simpati dan mencela hidup orang lain dengan semena-mena.

Seorang kawan saya yang sudah haji mengatakan bahwa rekan-rekannya banyak yang sesat begitu rupa sehingga mereka men-Tuhan-kan agama dan tidak men-Tuhan-kan Tuhan sebagai Allahuakbar dan Allahusomat. Ibadah banyak disalah artikan hanya doa dan ritual agama saja, yang sebenarnya adalah  hanya merupakan sarana dan penopang  untuk menyembah Tuhan, baik yang disebut Allah, Allah Bapa, Brahman, Tao, Sang Hyang Widhi, Pengeran, Lord dan tentu saja Lord God.

Saya ingat ketika seorang penggemar tinju berkomentar sebagai berikut. Waktu Mohammad Ali melawan musuhnya yang juga beragama, sebelum bertanding dua-duanya memejamkan mata dan berdoa disudutya masing-masing. Apa bunyi doanya? Mau menang, kan?  Apa Tuhan tidak bingung, ya, ujar penggemar tinju itu. Yang lebih jelas lagi ketika terjadi Iran dan Irak berperang dengan hebat dulu. Disini jelas-jelas bahwa kedua-duanya beragama Islam. Sebelum perangpun kedua-dua belah pihak berdoa. Pihak Iran didoakan oleh para Mullah dan Ayatollah demikian juga pihak Irak.

Ada yang mengatakan apabila prajurit Iran didoakan oleh sepuluh mullah dan sang prajurit meninggal, maka dia dijamin akan masuk surga!! Absurd itu !!  

Bisakah sebuah pintu surga dibukakan oleh manusia yang hanya berkedudukan dan berderajat mullah?  

Apakah Mullah itu tingkatannya lebih dari Nabi??

Saya pikir seorang nabi pun tidak akan menjamin sembarangan soal surga.

Kalau Militer dalam sejarah Indonesia selalu bingung bagaimana arti yang dimaksud dengan kata keamanan dan pertahanan. Mungkin juga tidak bingung tetapi memang sengaja mencampur-adukkan, untuk mengambil keuntungan sesaat (32 tahun? atau 60 tahun?). Nah giliran kita menjadi bingung kan? Sesaat, tetapi berlangsung dengan jelas selama 32 tahun atau dengan yang kurang/tidak jelas selama 60 tahun. Keamanan adalah urusan Polisi dan pertahanan jelas urusan TNI-Tentara Nasional Indonesia. TNI itu ada tiga, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Darat. Pernah dahulu yang disebut TNI itu hanya Angkatan Darat. Menyebutnya saja: TNI hanya yang Angkatan Darat. Yang lain tanpa TNI. Susunan yang benar, kata saya, sebaiknya adalah TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Udara. Kenapa saya mengurutnya dengan cara seperti itu? Saya juga mengetahui bahwa Nusantara ini lebih banyak daratan (1.919.440 km2) diatas pulau-pulaunya, kalau dibandingkan dengan bayaknya air (93.000 km2). Airnya hanya sedikit, sepersepuluh; saya duga ini karena dihitung air yang hanya dalam batas International 12 Mil dari garis pantai saja.

Nusantara yang terdiri dari air, adalah yang terletak didalam laut-laut yang terkurung oleh pulau-plau yang lebih dari 17.000 buah banyaknya. Ada pakar yang mengatakan jumlah pulaunya lebih dari 19.000 buah.

Menjaga seluruh batas-batas kedaulatan negara seperti Nusantara kita ini lebih banyak bocornya apabila TNI Angkatan Lautnya lemah seperti sekarang, seperti bebek saja, bisa berenang tetapi bukan di air dalam. Saya pernah menuliskan agar supaya ada keseimbangan yang lebih baik, bagaimana kalau kita pindahkan saja separuh anggota Angkatan Darat menjadi Angkatan Laut yang Marinir? Bukankah Nusantara yang katanya sekarang mempunyai pulau sebanyak lebih dari sembilan belas ribu pulau, sebaiknya dijaga pertahanannya oleh Marinir?

Berapa realitasnya jumlah anggota Marinir yang ada?

Pernah saya tanyakan kepada seorang Laksamana Komandan Marinir yang sekarang sudah pensiun. Dia menjawab jumlah anggotanya tidak melebihi jumlah dari tiga belas ribu anggota.

Kemudian saya sempat juga menanyakan dengan serious kepada salah satu ajudan Kepala Staff Angkatan Laut. Jawabnya adalah jumlah anggota TNI Angkatan laut adalah sekitar 17 ribu orang anggota.

Sekarang pertanyaan yang timbul adalah: apakah pantas perimbangannya seperti itu?

Kalau jumlah anggota TNI Angkatan Darat diberitakan mempunyai anggota lebih dari seratus lima puluh ribu (??saya tidak berhasil memperoleh angka yang akurat). Kalau memang diperlukan jumlah anggota TNI Angkatan Darat sebesar itu, berperang melawan siapakah telah pernah dilakukannya?

Dalam pertahanan Negara tentu saja pertahanan adalah terhadap serangan yang berasal dari pihak luar Republik. TNI hanya boleh ikut campur dalam masalah keamanan kalau diminta sebagai bantuan oleh Polisi. TNI tidak diperkenankan dan tidak akan untuk datang secara dengan sendirinya (automatic) untuk ikut campur. Untuk itulah saya selalu merujuk mengapa agar Marinir ditambah berlipat-lipat kali. Tentang perubahan status TNI-Angkatan Darat menjadi Marinir diatas, seorang anggota Marinir menyebutkan bahwa kemungkinan besar amat banyak yang akan gugur dalam test. Menurut pengamatan orang awam seperti saya, Marinir adalah pasukan yang akan sanggup untuk melakukan pertempuran baik di medan perang di daratan maupun lautan, mereka juga bisa dikirim melalui transportasi udara dengan pesawat udara.

Nah begitulah masih banyak masalah di dalam TNI, mengapa para anggota TNI masih berambisi untuk masuk kedalam dunia politik untuk antara lain menjadi Presiden.

Kalau menjadi Menteri dan menjadi Duta Besar, bahkan menjadi Lurah sekalipun mau, itu sejak dari dahulu mula ambisi seperti itu, orang sudah tahu.

Kalau anggota TNI yang sudah pensiun dibolehkanpun, maka saya meyakini bahwa undang-undangnya itu memang disiapkan jauh-jauh sebelumnya. Legal? Iya memang, karena undang-undang yang mengaturnya agar menjadi legal juga sudah disiapkan, jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya pikir selalu ada upaya pengaturan terhadap mati surinya pelaksanaan penyelenggaraan Negara selama ini.

Anjuran saya hanya sederhana dan bisa dilakukan bagi siapa saja yang mau, untuk menghindari adanya sikap-sikap merasa benar sendiri seperti ini.

Jagalah rumah tangga kita masing-masing, sehingga anggota keluarga tidak ada yang melanggar undang-undang, tidak berhutang yang tidak dibayar kepada orang lain atau tetangga. Pengemudi dan pembantu rumah tangga juga berkelakuan seperti itu dan bisa dipantau oleh kita setiap saat.

Kalau kita masing-masing dengan baik dapat menyelia (supervise) rumah tangga kita (istana kecil kita, kerajaan kecil kita), lalu berminat menjadi ketua Rukun Tetangga, bolehlah itu dilakukan. Apalagi menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau Penyelenggara lainnya, boleh saja.

Menjabat jabatan sebagai Penyelenggara Negara, tetapi masih melakukan pencurian uang yang menjadi hak Rakyat dan apalagi melakukan pelanggaran undang-undang, itu benar-benar keterlaluan keblinger mentalitasnya dan  moralnya.

Menurunnya iman seseorang dan yang seharusnya diikuti dengan melepaskan jabatan dan tobat serta menyerahkan diri kepada hamba hukum, adalah hal yang ideal sekali dan belum pernah terjadi selama ini. Saya ingat ada dua mantan Presiden Korea Selatan yang dihukum oleh Pengadilan, menjalani hukuman kurungan dan dibebaskan. Akan tetapi setelah dibebaskan dari hukuman kurungan malah memilih tinggal disebuah kuil untuk bertapa. Mereka melakukan atau menjalani ilmu keagamaan dengan intensive, sebagai demonstrasi rasa malunya yang tidak tertahankan.

Mungkinkah yang seperti ini bisa dilakukan dinegara kita, Republik Indonesia? Mulai sekarang dianjurkan agar semua orang mengevaluasi diri lebih dalam, patutkah menduduki jabatan tertentu sebelum berusaha kearah itu? Maukah introspeksi diri? Cerita paling hangat adalah yang terjadi baru-baru ini mengenai ikut campur yang tidak semestinya. Paus Benedict XVI telah mengeluarkan komentar mengenai Muslim, yang pagi tadi saya saksikan reaksi kaum Muslim di warta berita di televisi (TeVi). Di Kanada, koran kemarin memuat satu garis penuh, satu halaman, dari kiri kekanan dengan huruf cukup besar: Pope should stay out of Canadian politics (Paus seharusnya berada diluar urusan politik Kanada). Padahal sebenarnya itu cuma reaksi karena adanya  instruksi Paus kepada para pemuka agama (bishops) Katholik di Ontario, Kanada, agar menentang Undang-undang Kanada yang membolehkan para homoseks menikah secara resmi.

Menurut riwayat sejarah Gereja Katholik, hal seperti ini sudah berlangsung sejak sepuluh abad lamanya, yakni ikut campur. Pada tahun 1005, diulangi 1005, Paus Gregory VII mengeluarkan maklumat yang disebut Dictatus Papae, yang menyatakan bahwa kaki Paus harus dicium oleh semua Prince (Raja / Pangeran) dan memiliki kekuasaan untuk memecat seorang kaisar.

Dua tahun sesudahnya Paus Gregory VII berada didalam istananya, menunggu pernyataan setia dari Emperor (Kaisar) Henry IV yang berlutut di atas salju diluar benteng Canosa.

Maka dimulailah era dimana terjadi persaingan penobatan antara para Raja dan Paus pada era perebutan kekuasaan di Eropa Kuno. Perebutan kekuasaan ini telah mencapai puncaknya berupa pengakuan hak kekuasaan tertinggi dan dengan Deklarasi Boniface VIII pada tahun 1302, Unam Sanctam, yang menyebutkan, sebagai berikut.

Adalah demi kepentingan keselamatan menyeluruh untuk semua makhluk (every creature) menjadi hamba dari Roman Pontiff (Pimpinan dari Gereja katholik Roma, Pope, Holy Father atau Vicar of Christ). Creature termasuk semut dan kuman?

Baru-baru ini ada berita Pak Baasyir juga mengatakan  bahwa Ummat Islam tidak minta Negara demokrasi tetapi minta Negara Islam, malah dia memakai istilah Allahcracy.

Kalau Negara Islam maka warganegaranya harus begini harus begitu … dan seterusnya … dan seterusnya.

Di Amerika Serikat yang umat Kristennya majority saja mereka tidak minta negaranya menjadi Negara Kristen!!

Waktu sebelum pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden secara langsung, maka banyak juga intelektual, didepan umum menjual idea, yang bernuansa militeristik.

Bahwa saat itu Indonesia membutuhkan Presiden yang militer dan bukan sipil karena yang sipil telah terbukti bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk membawa Negara kearah yang lebih baik.

Siapa yang menghembuskan pertama kali idea seperti ini?

Saya kira siapapun anggota masyarakat yang sehat dan tenang pikirannya akan dengan mudah menebak siapa dia.

Bolehkah saya berputus asa dan membiarkan mereka yang men-Tuhan-kan agama dan menyanjung militer begitu tinggi sehingga melupakan bahwa dia sendiri telah ikut mengecilkan dirinya sendiri, seperti manusia yang tidak sanggup melakukan apa-apa lagi? Saya duga dengan mudahnya pikiran para anggota masyarakat yang dibelokkan dengan gampang seperti ini, oleh karena sudah terlalu lama Indonesia tidak memiliki pemimpin.

Seorang Pemimpin, Pemikir dan Pemberani untuk mulai memimpin rakyat, belum juga muncul.

Sampai bilakah, rakyat awam dapat dibiarkan meneruskan hidup yang dapat menunaikan ibadahnya dengan normal, tanpa diracuni oleh idea yang muluk-muluk dan memberi mimpi-mimpi masuk surga serta masyarakat adil makmur dan perlu diayomi oleh tokoh-tokoh pemuka agama dan militer??

—ooo000ooo—

Tulisan diatas telah mendapat sebuah tanggapan yang patut bagi para pembacanya, saya silakan untuk meneruskan membaca tanggapan tersebut dibawah ini.

Arifin Abubakar :

"Sampai bilakah, rakyat awam dapat dibiarkan meneruskan hidup yang dapat menunaikan ibadahnya dengan normal tanpa diracuni dengan idea yang muluk-muluk dan memberi mimpi-mimpi masuk surga serta masyarakat adil makmur dan perlu diayomi oleh tokoh-tokoh pemuka agama dan militer??"

Itulah kalimat kunci yang saya simak dari tulisan Bung Anwari yang paling mutakhir. Mungkin akan terus begitu, apabila manusia masih belum pandai menghayati esensi beragama. Menurut saya – maaf, saya juga sangat mungkin salah – beragama adalah urusan PRIBADI sesorang. Vertikal. Kepada yang dipertuhankannya. Kepada Allah, Brahman, Sang Hyang Widhi, Tao and many other such a name. Dia ada dalam bilik privatnya. Hanya berdua dengan Tuhannya. Diluar itu – ruang horizontal – bukan lagi ruang milik pribadinya. Diluar bilik itu adalah ruang PUBLIK dengan tatakrama publik, dengan segala aturan main publik, dalam kebersamaan, yang sudah menjadi hukum Tuhan sendiri. Keberagaman adalah Sunnatullah. Sekularisme yang harus jadi acuan disitu. Rasulullah saw sendiri bersabda " ANTUM A'LAMU BI UMURI DUNYA KUM" – "KALIAN LEBIH TAHU MENGENAI URUSAN DUNIA KALIAN".  Jangan bawa agama ke ruang publik. Begitu dia dibawa ke ruang publik, agama bukan lagi manfaat, tapi menjadi sumber konflik. Konflik sepanjang masa…..

 

Salam,

Arifin