Banyak yang sangsi akan kisah saya sebagai RAJA MAUHAU di Waingapu dimana saya di tawari kuda untuk tetap tinggal ditempat itu ,,,  Sebuah Pengalaman yang tak terlupakan, dilaporkan oleh Wal Suparmo, tatkala untuk pertama kalinya mendapat tugas ke daerah Nusà Tenggara, Waingapu pad amasa peralihan dari KLM dan permulaan pertumbuhan Garuda……

;KAWAH CHANDRAIIIMUKA”.
Pada umur 21 tahun saya dikirim ke Waingapu /WGP dengan lapangan terbang bernama Mau Hau, untuk sementara, menggantikan Station Manager yang dipindahkan ke stasiun yang lebih besar.
Karena letaknya yang sangat terpencil, Waingapu bisa dkatakan adalah “ Digulnya” PT.G.I.A, yaitu tempat yang tidak menarik /dihindari oleh semua pejabat..

Masa itu WGP kering, tidak ada listrik, sulit air, tidak ada sayuran bahkan sulit beras (makanan utamanya jagung). Karena itu penempatan DM/SM tidak boleh terlalu lama dan kalau sedang kosong, lama, baru mendapat penggantinya. Waktu saya datang di WGP, tidak ada Syahbandar (KAPELUD) sebab Kapelud pada waktu itu karena alasan kesehatan ( sakit mental alias gila karena “dibikin” orang kampung sebab "memperkosa” seorang gadis) sudah lama meninggalakanWGP dan lapangan terbang yang hanya terdiri dan landasan rumput, secara tehnis diserahkan dibawah pengawasan Kepala Jawatan pekerjaan Umum (PU) yang berkantor dikota dan hanya sekali sebulan menengok lapangan terbàng. Dengan demikian maka saya sebagai DM/SM juga merangkap sebagai Kapelud, yang tidak ada sarana komunikasi Yang ada hanya Dinas Meteo (BMG) dengan dua orang karyawan yang tinggal dekat bandara.

Semua Station Manager Garuda disana dipanggil TUAN GIA, baik oleh oleh para pegawai maupun penduduk atau orang-orang lain dikota. Station Manager di perlengkapi dengan pistol tanda bahaya (sein pistol).Sebelum pesawat mendarat memeriksa wind sock serta berkeliling run way dengan naik sepeda motor Francis Barnett, satu — satunya yang ada di WGP, berbahan bakar AVIGAS( bensin kapal terbang), untuk melihat apakah ada obstacle di R/W (jika habis hujan kemungkinan ada genangan air atau harus mengusir ternak karena hanvak kuda liar dsb.( a.l. milik Umbu Dicky Dongga,orang terkaya di Sumba Timur)

Jika ada obstacle maka harus ditembakkan sein pistol dengan peluru merah sehingga pesawat tidak jadi mendarat dan terus terbang ke Kupang atau Sumbawa.
 
SI GADIS DAN SI NENEK.
Lapangan terbang Mau Hau letaknya agak jauh dan Kota dan hanya bisa dicapai dengan menyebrangi sungai Kambaniru. Pada waktu itu tidak ada jembatan sehingga harus naik rakit (getek/pincara), melintasi sungai yang masih banyak buayanya. Ditempat itulah saya melihat betapa panjangnya usus manusia yaitu dikampung Mauliru, ditepi sungai tempatmandi dan cuci (MCK) penduduk setempat.

Untuk pengamanan pinggir sungai (tepian) sudah dipasang pagar bambu, tetapi buaya yang lapar telah merüsak pagar tersebut; sehingga sewaktu ada gadis yang masuk dalam air, ia disambar oleh buaya. Karena teriakannya, maka penduduk berdatangan terus langsung masuk kedalam sungai untuk menolong gadis yang dibawa lari oleh buaya dengan usus berhamburan, terburai, sehingga terjadi tarik menanik antara penduduk yang memegang usus dan buaya yang menggondol tubuh si gadis. Sampai kira-kira 10 meter, usus putus dan tubuh sang gãdis dibawa lari oleh buaya. Baru setelah tiga ataü empat han di keternukan kembali, secara utuh terbenam dalam lumpur, hanya hati dan jantungnya yang sudah tidak ada.

Berbicara mengenai buaya, suatu ketika saya diundang pesta oleh Hakim Giri yang mempunyai beberapa puteri cantik. Maka berangkatlah saya ke kota sekaligus mencari hiburan yang langka, yaitu bujang-bujang lapuk dari GIA dan Meteo (Lius Lapilane dan Lenggu). Pesta berlangsung sampai pukul 03.00 pagi maka waktu pulang dari kota tentu saja sudah tidak ada lagi rakit di sungai (hanya beroperasi sampai pukul 09.00 malam), sehingga kami terpaksa “meminjam” perahu pénduduk yang terbuat dan pohon kayu yang dibuang/dikeruk bagian dalamnya( semacam kole-kole). Entah karena pengaruh Johnny Walker(wisky), Lius yang memegang dayung di depan mungkin agak mabuk atau pasti mengantuk maka kurang lebih tiga meter sebelum sampai ditepi sungai, perahu oleng dan ter-balik. Air masih cukup dalam, tetapi kami selamat berenang ke darat.

Keesokan harinya, iseng-iseng saya ingin melihat tempat tersebut dan tidak jáuh dan tempat itu kelihatan seekor buaya sedang mengam­bang.Saya berteriak: “ ada buaya !”, tetapi langsung dibentak oleh Lius, jangan sebut buaya tetapi panggil “NENEK”. Teringat sewaktu di Jambi, tidak boleh menyebut harimau, tetapi juga harus dipanggil “nenek”.
 
BEKAS RUMAH KEMPETAI
Rumah dan kantor DM/SM ± dua kilometer dan lapangan terbang dan terisolir, yang  adalah bekas rumah komandan kenpetal Jepang yang terkenal kejamnya.Rumah kayu tersebut letaknya dilereng bukit dengan oprijlaan (jalan masuk) yang kanan kinnya ada pohon — pohon besar.
Pada waktu sumur mulai kering di kandung maksud untuk menggali sumur baru dan dicoba untuk menggali sumur dibawah pohon yang biasanya ada sumber air. Setelah beberapa saat menggali diketemukan tulang belulang manusia yang konon milik pilot Arnerika yang pesawatnya ditembak jatuh waktu menyerang lapangan terbang pada perang dunia kedua dan oleh Jepang digantung dan dikubur dibawah pohon tersebut.

POONG, POONG, POONG 
 
Tidak seperti Station Manager yang difinitif yang tinggal dengan keluargannya dan para pembantu, dirumah ini. Tapi, sebagai orang yang didetasir kalau malam, saya  hanya tinggal seorang diri ditemani oleh DOGI (anjing yang sangat berguna dan telah sekian kali berganti majikan) karena pembantu wanita dan tukang kebon, malam pulang kekampung.Jika tidur harus pasang kelambu dan lampu Aladin (tidak ada listrik)untuk dapat melihat kalajengking berbisa (scorpion) yang menempel dikelambu karena tidak dapat masuk.

Tiap malam yang terdengar hanya bunyi gong yang dipukul terus menerus, siang malam , poong — poong -~poong . . .yaitu tanda bahwa ada orang meningga.l. Gong dipukul terus oleh salah seorang keluarga orang yang mati, selama berhari — han bahkan berminggu — minggu, sampai mayat dikubur,Menurut kepercayaan merapu, bunyi gong tersebut adalah untuk mengusir setan.Anehnya  mayat yang dibungkus kain Sumba itu hanya pada waktu malam hari berbau tetapi siang hari sama sekali tidak karena kita makan-makan di bawahnya

Sering bunyi gong bersaut- sautan yang berarti banyak orang yang meninggal dunia. Karena penyakit dan kurang gizi(kelaparan) Sebelumnya, orang tidak dapat tidur mendengar bunyi .itu yang agak menyeramkañ tetapi lama — lama jika tidak terdengar , timbul pertanyaan kok sepi ? Memangnya tidak ada orang mati?
 
KUDA LIAR DAN SENAPAN MESIN JEPANG.
Pada suatu malam saya terbangun karena pintu depan digedor— gedor orang. Fikiran pertama, ini pasti perampok menginginkan  peti uang yang berisi hasil penjualan ticket. Setelah menunggu sesaat saya memberanikan diri dengan bersenjatakan sein pistol ditangan kanan dan senter ditangan kiri, secara perlahan- lahan membuka jendela samping. Apa lacur ? puluhan kuda liar berlarian keluar perkarangan dengan melompati pagar kawat berduri setinggi 11/2 meter. Rupanya setelah mereka menikmati tanaman sayuran yang dengan susah payah  ditanam oleh tukang kebon. Kuda-kuda itu, menggosok — gosokkan badannya ke knop (handle) pembuka pintu, sehingga terdengar seperti ada orang ketok pintu.Keesokan harinya, tukang kebun selama sehari penuh mengumpati kuda-kuda itu.

Karena hanya ada satu flight sehari maka banyak waktu untuk berpetualang yaitu masuk goa-goa yang dibuat oleh Jepang, di dalam bukit-bukit disekitar lapangan terbang. Dengan menggiring kuda masuk kedalam goa, agar supaya menginjak-injak ular, jika ada. Saya sarnpai dalam goa yang sangat sémpit dan hanya bisa masuk secara rnerangkak kurang lebih 20 meter, kemudian goa melebar dimana terdapat selaras  Juki-kanju (senapan mesin berat, cal 15,8/Arsu)anti kuzu keiho(serangan udara), bertuliskan (huruf kanji) Dai Ichi Dai Dan (nomor batalyonnya). Karena terlindung dan iklinmya sangat kering, nampaknya senapan mesin 1tersebut masih bisa dioperasikan dengan baik (tapi tidak ada pelurunya). Letak posisi senapan mesin dapat meliputi (mencover) seluruh penjuru pelabuhan udara WGP.
Jepang pada waktu itu bermaksud untuk mempentahankan lapangan terbang dan pelabuhan laut WGP secara mati-matian, demikian pula lapangan terbang di  bagian Timur Nusa Tenggara(Kupang).

Tetapi beda dengan Kupang, dimana sampai tahun 1958 meriam­meriam dan sejata berat Jepang masih terlihat di goa-goa pertahanannya, tetapi di WGP sudah tidak ada lagi, karena telah diambil, kecuali yang tidak bisa dicapai atau mungkin belum diketemukan tempatnya. Belakangan setelah 30 tahun kemudian saya kembali ke WGP, saya lihat ada meriam cal. 105 (bukan Houwitzer) telah menjadi monumen dan dipasang di tengah kota Waingapu, jadi jelas bukan senjata yang sama seperti yang saya ketemukan di dalam goa.
PAK MANDOR BABO EHA YANG BH(buta huruf).

Personalia di Stasiun WGP sangat unik. Mandornya seorang buta huruf tetapi berbadan besar (jagoan yang sangat disegani tetapi berhati emas). Meskipun buta huruf dia dapat membedakan nama — nama kota yang tentera pada label bagasi tanpa melihat wama dan dapat mengisi bensin (refuelling) pesawat terbang sesuai tertera dalam load sheet (dibantu F/O). Pada waktu, itu pekerja berbaju biru (bongkar muat, angkuta dan timbang barang/bagasi) bahkan ada yang buta hunuf dan paling tinggi berpendidikan SD.

Untuk memperkenalkan diri,saya  berkunjung kerumah pak Mandor namanya Babo Eha, dan waktu saya tanyakan apakah ibunya (mamanya) masih   ada,  dijawab, masih ada, dinumah, Ternyata itu adalah mayatnya (dibungkus kain sumba) dan  disimpan di atas rumah(plafon), karena, meskipun telah meninggal pada waktu zaman Jepang, tetapi belum ada ongkos untuk menguburnya secana adat.

Setelah  30 tahun saya bernostalgia ke WGP,dimana Babo Eha (sebelum meninggal) telah menjadi “pemborong” besar dengan banyak istri dan anaknya malah mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati pada PILKADA yang akan datang.

Pengalaman, bahaya serta penderitaan yang dialami di tempat ini dan tempat-tempat  lain adalah berat tetapi sangat romantis kanena pada waktu itu tenjadi di dalarn masyarakat yang  ramah, jujur, lugu, scpan, benadat dan seder­hana.

Pengalaman-pengalam lain banyak sekali seperti seolah-olah menjadi PENJAGA KUBUR selama berbulan-bulan karena tidur di atas kuburan di Kupang dan kisah-kisah lain di pedalaman Kalimantan pada permulaan karier saya di darat

Wasalam,
Wal Suparmo