Pemimpin rumah tangga itu bertugas memberikan pendidikan moral dalam membudayakan peradaban yang mencintai sesama manusia. Ini yang kurang di dalam sistem pendidikan kita: Civic education itu. Bukan hanya di negeri kita, kalau sudah berkaitan dengan mereka yang berhak memegang senjata pembunuh sesama manusia.



Terlebih lagi kalau pemimpin rumah tangga dan anaknya memang
menekankan pendidikan menggunakan kekerasan yang sangar itu sebagai
hal yang pokok, maka pendidikan budaya yang sejalan dengan nilai-
nilai luhur peradaban manusia itu tentu saja menjadi tidak ada
artinya; seandainya pun diajarkan, maka itu hanya merupakan hafalan
yang tidak membekas sama sekali bagi doktrin kekerasan "hantam dulu
urusan belakangan" atau istilah gagahnya "unilateral action" yang
diajarkan di sana.

Sebagai penganut Ahimsa, atau istilah gagahnya Non-violence, saya
memang sependapat dengan mreka yang bercita-cita dan bermimpi agar
suatu ketika senjata itu adalah barang haram, dan angkatan bersenjata
dalam setting dan struktur apa saja tidak lagi diperlukan.

Angkatan bersenjata itu lahir dari adanya senjata, dan senjata lahir
dari adanya pilihan atas kekerasan dalam menyelesaikan suatu konflik.
Yang salah bukan adanya konflik itu, karena di dalam hidup bersama
konflik tidak akan terhindarkan, tetapi olah otak (fikiran dan emosi
dan naluri) yang menjatuhkan PILIHAN kepada tindak kekerasan itulah
yang jadi sumbernya. Padahal itu bukan satu-satunya pilihan.

Lihat saja mereka yang sedang mengerahkan angkatan bersenjatanya
masing-masing di medan perang di Timur Tengah, Asia dan Afrika,
semuanya serba kewalahan sekarang menyaksikan korban nyawa
bergelimbangan setiap hari, padahal kuncunya sederhana: letakkan
senjata!

Ya, gunakanlah cara-cara yang A-himsa (= Anti Kekerasan) antara lain
perundingan damai, dll. Tentu saja perlu digelar penegakan hukum,
dimulai dari pengusutan atas nama justice disusul denbgan pengadilan
dst, sehingga yang bersalah bisa dikenai sanksi hukum, agar tidak
lagi mengulangi kesalahannya itu lagi. Dan di dalam menghukum yang
salah, itu juga haruslah menggunakan A-himsa pula.

Tentu, apa yang saya usulkan ini tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Mungkin saja itu cuma akan menjadi mimpi yang akan dijadikan
ejek saja oleh mereka yang memuja warrior (pahlawan bersenjata),
sebab memang jenis manusia seperti itulah yang sejak dahulu kala
sampai hari ini yang dipuja dan dituliskan dengan tinta emas di
lembaran buku sejarah setiap bangsa. Padahal itu bukan tinta emas,
melainkan tinda darah korban terbantai oleh senjata.

Tapi kritik orang ketika Gandhi menggunakan A-himsa dalam
perjuangannya memerdekakan negerinya dari penjajahan Inggeris dulu
juga diejek seperti itu. Karenanya tidak usah putus asa dan tidak
usah juga kalap, apalagi kalau kemudian kita pun akhirnya menyerah
dan memilih... kekerasan!