Tulisan ini pernah dimuat di Apakabar, pada 29 April 1999. Saat ini, berkaitan dengan mencuatnya niat Kejaksaan Agung – lepas dari apakah ini niat atau niat-niatan – untuk mengungkapkan kembali kasus korupsi mantan Presiden Soeharto, saya merasa terusik untuk mengirim artikel lama ini kembali di millist ini. Bagaimana kualitas, performa dan kesungguhan pihak Kejaksaan Agung dalam menangani kasus ini belum apa-apa sudah menunjukkan suatu kekonyolan dengan hilangnya dokumen asli alat bukti kasus tersebut. Katanya, yang ada cuma fotokopinya! Hal begini, kalau ditanyakan kepada Soeharto, pasti jawabannya kira-kira begini: “Dengan demikien, ini akan semangkin membuat kasus daripada saya semangkin tidak jelas…”Terima kasih, dan salam sejahtera untuk kita semua.

Berikut wawancara wartawan (W) dengan mantan presiden Soeharto (S)
tentang pemberitaan majalah Time tentang harta kekayaan Keluarga
Soeharto ("Suharto Inc.") yang menghebohkan masyarakat Indonesia
sekarang ini
 
W: Pak Harto, Anda tentu sudah tahu heboh berita majalah Time baru-baru
ini, yang menurunkan berita utamanya tentang harta kekayaan keluarga
Anda? Apakah ada komentar tentang ini?
S: Hhhhmmmm (berdehem seperti biasanya), heboh yang terjadi dari pada
masyarakat atas laporan utama dari pada majalah Time tentang harta dari
pada keluarga dari pada saya itu menunjukken mental dari pada
masyarakat kita masih berciri mental dari pada inlander. Mental yang
lebih seneng menghargai dari pada apa yang berasal dari pada orang
asing daripada apa yang berasal dari pada bangsanya sendiri.
W: Maksud Bapak?
S: Laporan dari pada Time yang sampai sekitar 20 halaman itu berisi
laporan tentang — menurut mereka — jumlah kekayaan dari pada
(keluarga) saya itu 'ken pasa prinsipnya bukan berita baru.
Data-datanya juga begitu. Itu 'ken sebagian besar sudah pernah
dikataken orang-orang seperti Christianto Wibisono, George Junus
Aditjondro, atau Jefrey Winter. Anda baca sendiri saja dari awal
sampai akhir, pada intinya tidak ada hal-hal baru dari pada laporan
dari pada Time tersebut. Semuanya sudah pernah juga diberitaken oleh
pers dari pada dalam negeri. Saya kok heran, begitu majalah Time yang
merupaken majalah dari pada asing, masyarakat dari pada kita heboh luar
biasa. Waktu pers dari pada dalam negeri yang memberitaken tidak
seheboh sekarang. Itu yang saya maksudken mental inlander dari pada
rakyat kita.
Maka tidak heran juga kalau sekarang yang mereka (pers dari pada dalam
negeri) ributken bukan hal yang baru. Tetapi dasar mental inlander
karena yang memberitaken itu majalah asing, mereka semua pada heboh.
Lalu apa yang baru? Yang baru yang saya lihat adalah pers yang dulu
suka cari muka dengan (keluarga) saya, sekarang banyak juga yang
ikut-ikutan menghujat, memperolok-olok, memaki-maki, memakai
kalimat-kalimat yang sarkasme dalam pemberitaannya tentang saya dan
keluarga dari pada saya .
Walaupun sebenarnya tidak ada yang baru dari pada laporan dari pada
majalah Time itu, banyak pers dalam negeri yang sengaja membuatnya
menjadi semacam sensasi, seolah-olah ada data-data baru, ada hal yang
baru dari pada berita dari pada kekayaan dari pada saya, agar medianya
laku. Lihat saja majalah baru, Gamma. Pada nomor 13-nya memuat judul
cover story secara mencolok mata: "Temuan TIME: Harta Soeharto 120
Triliun." Padahal coba baca isinya. Berita tentang "temuan Time" itu
hanya sekitar dua halaman. Kering. Sama sekali tidak ada yang baru.
Sehingga yang telanjur membeli karena tertarik dengan judul cover
story-nya akan merasa tertipu.
Atau lihat harian Kompas, yang dulu suka mengelu-eluken saya sekarang
ikut-ikutan memakai cara-cara sarkasme dan sinis tentang saya. Misalnya
banyak kali memuat kartun yang menyindir sinis terhadap saya, terutama
akhir-akhir ini di halaman 14-nya. Misalnya, saya membaca di rubrik
Mang Usil-nya yang menyindir saya atas berita dari pada majalah Time
itu di Kompas Selasa, 18 Mei. Mereka menulis dengan meniru kebiasan
dari pada saya bicara: "Rekeningnya atas nama daripada siapa, silaken
buktiken!" Dan beberapa berita dan Tajuk Rencananya. Padahal dulu waktu
saya terpilih sebagai presiden yang ketujuh kali dalam Tajuk Rencananya
mereka masih memuji saya. Katanya, dengan terpilihnya saya yang ketujuh
kali, merupaken langkah tepat untuk menuju solusi masalah krisis
ekonomi yang melanda negara ini. Masih ada beberapa media yang bersikap
seperti ini.
Jelek-jelek walaupun majalah Tempo itu musuh dari pada saya sejak dulu,
mereka tetap konsisten dengan sikap dari pada mereka. Dulu mereka
mencoba sedapat mungkin (karena memang waktu itu tidak ada pers yang
berani dengan saya) mengungkapken kebobrokan dari pada saya tanpa
menghujat. Misalnya kasus dari pada kapal-kapal bekas dari pada Jerman
 . Sekarang setelah saya sudah tidak menjadi presiden, mereka tetap
konsisten dalam pemberitaan tentang saya. Walaupun mengungkapken banyak
sekali kebobrokan dari pada (keluarga) saya, mereka tidak ikut-ikutan
memakai kata-kata tidak sopan dan menghujat.
 W: Baiklah. Itu pendapat Anda. Saya tidak akan bertanya lebih lanjut
tentang masalah tersebut. Yang saya tanyakan sekarang: Anda dulu
berbicara di TPI bahwa Anda tidak memiliki harta satu sen pun di luar
negeri. Sekarang bagaimana komentar Anda dengan hasil investigasi
majalah Time itu, bahwa Anda malah memiliki kekayaan sebesar 15 miliar
dollar AS. Bahkan sebelumnya mencapai angka 73 miliar dollar AS.
Bagaimana ini?
S: Lho, saya 'ken pernah mengataken kalau saya bicara tidak punya satu
sen pun, itu ken bisa berarti yang saya maksudken, saya tidak pernah
memiliki uang receh pecahan satu sen. Satu keping pun tidak punya.
Lagipula di masa sekarang mana ada uang pecahan sen-senan? Bisa saja
'ken itu berarti berarti saya punya miliaran dollar AS di luar negeri?
(baca: "Pidato Imajiner Mantan dari pada Soeharto" yang pernah dimuat
di Apakabar — pen.)
W: Jadi laporan majalah Time itu akurat?
S: Pengacara saya bilang apa?
W: Mereka telah membantah kebenaran berita tersebut.
S: Ya, kalau begitu memang tidak benar.
W: Lho, kok begitu?
S: Memang begitu. Antara saya dengan pengacara dari pada saya itu 'ken
harus satu suara. Masa pengacara dari pada saya bilang "tidak," terus
saya bilang "ya"? Saudara dengar bantahan dari pada saya tentang
berita dari pada Time itu, yang disiarken AN Teve dan RCTI dalam acara
berita mereka hari Jumat, tanggal 21 Mei baru-baru ini? Itu 'ken sudah
cukup jelas?
W: Masalah substansinya 'kan bukan itu, Pak. Substansinya adalah apakah
apa yang diberitakan oleh Majalah Time itu benar atau tidak? Menurut
Seksi Pers Asia majalah Time, Jane Scholes, laporan majalahnya seratus
persen akurat.
S: Dia boleh saja berkata demikian. Tetapi semuanya 'ken memerlukan
bukti-bukti secara hukum. Dari pada bukti-bukti itu kita baru bisa
mengataken, apakah laporan itu benar atau tidak.
W: Mengapa Anda tidak mau mengaku saja bahwa harta-harta itu memang
milik Anda, dan diperoleh secara ilegal?
S: Anda sudah pernah mendengar pepatah: "Kalau semua maling mau
mengaku, penjara-penjara bakalan penuh sesak"?
W: Tidak semua semua maling deh. Cukup Anda saja, bagaimana?
S: Asal Anda tahu dalam hukum , pengakuan saja tidak cukup. Harus ada
bukti-bukti lain yang kuat. Terutama dari pada bukti-bukti tertulis.
W: Anda 'kan bisa mengaku, kemudian menyerahkan bukti-bukti tertulis,
atau data-data rekening Anda tersebut kepada kejaksaan agung untuk
ditindaklanjuti?
S: Enak aja, cari sendiri dong!
W: Tempo hari Anda sudah menyerahkan surat kuasa kepada Jaksa Agung,
yang katanya isinya memberi kuasa kepada Jaksa Agung untuk meminta
data-data yang diperlukan kepada bank-bank yang diduga menyimpan uang
Anda. Komentar Anda?
S: Benar sekali. Tempo hari saya ke kantor dari pada Jaksa Agung, yaitu
Saudara Andi Ghalib dan menyerahken dari pada surat kuasa itu. Surat
kuasa itu ada dua. Satu berisi kuasa kepada Jaksa Agung untuk meminta
bank-bank itu mengungkapkan data-data rekening dari pada saya – apabila
memang dari pada bank-bank itu ada dari pada rekening dari pada saya.
Satu lagi isinya untuk — apabila benar-benar ada — mengambil semua
dari pada uang tersebut untuk diberiken kepada rakyat dari pada
Indonesia.
W: Pengacara Anda sudah berkata seperti itu. Katanya, bukankah Pak
Harto sudah menyerahkan surat-surat kuasa itu. Tinggal Jaksa Agung
saja, kalau memang ada indikasi bahwa ada simpanan uang Bapak di sebuah
bank, misalnya, mereka tinggal mendatangi bank tersebut dan meminta
bank-bank tadi menyerahkan data-data tentang rekening bank (ini sesuai
dengan wewenang hukum yang sudah diberikan oleh UU Perbankan kepada
Kejaksaan). Dan kalau memang kalau uang tersebut ada, Jaksa Agung boleh
menggunakan surat kuasa yang satu lagi untuk menariknya untuk digunakan
demi kepentingan rakyat. …
S: Memang begitu yang sudah saya lakuken. Tetapi harus ingat, jangan
seenaknya menganggap semua uang di rekening bank-bank itu berhak
diambil begitu saja dari pada saya! Kalau Jaksa Agung tidak bisa
membuktiken bahwa uang-uang itu berasal dari pada cara-cara atau bisnis
ilegal, nggak bisa dong dirampas begitu saja.
W: Masalahnya jumlahnya itu sangat besar, Pak. Sedangkan gaji Bapak
sebagai presiden paling besar hanya Rp 14 juta per bulan. Walaupun
Bapak berkuasa selama 32 tahun, bagaimana bisa Bapak bisa memperoleh
kekayaan sampai puluhan miliar dollar AS, atau ratusan triliun rupiah?
S: Siapa yang bilang puluhan miliar , atau ratusan triliun rupiah? Itu
ken yang bicara pers luar negeri dan dari pada beberapa orang yang
antisaya? Pada awal Oktober 1998, Jaksa Agung telah membentuk Tim
Penelitian dan Klarifikasi, dan Tim Penyilidiken Harta Mantan Presiden
Soeharto — yang bukan lain saya sendiri. Tim yang beranggota 62 jaksa
senior itu sudah mencari dan menyelidik harta kekayaan dari pada saya
di bank-bank di Indonesia. Hasilnya? Sampai sekarang 'ken juga belum
jelas. Sedangkan tim yang dibentuk pemerintah yang diketuai oleh
Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan, Saudara Hartarto,
memperkiraken uang dari pada saya yang disimpan di bank-bank di dalam
negeri hanya sekitar Rp. 23 miliar. Kalau jumlah begitu 'ken masih
wajar. Itu ken bisa berasal dari pada hasil tabungan daripada gaji dari
pada saya, pensiunan dari pada saya, mungkin pemberian dari pada
anak-anak dan kerabat dari pada saya secara sah?
W: Itu 'kan yang di dalam negeri, Pak. Lepas daripada apakah benar
jumlah uang Bapak yang di bank-bank dalam negeri memang hanya sejumlah
itu, atau apakah jumlah itu merupakan suatu kewajaran atau tidak, dan
sebagainya. Sekarang yang kami masalahkan adalah kekayaan Bapak yang di
luar negeri. Misalnya saja majalah Time mengatakan harta kekayaan Bapak
tersebar di 11 negara, yang terbesar di Austria. Beberapa bulan lalu,
koran Wirtchftblatt yang terbit di Wina, Austria, pernah mengungkapkan
bahwa berdasarkan hasil investigasi mereka dan berdasarkan data Bank
Sentral Australia, pada masa-masa menjelang Bapak turun tahta, ada
lonjakan nilai investasi mencapai 93 miliar schilling Austria, atau
sekitar 8 miliar dollar AS. Itu terjadi hanya dalam kuartal pertama
tahun 1998. Dana sebesar 8 miliar dollar AS itu diduga milik Anda.
Koran Austria itu tidak sendiri, majalah Forbes pernah juga menulis
bahwa harta kekayaan Anda besarnya 16 miliar dollar AS. Harian
Sudostsweiz di Swiss menyebut 4 miliar dollar AS, sebuah lembaga
swadaya masyarakat di Bern (Swiss), The Berne Declaration, melansir 40
miliar dollar milik keluarga Anda. Ada juga The Independent dari London
yang menulis tentang rumah-rumah mewah yang dimiliki oleh saudara tiri
Anda, Probosutedjo, dan anak-anak Anda.
S: Siapa pun boleh ngomong begitu. Masalah intinya adalah silaken
buktiken secara hukum bahwa itu harta dari pada saya, dan kalau ada itu
saya peroleh dengan cara-cara melawan hukum Jangan asal ngomong begitu!
Tentang rumah-rumah yang dimiliki saudara tiri dari pada saya, Saudara
Probosutedjo, atau anak-anak dari pada saya, yang di London, atau di
mana saja. Kalau itu mereka peroleh dari pada hasil keringat mereka,
dari pada usaha mereka, apakah itu salah? Sekali lagi saya kataken,
jangan campur aduken kekayaan dari pada saya dengan kekayaan dari pada
anak-anak saya. Terus bilang itu semua kekayaan dari pada saya.
W: Apakah itu kekayaan Anda sendiri, ataupun dari anak-anak Anda, yang
dimasalahkan oleh umum adalah apa yang diperoleh keluarga Anda itu
diperoleh secara melawan hukum. Semuanya itu diperoleh dari hasil KKN
Anda secara demikian kasarnya, sedemikian kasat matanya. Misalnya
pemerasan yang dilakukan anak-anak Anda di perusahaan-perusahaan
pemerintah yang berbentuk BUMN-BUMN, seperti Pertamina, PLN, Garuda dan
sebagainya. Sehingga BUMN-BUMN yang seharusnya bisa memperoleh profit,
malah balik merugi dan nyaris bangkrut.
S: Sekali lagi saya bilang. Terserah semua dari pada orang mau berkata
seperti itu. Mau menuduh anak-anak dari pada saya, keluarga dari pada
saya telah melakuken bisnis-bisnis KKN seperti itu, tetapi yang saya
tuntut dari pada mereka adalah — sekali lagi — bukti-bukti tertulis
secara hukum. Kalau memang ada serahkan kepada Jaksa Agung untuk
diproses secara hukum!
W: Lho, Pak, sebenarnya kalau mau, Pak Ghalib bisa melakukan semua itu.
Bukankah berita-berita pers baik dalam dan luar negeri, seperti yang
dilansir majalah Time itu, atau yang pernah ditulis oleh Christianto
Wibisono, George Aditjondro, pers asing yang saya sebutkan di atas, dan
lain-lain, bisa dijadikan sebagai data-data untuk mengusut Anda secara
lebih mendalam? Yang terjadi malah sebaliknya, setiap ada laporan,
berita, data-data tentang harta kekayaan Anda yang dikatakan diperoleh
secara ilegal, sikap Jaksa Agung selalu malah mencurigai, atau mungkin
lebih tepat sengaja bersikap curiga terhadap sumber-sumber informarsi
itu. Ketika ada informasi-informasi seperti itu, bukan Jaksa Agung
memeriksa Anda, malah sebaliknya para informan itu yang malah dipanggil
Kejaksaan Agung, dengan alasan untuk mengkonfirmasi. Seperti yang
terjadi pada George Aditjondro. Juga Amien Rais dan Cristianto
Wibisono, meskipun dua terakhir yang disebut ini tidak memenuhi
panggilan Kejaksaan Agung. Cara-cara seperti ini 'kan malah bisa
membuat orang lain yang mempunyai sumber informasi tentang Anda, akan
memilih diam, karena takut atau merasa percuma mengungkapkannya.
Sekarang pun seperti itu. Pak Ghalib membentuk sebuah tim khusus hari
Rabu, 19 Mei kemarin, untuk melacak sumber-sumber berita majalah Time.
Katanya tim khusus itu akan mendatangi majalah Time untuk ditanya
tentang sumber-sumber berita itu, dan kemudian akan melacak
kebenarannya pada sumber-sumber berita itu.
S: Itulah manfaatnya dari pada Saudara Ghalib menjabat sebagai Jaksa
Agung!
W: Maksud Bapak?
S: Saudara sebagai wartawan mungkin sudah mendengar cerita dari pada
Saudara Soehandojo, Kahumas Kejaksaan Agung, bahwa waktu majalah Time
menerbit dan mengedarken majalahnya yang berisi dari pada harta
kekayaan dari pada saya dengan judul dari pada cover story-nya:
"Suharto Inc." katanya Jaksa Agung Ghalib dengan segenap jajarannya
pusing tujuh keliling, berburu majalah itu sampai ke Sogo, pusat
belanja elit di Plaza Indonesia, ke agen majalah Time, bahken sampai ke
Bandara Soekarno-Hatta, tetapi tidak mendapatkennya. Saudara dengar
cerita itu?
W: Ya. Beberapa koran memberitakan hal seperti itu.
S: Hehehe (terkekeh), dan saudara percaya? Kalau saudara percaya, dan
itu benar, itu menunjukken betapa lemahnya dan tidak berkualitasnya
Saudara Ghalib sebagai Jaksa Agung. Dalam pemberitaan dari pada majalah
Time itu 'ken, dia juga diwawancara majalah Time. Masa dia tidak
dikirim majalah itu oleh Time? Masa sebagai seorang Jaksa Agung tidak
mampu memperoleh majalah itu? Sudah memerintah puluhan bawahan dari
pada dia untuk memperoleh majalah itu, tetapi tidak berhasil? Bahken
sampai meminta ke agen dan perwakilan Time di Jakarta, tetap gagal?
Masa kalah cepat dengan masyarakat umum? Jangn-jangan malah sebenarnya
Ghalib itu berlangganan Time, tapi menipu kalian? Untuk mencari
majalah saja tidak becus, bagaimana bisa mengusut dan mencari
bukti-bukti dari pada harta dari pada saya itu?
W: Maksud Anda, karena kelemahan Pak Ghalib itu maka dia diserahkan
jabatan Jaksa Agung?
S: Benar. Selain lemah Pak Ghalib itu juga ternyata bodohnya bukan
main. Coba saudara baca wawancara dari pada Time dengan Saudara Ghalib.
Di situ Time bertanya kepadanya, "Apakah saudara dalam memeriksa
Soeharto juga bertanya tentang berapa sebenarnya gaji Soeharto?"
Saudara Ghalib menjawab: "Tidak." Kemudian ditanya lagi, "Apakah Anda
tahu berapa gaji Soeharto sebagai presiden?" Saudara Ghalib menjawab:
"Tidak!"
Betapa bodohnya Saudara Ghalib itu. Ternyata ada juga anak buah dari
pada saya, atau bekas anak buah dari pada saya yang bodoh begitu ya?
Dia tidak sadar kalau itu pertanyaan menjebak dari pada Time. Buktinya,
Time tanya lagi: "Anda sebagai Jaksa Agung yang memeriksa dugaan adanya
kasus korupsi yang besar. Tetapi Anda tidak mengetahui, atau tidak mau
mengetahui berapa gaji seorang yang diduga korupsi?"
Bagaimana bisa dikataken pemeriksaan kasus dugaan korupsi dari pada
saya oleh Kejaksaan Agung itu bisa dikataken serius, kalau mereka
(Jaksa Agung) tidak tahu, atau tidak cari tahu tentang berapa besar
gaji dari pada saya sebagai presiden? Untuk memeriksa kasus dugaan
korupsi dari pada seseorang 'ken harus terlebih dulu kita harus tahu,
berapa gaji yang sebenarnya diperoleh oleh seseorang? Atau berapa
sebenarnya pendapatan seseorang yang disangka korupsi itu setiap bulan,
atau setiap tahun?
W: Lho, Bapak ini kok aneh. Bukankah dengan demikian malah sangat
menguntungkan Anda? Ini kok, malah Anda sendiri mengungkapkan dan
mengecam kelemahan atau kebodohan Pak Ghalib?
S: Tanpa saya mengungkapken umum 'ken sudah tahu. Oleh karena itu saya
tadi kataken oleh karena kelemahan dan kebodohannya itu Saudara Ghalib
diserahken jabatan sebagai Jaksa Agung. Kenapa? Karena Saudara Ghalib
sebenarnya seorang yang masih takut dan tunduk kepada saya. Saudara
Ghalib mungkin juga ditempatken Saudara Habibie di sana, agar selalu
sedemikian rupa bermanuver, bersilat lidah dengan berbagai dalih untuk
menghindari dilakuken pemeriksaan dari pada saya. Sebab kalau dari pada
saya betul-betul diperiksa dan diadili, sebagian besar bekas dari pada
bawahan saya, termasuk Habibie dan menteri-menterinya akan terseret.
Alangkah idotnya rakyat dari pada Indonesia kalau mereka beranggapan
Habibie dan kawan-kawannya yang sekarang berkuasa bersih dari pada
praktek-praktek bisnis kotor, KKN, yang sekarang semuanya diarahken
kepada saya. Habibie dan kawan-kawannya itu jelas tidak seidiot itu,
oleh karena itu mereka akan berupaya sedapat mungkin untuk tidak
mengusut saya secara benar-benar serius. Boleh dikataken hanya
sandiwara-sandiwara politik yang canggih.
W: Oleh karena itu mungkin Anda harus berterima kasih kepada Habibie?
S: Berterima kasih? Sekarang ,terus terang saya malah curiga bahwasanya
jangan-jangan Habibie dan kawan-kawannya itu yang dulu merancang
demo-demo mahasiswa dan beberapa kerusuhan untuk menjatuhken saya.
Mungkin mahasiswa-mahasiswa itu tidak sadar kalau mereka diperalat oleh
Habibie dan kawan-kawannya itu, sebab mereka memang sudah sangat tidak
suka dengan saya. Hal ini dimanfaatkan oleh klik Habibie. Lihat saja,
bagaimana begitu gampangnya mahasiswa menduduki gedung dari pada
DPR/MPR. Sekarang? Janganken, memasuki halamannya, untuk sampai ke
depan dari pada pekarangan dari pada gedung dari pada DPR/MPR itu saja
hampir tidak mungkin karena sedemikian ketatnya penjagaan dari pada
aparat. Mungkin saja betul bukan mantu dari pada saya yang mengotaki
semuanya itu, tetapi mereka-mereka itu, dengan mengkambinghitamkan
dengan cara menciptakan berita-berita yang mengarah kepada mantu dari
pada saya itu. Bisa begitu 'ken?
W: Saya tidak tahu. Saya tidak mau berbicara tentang soal itu sekarang.
Sekarang topik wawancara kita adalah tentang harta kekayaan sedemikian
banyak dari (keluarga) Anda, yang sudah banyak kali diberitakan dari
berbagai sumber. Bahkan bekas bawahan Anda, Mari'e Muhammad dari MTI
(Masyarakat Transparansi Indonesia) ikut-ikutan menghujat Anda.
Baru-baru ini, Kamis, 20 Mei, sebagai reaksi berita majalah Time, dia
yang terkenal dengan sebutan Mr. Clean itu berseru kepada pemerintah
agar harta kekayaan Anda dibekukan. Komentar Anda?
S: Anda boleh mengataken bahwasanya Saudara Mari'e Muhammad adalah
seorang Mr. Clean, salah seorang yang bersih dari pada praktek KKN.
Tetapi yang namanya bersih KKN, tidak langsung berarti bersih dari pada
munafik dan dari pada cari muka. Pahlawan kesiangan. Sebagian orang
malah mengataken bahwasa Saudara Mari'e itu termasuk dari pada
menteri-menteri bunglon. Yang dulu sedemikian tunduk dan patuhnya
kepada saya, tetapi sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat
ikut menghujat saya dan keluarga dari pada saya.
Waktu saya tempo hari mau menerapken sistem CBS (Currency Board System)
dari Prof. –"penipu" — Hanke, Saudara Mari'e termasuk pendukungnya.
Bahken waktu itu dia ikut bersidang membahasnya di DPR dan bilang
kepada pers bahwa CBS merupaken salah satu solusi yang baik, dan akan
diterapken secepat mungkin. Sekarang dia malah mengataken, "CBS
merupaken ide yang sinting!"
Gara-gara CBS, Saudara Soedradjat Djiwandono, Gubernur dari pada Bank
Indonesia waktu itu, mengataken kecewa kepada Saudara Mari'e. Karena
sebelumnya sudah sepakat dengan Mari'e bahwasanya, kalau saya tetap
ngotot dengan CBS mereka akan mengundurken diri. Kenyataannya hanya
Djiwandono yang mengundurkan diri. Meskipun resminya, saya yang
memecatnya dengan hormat.
Saya masih ingat tampang badutnya yang membebek apa yang dikataken oleh
putri tertua dari pada saya, Mbak Tutut. Yakni ketika dia nampang
bersama para badut pencari muka dan munafik lainnya sambil memegang
tulisan "I Love Rupiah" sambil cengengesan di depan wartawan foto —
yang katanya dalam rangka menguatkan nilai rupiah terhadap dollar AS,
yang kemudian memuat foto tersebut di berbagai media cetak.
W: Anda berkeberatan seruan Mari'e Muhammad, agar harta kekayaan Anda
di bank-bank dibekukan?
S: Bukan hanya keberatan. Tetapi itu pernyataan yang paling bodoh yang
pernah saya dengar. Pengacara dari pada saya sudah bilang, Pak Mari'e
itu tidak tahu hukum, sehingga ngomong seenaknya dewe (seenaknya
sendiri– pen.). Dia itu kira kalau pemerintah mau membekuken rekening
seseorang, bisa dilakuken begitu saja? Itu 'ken harus dilakuken
berdasarkan proses hukum yang berlaku. Tidak bisa pemerintah begitu
saja membekuken rekening seseorang. Pertama pemerintah dalam hal ini
pihak kejaksaan harus menetapken seseorang sebagai tersangka dulu.
Setelah itu baru pemerintah bisa meminta kepada bank-bank bersangkutan
membekuken rekening seseorang. Apalagi kalau itu bank luar negeri.
Pemerintah Indonesia tidak bisa begitu saja meminta bank-bank di
Austria, misalnya untuk membekuken rekening seseorang. Emangnya itu
negaranya? Pemerintah Indonesia setelah kejaksaannya menetapkan secara
hukum seseorang sebagai tersangka, (lewat pemerintah negara asing itu )
untuk meminta bank yang bersangkutan membekuken rekening dari pada
orang itu.
W: Anda kok fasih sekali berbicara tentang hukum?
S: Lho, semua warganegara 'ken harus tunduk dan memperoleh perlindungan
dari pada hukum, termasuk saya?
W: Anda sendiri, sewaktu berkuasa, banyak melakukan pelanggaran hukum.
Banyak rakyat yang diinjak-injak hak-hak hukumnya.
S: Lho, kenapa saya saja yang disalahken? Mengapa tidak ada yang mau
melindungi hak-hak hukumnya?
W: Banyak orang yang sudah melakukan; pengacara-pengacara dan LSM-LSM
idealis. Tetapi semuanya patah di tengah jalan lewat berbagai sandiwara
dan rekayasa peradilan. Bahkan sampai kepada Mahkamah Agung pun tidak
luput dari peristiwa-peristiwa pembusukan hukum itu. Semuanya itu di
bawah pemerintahan Anda. Semua orang takut kepada Anda yang berkuasa
secara totaliter, tirani dan diktator!
S: Siapa suruh mereka mau takut kepada saya? Emangnya saya setan?
W: (Menghela nafas panjang) Mungkin Bapak memang bukan setan, tetapi
setidak-tidaknya orang menganggap antara setan dengan Anda sulit
dibedakan. Anak Anda saja bikin perusahaan televisi swasta dengan nama
RCTI (Raja Cendana Turunan Iblis)?
S: Itu berarti mereka bodoh. Masa setan dengan manusia tidak bisa
dibedakan. Satu lagi bukti kebodohan dari pada rakyat seperti Anda
adalah menyangka kepanjangan RCTI itu demikian, RCTI itu ken singkatan
dari Rajawali Citra Televisi Indonesia?
W: Anda kok sepertinya tidak sadar, kalau plesetan
perpanjangan-perpanjangan seperti RCTI, Timor (Tommy Itu Memang
Orangnya Rakus), Bimantara (Bapak, Ibu, Mantu, ANak, TAmak dan RAkus),
dan sebagainya itu sebagi wujud dari rasa antipati rakyat terhadap Anda
dan keluarga Anda?
S: Saya kira itu cuma oknum saja dari pada rakyat yang kurang ajar dan
orang-orang yang cemburu kepada keluarga dari pada saya. Buktinya saya
dan keluarga ' ken masih sehat sampai sekarang karena didoaken sebagian
besar dari pada rakyat.
Kalau memang saya dianggap salah. Saya bertanya kepada Anda: Mengapa
semua pertanggungjawaban dari pada saya di MPR semuanya selalu diterima
secara aklamasi?
W: Meskipun saya bisa mengatakan bahwa semuanya itu tidak lepas dari
politik yang Anda terapkan yang memasang manusia-manusia munafik,
penjilat seperti Harmoko di sana, saya tidak mau berpanjang-panjang,
atau berdebat dengan Anda soal ini juga. Sebab saya sedang
mengwawancarai Anda, bukan berdebat dengan Anda. Demikian juga,
wawancara ini themanya adalah soal harta kekayaan Anda yang dilansir
majalah Time. Anda tidak takut seumpamanya pemerintah Habibie
benar-benar akan mengusut kekayaan Anda sampai ke sebelas negara yang
disebut Time? Terutama Austria?
S: Kenapa harus takut? Seperti yang saya jelasken di atas. Untuk itu
pemerintah harus menetapken saya — melalui kejaksaan — berdasarkan
hukum, adalah tersangka. Beranikah Habibie memerintahken Ghalib untuk
memutusken itu? Kembali ke jawaban dari pada saya tadi. Oleh karena itu
ketika membaca majalah Time tersebut, saya hanya senyum-senyum saja.
Tenang-tenang aja deh.
Saudara harus tahu juga, bahwasanya simpan uang di Swiss dengan di
Austria. Sekarang, lebih aman disimpan di Austria. Di Swiss,
pemerintahnya sudah agak longgar terhadap simpanan-simpanan uang dari
pada hasil korupsi, atau dari pada seorang diktator. Misalnya kasus
Ferdinand Marcos dari pada Philipina. Di Austria ada UU yang melarang
setiap bank untuk mengungkap data-data pemilik rekening yang mempunyai
simpanan di atas 160.000 dollar AS, dengan kekecualian yang sangat,
sangat ketat. Saya bilang begini bukan berarti saya mengaku sebagai
koruptor dan diktator. Saya hanya kasih informasi, begitu.
W: Bagaimana tentang somasi yang dilancarkan pihak Anda terhadap Time?
Bahkan Time akan dituntut secara pidana, maupun perdata?
S: Itu sebenarnya pekerjaan dari pada tim pengacara dari pada saya.
Tetapi sebenarnya nggak perlu terlalu serius lah. Saksiken dulu
sandiwara-sandiwara yang sedang kami mainken. Eh, ngomong-ngomong
kami-kami ini 'ken sering main sandiwara politik, bisa nggak yah main
sinetron yang tengah marak di televisi-televisi swasta sekarang?
W: (sebal) Saya nggak tau dong. Emangnya saya ini sutradara sinetron?
Sekarang saya tanya lagi. Sewaktu Anda membantah berita di majalah
Time, di RCTI dan AN Teve, Jumat, tanggal 21 Mei itu. Anda mengatakan
bahwa Anda sampai sekarang masih sehat-sehat saja, semuanya, kata Anda,
berkat doa dari sebagian besar rakyat Indonesia, yang masih cinta
kepada Anda. Anda yakin itu?
S: Iya dong. Setidaknya dari pada rakyat Indonesia masih cinta kepada
gambar dari pada saya yang terdapat pada lembaran dari pada uang
pecahan dari pada Rp. 50.000. Apakah ada dari pada rakyat yang
menolak kalau diberikan lembaran-lembaran Rp 50.000 yang ada gambar
dari pada saya itu?
 
Seharusnya dengan dilansirnya berita-berita, seperti dari pada majalah
Time, tentang kekayaan dari pada yang sampai puluhan miliar dollar AS
itu, rakyat dari pada Indonesia harus bangga!!
W: Lho, kok harus bangga?
S: Mereka setidaknya harus bilang: "Siapa dulu dong presidennya yang
punya kekayaan sedemikian besar?" Saya 'ken bisa menjadi orang terkaya
di seluruh dunia? Ini 'ken merupakan salah satu kebanggaan dari pada
bangsa dari pada Indonesia. Memiliki keluarga mahakaya, yang terkaya
sejagad!
W: Saya pikir Anda harus ke psikater secepatnya. Mungkin Anda terlalu
stress. Pernyataan ini tidak perlu saya tanggapi. Kalau saya tanggapi,
bisa-bisa saya harus ke psikiater juga. Kok bisa-bisanya bangga dengan
harta haram?
Tetapi ngomong-ngomong Anda dan keluarga Anda kok bisa mengumpulkan
harta sedemikian banyak?
S: Lho, soal ini 'ken sebenarnya masih harus dibuktiken, apakah saya
dan keluarga dari pada saya mempunyai kekayaan sedemikian besar.
Seandainya nanti juga terbukti, seharusnya rakyat dari pada Indonesia
masih untung!
W: Lho, kok masih untung?
S: Anda ini kok bingung melulu? Iya dong masih untung. Untung saya
hanya berkuasa selama 32 tahun dan anak-anak dari pada saya cuma enam
orang. Coba kalau lebih daripada semua itu. Sudah pasti kekayaan itu
akan lebih besar daripada yang sekarang!
W: Tanggal 8 Juni nanti usia Anda sudah mencapai 78 tahun. Apakah dalam
usia sedemikian tua, Anda masih belum mau bertobat? Padahal 'kan nama
Anda sendiri, yakni "Suharto," singkatan dari "SUdah HArus Tobat"?
S: Memangnya saya punya dosa, sehingga perlu bertobat? Ada dari pada
pepatah mengataken, orang yang panjang usia itu berarti dicintai Tuhan.
Tuhan sengaja membiarkan usia orang tersebut panjang karena masih
dibutuhken dari pada banyak orang.
W: Ada juga pepatah yang mengatakan, Tuhan memberi orang itu usia
panjang, untuk memberi kesempatan kepadanya bertobat, sebelum dipanggil
ke akhirat menghadapNya. Mungkin Anda termasuk di sini?
S: Saya kira tidak demikian. Tuhan mungkin sengaja membiarken saya
hidup lama di dunia, karena sebenarnya Dia sedang ketakutan!
W: Tuhan ketakutan?
S: Tuhan takut kalau sampai Dia memanggil saya terlalu cepat ke
akhirat. Kalau saya sampai ke sana, TahtaNya akan saya rebut!
W: Mungkin benar juga, yah? Mungkin Tuhan sedang memperkuat
kedudukanNya sebelum memanggil Anda ke akhirat. Mudah-mudahan
secepatnya Dia berhasil. Kami sudah bosan lho, menyaksikan dan
mendengar tipu-muslihat, dan melihat wajah Anda
S: Seharusnya saudara berhati-hati kalau bicara. Sekarang memang saya
sudah tidak berkuasa di dunia. Tetapi, siapa tahu, dari pada nasib baik
saya, nanti kalau saya meninggal, kemudian Anda meninggal. Dan sewaktu
roh Anda ke akhirat, mungkin saja waktu itu saya yang duduk di Tahta
Akhirat. Kalau sudah begitu bagaimanapun baiknya Anda di dunia semasa
hidup, saya langsung akan mengirim Anda ke neraka! Sekali diktator
tetap diktator! Saya bangga lho, jadi diktator!
W: Sudahlah jangan berangan-angan! Sekarang kembali ke soal harta
kekayaan Anda yang sedang kita bicarakan.
Anda secara langsung, maupun tidak langsung selalu menyangkal sebagai
pemilik uang atau harta tersebut. Lalu kalau bukan Anda siapa pemilik
harta sedemikian besar? Apakah tuyul?
 
S: Ya, mungkin saja. Kenapa tidak? Mungkin saja semuanya milik dari
pada tuyul (sambil terkekeh dengan caranya yang khas itu).
W: Anda mengatakan, seumpamanya memang benar Kejaksaan Agung menemukan
kekayaan Anda di luar negeri, Anda akan rela memberi seluruhnya kepada
rakyat Indonesia. Seolah-olah Anda tidak sadar, kalau sebenarnya
masalahnya tidak cukup sampai di situ. Kalau benar Kejaksaan menemukan
kekayaan Anda di luar negeri yang diperoleh secara tidak benar,
seharusnya 'kan Anda harus diadili juga? Tidak cukup dengan menyerahkan
harta itu saja?
 
S: Itu tandanya Anda itu serakah. Sudah diberi hati, masih mau jantung.
Sudah diberi harta, masih mau mengadili saya.
W: Lho, Bapak ini bagaimana. Bapak ini seperti beberapa menteri Bapak
yang dulu. Kalau ketahuan korupsi, enak aja bilang "uangnya saya
kembalikan, maka persoalan selesai." Yang namanya negara hukum itu 'kan
semua perbuatan jahat harus diadili. Yang namanya koruptor, sekalipun
sudah menyerahkan harta kekayaan yang diperolehnya secara ilegal,
tetap harus diadili.
S: Kalau begitu lebih baik saya nggak kasih deh harta saya — kalau
memang ada!!
W: Pertanyaan terakhir, Pak. Seandainya Bapak nanti meninggal dunia.
Apa permintaan terakhir Bapak?
S: Saya minta agar saya dikuburkan di Yerusalem, Israel!!
W: Lho, kenapa?
S: Orang Kristen itu ken percaya, Yesus ketika mati dikuburken di sana.
Dan pada hari ketiga Dia bangkit di antara orang mati. Saya pingin
seperti itu deh!
W: (terbengong-bengong).
Demikian hasil wawancara dengan mantan presiden kita, Soeharto. Sampai
jumpa di wawancara dengan thema yang lain.***

Salam
Lion