Kamis, 25 Mei 2006  Hatiku gundah gulana. Hati orang Indonesia yang lain juga banyak yang gundah.   Kalau saja Bung Karno dan Bung Hatta masih ada diantara kita, saya amat yakin mereka juga gundah hatinya.  Demikian juga Mr. Roem, Bung Tomo maupun As Pelor, Karto Soewirjo dan Kahar Moezakar atau pun Mohammad Husni Thamrin. Dipa Nusantara Aidit dan Jenderal Achmad Yani akan gundah  bersama.
Apakah W.S. Rendra  mengatakan tidak gundah? Bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer? Ya mereka pasti gundah juga. Apa yang digundahkan oleh semua orang di Indonesia? Persatuan, persatuan dan persatuan serta persatuan. Persatuan amat penting bagi bangsa Indonesia saat ini, karena persatuan telah menjadi modal utama kita bersama dalam upaya membuat sebuah negara yang disebut dengan Negara Kesatoean Republik Indonesia. Apabila enam puluh tahun yang lalu Republik ini dibentuk dengan modal dasar persatuan saja, mengapa setelah waktu sekian lamanya kita tidak dapat memeliharanya ??

Sebenarnya bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang sifatnya paternalistik dan maternalistik. Apapun yang dikerjakan oleh orang tua tentu akan mudah menjadi suri tauladan bagi anak-anak dan seluruh keluarganya.

Siapakah orang tua (parents) dalam sebuah Republik??

Dalam sebuah Republik yang disebut dengan istilah orang tua adalah para pimpinan pemerintahan, pimpinan perwakilan Rakyat, penyelenggara Negara. Kalau mereka tidak mampu memberikan suri tauladan yang baik yang dapat ditiru, maka siapakah yang akan dapat ditauladani dan ditiru ?? Tentu saja akan meniru orang yang berasal dari luar Republik. Kita semua harus mengusahakan agar hal ini tidak terjadi. Tirulah para orang tua sebuah Republik sendiri. Karena yang akan ditiru dari orang tua terutama sekali adalah perilaku, akal budi dan pekertinya, maka para orang tua sebuah Republik harus berani mengorbankan segala kepentingannya masing-masing dengan jalan berperilaku, berakal budi serta berpekerti seperti layaknya orang tua sebuah Republik. Orang tua sebuah Republik saat ini sedang banyak berbeda pendapat oleh karena tidak adanya arahan yang tegas dan lugas. Juga tidak adanya keputusan yang tegas dan lugas. Juga tidak adanya tindakan yang tegas dan lugas. Juga tidak adanya penyelesaian yang tegas dan lugas. Orang tua Republik kita sekarang sedang asyik masyuk melakukan  
praktek-praktek yang dapat disebut bersifat pengecut secara terang-terangan dan tanpa malu-malu.

Kalau sedang berbeda pendapat dengan orang tua yang lain, maka dia lalu pergi ketempat lain mencari dukungan, bahkan juga kepada anak-anaknya sendiri.

Mereka sengaja mengadu-adu anak-anaknya sendiri untuk berbeda pendapat sampai berkelahi satu dengan lainnya. Anak-anaknya terluka dan menderita karenanya, para orang tua ini tidak peduli. Mereka saling menjelekkan para orang tua lainnya, menggunakan biaya entah dari mana  
asalnya, memberikannya kepada anak-anak untuk ikut mendukungnya dan perkelahian diantara anak-anak tidak dapat dihindarkan lagi. Perkelahian yang terjadi diantara anak-anak yang sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya hal yang disengketakan diantara mereka.  
Para orang tua yang pengecut tadi sebenarnya bisa menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada diantara mereka dengan cara lebih bermartabat dan bijaksana. Lebih bersifat terpelajar serta berpendidikan dan lebih mangkus (berhasil dan berguna), kalau saja mereka memang waspada. Para orang tua yang pengecut ini juga  
menggunakan sarana lainnya yaitu: media. Media haus berita. Beritanya mereka buat dengan menggunakan dengan rekayasa yang disengaja  dan mereka biayai agar dapat meramaikan isi media.

Anak-anak dapat masukan dari berita media dengan penuh nafsu. Mengapa penuh nafsu?? Tentu saja, karena masukan ini adalah bahan untuk modal berkelahi dengan anak-anak yang lain.

Biasanya bahan-bahan itu adalah alat pembenar, agar dapat simpati masyarakat umum yang lebih awam lagi.  
Kalau anak-anak dan masyarakat umum hanya memperoleh masukan dari media yang beritanya memang sengaja dirancang agar anak-anak berkelahi satu sama lain, maka mediapun yang ikut terlibat juga menjadi pengecut.  
Mereka hanya memuaskan yang memberi berita, dengan memasang ongkos tentunya, tanpa memperdulikan akibat pemberitaannya.  
Tulisan ini telah mebeberkan hal-hal yang pahit untuk ditelan oleh para pembacanya. Tetapi hal-hal ini dapat dicarikan penawarnya. Penawar dari kesakitan yang diderita anak-anak dan masyarakat umum tetapi yang sebenarnya disebabkan piciknya pengetahuan para orang tua sebuah Republik. Kita semua ingat upaya persatuan yang diciptakan Presiden Soekarno dalam membentuk Republik Indonesia. Beliau mengajak seluruh bangsa Indonesia bersatu untuk  melawan musuh bersama, yakni Belanda dan Inggris yang berusaha menjajah kembali  
setelah Republik Indonesia di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.  Dengan serentak seluruh bangsa berdiri dibelakang Pemerintahan Soekarno-Hatta menghantam Belanda Inggris dengan segala daya dan upayanya, menggunakan bambu runcing dan memberikan nyawanya. Karena apa?? Karena musuhnya jelas dan terang siapa itu. Kedua kali adalah perebutan Irian Barat. Pada waktu itu banyak terjadi pemberontakan dimana-mana, ada PRRI di Sumatera Barat, Darul Islam di Jawa Barat, ada Permesta di Manado.

Dan jangan lupa masih ada juga sisa-sisa Republik Maluku Selatan. Mereka ini satu persatu mulai menghentikan segala kegiatannya, ikut Pemerintahan Republik dalam melawan Belanda di Irian Barat. Itu semua adalah pelajaran berharga bagi orang-orang Indonesia yang saat ini gundah karena memikirkan segala beban kehidupan.

Beban kehidupan mereka makin berat terasa setiap harinya. Mereka tanpa ragu amat perlu ditolong dengan segera karena esok, bisa jadi. akan sudah amat terlambat. Caranya??  
Para orang tua sebuah Republik yang bernama Republik Indonesia, baik Presiden, istri Presiden, Wakil Presiden dengan seluruh keluarganya, para Menteri dan para orang tua lainnya seperti Ketua Dewan-Dewan, para Ketua Komisi-Komisi dan para Ketua Partai-Partai, agar:

  1. untuk segera secara bersama-sama berusaha menghentikan dan melupakan perbedaan-perbedaan yang ada dalam pikirannya,
  2. berkonsentrasi memperbaiki keadaan Negara dengan menciptakan sebuah atau lebih musuh bersama. Kali ini yang disebut musuh bersama tidak perlu berwujud manusia atau ideologi atau negara lain, tetapi berupa misalnya: kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan dibanding dengan negara dan bangsa lainnya.
  1. mengajari rakyat bekerja mencari nafkah halal dan memperoleh nafkah halal, dengan memberikan penerangan yang sungguh-sungguh dan secara professional bagaimana berproduksi dan berkarya, memperdagangkan produknya dan mendapatkan penghasilan karenanya.
  2. Penerangan mengenai pendidikan dan cara menciptakan  pekerjaan bagi diri sendiri: cara membuat barang produksi untuk didagangkan. Hal ini dapat dilakukan di televisi dan media lain seperti yang diajarkankan di pelajaran kewiraan, atau seperti yang dimuat di majalah seperti The  
    Entrepreneur atau sejenisnya.
  3. Hentikan pemberitaan yang disebabkan oleh perbedaan pikiran para penyelenggara negara satu dengan yang lainnya. Penyelesaian perbedaan secara langsung, secara intelektual dan bijaksana, tanpa mengundang perhatian media. Beranilah berhadapan sendiri dan langsung. Nyonya Megawati dan sdr. Try Soetrisno serta Wiranto dan Amien Rais bertemulah diam-diam dan selesaikan perbedaan pendapat anda dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, tanpa memberitahu media yang manapun jua. Langsung saja dan diam-diam. Satu dua kali bertemu belum selesai tidak apa-apa. Buat lagi pertemuan langsung lebih sering sehingga ketemu dan selesai. Kalau tidak selesai juga maka mereka tentu  
    saja tahu harus bagaimana bersikap bijaksana.

Sifat ksatria saudara-saudara diatas semuanya amat diharapkan.

Kepada Sdr. Amien Rais saya serukan dan anjurkan kalau memang sudah waktunya mundur, silakan secara legowo mundur saja. Beribu kesempatan disia-siakan dan kebesaran jiwa amat perlu ditonjolkan. Bunuhlah sifat serakah kekuasaan yang sebenarnya maya sifatnya.

Kalau sdr. Amien Rais mau membaktikan diri dengan mengajar selaku Professor di Universitas Gajahmada, lakukanlah dengan tekun dan benar. Tentu ke-professor-an anda tidak akan hilang sia-sia. Universitas Gajah  
Mada pun akan bangga dapat menerima anda berkarya dengan sesungguhnya. Jangan terlalu membanggakan anda menjadi seseorang yang mempunyai sifat  sebagai pasukan penggempur. Sesudah menggempur tidak siap dengan  
pasukan Zeni yang akan memperbaiki hasil-hasil gempuran. Tidak tahu cara membangun dan memang sesungguh-sungguhnya tidak tahu karena  bukan merupakan keahlian anda yang sesungguhnya. Sabda Nabi Muhammad SAW  
kepada ummatnya adalah: Serahkanlah segala sesuatunya kepada ahlinya !! Apabila mereka yang saya ingatkan diatas menjadi marah karena membaca tulisan ini, saya persilakan untuk menarik napas dalam dalam, menyurutkan langkah dan menata diri kembali, reorganise yourself. Alasan anda berbuat apa yang telah anda perbuat, sebenarnya sama dengan upaya saya menulis tulisan ini.

Saya ingin ikut memperbaiki keadaan dari simpul-simpul keruwetan, sedangkan saya berpendapat bahwa anda adalah salah satu dari simpul-simpul yang ada. Marah kepada saya karena tulisan ini bukanlah ikut menyelesaikan masalah, membuang waktu percuma.

If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.