Film Indonesia terakhir yang saya tonton sebelum Denias ini, adalah "GIE" dan saya tidak bisa mengatakan kalau Gie itu film bagus, malah saya lebih suka kemasan Film Dokumenter "SOE HOK GIE" kemasan Metro TV yang justru lebih enak dilihat dan informatif.Berbeda dengan Denias ini yang menyajikan kualitas gambar yang bagus, tatanan musik yang bagus yang ditata oleh Dian HP. Musicnya memperkaya sajian gambar dan kisahnya itu sendiri, karena musik latarnya ini cukup memberikan dorongan emosi, kejenakaan anak-anak juga semangat seorang anak akan menggapai cita-citanya.

Di film "DENIAS – Senandung di Atas Awan" ini saya bisa mengapresiasinya, menontonnya dengan nikmat, terharu, juga bisa merasakan makna ceritanya. Sayang sekali film yang bagus ini harus kalah di ajang kompetisi nasional FFI-2006 sebagai Film terbaik. Syukur masih ada ajang lain yang bisa mengapresiasi film ini dengan penghargaan-penghargaan sebagai "Best Movie" Jiffest 2006, juga meraih "Humanity Award" Biffest 2006, dan sebagai "Film Etnik Terpuji" FBB 2007.

Film Denias dikemas sederhana, dengan bahasa sederhana, berceritera tentang kisah nyata seorang anak yang sangat ingin bersekolah. Denias (Albert Fakdawer) anak seorang petani di daerah pelosok di pulau Papua di desa Arwanop. Denias kehilangan ibunya yang meninggal akibat kebakaran yang menimpa di rumahnya. Pada malam sebelum kematian ibunya, ia sempat berpesan kepada Denias "Sekolahlah Denias. Kalau kamu pintar gunung pun takut sama kamu". Ini adalah kata kunci dari film ini, kata yang sederhana tapi berbobot dan filosofis.

Dan ada dua tokoh lagi yang membuat Denias semakin bertekat akan keinginannya untuk bersekolah yaitu figur Pak Guru (Mathias Muchus) dan seorang TNI yang menjadi sahabatnya 'Maleo' (Ari Sihasale) yang menjadi 'guru sementara' ketika Pak Guru harus pulang ke Jawa. Di desa Arwanop itu, Maleo dan sempat mengajarinya pengetahuan akan kepulauan Indonesia. Maleo membuatkan 'puzzle' peta kepulauan Indonesia untuk Denias. Tentang peta ini Anda pasti dibuat tersenyum karena kejenakaannya, humornya bagus, tidak jayus.

Satu pesan penting dari Maleo yang diingat Denias adalah sekolah bisa dilakukan di mana saja. Maleo juga mengatakan, di balik gunung ada sekolah dengan fasilitas yang bisa dijadikan tempat untuk Denias meneruskan sekolahnya. Dengan fasilitas ala-kadarnya Maleo mengajar anak-anak daerah terpencil ini dengan pengetahuan-pengatahuan dasar. Namun sayang persahabatannya dengan Maleo harus berakhir karena Maleo ditugaskan ke tempat lain.

Ayah Denias tidak begitu memahami keinginan anaknya untuk bersekolah, ia pikir cukuplah Denias menjadi seperti dirinya. Namun pesan sang ibu selalu mengiang-ngiang bahwa "gunung takut sama orang pintar". Maka, Denias pun akhirnya bertekat pergi dari desanya, melintasi gunung mencapai kota untuk mana ia dapat bersekolah. Disinilah kisah petualangan Denias mengarungi hutan dan sungai-sungai. Denias yang penuh harapan melakukan perjalanannya dengan gembira dengan bernyanyi/ bersenandung seperti judul filmnya.

Akhirnya Denias menemukan sebuah sekolah SD seperti yang pernah diceritakan Maleo, dan disitu ia bertemu dengan anak gelandangan yang benama Enos. Denias pun berteman dengan Enos dan berbagi cerita, ia menyatakan keinginannya untuk masuk ke sekolah itu. Enos mengatakan itu sesuatu yang tidak mungkin karena Denias tidak mempunyai orang yang bisa membiayainya masuk ke sekolah itu. Lama kelamaan ia memberanikan diri bicara dengan salah satu guru untuk menyatakan keinginannya. Ia diarahkan untuk menemui Ibu Gembala (Marcella Zalianty), melihat kegigihan Denias dan juga kepandaiannya, ibu Gembala mau memperjuangkannya untuk bisa sekolah sekaligus diterima di asrama sekolah yang dikelola oleh pengurus asrama yang diperankan oleh Nia Zulkarnaen. Dua aktris cantik ini cukup bagus aktingnya, terlihat telah lumayan serius mempelajari 'aksen papua'. Cuma mungkin wajah mereka 'terlalu cantik atau terlalu metropolis' untuk main di film ini. Tapi nggak apa, secara keseluruhan film ini bagus bahkan mungkin yang paling bagus dari film-film yang sudah dibuat. Yang paling penting, tokoh Denias yang diperankan Albert Fakdawer (pemenang AFI Junior), ia bisa mewakili figur seorang anak cerdas, jenaka dan penuh semangat dalam diri tokoh yang bernama Denias ini.

Salut buat Ari Sihasale (produser) sebagai putra Papua, menyajikan keindahan panorama Papua serta singgungan budayanya bagi semua orang Indonesia yang kurang tahu apa yang terjadi di salam satu bagian daerah Indonesia ini. Salut juga buat John De Rantau (Sutradara), yang telah mengemas film ini dengan baik. Kita sudah cukup kenyang dan jemu dengan sinetron-sinetron dan film-film nasional yang tidak mendidik dan dibuat secara asal. Di film Denias ini, saya bangga masih ada putra Indonesia yang dapat memproduksi film nasional yang berbobot dan edukatif. Dan tentu saja film ini menjadi hiburan yang menarik bagi Anda dan keluarga di rumah. VCD nya baru saja diproduksi, akan mudah dicari di toko-toko.

Indonesia perlu membuat film-film berbobot dan mendidik seperti "DENIAS – Senandung di Atas Awan".
Bravo Denias!