10 Januari, 2005

Meskipun dimana-mana banyak orang yang mengeja kata tersebut dengan resiko, yang benar adalah risiko. Logikanya menulis sesuatu kata yang berasal dari kata bahasa asing haruslah mendekati aslinya, dan ini sudah saya lakukan cross check ke kamus, termasuk Kamus Umum Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, kata aslinya adalah risk, jadi bukan resk! Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia kata yang berikut setelah kata risiko adalah riskan (mungkin dari bahasa belanda riskant-?, karena bahasa Inggrisnya adalah risky). Saya merujuk ini karena Risk adalah kata populer dalam bahasa aslinya.

Oleh karena adanya factor risiko dalam hidup manusia, maka diciptakanlah macam-macam cara agar tidak menanggung risiko terlalu besar. Untuk mengantisipasi risiko (biasanya risiko yang akan dan mungkin terjadi), kita semua perlu menambah pengetahuan. Pengetahuan yang membantu adalah pengetahuan sejarah kejadian tanpa antisipasi risiko, dan tenu saja pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya.

Risiko yang terjadi sebagai sejarah kejadian tanpa antisipasi risiko, bisa diakibatkan oleh karena kecerobohan sendiri dan karena kekuatan lain diluar kekuasaan dan prakiraan manusia. Contoh kecerobohan yang hampir kita semua pernah mengalaminya antara lain: mempunyai harta 100 satuan, dibelanjakan 80 satuan. Tinggal 20 satuan untuk keperluan lain selanjutnya. Pada waktu risiko jelek datang, ternyata 20 satuan itu tidaklah cukup untuk dapat dipergunakan menanggulanginya. Itu biasa, karena terjadi kepada siapa saja, bisa pedagang, diplomat, perorangan lain, bahkan kepada ahli keuangan yang anggota Kabinet Pemerintah sekalipun.

Yang paling fatal adalah Perusahaan Asuransi.

Faktanya sekarang ini, Perusahaan Asuransi yang kuat jumlahnya tidak melebihi lima puluh persen, hal ini saya dapatkan dari hasil upaya investigasi media.

Sebuah perusahaan yang mengkhususkan dirinya menjadi penangkal risiko, malah tertimpa risiko. Memang ada perusahan penangkal diatas Perusahaan Asuransi biasa, yaitu Perusahaan Reasuransi. Rupanya hanya sampai disinilah kemampuan manusia dalam mengantisipasi risiko, yaitu REASURANSI.

Sekarang sampailah kita ke pengetahuan dalam bidangnya.

Risiko dalam bidang pengobatan dan kedokteran, bukan semudah seperti dikenal dalam produk asuransi yang ditawarkan. Yayasan Stroke Indonesia Cabang DKI pernah menjajagi produk asuransi yang dapat mengatasi risiko manusia yang terkena dan tertimpa keadaan stroke.

Beberapa perusahaan Asuransi melakukan presentasi dan setelah pertemuan berkali-kali, akhirnya diambil suatu kesimpulan bahwa kedua pihak terbukti tidak berhasil merumuskan kemungkinan kejadian stroke seseorang, dapat dan mampu diliput atau ditanggung oleh asuransi. Produk Asuransi yang paling mendekati adalah asuransi terhadap sembilan atau lebih penyakit akut, termasuk stroke sendiri. Jadi Stroke disini hanya merupakan bagian dari sembilan penyakit akut tersebut, tidak berdiri sendiri. Di sinipun kemungkinan dapat saja nantinya akan diperdebatkan lagi, bahwa stroke sebenarnya memang bukan penyakit. Stroke adalah keadaan akibat dari penyakit lain, seperti tekanan darah tinggi, cholesterol tidak seimbang, penyakit jantung koroner dan lain-lain. Jadi stroke adalah muara dari penyakit-2. Penyembuhan stroke yang terbaik saat ini maksimum hanya 90%. Semoga dimasa akan datang bisa mencapai peringkat yang lebih tinggi. Dari sekedar atau sekelumit pengetahuan ini saja perusahaan asuransi masih belum dapat menanggung apapun risiko yang diperlukan.

Pembahasannya bisa berkepanjangan.

Para Ahli Asuransi pasti sudah pernah membicarakan jenis asuransi yang kita harapkan dapat menanggung risiko yang kita kehendaki seperti ini. Kenyataan yang ada dipasar di Indonesia, produk asuransi belum selengkap produk yang dipasarkan dinegeri lain. Saya harap para praktisi dokter dapat lebih giat dalam memberi masukan, dan melakukan upgrade diri dibidangnya masing-masing.

Dengan cara ini maka pada suatu saat nanti di kemudian hari akan dapat membantu perusahaan asuransi di Indonesia, bisa melangkah dengan lebih cepat ke dunia usaha yang sehat.

Semua pihak akan diuntungkan dan terutama para konsumen asuransi, bukan hanya perusahaan asuransi, para praktisi kedokteran dan perusahaan obat saja.

Risiko dalam hidup begitu multi complex, pertama kali menarik perhatian pada sekitar tahun 1971-an, ketika dalam suatu jenis usaha tertentu saya menginginkan agar penagih pembayaran dapat dilindungi dengan asuransi terhadap kejahatan yang menimpa dirinya maupun melindumgi perusahaan terhadap risiko kehilangan uang tunai karena ulah petugasnya sendiri.

Akhirnya saya dapatkan produk yang dikehendaki, ada di Perusahaan Asuransi Bintang yang dapat menanggung risiko kejahatan terhadap petugas penagih, maupun kejahatan yang dilakukan petugas itu sendiri terhadap perusahaan. Nama produknya saya tidak ingat dengan tepat, tetapi digunakan kata-kata Liability Guarantee Bond. Produk seperti ini tidak bisa dengan mudah didapati disembarang perusahaan asuransi waktu itu, dan mungkin sekali sampai sekarang. Yang dibutuhkan dari perusahaan hanya photo copy identitas yang bersangkutan dan uang premi yang harus dibayar selama satu tahun, dapat diganti oleh petugas lain (KTP lain) beberapa kali kalau perlu. Produk ini punya kelebihan yaitu, petugas penagih tidak mengetahui bahwa dirinya diasuransikan seperti itu.

Kalau saja dia tahu, malah mudah diduga akan mungkin mendorong dia berbuat kufur (perbuatan tidak patut) dan melakukannya dengan sengaja, menggunakan pertimbangan bahwa perusahaan pasti akan mendapatkan ganti atas kerugian yang timbul karena perbuatannya yang disengaja.

Pada tahun 1989 saya juga pernah mengasuransikan diri saya sendiri terhadap risiko serupa, yakni pada waktu saya membawa produksi hasil tambang emas hampir murni, yakni 94%. Saya membawanya in natura dari lokasi penambangan didesa Pasir Putih, Kecamatan Kuala Kuayan di Kalimantan Tengah ke bandara Sukarno-Hatta, Jakarta melalui beberapa bandara, Sampit dan Banjarmasin atau Palangka Raya atau Pangkalan Bun. Route dan jadwal juga dengan sengaja saya ubah setiap saat demi keamanan diri saya selaku petugas perusahaan dan keamanan hasil produksi milik perusahaan itu sendiri. Jumlah emas yang saya bawa kadang-kadang meliputi jumlah sekitar 10 kilogram lebih untuk diolah dan dimurnikan di PT Aneka Tambang di Pulo Gadung, menjadi 99 koma 9999 persen, yang bisa disebut sebagai emas murni (Logam Mulia).

Semua perjalanan akan ditanggung risikonya apabila terjadi tindak kekerasan atas diri saya ataupun atas kehilangan barang. Saya juga sudah melakukan upaya kehati-hatian agar dapat melakukan claim kalau terjadi sesuatu risiko yang terjadi pada waktu saya menggunakan alat transport yang tidak mengeluarkan ticket perjalanan. Yang dimaksudkan adalah kendaraan charter seperti speed boat, sepeda motor (ojek) atau pesawat terbang, atau bahkan helikopter.

Pada prnsipnya kendaraan charter adalah kendaraan yang tidak mengeluarkan karcis atau ticket bukti perjalanan. Kendaraan jenis ini tidak ditanggung claimnya. Pesawat komersial biasa dan taxi ditanggung risikonya. Syukurlah perusahaan dan saya sendiri hanya mengalami pembayaran premi tanpa perlu melakukan claim.

Seperti sudah disebutkan di atas risiko hidup ini adalah multi complex. Kita semua dapat mengalami stress yang cukup berat, apabila memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan risiko hidup. Banyak risiko yang tidak dapat diantisipasi seperti halnya bencana Tsunami, dan bencana lainnya. Sedangkan keadaan stress sendiri tidak ada asuransinya. Untuk itu usahakanlah agar selalu mencari dan mengingat risiko yang paling tinngi atau risiko maksimumnya.

Risiko maksimum dapat dilihat dari contoh-contoh berikut: 1. menjadi karyawan orang (pihak) lain : dipecat sebagai karyawan; 2. menjadi pengusaha, mungkin akan mengalami kebangkrutan; 3. menjalani hidup perkawinan: mungkin bercerai mati atau bercerai hidup dan jangan lupa , 4. kalau menjalani hidup, risikonya adalah meninggal dunia.

Kalau pengertian dan pengetahuan mengenai risiko paling tinggi ini sudah dapat dihayati, maka hati akan sedikit lega dan berkurang rasa stress yang ada. Jangan terlalu merisaukan risiko yang belum terjadi.

Perusahaan asuransi saja masih belum mampu meliput banyak risiko yang dapat ditanggungnya.

Jadi perkembangan risiko akan tetap berjalan dari waktu kewaktu sesuai kebutuhannya. Dapat diberikan contoh seperti berikut ini. Seseorang yang pekerja ulet dan rajin, jujur dan pandai menyesuaikan diri serta selalu bersopan santun yang ideal, sehingga dimata atasannya dia patut dikatakan sebagai karyawan teladan.

Sebenarnya di dalam batinnya dia adalah seorang “biasa”, yang ingin berteriak-teriak, sedikit minum bir sehingga setengah teler dan ingin melucu ditengah orang banyak. Akan tetapi dia ini adalah seorang yang menurut istilah populernya: JA IM singkatan dari Jaga Image, hati-hati sekali, kerena dia tidak mau kehilangan pekerjaan, maka dia berubah total dari yang sesungguhnya yang ingin juga untuk melakukan seperti yang telah diuraikan di atas tadi. Apa yang terjadi setelah itu?

Setelah dinyatakan sebagai karyawan teladan maka dia menjadi penyakitan, menderita invisible disease (penyakit maya alias tidak bisa kasat mata), badan terasa sakit semua lah, pusing-pusing lah, kurang enak badan lah, tidak bisa berkonsentrasi lah, macam-macam saja keluhannya. Dokter dan para pskiater menyatakan dia stress, dan obatnya: ya obat-obat penenang dan istirahat panjang.

Pengambil risiko itu amat rentan kegagalan, kalau tidak maka akan disebut pengambil kepastian — Risk taking is inherently failure prone, otherwise it is called sure-thing taking.