20 Mei, 2007   Saya terima sebuah email berisi yang tercantum dibawah ini sebagai “clipping” berita dari seorang teman, sebuah berita dari http://www.kompas.com, tanpa disertai komentar apa-apa. Bagi saya ini sama saja bila saya membuka sendiri web site nya. Tetapi karena teman yang satu ini telah sering berbuat begini, maka saya baca baik-baik dan isinya memang telah saya baca melalui media dan milis lain secara sepotong-sepotong.

 Dengan membaca yang dibawah ini maka saya merasa terdorong menulis komentar saya sendiri. Tuan Amien Rais (AR) ini memang suka membuat kejutan dengan pernyataannya yang berubah setiap saat seperti cuaca. Seenaknya sendiri dan akibatnya baik atau buruk, selalu saja dia selamat dan sejahtera. Lolos. Bukan telah lama, tetapi waktu dia menjadi Calon Presiden dan menunjuk calon Wakil Presidennya Ir. Siswono, saya sungguh terpesona; kok Mas Ir. Siswono ini mau, ya? Saya tidak mau berkata Tuan AR ini orang jahat atau orang jelek, tetapi tetap saja pertanyaan itu kok terus menggantung didepan mata .

Saya coba menganalisa dengan cara saya, dan memang saya tidak melihat dari cara pandang mata mas Siswono, jadi analisa saya untuk hal ini menjandi buntu.

Saya pikir ada ungkapan yang agak sesuai, berbunyi kira-kira: if you can not fight the enemy, it wise to join them. Apa begitu yang mendasari pikirannya Mas Siswono?

Ataukah karena ingin berbuat yang terbaik selama akan membawa hasil yang baik demi Negara dan Bangsa?

Tokoh publik pada jaman sekarang ini harus mengalami “pengadilan” publik melalui Press, maka saya ingat Pak Amien Rais “diadili” oleh Rosiana Silalahi, si wanita pewawancara Metro TV. Bincang sana bincang sini, tiba-tiba muncul pertanyaan dengan kata-kata seperti ini: “Bapak ini bagaimana, bukankah Bapak memimpin PAN memperoleh hasil suara yang amat kecil, kemudian Bapak menggunakan instrumen yang disebut dengan istilah Poros Tengah. Semua orang mengetahui bahwa Poros Tengah hanyalah dipakai agar bukan Mega terpilih untuk menjadi Presiden. Kemudian setelah Gus Dur terpilih, Bapak melakukan manouver lain yang menyebabkan Gus Dur dilengserkan, selaku Calon Presiden sekarang ini akan menggunakan Muhammadiyah sebagai partner??” Saya ingat juga mimik muka AR yang kerepotan mendengar sesuatu yang straight forward seperti ini, jawabannya pun juga berlepotan, tidak masuk akal, mungkin hanya masuk akalnya dia sendiri. Kemudian ternyata dia kalah juga pada Pemilihan Presiden, dan saya “gembira” karena saya dengar dia akan mengajar saja di Universitas Gajah Mada. Itu melegakan, karena mungkin akan menjadi habitat yang baik bagi dia untuk seterusnya.

Meskipun dia untuk beberapa saat diam-diam saja, dan memang kadang-kadang membuat pernyataan-pernyaaan kecil yang tidak terlalu “meletup”, saya melihatnya masih dalam batas kewajaran. Tetapi ada juga yang meletup, dan kali ini issuenya adalah Freeport, sebuah perusahaan yang melakukan penambangan mineral tembaga, dengan mineral emas murni sebagai penghasilan sampingan (side product) , yang jumlahnya amat banyak. Rupanya gelisah juga dia di Yogyakarta dan ingin kembali ke pentas nasional. Itu sih memang haknya, tetapi masalah politik usungannya, atau political issue yang dipergunakannya sebagai stepping stone adalah sesuatu yang kurang dikuasainya. Dia meletup lagi. Yah, memang Kancil mencoba melawan Gajah, tenggelamlah issuenya karena Gajahnya lebih piawai. Orang-orang Papua yang berdemo di Kantor Pusat Freeport di Plaza 89 di Kuningan Jakarta, sungguh kasihan, terbakar rasa kedaerahannya dan berpanas-panas, berteriak-teriak seperti ungkapan anjing menyalak dan kafilah tetap berlalu. Apa hasilnya mengutik-ngutik Freeport? Saya tidak melihat apa-apa. Bukankan Tuan AR ini dulu pernah tinggal dan belajar di Chicago. Seharusnya cukup waktu dan cukup kebijakan yang diperoleh untuk mengetahui Freeport itu “siapa” dan berlatar belakang apa? Sesudah menjadi perusahaan besar seperti ini, apakah Pemerintah Amerika Serikat akan diam saja?

Saya tidak mempunyai maksud untuk mengecilkan Amien Rais dan mengecilkan Pemerinah Indonesia, apalagi membesarkan Pemerintah Amerika Serikat.

Jauh dari itu.

Saya hanya menyesalkan mengapa AR tidak bisa mengukur bobotnya diri sendiri dan mengamati medan perang yang diciptakannya dengan perhitungan yang lebih baik? Saya memandangnya sebagai issue yang dilontarkan oleh seseorang yang lama tidak didengar orang lalu dengan agak membabi buta melawan sesuatu dan menggunakan taktik yang tidak akan dikuasainya. Komentar saya ini bukan ingin menjelekkan AR sesuka saya, tetapi bukankah sejak saat dia menjadi terkenal sampai sekarang, sudah melalui masa-masa yang cukup panjang, sehingga seharusnya dia memperoleh kebijakan-kebijakan yang lebih dari orang biasa. Waktu menjabat menjadi ketua MPR, disitulah sebenarnya AR bisa mendapatkan kesempatan emas untuk dapat mematangkan diri sendiri.

Saya kecewa dia mengatakan bahwa untuk yang akan datang sebaiknya MPR bersidang lima tahun sekali dan ketua MPR dipilih khusus untuk masa sidang saja. Jadi lembaga Ketua MPR itu hanya begitu tugasnya. Wah saya menyetujui sekali. Tetapi mengapa tidak dikemukakannya ketika dia sedang menjabat jabatan yang terhormat seperti itu dan mengundurkan diri segera?

Mengapa baru sesudah tidak terpilih lagi?

Sdr. Faisal Basri yang mengungkapkan didalam sebuah wawancara atau talk show bahwa AR memawa uang US Dollar sekopor pada waktu pulang dari Amerika Serikat.

Padahal dia itu dulu adalah Sekretaris Jenderal PAN (Partai Amanat Nasional). Ada apa ini?

Saya persilakan sekarang menyimak berita yang saya sebutkan diatas, seperti tertera dibawah ini

Sabtu, 19 Mei 2007

 

Hidup di Bui

Salut untuk Pak Amien Rais yang mengaku menerima dana nonbudgeter dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) ketika jadi capres 2004. Pak Amien siap jadi tersangka dan dihukum.

Pak Amien mengimbau capres-cawapres lain jangan berkelit karena dana nonbudgeter itu juga mereka terima. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengungkapkan, tim sukses semua capres-cawapres kecipratan juga.

Wajar ada yang skeptis terhadap pengakuan Pak Amien ini. Telah keburu berkembang pesimisme terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Pesimisme meluas juga karena penyidikan penembakan mahasiswa Universitas Trisakti ataupun kerusuhan Mei—yang pas sembilan tahun pada bulan ini—makin melempem. Sikap pemerintah, seperti kata orang Hawaii, "pau hana" alias "emangnya gua pikirin".

Manusia Indonesia jago berteriak demokrasi, tetapi di dalam rumah belum tentu mau demokratis terhadap PRT. Mereka mungkin dilarang nonton "Empat Mata" atau disuruh beli rokok jam 10 malam.

Manusia Indonesia pandai berkhotbah soal aturan, tetapi terbiasa hidup curang, mulai dari melanggar marka jalan, menyogok perpanjangan SIM, atau membawa kabur dana BLBI ke luar negeri.

Manusia Indonesia pintar mengkritik pejabat yang gemar "membeli" jaksa atau polisi. Namun, mereka pun berani mengeluarkan dana pelicin kalau teman atau keluarganya diciduk polisi.

Manusia Indonesia ahli membuat UU, hukum, atau peraturan, tetapi tiap hari membangun portal, membuat polisi tidur, atau enggak mau bayar karcis masuk ke stadion sepak bola.

Manusia Indonesia dikenal ramah dan cinta gotong-royong. Siapa bilang?

Makin sulit mencari manusia Indonesia yang patuh hukum. Mungkin 99 persen bersikap above the law alias kebal hukum.

Aturan di sini lebih banyak daripada petatah-petitih para filsuf sejak zaman Babilonia sampai Abad Pencerahan. Hantu Aristoteles, Thomas Hobbes, atau Immanuel Kant akan menangisi kesia-siaan karya mereka yang usang di negeri ini.

Belum lama ini, Menneg PAN Taufiq Effendi mengungkapkan ada 1.850 peraturan yang tumpang tindih. Aturan larangan kencing saja tumpang tindih: di kali lima, di tempat sampah, atau di bawah pohon.

Aturan pemberantasan korupsi dibuat rumit karena diurus secara multikompartemental melalui irjen departemen, BPK, KPK, atau Tim Tastipikor. Hasilnya wallahualam bisawab.

Namun, pengakuan Pak Amien dapat digunakan untuk menunjukkan tekad zero tolerance dalam pemberantasan korupsi. Ini peluang emas, jangan disia-siakan seperti penyerang timnas PSSI yang tak mampu mencetak gol meski gawang lawan tak ada kipernya lagi.

Mea culpa Pak Amien wajib ditindaklanjuti. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali dan yang penting lagunya—bukan penyanyinya.

Caranya mudah: tanya ke KPU. Masih ada anggota KPU yang di balik jeruji, yang jadi kutu loncat, dan yang masih harus diperiksa dugaan korupsinya.

Jika data sudah lengkap, periksa anggota tim sukses capres-cawapres. Ini seperti membalikkan telapak tangan karena identitas mereka, dalam istilah SBY, telah terang benderang.

Habis itu, panggil setiap capres-cawapresnya sekalian, kalau perlu dengan ancaman "atas nama hukum!" Ini perkara gampang karena yang supersibuk toh bisa didatangi, apalagi yang pura-pura sibuk.

Mungkin pemeriksaan mereka mengundang reaksi pendukung masing-masing. Mungkin ada yang bersenjatakan katebelece, mengerahkan demonstran, atau seperti kura-kura dalam perahu bocor.

Setiap capres-cawapres sing duité akéh itu pasti menyewa pengacara lihai. Di Amerika Serikat ada guyon, kalau ada ular lepas dari kebun binatang, segera panggil pengacara ulung karena mereka mengerti bahasa reptil.

Anda jangan kaget melihat capres-cawapres dan pengacara mengeluarkan kalimat azimat "hargailah asas praduga tak bersalah", "saya dizalimi", atau "saya siap disumpah pocong". Ingat Bung dan Nona sekalian, di negara demokrasi ada juga yang berhak mempertunjukkan "democrazy".

Lalu bagaimana kalau ada capres-cawapres yang terbukti melanggar aturan dana kampanye? Ya ikuti saja langkah Pak Amien yang siap masuk bui.

Toh republik jalan terus dengan atau tanpa mereka. Kekuasaan eksekutif bisa dialihkan kepada MPR atau lembaga konstitusional seperti presidium, pemerintahan sementara, atau model PDRI di zaman dulu.

Kalau MPR (DPR plus DPD) terseret skandal dana nonbudgeter DKP? Ya enggak apa-apa, rakyat oke-oke saja, meski mereka sering kumpul di hotel atau studi banding ke luar negeri.

Tak perlu takut kepada presidium atau pemerintahan sementara/darurat selama mereka menyatakan mengadakan pilpres lebih awal dari jadwal 2009. Tak perlu khawatir penyalahgunaan wewenang selama kita sama-sama menjaga mereka. Mungkinkah capres-cawapres melancarkan perlawanan dari balik jeruji? Itu takkan terjadi kalau mereka dipaksa makan nasi aking tiap hari dan dibui di Rutan Cipinang—jangan di Rutan Mabes Polri—yang para penghuninya tak kenal ampun.Saya janji deh akan membesuk mereka. Saya bawa gitar dan menyanyikan Hidup di Bui karya D'Lloyd untuk mereka.

"Hidup di bui bagaikan burung/Bangun pagi makan nasi jagung".

"Mau merokok rokoknya puntung/Mau mandi tidak ada sabun".

"Hidup di bui menyiksa diri/ Badan hidup terasa mati".

"Apalagi penjara Cipinang/ Masuk gemuk pulang tinggal tulang".

Tulisan diatas saya tidak melihat nama penulisnya akan tetapi dibagian atas tertulis berasal dari http://www.kompas.com

Ini kesempatan emas sekali lagi bari AR !!

Hadapilah hukum seperti biasanya dia menghadapi issue-issue yang telah ada. Sebagai akibat dari hal ini, bukankah dia (AR) sudah bersedia menerima sanksinya. Tidak usahlah dia menyebut-nyebut bahwa Calon Presiden dan Wakil Presiden semua menerima uang yang sejenis. Demikian juga halnya dia menyebutkan bahwa dia kalau dihukum 10 tahun, maka dia harap agar para pencuri uang BLBI dihukum seratus tahun. Uruslah urusan diri sendiri, masuklah kedalam penjara seperti apapun kalau diputuskan oleh Hukum yang berlaku di Indonesia, memang seperti itu putusannya. Kalau AR duhukum saya tidak akan bersorak-sorak bergembira karena dia dihukum. Tetapi benar saya akan bersorak gembira hanya oleh karena hal ini akan menjadi preseden, sebuah contoh nyata yang bisa patut menjadi acuan, bahwa seorang AR bisa dihukum.

Berarti yang lain akan menyusul, tidak perduli apakah dia sekarang dan/atau dulu adalah Kiyai atau jenderal atau cerdik pandai atau saudagar seperti apapun hebatnya.

Siapapun yang menjadi lebih kaya dengan cara tidak patut, setelah mengemban amanat rakyat kecil dengan memanggul jabatan yang dipercayakan kepadanya. Semua ini akan menjadi obat mujarab terutama bagi diri saya yang telah kecewa dan muak.