Tag

Seperti diberitakan di Jakarta, pada tanggal 03 Mei 2007 y.l. telah diluncurkan karya ilmiah Karl Marx dan F. Engels, DAS KAPITAL III. Karya besar dan klasik tsb diterbitkan oleh Penerbit 'HASTA MITRA', dengan dukungan 'THE GLOBAL JUSTICE'. Penterjemah ke dalam bahasa Indonesia Das Kapital Jilid III, sebagaimana halnya untuk Das Kapital Jilid I dan II, adalah OEI HAI DJOEN.

Yang memberikan sambutan/pengantar pada peluncuran Das Kapital Jilid
III tsb a.l. adalah Sucipto Munandar, Ketua Harian Yayasan Azië
Studies, Onderzoek en Informatie, Amsterdam.

Berikut ini adalah bagian kedua dan terakhir dari Pengantar Sucipto
Menandar, pada Peluncuran Das Kapital III, yang berlansung pada
tanggal 03 Mei 2007 yl di Jakarta.

Silakan lanjutkan baca ulasan SUCIPTO MUNANDAR. Pengantar tsb meskipun
singkat, tetapi BERBOBOT dan analitis, diproyeksikan pada situasi
internasional dan Indonesia dulu dan sekarang.


KATA PENGANTAR SUCIPTO MUNANDAR Pada PELUNCURAN DAS KAPITAL JILID III (BAGIAN II)

(Bg-I Kata Pengantar tsb diatas, telah disiarkan dalam Kolom Ibrahim Isa, kemarin tg 17 Mei 2007)
* * *
Memang lebih dari satu abad memisahkan kita dari terbitnya karya besar
Karl Marx itu. Tapi sumbangan Marx dalam membahas, menganalisis serta
mengungkap hukum-hukum umum dalam sistem ekonomi kapitalisme tidak
surut dengan beralihnya waktu. Tak terbantahkan bahwa bagi siapapun
yang ingin memahami sistem ekonomi kapitalisme, karya Kapital Marx
menjadi acuan pokok sampai saat ini, baik bagi yang mendukungnya
maupun bagi yan mau membantahnya. Almarhum Prof. W.F. Wertheim,
seorang warganegara Belanda, seorang ilmuwan dan pakar Indonesia
terkemuka, pernah mengkiaskan `dengan berdiri di atas bahu Karl Marx
memungkinkan aku menatap lebih jauh ke depan'. Sampai saat ini hasil
pemikiran Karl Marx berdampak pada kehidupan bermasyarakat kita.

Abad ke-20 menyaksikan meletusnya dua Perang Dunia Besar 1914-1918 dan
1939-1945 yang makan korban jutaan manusia dan menyengsarakan ratusan
juta manusia di seluruh dunia. Sumber dan penyebab kedua perang dunia
itu adalah imperialisme. Akar imperialisme ada pada sistem kapitalisme
yang telah dianalisis dan dipaparkan oleh Karl Marx dalam karya
utamanya. Sementara itu, sejak akhir Perang Dunia I dan khususnya
sesudah Perang Dunia II, bangkit pergerakan rakyat semakin luas
melawan kapitalisme/imperialisme demi menggantikannya dengan sistem
masyarakat lebih adil dan manusiawi, masyarakat sosialis. Pergerakan
ini langsung dijiwai oleh gagasan Marx yang dipaparkan dalam karya Das
Kapital dan karya-karya lainnya. Lahirlah negeri sosialis USSR dan
sejumlah negeri sosialis di Eropah Timur. Di Asia berdiri Republik
Rakyat Tiongkok, Republik Rakyat Demokratik Korea, Republik Sosialis
Vietnam. Di benua Amerika tetap tegak Republik Kuba yang terus
berjuang mewujudkan masyarakat sosialis.

Pada akhir tahun 1980-an kita saksikan lagi perubahan dan pergolakan
besar di skala internasional. Uni Soviet runtuh dan berbagai republik
yang tadinya tergabung dalam negeri itu menjadi republik-republik
berdiri sendiri. Republik Federasi Sosialis Yugoslavia (Socialist
Federal Republic of Yugoslavia juga buyar tercerai-berai melalui empat
macam perang berdarah, menjadi republik-republik sendiri. Jerman Timur
telah lebur dalam Republik Federasi Jerman. Negeri-negeri Eropah Timur
lainnya semua sudah beralih ke sistem kapitalisme. Kapitalisme menjadi
sistem global meliputi seluruh dunia, seakan tiada lagi tempat untuk
sistem masyarakat yang lain selain kapitalisme. Fukuyama
mengexpresikannya sebagai `the end of history'(`berakhirnya sejarah').
Apakah ini realitasnya?

Untuk mayoritas rakyat di kebanyakan negeri di dunia ini kapitalisme,
lebih-lebih dalam wujud neo-liberalisme, berarti kesengsaraan dan
kemiskinan, bukan kesejahteraan rakyat banyak. Tak putus-putus rakyat
mencari jalan keluar dari kesengsaraan ini mengusahakan sistem
masyarakat yang akan melenyapkan ketimpangan ekonomi, sosial dan
politik, suatu masyarakat yang dapat membawa kesejahteraan untuk
rakyat banyak. Di berbagai negeri di Amerika Latin rakyat tidak
menikmati kebaikan-kebaikan kapitalisme. Malah kapitalisme
neoliberalisme lebih memperberat penindasan atas rakyat. Berkembanglah
gerakan-gerakan sosial rakyat yang melawan penindasan dan ketimpangan
itu. Melalui pemilihan umum terpilih pemimpin-pemimpin beraliran kiri
seperti di Brasil, Venezuela, Cili, Bolivia dan Ekuador, membantah
`blessings' dari globalisasi kapitalisme.

Di Indonesia pergerakan dan perjuangan untuk kemerdekaan nasional
berhadapan langsung dengan kolonialisme Belanda -- perwujudan
imperialisme dari expansi kapitalis Belanda. Wajarlah bahwa ideologi
pergerakan kemerdekaan nasional ini dipengaruhi gagasan-gagasan Karl
Marx. Tokoh-tokohnya, mulai dari H.O.S. Tjokroaminoto, dr. Tjipto
Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Douwes Dekker, Soekarno, Hatta,
Sjahrir, Tan Malaka dan banyak lainnya lagi beraliran kiri, sedikit
atau banyak, dijiwai oleh pikiran Karl Marx mengenai pembebasan
manusia. Pledoi Bung Karno `Indonesia Menggugat' yang disampaikan pada
sidang pengadilan kolonial pada Desember 1930.merupakan testimony kuat
dan bersejarah menggugat kolonialisme/imperialisme Belanda dan
pembenaran atas tuntutan rakyat Indonesia untuk merdeka. Dokumen
historis ini sangat berharga dan penting bagi kita untuk dapat
sungguh-sungguh memahami dasar-dasar perjuangan kita untuk Indonesia
Merdeka. Dari tulisan-tulisan di masa pembuangan, kita tahu Bung Karno
mengagumi Karl Marx sebagai manusia yang `heibat'.
Banyak tulisan yang diterbitkan mengenai perjuangan sekitar Revolusi
Agustus 1945. Dengan tidak mengurangi sumbangan karya-karya beragam
mengenai perjuangan kemerdekaan kita saya ingin menyebut di sini salah
satunya, yaitu tulisan almarhum Subadio Sastrosatomo `Perjuangan
Revolusi Indonesia', terbitan tahun 1970-an. Dalam menguraikan proses
perjuangan pada masa 1945-1947 Subadio menggambarkan peranan
golongan-golongan kiri (Marxis) yang menonjol pada periode itu. Maka
beliau menegaskan dari pengalaman revolusi itu bahwa untuk perjuangan
kemerdekaan Indonesia, Marxisme nyata peranannya.
Sampai 1965 ide-ide Marx dan Marxisme dapat beredar dengan leluasa di
Indonesia. Bung Karno berkali-kali menyatakan cita-citanya membangun
"sosialisme ala Indonesia".

Keadaan berubah drastis dengan berkuasanya Orde Baru Suharto. Arah
pembangunan dibalikkan ke arah kapitalisme dengan membuka Indonesia
untuk investasi seluas-luasnya bagi modal asing. Sungguh berkembanglah
kapitalisme di Indonesia di semua bidang dengan membawa akibat-akibat
buruk seperti yang dipaparkan oleh Karl Marx. Akumulasi primitif
kapital berlangsung dengan perampasan alat-alat produksi dari para
pekerja, sehingga tercipta barisan penganggur yang luas. Berbagai
sarjana asing telah menerbitkan studi mengenai perkembangan
`kapitalisme kasar' tersebut. Di Indonesia pun terdapat pengritisi
atas jalan kapitalisme yang ditempuh Indonesia. Pada kuranglebih
sebulan yang lalu seorang tokoh ekonom Indonesia, Prof. Sarbini
Sumawinata meninggal dunia. Pak Sarbini pernah dipenjarakan dua tahun
berkaitan dengan peristiwa `Malari'.Dari kumpulan wawancara beliau
dengan media massa setelah presiden Suharto turun kita ketahui, bahwa
pada 1966, pada awal Orde Baru beliau mewakili apa yang dinamakan
ketua `sindikat politik', sedangkan Widjojo Nitisastro mewakili
`sindikat ekonomi' Suharto. Pak Sarbini mencanangkan bahaya
militerisme, menghendaki kerjsasama sederajat sipil-militer dan adanya
kebebasan pers. Tapi pikiran-pikirannya tidak diterima dan pak Sarbini
tersingkir. Konsepsi beliau mengenai pembangunan yalah `ekonomi
kerakyatan'. Apa yang dimaksud dengan itu? Kata pak Sarbini: `Ekonomi
kerakyatan sesunguhnya strategi pembangunan untuk Indonesia dengan
dasar sosialisme kerakyatan'. Pemikiran-pemikiran seperti Prof Sarbini
juga tersebar di kalangan masyarakat Indonesia yang emoh pembangunan
kapitalisme ala Orde Baru. Sayangnya dalam periode reformasi ini belum
ada pemutusan radikal dari kebijakan ekonomi yang lalu. Namun cukup
banyak pernyataan, baik dalam tindakan maupun pengupasan dari berbagai
LSM yang menggugat kapitalisme yang berlaku. Satu tuntutan utama yang
dikumandangkan pada Hari Buruh 1 Mei ini yalah `Hapuskan Sistem Kerja
Kontrak'. Sistem kerja kontrak atau `outsourcing' merupakan suatu
sistem eksploatasi kapitalis yang sangat melemahkan posisi kaum buruh.
Institute for Global Justice yang turut mendukung penerbitan Buku III
Kapital ini telah menerbitkan berbagai artikel yang mengupas
neoliberalisme dan bahayanya bagi Indonesia.

Kembali pada Buku III Kapital Marx. Isinya mengungkap berbagai
kontroversi dengan menyajikan jawaban-jawabannya. Buku ini melengkapi
pemahaman kita mengenai kebesaran pemikiran Marx dalam mengkritik
kapitalisme. Marx seorang ilmuwan, aktivis revolusioner dan seorang
visioner. Marx bukan seorang peramal kejadian-kejadian masa depan
dengan pembatasan waktu, tapi berdasarkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah
memberi visinya mengenai arah perkembangan masyarakat yang akan
menggantikan kapitalisme dengan sosialisme. Perkembangan dunia dengan
globalisasinya pada dasarnya memperkuat visi itu dan membawa relevansi
karya Marx kepada masakini.

Bagi Marx semua pengetahuan berkaitan dengan mengkritik ide-ide.
Subjudul KAPITAL `Sebuah Kritik Ekonomi Politik' memanifestasikan
sikap dasar itu. Ilmu pengetahuan dapat dan akan terus maju didorong
oleh sikap kritik ini.
Mengakhiri pengantar ini saya kutip dan menggarisbawahi bagian-bagian
dari PRAKATA PENERBIT:
`Yang jelas, dan ini kenyataan yang mesti kita camkan setiap kali kita
membaca dan membicarakan atau menggali dari KAPITAL, Marx tidak
memberi resep atau dogma apapun.'
Alinea-alinea penutup PRAKATA menegaskan:
` ... tidak benarlah teriakan-teriakan bahwa paparan-paparan Marx
sudah ketinggalan zaman; bahwa analisis Marx tidak lagi memadai bagi
kebutuhan-kebutuhan kita masa kini. Karya Marx merupakan suatu alat
kultur intelektual yang tiada bandingannya.
`Baru dengan dibebaskannya kelas pekerja dari kondisi-kondisi
keberadaannya sekarang, metode Marx akan tersosialisasikan berangkaian
dengan cara-cara produksi lainnya, sehingga ia dapat sepenuhnya
dipergunakan demi keuntungan kemanusiaan seluruhnya, dan dengan
demikian dapat dikembangkan sesuai kemampuan fungsinya.'
Terima kasih. 3 Mei 2007
Sucipto Munandar
-----------------------------------------------
ERATA:
Pada siaran teks bagian pertama dari Kata Pengantar tsb diatas, pada
alinea ketiga dari bawah yg dimulai dng kata-kata: Sistem kapitalisme
. . . dsb.; terdapat pengulangan pada alinea berikutnya. Halmana
adalah suatu kekeliruan cetak. Dengan ini kekeliruan itu, sudah diralat.
Terima kasih tertuju pada teman yang mengingatkan tentang kekeliruan
tb. (I.I)
* * *