9 Maret 2005
Ini selalu saya ucapkan kalau saya yang sedang tidak in the mood disuruh atau diminta teman untuk memainkan sesuatu di electronic keyboard atau piano. "One note one Dollar."

Pokoknya saya menghindar. Saya memang menolak main didepan banyak hadirin apalagi yang baru kenal atau banyak yang tidak kenal. Pertama-tama yang paling saya “takuti” adalah apabila diantara mereka ada yang meminta dimainkan lagu yang saya kurang mahir atau lagu yang tidak begitu saya sukai. Saya ingat bertemu teman dekat saya di Sekolah Menengah Pertama, Onny Soerjono sang penyanyi terkenal pada jamannya dua puluh lima tahunan yang lalu, waktu dia sedang menyanyi di Wisma Nusantara tingkat 28, di Jakarta. Dia mengatakan bahwa dia menyanyi lagu-lagu publik yang sebenarnya tidak terlalu disukainya. It is how life is, kata Onny.

Maafkan kalau saya karena bersikap berpraduga atau prejudice, tetapi biasanya praduga saya itu memang terbukti pada suatu waktu kemudian.

Juga kalau permintaan lagu yang disertai pemintanya agar dia bisa menyanyikan lagunya. Si peminta tidak begitu bagus menyanyinya bahkan suaranya, lalu apa yang terjadi pada saya? Permainan saya terganggu dan konsentrasi amburadul karena ‘menyesuaikan’ diri dengan alunan nyanyinya yang amatiran.

Sepanjang tidak ada hadirin yang terlalu banyak, mungkin saja akan bisa dialihkan perhatian yang hadir kearah yang sedikit lucu, misalnya menambah atau mengurangi tempo atau bertingkah lain sedikit. Pokoknya saya jadi repot lah ! Saya kan bukan Onny Soerjono.

Kami ini orang-orang yang sudah tua, yang berkeras hati selalu mau main dan menyanyikan lagu yang kami kenal bersama, karena nostalgia kepada masa ketika masih bersama-sama belajar dulu.

Lagu baru ?

Tidak usah saja !

Bukan tidak suka tetapi tidak bisa menyanyikannya.!

Menurut pengalaman selama ini acara kumpul kumpul bernostalgia baik oleh perkumpulan para pelajar Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah maupun alumnus akademi dan perguruan tinggi , selalu penuh dengan penyanyi amatir. Uniknya mereka ini jumlahnya tidak sedikit dan dilengkapi dengan keberanian yang agak berlebihan, daripada yang diduga sebelumnya.

Ada yang dulu terkenal pendiam dan tidak pernah berbicara didepan umum, sekarang dia malah muncul dengan energi dan self confidence yang berlebihan.

Kepribadian baru yang tidak diduga oleh hadirin lain, sipendiam ini ternyata sekarang amat gemar dan suka menguasai microphone dan kelihatan akan mengatakan apapun dan menyanyikan apapun asal melalui pengeras suara. Oh how he loves microphone so much! Sebenarnya over confidence seperti ini amat saya anjurkan bagi seseorang yang yang sedang atau pernah mengalami degradasi atau kemunduran mental karena sesuatu penyakit tertentu, demi untuk penyembuhan.

Sudah dipraktekkan sejak lama terhadap para IPS, Insan Pasca Stroke, dan hasilnya sungguh amat membantu yang bersangkutan. Akan amat berbeda sekali jadinya apabila seseorang melakukannya dengan kemampuan yang amat terbatas akan tetapi dengan kepercayaan diri yang diatas normal. Yang begini selalu menjadi pengganggu suasana. Pengganggu suasana seperti inilah yang saya hindari, kalau kebetulan meminta lagu dan minta diiringi keyboard atau piano. Alasan classic saya tetap saja dengan berkata secara bergurau: “Membayar saya itu mahal, one note one dollar. Biarpun dollar Hong Kong sekalipun……”