“Character is like a tree and reputation like its shadow. The shadow is what we think of it, the tree is the real thing” (ABRAHAM LINCOLN)  – Dimuat pula di Majalah TRUTS edisi Senin 14 – 20 Mei 2007

 

Di depan gedung London Stock Exchange, yang pernah saya kunjungi, dulu sekali, terpatri kokoh sebuah jargon: my word is my bond. Kalimat itu selintas terasa jumawa. Betapa tidak, hatta para nabi sekali pun tak sepenuhnya mampu membuktikan apa yang mereka ucapkan. Apa pula yang bisa diharapkan dari manusia modern yang semakin abai terhadap kehangatan relasi antar manusia. Apalagi di tengah industri keuangan yang hiruk pikuk dengan persaingan tajam, industri yang berpacu kencang dengan perubahan yang terjadi setiap detik, industri yang menjadi ajang permainan zero sum game.

 

Industri keuangan, boleh jadi, memang dibangun di atas premis teori Y yang berasumsi bahwa setiap manusia adalah decent and ethical human being. Karena dibangun di atas azas kepercayaan, boleh jadi, industri keuangan memang membutuhkan jargon semacam itu. 

 

Problem sosial klasik bersumber dari bahasa. Bahasa adalah jembatan penghubung dalam interelasi manusia. Kesalahan kita terletak pada kecenderungan kita untuk mempersempit bahasa hanya dalam bentuk ucapan dan tulisan. Kita cenderung melupakan bahwa pandangan mata, senyum, gerak tubuh dan – apalagi – tingkah laku adalah bahasa yang paling konkrit yang merefleksikan karakter manusia. Bukankah action speaks louder than word?

 

Kesenjangan itu lah pangkal malapetaka dalam sejarah komunikasi manusia. Karena lidah tak betrtulang, maka mulutmu menjadi harimaumu. Karena tangan bisa menulis apapun, maka kata bisa menjadi lebih tajam daripada pedang. Persoalan terbesar dalam karakter manusia adalah kesenjangan antara bahasa verbal dengan bahasa praksis. Bak syair lagu melayu: “bertanam tebu di bibir, rebung berduri di hati”.

 

Kita menemukan tebaran ujar-ujar dalam upaya manusia mengingatkan dirinya sendiri untuk memperpendek kesenjangan antara apa yang ia ucapkan dengan apa yang dia lakukan, mempersempit jarak antara kemampuan dan impian, meniadakan gap antara apa yang dia harapkan orang lain lakukan kepadanya dengan apa yang dia lakukan kepada orang lain.

 

Honesty is the best policy, walk the talk, practice what your preach merupakan sebagian kecil dari ujar-ujar itu. Namun ujar-ujar, pada dirinya sendiri, juga tak lebih dari rangkaian kata. Kata hanya mengandung energi kehidupan bila ia mencerminkan getar sesungguhnya dari nurani.

 

Jaman ini adalah jaman imagologi kata Milan Kundera. Jaman ketika kemasan diberi harga yang lebih mahal ketimbang isi. Budaya Indonesia adalah budaya teater (meminjam Clifford Geertz), budaya tepuk tangan, ketika citra menjadi faktor dominan yang menentukan tempat sesorang di ruang publik. Dalam kultur semacam itu, citra di depan publik seringali terbukti lebih penting ketimbang integritas pribadi.

 

Kepribadian, agaknya, dapat digambarkan sebagai cara sesorang bertingkah-laku untuk membangun citra positif dalam persepsi public. Karakter, boleh jadi, bisa diberi makna sebagai cara seseorang menjalani kehidupan yang membuat ia mampu  melakukan rekonsiliasi dan comfortable dengan nuraninya sendiri. Maka prilaku yang dituntun oleh nurani, kata Franz Magnis Suseno, akan menebar rasa nyaman pada diri manusia. Akan membuat kita merasa berharga. Nilai intrinsik kita sebagai manusia boleh jadi dipengaruhi oleh grade yang diberikan oleh orang lain kepada kita. Namun kebahagiaan sejati, tak bisa lain kecuali state of mind kita sendiri.

 

Dalam koridor itu, maka saya ingin mengatakan bahwa pengembangan kepribadian penting, tapi membangun karakter lebih penting. Memenangkan ranah persepsi publik itu penting, tapi mengambil tindakan yang konvergen dengan cahaya nurani sendiri lebih penting. Memenuhi janji kepada orang lain adalah sebuah prestasi, tapi memenuhi janji kepada diri sendiri merupakan prestasi yang lebih besar. Meminjam dari Stephan R. Covey: public victory itu penting, personal victory lebih penting……..

 

Jakarta Mei 2007