Wednesday, May 09, 2007   Bagi sebagian orang yang belum pernah sempat untuk pergi ke Kanada, maka judul diatas akan meninmbulkan pertanyaan: apakah itu mungkin? Saya datang pada 11 Juli 2007 dan menetap sampai sekarang sudah sepuluh bulan lamanya

 

. Sebelum ini saya sudah empat / lima kali datang ke Kanada hanya dalam kunjungan yang pendek sekitar dua minggu atau sepuluh hari lamanya. Waktu pertama kali saya datang dan menginap di hotel Westin Harbour Castle di daerah Harbour Front, saya mengalami jet lag dan tidak bisa tidur tengah malam. Saya menyewa mobil Lincoln limousine tetapi saya ingin duduk didepan agar bisa melihat keatas melalui sun roof dan bisa berbincang-bincang dengan sopir secara langsung. Kita berangkat meninggalkan hotel medekati pukul dua pagi. Sopir bertanya kemana? Ah saya cuma menjawab: to wherever you’d like show me your city of Toronto . Wah mulailah petualangan yang tidak biasa. Buat si pengemudi saya adalah sumber rejeki, karena waktu saya dapati dia tadi, dia sedang terkantuk-kantuk menunggu penumpang, dan saya datang mencharter taksi secara borongan per jam sekitar 37 Canadian Dollar. Itu tarip waktu itu sekitar dua belas tahun lalu.

Mobil bergerak keluar dari hotel dan memasuki bagian paling ujung dari Yonge Street, sebuah jalan yang konon paling panjang didunia, karena ujungnya yang lain katanya sampai melampaui perbatasan propinsi Ontario, jadi mencapai panjang yang sekitar 1896 kilometer lebih. Waktu diberitahu itu pikiran saya langsung ingat kepada yang namanya Baron Von Munschaussen, yang dikisahkan dengan cerita-cerita yang fantastis dan tidak masuk akal. Meskipun demikian saya baca juga bukunya yang tebal, padahal tahu kalau dikibulin, kata orang Jakarte. Yonge Street ini pasti asalnya dari bahasa Belanda dari kata belanda Jonge. Kenapa Belanda, karena banyak tinggalan nama Belanda di Toronto dan Kanada pada umumnya. Ada jalan, juga panjang sekali namanya Bloor Street. Eh ternyata sampai tahun 2007 ini angka 1896 kilometer panjangnya Yonge Street masih di pertahankan sebagai angka dan fakta oleh City Hall (Balai Kota, kantornya Wali kota) Toronto. Padahal itu adalah dua kali panjangnya Cilegon – Banyuwangi atau panjangnya pulau Jawa !!. Nah saya pada tengah malam seperti itu berkeliling Toronto, kadang-kadang mengantuk dan melihat ke semua yang bisa saya lihat, yang diceritakan pak Pengemudi mobil itu. Ada daerah yang katanya paling bagus bernama Rosedale dan beberapa yang belum jadi kompleks perumahan. Ada gedung-gedung besar dan tinggi, yang bisa saya lihat dari atap sun roof yang bearada diatas kepala saya. Saya juga di bawa ke Dome, sebuah stadion yang besar, dan mobil ini pun melalui jalan menanjak menuju lobby hotel yang tinggi.

Seperti diketahui Sky Dome adalah sebuah stadion modern yang ada atapnya yang bisa ditutup kalau hujan. Pertandingan akan tetap bisa berjalan dan tidak mengecewakan penonton yang sekitar lima puluh ribu orang. Stadion ini dibangun dan diresmikan pada tahun 1989 dan memakan biaya 570 juta Dollar Canada. Berhimpitan dengan sebuah hotel dengan 348 kamar, yang tujuh puluh buah kamar diantaranya dapat melihat secara langsung kedalam arena pertandingan. Yang ditandingkan di arena biasanya baseball, football (sepak bola cara Amerika, bukan sepak bola cara kita yang disebut soccer) atau bahkan sebuah concert. Begitulah saya diantar kemana-mana dari ujung ke ujung sampai matahari terbit dan saya masuk hotel lagi pada sekitar pukul tujuh pagi setelah matahari sudah terbit.

Pada waktu matahari mulai terbit inilah diantara kesibukan manusia berangkat ketempat kerjanya masing-masing, saya melihat orang-orang miskin yang memang tidak terlalu banyak jumlahnya, karena hanya kelihatan disana sini. Orang msikin ini banyak yang baru bangun tidur dan ada yang masih tidur dibangku-bangku taman. Ada yang suami istri kelihatan masih gagah, tidak patut disebut miskin, karena berpakaian rapi, tetapi tidur didepan pintu toko / tempat berjualan dipinggir trotoir. Karena belum ke kamar mandi dan berdandan lah, maka kelihatan bentuk dan rupa aslinya yang tdak teratur serta berantakan. Yah, saya berpikir, dimanakah didunia ini yang tidak ada orang miskin? Mungkin sekali di Vatikan? Saya tidak tahu karena saya belum pernah kesana.

Saya telah melihat yang seperti ini di San Francisco, Los Angeles dan New York. Juga di Perth dan Melbourne serta di Osaka, Hiroshima, Kobe dan Hong Kong. Apalagi disekitar stasiun Senen dan Jatinegara serta Yogyakarta. Bertebaran dimana-mana. Di Toronto yang saya lihat sebelas tahun yang lalu, masih terlihat banyak pada tahun 2007 , baik pada musim panas dan pada musim dingin yang minus 23 derajat Celsius sekalipun. Hanya saja istilah yang digunakan untuk mereka adalah the homeless. Orang yang tidak mempunyai rumah, baik secara sewa maupun beli, tergolong dalam kategori ini.

Bagi saya sekarang, seorang yang homeless belum tentu orang miskin. Ingat jaman Hippies dulu? Yang seperti ini kan masih ada, hanya di Kanada disebutnya dengan kaum Backpackers. Barang siapa yang memanggul segala yang diperlukannya diatas punggungnya disebut sebagai seorang backpacker. Pergi kemana-mana dengan cara naik tram listrik, tetapi membayar; demikian juga kereta api, kereta listrik bawah tanah dan kalau terpaksapun naik taksi. Semuanya membayar biasa dan lunas. Ke tempat makan mereka cari tempat yang paling murah, tetapi membayar dengan cermat serta tidak meninggalkan utang. Yang seperti ini di Bali banyak terdapat, berkulit putih dan gagah. Tetapi tidak jarang mereka adalah pencuri juga dan meninggalkan utang baik makan maupun sewa kamar. Semua ini dalam rangka menghemat dan untuk bersenang-sengang saja.

Saya pernah berjumpa dengan seorang tourist Australia yang yang waktu menginap, seperti halnya saya di Kuta, Bali, saya lupa nama hotelnya tetapi miliknya Toni Poganick sang pelatih bola PSSI. Keesokan harinya dia sudah tidak dikamarnya lagi dan saya tanya pelayan, katanya baru check out. Waktu saya naik motor sewaan keliling dan keliling, saya berjumpa lagi dengan dia, yang bilang bahwa dia perlu pindah hotel yang harganya cuma seperempatnya jadi dia bisa menyewa kamar selama empat kali lebih lama tinggal di Bali. Nah dalam rangka penghematan seperti inilah, mereka ini kelihatan seperti miskin dan gembel, pada hal hanya mau menghemat berlebihan, selagi badan masih sehat dan kuat. Di Toronto masih saya lihat yang seperti ini dan tidak mencolok karena biasanya sendirian atau paling berdua saja. Kalau dulu, hippies ini biasanya bergerombolan dan kebanyakan menghisap ganja.

Memang tidak gampang membedakan orang miskin dan hippies atau backpackers karena kita hanya mampu melihat physic nya saja.

Sekarang mari kita lihat apa itu yang disebut dengan istilah miskin di negara Kanada.

Sekitar seminggu setelah kedatangan saya di Toronto pada bulan Juli tahun lalu, saya membaca di koran tentang nasib seseorang asal Sri Lanka yang berpendidikan strata dua hidup bersama dengan dua anaknya, digolongkan sebagai orang miskin karena suaminya kembali ke negaranya karena dipecat dari pekerjaannya, dan entah kembali atau tidak.

Dalam keterangan lebih rinci dinyatakan bahwa dia bekerja sebagai pembersih fasilitas umum sebuah gedung tempat tinggal berbentuk condominium, termasuk kamar mandi dan kamar kecil untuk umumnya. Dia bekerja pada malam hari antara pukul sembilan dan subuh dini hari, sehingga masih sempat menyiapkan makan pagi kedua anaknya yang pergi kesekolah. Karena seperti diketahui di Ontario dan Kanada pada umumnya, seorang anak berumur dibawah dua belas tahun tidak diperkenankan untuk ditinggal tanpa pengawasan orang yang lebih dewasa, maka kedua anak tersebut diatas dititipkan tetangganya kalau dia pergi bekerja malam hari itu. Inilah yang membuat orang iba kasihan kepadanya. Saya pun iba.

Tetapi rumah punya siapa, saya baca lebih lanjut ternyata dia menyewanya dengan harga sewa sebesar lebih dari Can$800.— Iya, delapan ratus Dollar Kanada !!

Gajinya berapa?

Dia menerima gaji dari pekerjaannya seperti itu sebesar lebih dari seribu seratus lebih Dollar. Memang dia tidak akan cukup makan dan biaya-biaya lain, kalau tidak mendapat bantuan dari para tetangga dan saudara-saudaranya di Kanada maupun di London. 

Wah tunggu dulu.

Yang seperti ini disebut miskin?

Gaji sekian itu kalau dirupiahkan, dikalikan 8500 akan menjadi angka sepuluh juta Rupiah. Miskin?

Saya lebih condong kalau menyebutnya sebagai pekerja berpenghasilan rendah.

Ingat, itu standard Kanada.

UMR (Upah minimum Regional) di DKI Jakarta pada setahun lalu adalah sekitar hampir Rp.800.000,- sebulan atau hampir setara dengan hanya Can@100. — 

Jadi upah minimum sebulan di Jakarta dengan penghasilan Ibu dari Sri Lanka tadi adalah satu berbanding sebelas.

Berapa UMR di Ontario? Sekarang yang berlaku adalah Can$8 lebih sedikit, PER JAM PER ORANG. Kalau seorang bisa bekerja dengan cara ini selama tiga puluh jam seminggu maka penghasilannya sebulan mungkin akan mencapai angka sekitar sembilan ratus Dollar. Upah seperti ini tidak dijamin asuransi apapun dan dan tidak masuk dalam serikat pekerja apapun, jadi tergolong sebagai tenaga kerja lepas. Setiap saat bila saja perusahaan tidak memerlukan jasanya lagi, dia bisa kehilangan mata pencahariannya, dimana dia sudah amat tergantung sekali kepada pekerjaannya. Jadi apa yang dimata orang Indonesia, atau orang China, Jepang Australia dan Amerika sebagai orang miskin tidak sama dengan miskin dimata penduduk dan Pemerintah Kanada.

Bagaimana menurut saya orang miskin di Kanada?

Orang miskin di Kanada adalah seorang homeless, seorang yang sendirian karena tidak ada relative, tidur dimana dia bisa tidur, dan makan karena diberi oleh orang lain yang tidak ada hubungan famili, tidak mempunyai contact tetap dengan siapapun dan mengemis sepanjang masa dan yang paling penting: TIDAK mempunyai pekerjaan dan TIDAK mempunyai penghasilan apapun.

Bisa diulangi sekarang bahwa Ibu asal dari Sri Lanka tadi bukanlah sama sekali orang miskin tetapi seorang gajian yang gajinya rendah, menurut standard Kanada.

Ada yang tidak biasa bagi orang Indonesia yang saya ceritakan berikut ini.

Orang miskin yang memenuhi kriteria saya tadi ada yang bisa menikmati untuk bisa berada di ruangan yang air- condition dan heater nya berfungsi baik; dimana?

Ontario memberi kemudahan bagi kaum homeless ini. Pada musim panas yang lalu, ada pengumuman seperti berikut. Karena besok siang hari akan ada Heat Wave (gelombang panas) yang terasa dibadan manusia akan seperti 44˚ C sampai 45˚ C maka dianjurkan, agar sebaiknya semua orang agar berada ditempat yang terlindung dari udara panas tersebut. Disediakan tempat-tempat di antero tempat strategis yang menyediakan air minum secara gratis dan tempat duduk sederhana. Bagi yang sempat silakan memasuki perpustakaan-perpustakaan yang ada disekitarnya karena disana dipasang alat air-condition sepanjang waktu pelayanannya, baik pada Heat Wave pada musim panas maupun pada waktu ada Extremely Cold Alert waktu musim dingin . Oleh karena saya sering mengunjungi perpustakaan, maka saya sering sekali menjumpai mereka ini sedang selonjor dikorsi yang nyaman, tidurlah dia dengan nyenyak……. Saya pasti tidak akan duduk disebelah mereka ini, karena bau badannya biasanya mengikat jiwa dan tentu saja raga …….

Orang mengamen pun banyak dan saya tidak dapat menggolongkannya sebagai orang miskin seperti ukuran yang kita kenal di Indonesia.

Hal ini karena mereka melengkapi dirinya dengan berpakaian rapi, malah berjas dan kemeja yang benar, serasi dan enak dipandang, sebuah guitar listrik yang baik lengkap dengan perlengkapan pengeras suara dengan speaker-speakernya yang bisa memperdengarkan suara merdu diseluruh daerah sekitar sebuah perempatan jalan yang besar sekali. Ada yang menggunakan seperangkat drum lengkap, electronic keyboard dan clarinet serta biola atau alat musik tiup a la Scotland. Mereka ini juga ada di lorong-lorong kereta bawah tanah, dan saya dengar mereka ini harus “melalui masa testing’ terlebih dahulu sebelum diperbolehkan main untuk menerima uang dari umum. Kalau pengamen di Blok M Kebayoran baru kan hanya dengan sepotong kayu kecil dipaku yang diatas sebuah tutup botol. Kencreng, kencreng dengan suara parau …… Wah jangan-jangan saya nanti akan dikatakan menjelekkan negara sendiri, sampai orang miskin di negeri sendiripun masih lebih jelek dari