Majalah Kartini: "40% istri di Jakarta ternyata selingkuh"
Di kanan bawah cover depan majalah wanita "Kartini" edisi minggu pertama tahun 2005 ada tulisan: "Hasil Penelitian Terkini: 40% Istri di Jakarta Selingkuh". Lalu, dengan huruf lebih kecil dan agak sebelah bawah tertulis: "Karena Suami Kurang Perhatian".


Apakah maksudnya ? Sensasi atau nyata ? Obyektif atau
bias ? Penelitian ilmiah atau ecek-ecek ?

Apapun latar-belakang dari penelitian itu, awam
mengerti tanpa perlu penjelasan panjang lebar bahwa
perselingkuhan telah melembaga di Jakarta. Telah
terjadi institusionalisasi perselingkuhan. Jadi, bukan
hanya pernikahan yang bisa dilembagakan,
perselingkuhanpun bisa.

Anggaplah, misalnya, bahwa penelitian yang diekspos
oleh "Kartini" agak dibesar besarkan. Anggaplah bahwa
angka 40% itu terlalu besar, sehingga kita merasa
cukup fair bila prosentase para istri di Jakarta yang
selingkuh itu didiscount seperempatnya sehingga
menjadi 30% saja…

Berarti, satu dari tiga istri yang memiliki suami di
Jakarta telah pernah, sedang, atau akan menceburkan
diri dalam perselingkuhan dengan pria lain. Memiliki,
pernah memiliki, atau berniat untuk akan memiliki Pria
Idaman Lain (PIL).

Dan asumsikanlah juga bahwa jumlah para suami yang
selingkuh berbanding lurus dua kali lipat disbanding
para istri. Berarti: 2 X 30% = 60%…

Artinya: perselingkuhan dengan Wanita Idaman Lain
(WIL) telah, sedang, atau akan diniatkan untuk
dijalani oleh dua diantara tiga orang pria beristri di
Jakarta… Fair enough?

Konseling Perselingkuhan

Memberikan konseling kepada mereka yang mengalami
masalah rumah tangga adalah hal konvensional bagi saya
sebagai seorang pewacana tarot. Jalan keluarnya juga
konvensional. Biasanya saya akan melihat sejauh mana
komitmen keagamaan dari istri atau suami yang meminta
konseling itu. Dan perlu juga dilihat apa agamanya;
dan, di dalam agama tertentu, apa aliran keagamaannya.
Pencaharian solusi akan diusahakan melalui
pengertian-pengerti an keagamaan yang diyakini oleh
klien. Apabila klien adalah Muslim tradisional, cara
penyelesaiannya adalah doa dan puasa. Seorang Kejawen
akan memperoleh nasihat serupa sesuai kepercayaannya.
Seorang Kristen akan memperoleh nasehat mengenai
cara-cara pendekatan kepada yang Illahi sesuai dengan
tradisinya… Di luar itu, akan diberikan solusi berupa
pentingnya komunikasi dengan pasangannya. Bagaimana
cara menghadapi pasangan hidup. Bagaimana menghadapi
kesulitan finansial. Bagaimana caranya agar klien bisa
berubah sehingga makin mampu menghadapi
gunjang-ganjing bahtera rumah tangga. Tujuan utamanya
cuma satu, yaitu agar perkawinan tetap langgeng.

Tetapi, walaupun konseling bagi permasalahan rumah
tangga tetap dominan, akhir-akhir ini memang mulai
terasa bahwa semakin banyak yang meminta konseling non
konvensional. Masalahnya tetap tentang hubungan antar
pribadi, tetapi bukan dengan pasangan pernikahannya,
tetapi dengan pasangan perselingkuhannya.

Kita di Indonesia, dan terutama di Jakarta, sudah
memasuki masa Paska Modern (Post Modern). Ini adalah
masa dimana nilai-nilai tradisional dari masa lalu
mulai dipertanyakan, diragukan, dan… setelah
terombang-ambing antara dua kutub, biasanya
ditinggalkan.

Trend atau kecenderungannya adalah ditinggalkannya
nilai-nilai masa lalu yang sudah tidak relevan atau
sesuai lagi dengan jaman Paska Modern ini. Termasuk
disini adalah nilai-nilai perkawinan yang di masa lalu
dianggap sakral dan tak bisa tersentuh apapun.
Termasuk tidak bisa tersentuh oleh ilmu jiwa
(psikologi) modern. Sehingga, walaupun praktek
perkawinan tertentu adalah tidak sehat dari perspektif
psikologi, praktek perkawinan yang tidak sehat itu
tetap saja dijalankan dengan alasan bahwa tradisi
mengharuskan demikian. Tetapi hal itu semua sudah
runtuh di alam kejiwaan kita, runtuh secara de facto
dengan alasan telah datangnya era baru; walaupun
memang masih belum banyak yang menyadarinya saat ini.

Saya cenderung untuk melihat jatuhnya Rezim Suharto
sebagai awal era Paska Modern di Indonesia. Awal
runtuhnya banyak nilai-nilai usang. Nilai-nilai
kehidupan politik, kehidupan keagamaan, kehidupan
sosial, dan kehidupan pribadi…

Mau tidak mau kita di Indonesia harus sudah mulai
menentukan pilihan: mau melihat ke belakang, atau
melihat ke masa depan. Melihat ke belakang berarti
memegang teguh segala sesuatu yang diturunkan kepada
kita, melihat ke masa depan berarti mencari inspirasi
dan pelajaran dari masyarakat-masyarak at yang telah
lebih dahulu terbuka pikirannya daripada masyarakat
kita. Dan itu adalah masyarakat di Eropa Barat dan
Amerika Utara… Tentu saja yang berpegang teguh kepada
nilai tradisional akan protes keras apabila
ditinggalkan. Karenanya, orang Indonesia yang memang
selalu tepo seliro ini biasanya mengambil keduanya.
Dengan bibir diucapkanlah janji setia kepada nilai
nilai masa lalu (lip service), dan dengan tindakan
dijalankanlah segala pembaharuan nilai-nilai itu,
termasuk di dalam institusi perkawinan.

Tidak ada yang salah sebenarnya untuk mulai menerapkan
nilai-nilai Paska Modern di dalam kehidupan rumah
tangga kita di Indonesia. Argumen bahwa kita adalah
orang Indonesia yang paling suci murni kelakuannya
dibandingkan dengan masyarakat liberal di Barat
hanyalah laku sebagai materi bagi `Pedoman Pengamalan
dan Penghayatan Pancasila' (P4) yang dalam perspektif
Paska Modern layak untuk diberi label sebagai Program
Pembodohan Massal. Nilai-nilainya bagus, tetapi kita
semua tahu bahwa itu adalah menaruh kaki di
awang-awang dan kepala di bumi. Terbalik. Seharusnya:
kaki di bumi, dan kepala ada di sebelah atas. Hukum
gravitasi harus diikuti selama manusia masih hidup.
Rezim Suharto bisa melawan gravitasi hanya untuk waktu
tertentu saja, setelah itu kembali normal. Dan saat
ini, dimana kebebasan yang merupakan hak para individu
telah dikembalikan kepada yang berhak adalah masa
normal. Hanya yang bernostalgia kepada zaman Suharto
yang akan menyesalkan terjadinya pergeseran nilai
nilai.

Nilai-nilai apa ? Dalam konteks tulisan singkat ini:
nilai-nilai perkawinan. Nilai-nilai perkawinan telah
berubah. Dan sebagai seorang professional yang
langsung menghadapi klien, mau tidak mau saya harus
mengikuti nilai-nilai yang telah berubah itu, dan
memberikan konseling bagi penyelesaian terbaik. Tidak
ada gunanya bagi saya sebagai seorang pewacana tarot
(yang lebih sering diperlakukan sebagai seorang
"psikolog" oleh para klien saya) untuk mendesak mereka
yang terlibat benang-benang kusut perselingkuhan untuk
kembali menjadi istri atau suami "baik-baik". Tidak
ada gunanya segala argumen tentang rasa "malu". Tidak
ada gunanya penahan berupa rasa "takut ketahuan".
Semuanya telah bergeser, dan perlu ada pola solusi
baru bagi jernihnya peta jiwa manusia-manusia Paska
Modern ini.

Selingkuh dan Selingkuh

Ada dua macam selingkuh. Pertama adalah yang
backstreet, persis seperti waktu kita masih puber dan
ngumpet-ngumpet pacaran, walaupun dilarang oleh
orang-tua kita. Dan kedua adalah yang jujur, dimana
pasangan suami-istri itu saling terbuka mengungkapkan
apa sebenarnya yang dihadapi oleh mereka sebagai
pasangan, dan mencari jalan keluarnya.

Kita harus jujur disini bahwa banyak pasangan
suami-istri sudah tidak lagi mengalami perasaan erotis
dengan pasangan pernikahannya setelah melewati waktu
tertentu. Orang Amerika Serikat lebih action-oriented.
Mereka cerai setelah erotisisme itu hilang sehingga
tingkat perceraian di AS mencapai 50% dari seluruh
pernikahan. Dari dua pernikahan di AS, satu akan
berakhir dengan perceraian. Di negara-negara Eropa
Barat kurang lebih demikian pula. Kita di Indonesia
tidak begitu, karena masyarakat kita masih terkungkung
oleh jalan pikiran konvensional bahwa pernikahan harus
seumur hidup. Dan, walaupun romantisisme itu sudah
hilang, pernikahan tetap dipertahankan dengan alas an
demi anak-anak, demi kehormatan keluarga, demi utuhnya
asset keluarga, atau demi demi yang lain. Tetapi, hal
alamiah berupa jenuhnya erotisisme fisik maupun
emosional dalam perkawinan tetap harus diatasi. Dan
jalan keluarnya adalah perselingkuhan.

Suami selingkuh adalah hal yang "wajar" di masa lalu.
"Asal gue gak liat aja," kata para istrinya. Di era
Paska Modern (Post Modern) ini, istri yang selingkuh
semakin banyak pula. Penelitian terkini yang diekspos
oleh "Kartini" adalah salah satu buktinya. Walaupun
tidak diterima secara wajar oleh sebagian khalayak,
para istri itu menganggap bahwa selingkuh adalah
haknya juga. "Suami gue gak menarik, nggak kayak pacar
(gelap) gue," begitu alasan umum yang diberikan. Dan
itu bukan selalu berarti bahwa "suami kurang
perhatian" seperti disitir oleh majalah "Kartini".

Majalah wanita yang satu itu toh masih tetap harus
menjaga harga diri sebagian pembacanya yang masih
hidup di era lalu, jadi tetap harus menyitir
nilai-nilai tradisional kalau tidak mau kehilangan
segmen pasarnya.

Kalau saya, dan para praktisi Paska Modern lainnya,
tentu saja akan memberikan alasan yang lebih masuk
akal dan realistis. "Memang dasarnya gatel…".

Gatel ? Lha, iya, apa lagi ? Setelah lima tahun
menikah, mana ada suami yang tetap bergairah dengan
istrinya ? Dan setelah memasuki menopause, apa banyak
istri yang masih mau melayani suaminya ?

Disini kita menghadapi dilema tentang pencaharian
solusi bagi hal-hal alamiah yang sebenarnya tidak
perlu dibuat menjadi complicated oleh argumen-argumen
mengenai moralitas. Moralitasnya sebenarnya cuma satu,
yaitu kesehatan jiwa. Bagaimana kita bisa tetap sehat
secara kejiwaan walaupun tidak lagi menemukan
kegairahan erotis dan kepuasan emosional dengan
pasangan hidup. Bagaimana kita bisa tetap sehat secara
kejiwaan, dan menghilangkan segala stress biologis
yang terhambat itu, tanpa perlu mengalami
gejala-gejala gangguan kejiwaan seperti dikejar-kejar
rasa bersalah. Seperti ada yang membuntuti. Seperti
ada yang terus-menerus "mengingatkan" akan dosa-dosa
perselingkuhan yang dilakukan.

Banyak psikolog tidak berani memberikan alternative
solusi di luar agama. Kenapa? Karena para psikolog
Indonesia pun masih banyak yang hidup di era lalu,
dicetak dalam masa Suharto yang lebih memilih
munafikisme daripada keterbukaan dan kejujuran
terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dan itulah sebenarnya petunjuk yang harus kita ikuti
di jaman Paska Modern ini: keterbukaan dan kejujuran
terhadap diri sendiri dan sesama. Termasuk disini
terhadap pasangan hidup: terhadap istri, atau terhadap
suami.

Apa susahnya untuk berterus terang saja dengan
pasangan hidup dan mencari ijin untuk selingkuh ? Itu
ada, tetapi jarang. Yang banyak terjadi di Jakarta
adalah ijin selingkuh dari istri untuk suami tanpa ada
ucapan yang dikeluarkan. Istri tahu bahwa suaminya
selingkuh, tapi diam saja selama rumah tangga tetap
adem ayem. Aman tentram.

Suami sendiri biasanya tidak mau memberikan ijin
selingkuh kepada istri. Dan memang lebih sedikit lagi
istri yang meminta ijin selingkuh. Kalaupun terjadi,
akhirnya akan berupa saling berselingkuh,
kedua-duanya, suami dan istri sekaligus… Walaupun
begitu, malam tetap pulang ke rumah, dan tetap
berumah-tangga, dan tetap secara social mempertahankan
status di depan para kolega.

Hal-hal seperti itu hanya akan terbuka kepada
teman-teman dekat yang paling bisa dipercaya… Dan
kepada seorang pewacana tarot seperti saya yang tidak
pernah menghakimi klien-klien saya dengan nilai-nilai
baheula yang saya sendiri juga sudah tidak pakai lagi.

Tidak ada gunanya lagi kita "menakut-nakuti" manusia
Paska Modern dengan ancaman "neraka" dan imbalan
berupa "surga". Sudah banyak yang tahu bahwa
konsep-konsep itu cuma simbol-simbol belaka.
Simbol-simbol yang artinya adalah pencaharian
kedamaian batin dan kesehatan jiwa di dunia ini, saat
ini, dan bukan di alam antah berantah setelah kita
mati nanti.

Tetapi itu juga bukan berarti tidak ada kode etik.
Bukan berarti bahwa moralitas sudah luntur. Tidak,
bahkan akan semakin kuat apabila kejujuran mulai
dipraktekkan. Jujur, dan bukan jurus tipu. Bicara, dan
bukan diam saja. Itu yang akhirnya saya pegang sebagai
rule of thumb untuk mereka yang konseling tentang
perselingkuhan. Tidak ada cara lain lagi selain jujur
melalui komunikasi yang terbuka. Kita semua sudah
dewasa kan? Untuk apa lagi berpura-pura?

Dan apabila pernikahan tidak bisa diselamatkan,
perceraian bukanlah akhir daripada segalanya. Apabila
dimulai dengan baik-baik dan diakhiri dengan
baik-baik, Tuhan juga gak akan marah kok…

Tentang Penulis:
________________

Leonardo Rimba adalah alumnus Universitas Indonesia
dan the Pennsylvania State University, seorang
professional tarot reader. Media massa yang pernah
meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan
TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial,
baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta,
dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email:
<leonardo_rimba@ yahoo.com>. Bersama Audifax, Leo
menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan
oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it!