Jumat, 11 Nopember 2005    Pada suatu upacara Prof. Dr. Haryono Suyono berpidato mengenai umur manusia. Karena dia pernah menjadi Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana, saya simak dengan baik-baik. Dikatakan olehnya bahwa umur manusia Indonesia sekarang dapat diharapkan rata-rata mencapai 65 hingga 70 tahun. “Kalau jaman kakek dan nenek kita dulu mungkin akan hanya mencapai sekitar 45 tahun saja. Sekarang dengan membaiknya gizi makanan, kesadaran akan kesehatan manusia, serta tersedianya berjenis-jenis obat, maka orang Indonesia sudah beruntung pada saat ini dapat mencapai umur rata-rata hampir 70 tahun”.

Tahukah anda bahwa menurut catatan acak yang ada umur manusia selalu lebih tua dari umur ibu yang melahirkannya? Dulu hal ini tidak pernah terpikir oleh saya. Akan tetapi secara bergurau saya pernah diramal oleh seseorang bekebangsaan Thailand pada suatu saat ketika kita berdua sedang berada ditengah hutan di Kalimantan Selatan. Saya yang tidak mau terlibat dalam ramal meramal secara serious, hanya mendengarkan saja. Setelah memperhatikan raut muka saya dan membaca rajah ditangan saya baik yang kiri maupun kanan, dia mengatakan bahwa umur saya bisa mencapai 100 tahun. Untuk sekedar membuat suasana ceria, saya tanya apa mungkin bisa lebih? Seratus lima misalnya, semua yang mendengar tertawa tetapi dia malah lebih serious mengatakan bahwa itu amat mungkin. Karena saya ingat bahwa ayah saya mencapai umur delapan puluh tahun dan delapan puluh hari sedang ibu saya tujuh puluh dua tahun apalagi nenek, yang ibu dari ayah, saya mencapai sembilan puluh empat tahun, saya tidak mentertawakannya lagi.

Sepulangnya dari hutan dan dari Banjarmasin saya naik pesawat Garuda menuju Jakarta via Surabaya. Pesawat lepas landas dan sebelum geraknya mendatar pramugari muncul berdiri menghadap penumpang dan mengatakan kita terpaksa mendarat lagi karena keadaan darurat. Pesawat menukik tajam kekiri seperti pesawat pemburu. Orang disebelah saya sudah berdoa dengan suara yang agak keras. Kita mendarat dengan selamat dan menunggu didalam terminal selama satu jam dan disilakan berangkat lagi. Persis seperti sebelumnya, pramugari muncul lagi dan mengumumkan hal yang sama dan pesawat menukik lagi. Si orang muda yang tadi berdoa, sekarang malah pucat dan tangannya menggenggam pegangan kursi dengan kuat sehingga buku-buku jarinya jelas terlihat. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Saya senggol sedikit dia sambil berkata: “Dik, jangan khawatir, kita akan selamat, kok. Saya yakin kita akan selamat, karena saya baru diramal kemarin oleh seorang berkebangsaan Thailand, yang mengatakan umur saya akan melampaui seratus tahun.”

Dia melirik saya, masih kelihatan ketakutan, tetapi tidak berkata sepatah katapun. Pandangan matanya saja menusuk sekali, seakan-akan mengatakan “Kamu gila, ya?!” Tetapi pada waktu touch down dengan selamat, dia bergegas berdiri dan menuju pintu keluar dengan cepat. Waktu saya memasuki gedung terminal kelihatan dia memperhatikan saya dan mendekat, mengajak berjabat tangan dan kelihatan ingin berbincang-bincang. Tetapi saya segera bergegas ke counter check in perusahaan penerbangan lain dan naik ke pesawat lain yang sesuai tujuan saya yakni Surabaya secepatnya. Karena saya tidak membawa bagasi maka saya dapat pindah pesawat dengan mudah dan sampai di Surabaya dengan selamat. Sekarang saya masih hidup dan kejadian itu adalah sekitar tiga belas tahun yang lampau.

Memang umur adalah rahasia Tuhan. Hampir tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui kapan hidupnya berakhir. Saya sendiripun tidak menyoal umur saya atau umur orang lain, Menyerah sajalah toh hampir tidak ada gunanya disoalkan. Sebenarnya apa sih yang akan bisa kita perbuat kalau saja bisa mengetahuinya terlebih dahulu?

Theori yang mengatakan bahwa umur kita berpeluang lebih panjang dari umur orang tua kita mungkin ada benarnya. Lingkungan hidup dan sarana yang kita punyai serta pengetahuan umum mengenai makanan sehat dan obat-obat penangkal penyakit sudah tentu lebih baik, kalau dibandingkan yang dipunyai generasi orang tua kita. Akan tetapi itu semua sepanjang “kelakuan” kita masih memenuhi kriteria normal.

Apa yang kita alami sekarang tidak dialami oleh generasi orang tua. Dulu tidak ada orang sibuk membicarakan bahkan terlibat narkoba atau minuman keras atau obessity (kegemukan berlebihan) dan hal-hal negative lainnya. Kalau kita simak sekarang bahwa pada jaman dahulu, obessity hanya kita kenal dari para “cendekiawan dan bijaksanawan” bangsa China (misalnya Kong Fu Tze). Menurut gambaran orang China yang cendekiawan dan bijaksana adalah orang yang gendut dan pahanya dan lehernya berlipat serta pipinya gembung. Fakta nya dan sekaligus anehnya, sekarang di negara-negara berkembang orang obese itu jumlahnya sekitar tigapuluh persen dari manusia obese didunia. Dinegara berkembang, banyak praktik meniru pola makan rakyat dinegara maju tanpa aturan yang baik. Menjadi orang miskin tidak menjamin bahwa dia akan mempunyai bentuk tubuh yang kurus kering dan kerempeng. Generasi terdahulu tidak mengalami hidup yang menurut istilah Jawa: ngongso-ongso (hampir seperti memaksakan diri hingga terengah-engah). Naik pesawat Jet bahkan pesawat supersonic, minum minuman keras lebih dari semestinya, adalah santapan orang modern. Seorang yang berlebih uang, belum tentu mau berlebaran di sekitar rumahnya di Jakarta atau Purwokerto. Mereka akan memilih ke Singapura, Australia dan bahkan ke Amerika. Sifat semèlèh orang Jawa bisa jadi bahan tertawaan orang modern yang seperti digambarkan tadi. What money can buy – apa yang dapat dibeli dengan uang sungguh dinikmati secara berlebihan bahkan sedikit urakan.

Ini salah satu sebab mengapa tiap orang sebaiknya mendalami ilmu manajemen perkembangan diri sendiri.

Saya pernah mendengar seorang dokter senior (usianya lebih dari 80 tahun) yang mengatakan bahwa orang normal tidak memerlukan tambahan vitamin. Kalau dia memang sudah dibuktikan kekurangan vitamin maka dia boleh menambah vitamin yang diperlukan.

Tetapi apa yang terjadi? Vitamin dan suplemen ditawarkan orang tanpa batasan, malah dipakai sebagai status symbol. Buah merah? Semua dengan latah ikut mengkonsumsinya. Mengkudu? Sudah agak kurang kita mendengarnya. Mungkin kalau ada yang jahil atau iseng mengatakan bahwa kelamin Harimau Sumatera adalah baik untuk kesehatan, maka orang akan berbondong bondong pergi ke hutan-hutan Sumatera untuk mendapatkannya. Itu ciri-ciri orang dari dunia “maju”, tetapi mungkin sekali keliru.

Saya sendiri mempercayai bahwa yang amat mengenal tentang kondisi kesehatan seseorang adalah orang itu sendiri. Kalau dia tanggap bahwa semua jenis rasa sakit ditubuh seorang manula itu adalah tanda (sebaiknya disebut saja dengan alarm tanda bahaya) bahwa sesuatu penyakit sedang perlu diwaspadai karena sudah pada periode awal dan mulai berkembang. Kalau kita ke Dokter dan berkonsultasi selama maximum tiga puluh menit, maka tidak mungkin dokter tersebut akan dapat tuntas mengetahui apa tindakan yang diperlukan untuk mengatasi keluhan. Dokter jaman sekarang akan merujuk pemeriksaan laboratoris dan menggunakan alat-alat pemindai kedokteran yang sedang berstatus mutakhir.

Misalnya dengan menggunakan alat seperti Sinar X (X Ray), Computerised Tomography Scan (CTScan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau bahkan merujuk dokter lain yang lebih ahli. Itu kalau dokter yang benar. Lain halnya kalau dia segera memberi resep obat untuk segera dibeli dan dikonsumsi, kemungkinan kesalahannya masih cukup tinggi. Seperti baru-baru ini saya saksikan sendiri, seorang Mantri (berarti dia ini bukan dokter) yang biasa membantu dokter yang melakukan narcose (bius), manjalankan praktek pribadinya dengan cara dia seperti berikut. Siapapun yang minta tolong kepadanya untuk keluhan sakit, selalu diinjeksi dengan Neurobion 5000. Mungkin saja sakitnya segera hilang, akan tetapi benarkah ini akan menghilangkan penyakit ?

Praktik kesehatannya yang berada di tengah hutan di pulau Kalimantan (Tengah), menyebabkan kontrol dari yang berwenang kurang sekali.

Hal-hal seperti ini tidak dialami oleh generasi terdahulu. Terlebih lagi hal ini amat terkait dengan umur. Saya ingat pada jaman tahun 1952 an sewaktu saya masih menjadi pelajar Sekolah Menengah Pertama, orang-orang tua selalu menceritakan bahwa orang generasi terdahulu dari orang tua saya, selalu menanak nasi dan setelah matang selalu menumpahkannya ke tampah dan dikipasi, diangin-angini sampai dingin baru dikonsumsi (nenek saya menyebutnya denga istilah di ngi). Karena seringnya hal ini didengung-dengungkan saya terpengaruh dan sampai sekarang kalau ada pilihan nasi dingin, saya selalu memilihnya.

Saya menikmatinya, kalau saya ditanya mengapa saya akan kehabisan kata untuk menjawabnya. Kedengaran irrasional akan tetapi telah belangsung seumur dewasa saya. Saya tidak mempunyai jawaban, apalagi jawaban yang rasional. Yang begini diyakini oleh banyak orang membuat orang lebih bersabar.

Umur saya sekarang 67 menjelang 68 tahun, saya dalam keadaan sehat, cholesterol dan uric acid serta gula darah, paru dan jantung hampir semua normal. Rambut masih asli dan uban jumlahnya kurang dari 10 %. Gigi saya banyak yang palsu tetapi masih lengkap dan dapat mengunyah steak tenderloin yang medium rare maupun yang well done. Makan sashimi atau o sushi serta soto Betawi dan soto Kudus dengan otak goreng, semua dalam batasan tidak ugal-ugalan dan tidak tiap hari atau tiap minggu. Nasi memang saya kurangi sampai hampir 50%, karena perut saya mudah menjadi gendut karenanya. Sudah lebih dari 15 tahun saya menghisap cerutu dan saya lakukan lima sampai tujuh batang sehari. Paru saya di Röntgen pada bulan Agustus yang lalu, bersih dari penyakit. Semua ini tidak menjadikan saya sombong, terbukti saya masih melakukan jalan kaki sekitar 30 sampai 45 menit untuk jarak sekitar empat kilometer, hampir setiap hari. Mungkin hampir sebanyak 300 hari dalam setahun, termasuk pada waktu berpuasa dalam bulan Ramadhan.

Kalau kebetulan harus bersama rekan bisnis saya yang orang asing, “terpaksa” minum satu atau dua sloki whiskey, saya layani dengan mudah. Tidak mabuk dan tidak goyang. Beer juga dapat saya minum tetapi tidak untuk mabok. Minum sake pun demikian halnya. Saya tidak memusuhi sesuatu makanan yang orang lain bisa makan. Saya makan Coto Makasar meskipun saya tahu dagingnya daging Tedong (Kerbau). Saya dengar di Guang Zhou, dekat Hong Kong ada makanan panggang yang digantung-gantung dipamerkan, selain babi tetapi sekarang sedang populer adalah anjing. Selain saya belum pernah kesana, pasti sekali, saya tidak akan mau memakannya. Saya sudah pernah makan daging ular, satu dua kali, daging biawak, trenggiling dan kuda. Juga daging macan dan daging rusa serta kera dan kelelawar. Sudah cukuplah rasanya memakan bervariasi makanan termasuk masakan Padang, masakan Menado dan masakan Melayu dan hampir semua jenis masakan di pulau Jawa serta Bali. Jadi membeberkan pengalaman dan keadaan kesehatan saya diatas bisa membuka orang seperti apa saya ini dan tentu saja tergantung kepada siapa yang menganalisanya dan mengomentarinya. Itu semua sudah liwat, sudah sejarah dan sedang berjalan dalam hidup saya. Kalau sekarang saya mempersoalkan umur maka itu adalah diluar jangkauan saya.

Pernah saya terlibat pembicaraan dengan teman masa kecil saya, bernama dr. Tjenol Poeger. Sudah sama-sama tua karena umur sebaya, dia pernah menjadi Ketua Ikatan Dokter seluruh Jawa Tengah. Saya ceritakan kepadanya bahwa saya diramal orang Thailand diatas. Dengan tidak saya duga sebelumnya dia menjawab dengan cepat sekali: “Kalau begitu katanya kamu berumur sampai 105, maka nanti aku akan berumur sampai 110 !!”

Saya berkomentar sambil bercanda juga: “Jangan main-main, apa alasanmu, bilang seperti itu?”

Dia tertawa lepas dan menjawab dengan ringan: “Kalau kamu nanti sudah setua itu, yang mengobati kamu siapa? Saya, kan ? Betul, nggak?” Saya jawab: “Iya, deh !!”

Mati kapanpun saya terima dan saya akan jalani. Dunia telah saya jelajahi dan makanan berjenis-jenis telah saya rasakan. Kepada anak-anak saya telah saya tulis pada tahun 2004 dengan jelas, bahwa kalau saya mati saya minta agar beberapa hal, antara lain: dikubur secepatnya tidak usah menunggu 24 jam, dimana saja yang layak dan resmi, tidak melanggar peraturan, tidak usah dibawa ke Jakarta/Tanah Air, jangan menangis dulu sebelum aku selesai dikubur. Kalau dimandikan aku minta dimandikan oleh anak-anakku dulu, bukan diluar mereka, kecuali terpaksa oleh keadaan, itulah perlunya agar tidak menangis, lalu pekerjaan penguburan dilakukan oleh orang lain atau professional. Yayasan bunga Kamboja Jakarta pun sudah saya bayar selama sepuluh tahun dimuka, sampai tahun 2010. Atau 2012?? Lupa saya !!

Akhirat bukan akhir yang mesti jelek, tergantung vonnis yang akan saya terima dari Yang Maha Kuasa. Data Komputer mengenai saya, ada lengkap dipintu akhirat. Misalnya diperintah kekiri ke Neraka dan kekanan ke Surga, itu saya akan turut dan terima saja perintahNya.