Tidak banyak yang tahu dari mana berasal judul kumpulan surat-surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ternyata di dalam surat-suratnya, Kartini sering menulis kata-kata itu berulang-ulang yang terinspirasi dari Minadz zhulumaati ilan Nur yang berarti Dari Gelap Kepada Cahaya (al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 257). Begitu pun E.C. Abendanon yang mengumpulkan, mengedit dan menerbitkan surat-surat Kartini itu yang kemudian diberi judul “Door Duisternis tot Licht” tentu saja tidak mengetahui bahwa judul itu berasal dari al-Qur'an (Ida S.
Widayanti, Majalah Suara Hidayatullah : April 2001).



Kartini bukan pejuang pergerakan wanita semata. Kartini adalah pejuang
pembebasan pemikiran untuk bangsanya. Ketika teknologi informasi hanya berupa
buku, majalah, kertas dan alat tulis, Kartini yang masih sangat muda mendapatkan
informasi dan ilmu pengetahuan hanya melalui surat-menyurat dari tempat
tinggalnya di tanah Jawa. Dengan kegelisahannya yang memilukan ia bergulat
mencoba keluar dari pikiran dan tradisi feodal di sekitarnya.

Kartini wafat dalam usia yang sangat muda, yaitu usia 25 tahun, sebelum usai
pencariannya dan perjuangannya. Namun dalam usia yang singkat itu ia telah
menorehkan jejak perjuangan yang panjang dan dalam. Perjuangan mencari “cahaya”
amat melelahkannya, namun membuahkan hasil.

Dalam usianya begitu muda ia bahkan telah dapat menginspirasikan sebuah
pekerjaan besar bagi umat Islam di tanah Jawa waktu itu, yaitu terjemahan atau
intepretasi kandungan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa yang belum ada waktu itu
kepada seorang ulama besar dari Semarang, KH Muhammad Soleh bin Umar (Ida S.
Widayanti, Majalah Suara Hidayatullah : April 2001). Berkat pertemuannya dengan
Kartini, Kiai Soleh tergugah untuk menterjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa
Jawa. Hasil terjemahan al-Qur'an (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran) jilid ke I
yang terdiri dari (hanya) 13 juz yang kemudian diberikannya sebagai hadiah
pernikahan Kartini. Bayangkan sebuah hadiah perkawinannya adalah sebuah karya
besar bagi sebuah komunitas besar manusia.. Sayang Kiai Soleh wafat sebelum
menyelesaikan pekerjaan besar itu.

Sungguh menakjubkan, ternyata Kartini juga mempersoalkan persoalan mendasar umat
Islam hampir di mana-mana hingga sekarang bahwa jika menjadi Muslim tidak perlu
menguasai bahasa Arab. Cukup lah para ulama saja yang menguasai bahasa Arab,
sehingga banyak Muslim yang tidak mengerti apa yang diucapkannya (dalam bahasa
Arab) setiap hari. Lebih jauh lagi, hingga kini banyak Muslim yang tersesat
karena selalu dan sering bertanya-tanya “apa hukum-nya mengenai sesuatu hal di
dalam kehidupan sehari-harinya?”

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam
melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya
agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku,
kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak
boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang
mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak
mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar
membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti
engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata,
tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak
jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah
begitu Stella?" (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899,
http://swaramuslim.net/more.php?id=1773_0_1_0_M34 )

Kartini yang tidak bisa bersekolah formal dengan cerdik melakukan otodidak yang
sekarang lebih populer dengan sebutan “home schooling” melalui surat-menyurat
yang ia lakukan dengan banyak orang. Berkat iklannya di sebuah terbitan berkala
di Belanda, "Hollandsche Lelie", Kartini mendapat sambutan luar biasa untuk
berkorespodensi dengan para intelektual, guru, feminist, humanist, tokoh
politik, pejabat pemerintah Belanda, anggota parlemen Belanda dan lain-lain.

Kartini yang fasih berbahasa Belanda menurut Pramoedya Ananta Toer di dalam buku
“Panggil Aku Kartini Saja” adalah “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi
pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”. Saat itu belum ada Bung Karno dan
Hatta dengan tulisan-tulisan atau pidato-pidatonya, tetapi Kartini sudah
menyebut “nasionalisme” dengan kata “kesetiakawanan”. Idealisme itu disusunnya
dengan kalimat seperti ini: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada
masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus
disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.”

Kartini pun tidak sekedar menulis tentang nasionalisme atau kesetiakawanan itu,
tetapi juga mempraktekkannya dengan memberikan atau mengalihkan beasiswa ke
Belanda yang seharusnya ia nikmati kepada seorang pemuda dari tanah Sumatra,
yaitu Agus Salim. Kartini yang waktu itu dibelenggu oleh adat atau aturan yang
mencekiknya tidak dapat pergi belajar ke Belanda, lalu memberikan beasiswa itu
kepada Haji Agus Salim untuk menunjukkan pandangannya tentang kesatuan Jawa dan
Sumatra atau sebuah benih dari rasa berbangsa Indonesia. Bahkan, ia pun
menyiapkan diri untuk berinteraksi dengan “orang Indonesia” lain yang tergambar
dalam sebuah surat di tahun 1902 kepada Stella Zeehandelaar, tentang rencana
Kartini: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu."

105 lembar surat-surat yang ditulis Kartini dibukukan oleh JH Abendanon, mantan
Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda di tahun 1911, beberapa
tahun setelah kematian Kartini di tahun 1904, dengan judul “Door Duisternis tot
Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini”
(Habis Gelap Terbitlah Terang: Pemikiran tentang dan untuk orang-orang Jawa dari
Raden Ajeng kartini). Buku ini terbit di kota besar seperti Den Haag, Semarang
atau Surabaya dan menjadi salah satu inspirasi bagi pemikir kemerdekaan
Indonesia. Armijn Pane lah yang pertama kali menerjemahkan buku itu ke dalam
bahasa Melayu menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran” di tahun
1922 sehingga buku ini bisa dibaca banyak orang dan menjadi lebih populer.
Kemudian Pramoedya Ananta Toer dari tahun 1956 hingga 1961 mencoba menggali
sejarah tokoh ini dan menjadi biografi Kartini yang diberi judul “Panggil Aku
Kartini Saja”. Seharusnya buku ini akan ditulis dalam 4 jilid. Namun Pemerintah
Orde Baru yang ganas menuduhnya PKI, dan memusnahkan jilid ke 3 dan ke 4.

Kartini memang kalah bahkan mati muda. Kartini memang dipingit. Kartini memang
menjadi korban ketidaksetaraan gender. Kartini memang menjadi bagian dari
praktek poligami dan feodalisme. Kartini memang cuma sekedar menjadi pemikir
yang penulis bukan pembuat aksi. Namun Kartini adalah pejuang pemikiran modern
pertama dan menjadi inspirator bagi pemikir lainnya. Kartini sebagai perempuan
dan sebagai orang yang teramat muda memiliki kemampuan yang luar biasa dalam
mengamati persoalan jamannya yang ia tulis dalam bentuk surat menyurat dengan
masyarakat di Eropa yang awalnya Kartini menyangka masyarakat modern.

Kartini hidup dalam masa kebijakan Tanam Paksa karena kebangkrutan Pemerintah
Belanda akibat Perang Diponegoro. Yohannes Van den Bosch diangkat menjadi
Gubernur Jenderal di Hindia Belanda untuk melaksanakan kebijakan Tanam Paksa
sekitar tahun 1835. Karena kebijakan itu, rakyat pribumi diwajibkan menanam
seperlima dari ladangnya untuk menananm tanaman perdanganan dunia yang
menempatkan Belanda pada peringkat teratas, yaitu tanaman nila, rempah, tebu,
kopi, tembakau, kayu manis dan lada. Rakyat juga diwajibkan dalam setahun
memberikan waktu bekerja untuk pemerintah penjajahan selama 66 hari secara suka
rela.

Para operator Tanam Paksa adalah orang Belanda dibantu oleh kaki tangannya dari
elite priyayi Pribumi yang bisa disebut sebagai para raja kecil, seperti ayah
Kartini sendiri yang Bupati Jepara. Atas nama atau dengan mengusung nama
Pemerintahan Negara, para raja kecil ini banyak yang berlaku keji dan korup
kepada bangsanya sendiri. Perilaku ini ternyata sudah terbangun semasa Kartini
hidup dan menjadi watak bangsa Indonesia hingga sekarang. Belanda dengan licik
mempertahankan dan melindungi kekuasaan para raja kecil ini agar bisa terus
menjadi kaki tangan dalam merampok hak-hak dan kemakmuran rakyat. Pendidikan
hanya diberikan seperlunya saja, yaitu hanya kepada elite priyayi pribumi saja
dan hanya laki-laki saja agar tradisi feodal yang tidak mencerdaskan bisa terus
dilestarikan. Belanda yang menempatkan pusat pemerintahan Hindia Belanda di
tanah Jawa sengaja melestarikan tradisi feodalisme Jawa itu agar aktivitas
penjajahan bisa mulus berjalan. Namun Kartini yang cerdas dan peka mencoba
memberontak dengan menggambarkan situasi itu dalam satu suratnya di tahun 1899
bahwa ia yang putri seorang bupati menampik dipanggil Raden Ajeng. “Panggil Aku
Kartini saja—itulah namaku!”

Posisi Belanda sekarang ini digantikan dengan negara-negara super power dan
bahkan juga negara-negara tetangga (padahal negara kecil). Mereka sibuk menyedot
dan mengangkuti kekayaan alam Indonesia mulai dari hutan, emas, minyak hingga
pasir tanpa peduli pada global issues mengenai climate change atau global
warming. Kesempatan rakyat untuk memberdayakan hidupnya dipangkas lewat berbagai
kebijakan keji. Lihat misalnya kebijakan yang membuat Internet Murah menjadi
sebuah mimpi di siang bolong
(http://jojor.blogspot.com/2007/01/copy-paste-dari-internet.html), padahal
Internet banyak diharapkan dapat mengakselerasi tingkat pendidikan atau
pengetahuan. Sementara itu, Wakil Rakyat, para elite priyayi jaman modern ini
gemar mangap menikmati berbagai suap dan tunjangan, seperti mesin cuci, laptop,
studi banding dan lain-lain tanpa harus kerja membela rakyat. Watak korup dan
keji itu juga menjadi selempang yang mengkilat pada para pejabat masa kini.
Mereka tak pernah sibuk membela atau mengusung rakyat, tetapi sibuk tanpa takut
dan malu sedikit pun untuk menjadi centeng, pelindung bahkan menjadi broker
pengiriman uang milik para bajingan. Mereka juga sibuk mencetak setan-setan
berseragam coklat muda di IPDN
(http://jojor.blogspot.com/2007/04/jejak-setan-di-ipdn.html) .

Ternyata kolonialisme di jaman Kartini dan kegelapannya tak pernah surut dan
terus berjaya hingga 100 tahun lebih di jaman ini. Perempuan pun tak pernah
dianggap utuh sebagai manusia. Apalagi perempuan miskin, yang karena tiadanya
kesempatan untuk merubah nasib, akan menjadi manusia nista yang boleh dikirim
oleh setan pengirim TKW ke kandang monster gila di luar negeri untuk dianiaya,
diperkosa dan dibunuh. Jika tetap tinggal di negeri ini, mereka akan mencucurkan
keringat darahnya di pabrik-pabrik busuk dan pengap, bukan menjalani salah satu
tugas mulianya, yaitu mengasuh anak-anaknya agar-agar anak-anaknya tumbuh sehat
dan menjadi calon warga terhormat dunia yang lebih baik. Sedangkan para
laki-laki petani yang bercocok tanam di negeri ini dijerumuskan untuk menjadi
pecundang yang tolol dan selalu miskin. Para priyayi lebih suka mereka menjadi
robot dungu di kawasan-kawasan industri. Ini ‘kan jaman industri, kata mereka.

Sekali lagi, sejak jaman Kartini hingga sekarang, situasi itu lah yang kita
hadapi dari hari ke hari. Lebih dari 100 tahun kemudian! Para pengusaha, yang
jelmaan baru para penjajah, terus menguasai para raja-raja kecil di pemerintahan
meski rakyat menjerit tersapu lumpur panas atau tersapu banjir bandang misalnya.
Para penjajah pun dengan “kagum” terus menyeringai memandangi rakyat yang
menjerit-jerit karena tempatnya mencari makan digusur tanpa diberi jalan keluar.
Sementara itu penjajah di negeri seberang bertambah jaya dan makmur, sambil
terus memberikan kita mainan perang-perangan melawan teroris atau mainan
kebencian antar agama.

Jadi, jangan menyebut diri anda sebagai manusia Indonesia modern atau manusia
Indonesia yang maju ketika ada perempuan di negeri ini yang sudah memperoleh
kesempatan mendapat pendidikan setinggi-tingginya atau berkarier
setinggi-tingginya atau menjadi pengusaha besar atau bahkan menjadi presiden
perempuan di Indonesia, jika situasi penjajahan yang digambarkan oleh Kartini
belum berubah....
--
Jojo Rahardjo
visit my blog at http://jojor.blogspot.com