Monday, April 16, 2007 22:51:13 Sepanjang kita hidup ini, banyaklah sudah kita melakukan kesalahan. Mungkin sekali bisa tidak terjadi kesalahan kalau saja kita bisa melakukan tindakan yang tepat pada waktunya.

Tindakan apakah yang bisa mencegah kesalahan ??

Satu kata saja: berhenti atau stop. Contohnya:

*Anda menjadi seorang penjudi dan menyesalinya, itu karena anda tidak sanggup menghentikannya. Menghentikan keinginan berjudi, yaitu Stop.

*Anda masuk dunia politik, dan anda terlibat kompromi-kompromi politik yang anda rasa tidak sepatutnya diteruskan. Tetapi anda tidak berani menghindar hanya karena anda mungkin sekali akan merasa malu terhadap para pelaku politik yang lain, yang rekan-rekan anda selama ini. Merasa akan hancur karir didunia dan itu akan menjadi akir dari kehidupan anda. Pada titik ini seharusnya anda berani mengambil keputusan untuk berhenti, untuk STOP. Tetapi ternyata tidak anda lakukan. Anda menjadi orang yang menyesali momen ini, yaitu: tidak berani mengambil keputusan. Anda menanggung beban perasaan dan kehidupan yang menekan.

*Anda menjadi pengusaha dan baru setelah cukup lama menunda, waktu utang kepada Bank sudah menggunung, ingin banting setir menjadi pegawai saja yang bergaji berkala. Lakukanlah. Jangan terlalu ragu. Tidak akan ada orang yang bisa menolong anda, kecuali anda sendiri. Bukan istri anda, bukan pastor atau kyai atau sahabat sekalipun, bahkan ayah dan ibu kandung. Semua tergantung kepada anda seratus persen. Tergantung terutama kepada keputusan anda untuk berhenti. Berhenti menjadi pengusaha dan mengakui anda tidak berbakat. Itu membutuhkan ketenangan bertindak dan ketabahan hati. Pertimbangan yang akan menolong adalah pertanyaan: apakah saya akan meninggal dunia karena berhenti menjadi pengusaha ?? Tidak, kan ?? Nah, secepatnya ambil keputusan besar: STOP.

Pertanyaan jitu ini harus sering kita lakukan dalam kehidupan: Apakah saya akan mati kalau melakukan itu ??

Risiko mati adalah risiko tertinggi dalam kehidupan. Tidak ada yang lebih tinggi dari mati.

Saya sering mengulang risiko-risiko yang mungkin terjadi untuk sesuatu bagian dari kehidupan, misalnya

Kalau bekerja menjadi pegawai: dipecat

Kalau menikah : bercerai hidup atau bercerai mati

Kalau pergi perang: luka badan dan/atau mati

Kalau mencuri : dihukum

Bersifat jujur : hidup tenang dihari tua (ini juga risiko)

Bergaul baik : banyak kenalan yang positip

Saya sendiri telah banyak melakukan STOP yang dapat saya ceritakan sebagai berikut ini.

Pada tahun 1970 saya minta berhenti dari pekerjaan saya sebagai Kepala Biro Teknik dan Produksi di Perusahaan Negara Perkapalan “Alir Menjaya”. Masalahnya gaji kecil dan kebutuhan meningkat dan saya harus melakukan korupsi karenanya, yang amat mungkin sekali bisa saya lakukan, kalau mau. Saya tidak mau korupsi dalam membiayai hidup saya. Saya harus berhenti: STOP!! Karena saya mempunyai status sebagai Pegawai Negeri, saya juga mengajukan permohonan berhenti kepada pimpinan saya yaitu Direktur Jenderal Produksi Maritim, Departemen Perindustrian Maritim. Proses berjalan sulit dan alot. Dua tahun lamanya saya tidak mendapat jawaban tetapi saya sudah mendapat Surat keputusan Berhenti dari Pimpinan PN Alir Mendjaya. Saya sudah tidak mau masuk kerja dan mencari nafkah sebagai salesman door to door menjual encyclopaedia Britannica, Time Life, Americana dan lain-lain. Padahal saya tahu gaji saya tetap dibayarkan dan diambil, entah oleh siapa, karena saya memang tidak mau mengambilnya sebagai konsekuensi undur diri yang telah saya sampaikan, jadi tidak mau makan gaji buta. Demikian juga dengan pembagian beras. Sampai pada suatu saat ada Pendaftaran Ulang Pegawai Negeri. Saya tidak mendaftar ulang dan meskipun didesak oleh rekan-rekan, saya tetap berhenti. Untuk menjadi lepas bebas sebagai pegawai negeri ini saya peringati dengan melakukan pesta kecil makan sate kambing bersama beberapa orang teman.

Waktu itu saya berumur tiga puluh tiga tahun dan sampai hari ini, umur ena mpuluh sembilan tahun saya tidak merasakan penyesalan apapun biar sedikit.

Saya bersyukur sekali, karena kalau saya tetap berkedudukan dan berstatus sebagai Pegawai Negeri, mungkin saya akan bisa menjabat jabatan tinggi yang lumayan, tetapi – ini bukan prejudice – mungkin juga saya tidak bisa tidur senyenyak sekarang. Alhamdulillah.

Pada hari tua saya ketika mecapai umur lima puluh enam usaha saya menaik tajam menjadi amat baik.

Pekerjaan cukup berat dan memakan pikiran yang lumayan ruwet, karena banyak hal harus ditanggulangi dengan piawai. Menghadapi pejabat, partner asing dalam permodalan dan teknologi usaha, menggerogoti mental dan physic saya. Meskipun gaji saya mendekati sekian ribu Dollar AS sebulan, saya merasa letih, fatigue yang berkepanjangan. Yang bekerja didalam lingkungan usaha saya ada karyawan pokok sebanyak lima puluhan orang dan karyawan lapangan yang jumlahnya bisa mencapai pada suatu saat lima ratusan orang. Pada umur lima puluh delapan mendekati lima puluh sembilan, saya mengambil keputusan sendiri, tanpa dibantu oleh siapapun, berhenti sama sekali dari pekerjaan ini nanti, kalau saya mencapai umur enam puluh tahun. Yang melihat berkibarya karir saya, mendengar keputusan ini selain kaget, mereka menduga macam-macam, dan dugaan orang siapa tahu ?? Yang benar adalah keputusan untuk berhenti itu murni dari diri saya sendiri. Mengapa?

Karena faktor kemungkinan saya bisa menderita penyakit-penyakit yang tidak dikehendaki pada hari tua.

Berhenti pada umur enampuluh tahun.

Berhenti bekerja, berarti memasuki dunia lain.

Saya lebih jadi lebih mengetahui soal rumah tangga, soal anak-anak menjadi dewasa dan bekerja mencari nafkah, menikah dan membentuk keluarga. Meskipun saya berusaha tidak terlibat sebanyak mungkin tetapi dalam hal ini, saya tidak boleh semena-mena menuruti kemauan saya sendiri dalam berkeluarga yang jumlahnya makin besar. Ya, keluarga saya menjadi besar.

Menjadi besar karena kedatangan menantu, kedatangan keluarganya menantu yakni besan dan besan. Rasanya berbondong-bondong, susah mengingat satu per satunya. Saya bertambah umur dan saya menjadi pelupa pada beberapa hal. Hubungan kekeluargaan yang meluas membutuhkan memori lebih baik, tetapi kemampuannya berkurang agak deras juga. Pada umumnya kesehatan saya amat baik dan demikian juga daya ingat global, akan tetapi mengenai seluk-beluk hubungan famili, susah saya mengingatnya. Sering lupa dan bertanya kepada istri saya sampai satu kali, dua kali dan tiga kali. Bisa juga masih akan tanya lagi nanti. Saya mulai rajin menurunkan berat badan (ini sikap untuk STOP jadi gemuk) dan secara berangsur-angsur berat badan saya bisa turun dalam dua tahun sebanyak duabelas kilogram. Olah raga jalan kaki dan mengurangi konsumsi makan nasi.

Sekitar umur saya mencapai enam puluh empat tahun saya mengambil keputusan besar lain.

Saya ingin beremigrasi kenegara lain: Kanada. Saya ingin STOP menjadi penduduk di wilayah Republik Indonesia. Banyak orang menyoalkan masalahnya dari segala macam sudut pandang.

Saya menjawabnya dengan setengah bergurau.

Kadang-kadang saya jawab saya ingin hidup dilingkungan taat hukum, dan kadang-kadang saya jawab saya ingin menyeberang jalan sesuai dengan tempat yang disediakan. Jawaban apa saja karena saya tahu masih ada kendala yang orang lain tidak merasakan, yaitu: kemungkinan saya tidak mendapatkan visa Kanada untuk bertempat tinggal, yaitu ditolak oleh pihak Immigrasi.

Proses ini telah diberitahukan kepada saya oleh Kantor Visa di Canadian High Commission di Singapura, yang melakukan prosesnya, akan memakan waktu selama tiga tahun lamanya. Kurang lebih enambulan sebelum visa diterbitkan saya dan istri diberitahu agar memeriksakan kesehatan lebih teliti. Berdebar-debar dan gelisah juga, meskipun saya berlaku tenang, setenang-tenangnya! Kami berdua dinyatakan sehat prima. Akhirnya kami memperoleh visa enam bulan yang dicap diatas paspor, sejak akhir Januari 2006 untuk mendapatkan status sebagai Landed Immigrant.

Akhirnya kami berhasil mendarat di Pearson Airport Toronto pada tanggal 11 Juli 2006.

Masih ada satu keputusan besar yang orang lain tidak tahu, tetapi sungguh menggelisahkan hati saya. Saya harus menghentikan / STOP kebiasaan menghisap cerutu yang sudah saya lakukan selama lima belas tahunan. Sekitar enam sampai tujuh batang sehari. Masalahnya di Ontario sudah dibuat rencana undang-undang Free Smoke Ontario Act. Saya telah berhasil menghentikannya/STOP menghisap cerutu, pada tanggal 1 Juni 2006, sebelum berangkat ke Toronto.

Ternyata Free Smoke Ontario ini berlaku pada awal Juni 2006 hanya beda beberapa hari setelah saya berhenti mencerutu. Kisah ini sudah saya tuliskan dengan judul CIGAR / CERUTU. 

Begitulah saya resmi menjadi pengangguran dalam tanda kutip; memulai kehidupan sebagai orang tua yang harus amat sadar terhadap kesehatan dan relaksasi, baik badan maupun mental.

Saya menulis, dan belajar dengan mengikuti kelas Creative Writing, Memoir dan sekarang Stock Market serta tidak pernah berhenti untuk mengamati sekeliling.

Terus menulis, hampir setiap hari.

Menjalin hubungan melalui intenet dengan teman-teman sejagad, di Tanah Air, di Amerika, Eropa dan Kanada.

Ternyata saya menyukai cara hidup saya ini. Dan inilah keputusan saya yang ternyata mendapat hambatan juga. Latar belakangnya adalah: Sebenarnya sudah lama saya mempraktekkannya, sejak saya mempunyai menantu pertama kali. Bahkan kalau mau jujur, sejak anak saya mendapatkan pasangannya untuk menjadi calon jodohnya.

Apa sih yang saya praktekkan?

Keputusan saya adalah tidak mencampuri keputusan mereka untuk:

  1. Keputusan mereka mengambil jurusan ilmu yang dituntutnya di perguruan Tinggi
  2. Keputusan mereka memilih jodoh
  3. Keputusan mereka untuk kemana melamar pekerjaan
  4. Keputusan mereka dalam mengurus anak (cucu kami) yang saya anggap urusan domestik rumah tangga anak kami masing-masing

Keputusan nomor satu sampai dengan tiga hampir tidak ada masalah, karena istri saya berpendapat sama. Tetapi keputusan saya untuk nomor terakhir tidak selalu mendapat dukungan dari istri saya. Sejak bulan pertama berada di Toronto, istri saya amat merasa kehilangan, karena semua cucu berada di Jakarta. Kerinduannya kepada mereka serasa tidak tertahankan. Sedangkan kita sudah pernah memutuskan untuk memelihara status kita sebagai immigran di Kanada dengan baik.

Itu berati harus menjaga jumlah tahun kita tinggal di Kanada dalam lima tahun, sehingga pada waktu memperpanjang (nanti di kemudian hari) masa berlakunya (lima tahun) Permanent Resident Card, tidak meragukan pihak Immigrasi Kanada mengenai perpanjangan status immigrasinya. Sementara istri saya ingin pulang menengok cucu, saya ingin tetap tinggal paling tidak selama dua tahun, tanpa pulang. Hampir setiap masalah yang berkaitan dengan hal ini muncul, terjadilah kegelisahan dihati kami berdua.

Hari Sabtu tanggal 14 April siang, secara tidak sengaja saya harus bertemu dengan seorang kenalan yang sudah berumur sekitar tujuhpuluh empat tahunan.

Dalam percakapan itu dia mengungkapkan: “Wah tadi pagi saya dapat email dari anak saya dan saya dimarahi !!” katanya. Dia menceritakan bahwa anaknya mengatakan agar dia berhenti menjadi orang tua (parent) dan jangan mengganggu lebih lanjut dan lebih jauh.

Saya terkejut mendengar dia mengatakannya, menirukan kata-kata anaknya, seperti berikut:

“Stop being a parent and leave me alone”

Didalam kalimat ini ada kata STOP.

Saya tahu anak-anak saya tidak akan menggunakan kata-kata itu kepada saya maupun istri saya, kalau saja kami berbuat yang sama. Meskipun demikian saya kira saya tidak akan mudah untuk menerima dengan besar hati, kalau sampai menerima perlakuan dan kata-kata seperti yang dialami kenalan saya itu.

Memang STOP dimana perlu, terbukti bukan hal yang amat mudah. Baik untuk dikatakan maupun ditindakkan.

Kata yang satu ini: STOP. STOP . STOP.