Friday, April 13, 2007 – Sebenarnya masalah saling membenci satu dengan lainnya itu amat sering terjadi karena ada atau timbul rasa iri hati antar dua orang atau antara dua pihak, bahkan antar penduduk suatu daerah dengan penduduk suatu daerah lain. Yang ingin saya ungkapkan adalah “benci” (sebaiknya diterjemahkan atau diartikan dengan rasa tidak/kurang suka atau dalam bahasa Inggris dislike) antar dua kelompok orang disuatu kota dan sekitarnya dengan kelompok orang dari sebuah kota dan daerah sekitarnya yang lain. Saya pernah merasakan dan menyaksikan bahwa orang dari daerah kota Gresik tidak suka dengan orang dari daerah kota Sidoarjo dan orang dari daerah Kota Bangil di Jawa Timur. Mereka masing-masing hanya ingin menonjolkan bahwa ikan bandeng yang dihasilkan dari tambak-tambak didaerahnya selalu paling enak dan lezat serta tidak berbau lumpur atau pasir seperti daerah yang lainnya. Soal ikan bandeng saja, bisa saja menggunakan kata-kata yang diucapkan dengan tajam dan galak.

 

Memang benci seperti ini sih tidak pernah saya saksikan sampai berkelahi secara fisik, hanya saling menjelekkan. Itupun mereka tidak mengatakannya dengan berhadap-hadapan muka.

Mereka mengatakannya dengan cara “memberitahu” konsumen yang membeli ikan bandeng yang dijualnya. Anda jangan mengira ini hanya terjadi di Jawa Timur saja.

Terjadi di Solo dan Yogyakarta. Saya merasakannya sejak saya masih sebagai anak kecil, kalau mengunjungi kedua kota itu. Mereka membandingkan segala macam, barang dagangan atau cara berpakaian serta tutur kata yang pantas, sesuai penilaiannya masing-masing. Karena saya bukan berasal dari daerah Yogya maupun Surakarta, ya paling aman tidak memihak salah satunya, yang manapun.

Anda boleh membantah tetapi ini terasa di Palembang terhadap suku Komering dan orang Batak terhadap orang Aceh. Teman saya yang sudah lama menjadi penduduk Palembang, mengatakan bahwa orang Palembang itu kalau dalam keadaan biasa tidak menyukai orang Sumatra Barat / Padang, akan tetapi kalau sedang tidak ada orang Padang maka orang Jawa menjadi sasaran. Kalau terhadap suku Komering jangan tanya kejengkelannya. Ini jengkel itu juga jengkel.

Pada dasarnya semua ini mempunyai alasan untuk menonjolkan dirinya yang merasa lebih baik dari yang lain. Itu yang disebut diatas adalah soal ras.

Lalu rasa tidak suka dan rasa saling “benci” di Makassar yang warganya juga banyak yang kurang suka kepada orang dari suku Toraja. Orang Sunda terhadap orang Jawa?

Ada joke orang Sunda yang khas: Pada suatu saat ada seorang Polisi membiarkan opelet yang berisi sebelas orang, lebih dari batas maksimum jumlah penumpang yang dibolehkan.

Ketika ditanya mengapa tidak ditindak, Polisi itu menjawab dengan santai, karena yang seorang itu … “mah Jawa pisan”, maksudnya: Kan, orang Jawa ini !!

Orang Jawa patut dianggap tidak ada saja, begitu.

Mungkin antar suku di Nusantara ini memang begitu suasananya, bukan meliputi daerah-daerah saja akan tetapi juga yang sukar bisa dibantah ada juga diantara saudara sekandung satu Ibu dan satu Bapak. Tuduhannya biasa didasari: ah Ibu lebih sayang kepada kakakku, misalnya. Atau ‘dia itu memang menjengkelkan karena selalu mengambil muka didepan Ayah dan Ibu’.

Yang begini bukan diantara sukubangsa di dalam wilayah Nusantara saja, akan tetapi ada diantara bangsa-bangsa di seluruh dunia. Seluruh dunia?

Seorang bangsa Jepang bercerita bahwa pada tahun 1923 Jepang pernah dilanda gempa bumi yang hebat dan malapetaka ini menurunkan kesengsaraan yang luar biasa. Sebagian orang Jepang, malah juga menular ke orang yang lain-lain, menyalahkan adanya gempa bumi ini kepada orang lain. Orang lain? Iya, orang lain itu adalah bangsa Korea !! Pakai logika apapun tentu saja ini tidak akan bisa diterima, tetapi itu pernah terjadi. Ke”benci”an orang Jepang terhadap orang Korea itu saya saksikan dengan jelas selama saya bermukim di Jepang selama beberapa tahun lamanya.

Siapa salah? Ya, yang “salah” adalah alam !!

Gara-gara alam menciptakan bermacam-macam manusia, ada yang kulit hitam, putih, cokelat, kuning, apa ada lagi ?

Saya kok nggak tega untuk mengatakan bahwa orang Indian America berkulit merah, karena menurut pendangan mata saya tidak merah tetapi seperti orang Amerika asli yang lainnya kecokelat-cokelatan. Mungkin Christopher Columbus sedang mabuk, melihat segala sesuatunya merah, seperti matanya sendiri. Haha ..

Siapa mau membantah bahwa yang diciptakan alam didunia ini adalah berlainan satu sama lain dan bermacam-macam pula. Manusia seperti itu, binatang juga dan buah-buahan serta tanam-tanaman. Kalau mau kita amati lebih dalam, semua yang kita anggap sama selama ini, tidaklah sama. Udara? Tidak sama, temperaturnya, geraknya, kotornya dan bersihnya. Air? Setali tiga uang ! Sama persis, air satu dengan air yang lain itu tidak sama, seperti halnya kain ada yang sutra ada yang khaki / drill dan katun. Bahkan orang kembarpun tidak sama. Jadi demikianlah alam itu telah tercipta seperti kita telah alami dan mungkin sekali sudah tercipta sebelum manusia ini diciptakan pertama kali.

Saya “menyalahkan” alam karena membuat perbedaan yang amat beragam seperti itu hanya untuk keperluan menyadarkan diri kita, bahwa semua yang berbeda itu memang dibuat dengan maksud yang belum bisa kita cerna pada saat sekarang. Paling tidak untuk kurun jaman ini.

Tentunya anda bisa berpikir atau membayangkan kalau dunia akan sama sekali tidak menyenangkan kalau semua manusia itu sama dalam bentuk, sifat dan kelakuannya. Wah secara physic akan seperti yang terlihat di film khayal buatan Hollywood yang berjudul I Robot .

Karena itu kalau kita ingin menyeragamkan sesuatu golongan, tidak pernah bisa berhasil sejak jaman dahulu kala. Menurut pengalaman, penyeragaman idea pun selalu mendapatkan tentangan. Penyeragaman dalam tata cara keagamaan, pemahaman ideologi dan apapun bentuknya, selama ini tidak ada yang pernah menjadi besar sekali. Agama Katholik dalam prosesnya telah sebuah pecahan yakni Agama Kristen Protestan, dan agama Kristen pun pecah-pecah lagi menjadi aliran-aliran kecil-kecil yang lain. Islam menjadi Islam Sunni dan Syiah, Parta Nasional Indonesia dan Partindo adalah pecahan dari Pendidikan Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1926/27. Sebelum mencapai ukuran tertentu pasti sudah pecah-pecah menjadi bentuk yang lebih kecil. Persis seperti gelombang lautan maupun gelembung sabun.

Dengan memahami bahwa asal kita ini sejak jaman dahulu kala sudah berlain-lainan, saya mengharapkan akan ada pemahaman yang lebih luas didalam masyarakat bahwa kita tidak perlu terlalu tajam dalam berbeda. Dan tidak terlalu pula berusaha untuk menyeragamkan sesuatu. Berbeda dengan saudara kandung, berbeda dengan tetangga dan berbeda dengan penduduk lain Rukun Tetangga sebab memang sudah berbeda sejak lahir, maka kita bisa memaklumi bahwa kita ini tidak sama.

Dengan demikian kita bisa mengurangi rasa iri hati dan rasa tidak menyukai orang lain. Kalau pun ada rasa seperti itu tekanlah hanya untuk diri sendiri saja. Jangan sekali-kali mengajak orang lain untuk sepaham dengan kita dalam memusuhi pihak lain.

Kita ingat bagaimana tidak sukanya orang Amerika Serikat dari daerah Selatan yang mem”benci” orang yang berkulit hitam berasal dari Afrika. Tetapi saya juga mengingat bahwa pada jaman Pemerintahan Presiden John Fitzgerald Kennedy sudah ada anggota Pasukan Kehormatan Militer di Washinton D.C, yang berkulit hitam. Dan sekarang orang berkulit hitam yang lain, Condoleza Rice, sudah menduduki kedudukan terhormat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Memusuhi sesuatupun ada masanya, dan berubah.

Pada waktu Amerika Serikat sedang membenci Republik Rakyat China, dengan diam-diam Menteri Luar negeri Henry Kissinger, beberapa kali melakukan lawatan rahasia ke RRC dan membuat pendekatan-pendekatan untuk menuju perdamaian. Pada akhirnya Presiden Nixon dapat datang ke China dan menuntaskan penormalan hubungan kedua Negara. Benci dan suka ada batasan waktunya.

Di Kanada, saat ini Kota Terbesar, adalah Toronto. Membesarnya kota Toronto memang menjadi kentara amat menonjol, karena telah menjadi salah satu dari lima besar dari kota-kota terbesar di benua Amerika Utara, dari Mexico City, Miami, Los Angeles, New York dan Toronto. Ternyata hal seperti bukan status menggembirakan pihak-pihak lain diluar Toronto.

Ketika saya sedang menikmati cuaca bagus di selatan Kota Toronto, dipinggir danau Ontario di Queen’s Quay, saya terlibat pembicaraan dengan seorang penduduk kota Quebec yang sedang berlibur ke Toronto. Mereka sepasang suami istri yang sudah senior.

Suatu saat sang suami tiba-tiba mengatakan bahwa kota Toronto tidak akan menjadi besar begitu kalau tidak ada gerakan “nasionalisme Quebec”, yang memungkinkan pindahnya business besar dari Quebec ke Toronto. Nadanya dengan penuh iri mengatakan kepada saya bahwa tanpa Quebec maka berarti No Toronto, begitulah kesan tangkapan saya. Selama suaminya “mengomel” begini, si istri memberikan kedipan mata kepada saya seakan-akan mengatakan kepada saya, dengarkan saja bicara suaminya. Dan pada waktu suaminya agak jauh diluar jangkauan dengar, sang istri mengatakan kepada saya dan istri saya dengan cepat, bahwa sudah lama suaminya mengatakan hal yang sama, selama sudah lebih dari lima belas tahun lamanya. Begitulah ke”pahit”an penduduk bukan Toronto mengeluarkan isi hatinya yang iri hati terhadap kota yang saya diami ini. Saya berdua istri jadi pendengar saja.

Pada sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika beberapa kali saya sempat ke kota Vancouver, penduduk disana sama saja pendapatnya terhadap businessman asal kota Toronto. Mereka juga berkata dengan nada minor bahkan sumbang terhadap businessman asal Toronto.

Seperti saya ketahui dulu pada tahun 1960 an orang pelaku businis kota Tokyo, Jepang juga mempunyai sikap tidak senang dengan orang pelaku business kota Osaka di Selatan Jepang. Demikian pula sebaliknya.

Pada waktu itu saya tengarai bahwa sikap seperti ini hanya diwakili oleh orang Vancouver terhadap orang Toronto. Ternyata pengetahuan saya ini kurang benar demikian, karena bukan saja Vancouver

Hari ini saya membaca di Surakabar bahwa banyak daerah yang merasa adanya ketidak adilan dari perkembangan pesat di kota Toronto. Saat ini terjadi pembangunan besar-besaran penyediaan tempat tinggal baru bagi mereka yang berjumlah lebih dari seratus ribu keluarga.

Adapun seratus ribuan keluarga baru ini didominasi oleh para pendatang immigrant maupun bukan immigrant. Sebagian besar mereka ini adalah immigrant yang menambah ramainya kota Toronto, karena pada tahun ini jumlah immirant akan melampaui jumlah separuh dari seluruh penduduk Ontario.

Artikel dibawah ini muncul di salah satu surat khabar akhir minggu lalu. Isinya kalau dibaca akan jelas menunjukkan bagaimana ketika sepuluh tahun yang lalu, pernah sempat saya perbincangkan dengan beberapa businessmen di Vancouver.

Silakan menyimak dan silakan berpendapat, dan selamat merenungkannya. Sebagai salah seorang penduduk di Toronto, apakah saya juga seorang zombie ?

Let's hate Toronto  Canadian documentary says

By Jennifer Forhan Thu Apr 12, 8:51 PM

TORONTO (Reuters) – The dislike of Canada's biggest city, Toronto, in the rest of the country runs so deep that a filmmaker has made a documentary about it. – Ketidak sukaan terhadap kota terbesar di Canada, Toronto, di seluruh sisa negara ini berlangsung sangat dalam sampai seorang producer film membuat sebuah dokumenter mengenai hal itu –

"People in Toronto are soulless, one-eyed corporate zombies," Joey Keithley, of the Vancouver punk band D.O.A., says in the film, "Let's All Hate Toronto." “Orang Toronto itu tidak berjiwa, zombie-zombie korporasi bermata satu, “Marilah kita benci Toronto” kata Joey Keithley yang salah satu dari the Vancouver punk band D. O. A. mengatakannya didalam film tersebut

The 73-minute film, which premieres at Toronto's Hot Docs documentary festival next week, follows a character called Mister Toronto, who embarks on a cross-Canada trip brandishing a sign that reads "Toronto Appreciation Day" and steels himself for the onslaught. Film sepanjang 73 menit itu, akan dipertunjukkan perdana di Toronto’s Hot Docs documentary festival minggu depan ini, yang menayangkan seorang character yang dinamakan Mister Toronto yang memulai petualangannya keseluruh Canada sambil mengacungkan sebuah tanda yang menuliskan: “Toronto Appreciation Day” dan menguatkan dirinya terhadap serangan gencar tersebut.

His tour leads from Newfoundland on the Atlantic Coast to the Pacific city of Vancouver, where feelings against Toronto — usually acknowledged as the country's financial center and the cultural capital of English Canada — run deepest of all. Perjalanannya menuntun dia dari Newfoundland di tepi Pantai Atlantik, sampai ke kota si tepi Pantai Pasifik, Vancover dimana perasaan-perasaan tidak suka terhadap Toronto – yang biasanya menyandang julukan sebagai kota pusat keuangan dan ibukota dari Canada Inggris,- terasa teramat dalam diantara yang ada.

"There is something different (about hating Toronto). People are more passionate about it," filmmaker and co-director Albert Neremberghe said in an interview. “Ada sesuatu yang lain (dalam membenci kota Toronto). Khalayak amat bersemangat menganai hal ini,” kata co-direcor Albert Neremberghe dalam sebuah wawancara

"People have a grudging respect for New York outside of the city, and have a grudging respect for London. But people outside of Toronto don't have that for Toronto, they really don't." – “Khalayak yang tinggal diluar kota mempunyai perasan dendam terhadap kota New York, demikian pula terhadap kota London. Tetapi khalayak diluar kota tidak mempunyai perasaan seperti itu terhadap kota Toronto, sungguh-sungguh tidak ada”

Neremberghe, who is from Montreal, got the idea for the film from a 1956 publication with the same name as the movie. – Neremberghe yang berasal dari Montreal, mendapatkan idea dari sebuah tulisan pada tahun 1956 dengan nama yang sama dengan film tersebut.

He said collective dislike of a city is not unique to Canada, and said he might like to make similar films on other countries' love-hate relationships with major cities.- Dia mengatakan kebersamaan dalam membenci sebuah kota bukan unique di Kanada, dan mengatakan bahwa dia mungkin akan ingin untuk membuat film yang sejenis mengenai antara benci dab suka kepada sebuah kota di negeri lain

Silakan menengok kekiri dan kekanan, kesekeliling anda benarkah ada yang seperti ini menurut pengamatan anda?