Dalam publikasi ranking sekolah terbarunya untuk 2007/2008 majalah berita US News and World Report memasukkan sekolah IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri) di Jatinangor, Jawa Barat, pada urutan pertama di seluruh dunia untuk kategori bobot mutu dalam bidang "edukasi fisik" yang notabene merupakan kurikulum dan sekaligus kegiatan utama pendidikan di IPDN. Posisi jawara ini berhasil didapat
dengan mengalahkan sekolah-sekolah di negara-negara macam Zimbabwe,
Sierra Leon, Liberia, Afghanistan, Pakistan, Irak, Iran, Lebanon,
Suriah, Timor Leste, Myanmar, Sri Lanka, dan Bangladesh. Betul,
ranking untuk kategori "istimewa" ini hanya dihuni oleh ketigabelas
negara tadi dan yang menjadi jawara tahun ini adalah Indonesia berkat
keberadaan IPDN—dan tentu saja yang terpenting berkat "output" yang
dihasilkannya yang semakin menumbuhsuburkan populasi preman begundal
di kalangan aparat negara.

Reputasi IPDN dengan menu utamanya, edukasi fisik ala Smack Down,
rupanya sudah cukup melegenda dan rekaman video kegiatan Smack Down
tersebut telah beredar di dunia maya lewat situs macam youtube.com.
Alhasil, reputasi yang telah mengglobal ini membuat para editor
majalah US News tertarik—dan terpaksa—untuk menciptakan kategori
ranking baru dengan memasukkan IPDN sebagai juaranya. Penempatan IPDN
dikatakan "terpaksa" karena tersiar kabar bahwa para petinggi dan
praja premanis IPDN telah cukup lama gencar "melobi" redaktur US News
dengan menggunakan konferensi online via webcam, di mana para redaktur
"ditekan" lewat kegiatan unjuk otot dan pukul-memukul ke ulu hati yang
dipertunjukkan para praja muda tersebut sambil menunjukkan jari
telunjuk—dan seringkali juga jari tengah mereka—kepada si redaktur.
Artinya, "lobi" para praja muda ini dimaksudkan untuk mengirimkan
pesan bahwa jika US News tidak bersedia menaikkan pamor IPDN dengan
mendudukkan sekolah tersebut sebagai jawara, para redaktur ini
diyakinkan seyakin-yakinnya akan mengalami nasib seperti si Cliff Muntu.

Kontan saja para redaktur US News, menyaksikan "pesan lobi" live and
realtime tsb, menelan ludah ketakutan dan langsung menyetujui
keinginan IPDN. Rupanya mereka masih sayang organ lever dan buah pelir
mereka agar terhindar dari menjadi target "physical drill" para praja
senior tadi. Mereka berpikir: "Oh my goodness, imagine what would
happen to my precious liver and balls if I didn't consent to the will
of those IPDN's prajas!" Singkat cerita, US News pun mengabulkan
keinginan IPDN karena mereka masih sayang nyawa dan tidak mau
di-Cliff-Muntu-kan oleh para praja senior IPDN.

Tersiar pula kabar bahwa beberapa pegulat profesional tenar dari WWF
(World Wrestling Federation) tertarik untuk menimba ilmu di IPDN guna
mempelajari apa yang menjadi keistimewaan IPDN, yakni teknik-teknik
memukul dan mencuci otak target/korban pukulan agar pukulan tersebut
benar-benar mematikan sementara pada saat yang sama si korban pukulan
terinfeksi oleh kondisi psikologis self-denial. Kondisi self-denial
ini ialah si korban menyangkal bahwa dirinya telah begitu sering dan
hebat digebukkin, menyangkal menderita luka/trauma luar dan dalam,
atau bahkan menyangkal sedang menuju kematian. Self-denial sistemik
seperti ini lazim ditunjukkan oleh praja-praja yunior IPDN. Teknik
"maut" inilah yang membuat nama IPDN melegenda dan menjadikannya daya
tarik tersendiri bagi sejumlah pegulat profesional tadi.

Demikianlah berita terkini dalam rubrik dunia pendidikan tentang
kiprah IPDN yang berhasil "mengharumkan" nama bangsa dan negara
Indonesia. Tentunya masuknya IPDN dalam jajaran "elite"
sekolah-sekolah "top dunia" harus menjadi "kebanggaan" tersendiri bagi
dan patut "disyukuri" oleh bangsa Indonesia, terutama dalam rangka
memupuk jiwa premanisme  di antara aparat negara dan  masyarakat
secara umum.

Longdong