Kompas tanggal 12 Desember 2005, halaman 13 memberitakan sebagai berikut. Sri Lanka ternyata termasuk negara yang populasi anjingnya relatif tinggi didunia. Banyak yang cinta anjing dinegeri itu, dan berbagai acara yang melibatkan anjing juga sering berlangsung. Salah satunya adalah pertunjukan anjing yang diselenggarakan Ceylon Kennel Club di Colombo, Minggu(11/12). Menurut Menteri Kesehatan Sri lanka, perbandingan anjing dan manusia dinegara tersebut sudah satu dibanding satu (1:1), padahal ratio yang umum adalah satu anjing pada setiap 25 penduduk. Keadaan ini dikhawatirkan bisa memicu wabah rabies.

Ternyata penduduk Sri Lanka menurut perhitungan pada tahun 1997 adalah 18.774.000 orang penduduk atau dibulatkan menjadi 19 juta orang. Saya memang sulit membayangkan keberadaan anjing yang jumlahnya ada 19 juta ekor disebuah pulau seperti di Sri Lanka. Indonesia terdiri dari 17.000 pulau lebih dan yang berpenghuni ada 13.000 pulau, akan tetapi populasi anjing di Indonesia juga mungkin hanya amat sedikit dan malah barangkali satu dibanding lebih dari 25 orang penduduk. Saya sebut demikian ini mengingat pengalaman saya sendiri bahwa banyak sekali penduduk Indonesia yang tidak menyukai anjing sehubungan dengan kepercayaannya dan sikap hidupnya, yang mempercayai anjing adalah makhluk haram malah dikategorikan najis.

Saya adalah pejalan kaki setiap hari berolah raga selama bertahun-tahun dan selalu ditemani anjing saya. Sebelum bulan Nopember 2005, saya memiliki dua ekor anjing jantan: satu jenis kampung (namanya Chokki karena berwarna coklat) dengan badan cukup besar dan seekor anjing kecil jenis Pekingese (namanya Choocho). Selama lebih dari tujuh tahun saya berjalan kaki setiap hari, pagi, siang atau sore, kalau hari tidak hujan, selalu ditemani mereka.

Tahun 2007 data update: Penduduk Sri lanka ada 20.222.240 orang

Tujuan saya berjalan adalah karena saya taat dengan anjuran dokter, yang menganjurkan agar saya berjalan kaki setiap hari menempuh jarak sekitar tiga kilometer dan harus selesai dalam tempo tiga puluh sampai empat puluh lima menit. Saya sungguh amat menikmati masa-masa saya berjalan kaki seperti ini. Kadang-kadang saya menempuh jarak lebih dari tiga kilo meter dan kadang-kadang pula waktunya melebihi empat puluh menit. Semenjak saya mencapai umur enam puluh tujuh tahun, kemampuan saya memang terasa menurun sehingga saya memerlukan istirahat ditempat satu atau dua kali, baik duduk atau tetap berdiri saja.

Kedua anjing tersebut saya tukar dengan seekor anjing betina, jenis Golden Retriever (sering juga disebut dengan Golden Ret.) warna kuning muda yang diberi nama Jolly. Sengaja saya memilih anjing betina karena kedua anjing terdahulu sudah amat memerlukan panggilan alam, yaitu mencari pasangan sex dari waktu ke waktu. Kalau mereka saya lepaskan ke lingkungan tetangga maka menjadi terlalu ketagihan dengan kebebasannya dalam memenuhi panggilan alam tersebut. Dengan demikian mereka sering “menghilang” dan merepotkan saya dalam menemukan dan menggiring mereka kembali kerumah. Dengan anjing betina, saya tidak menjumpai kesukaran seperti yang ditimbulkan oleh anjing jantan. Meskipun saya tidak keberatan sama sekali dengan panggilan alam tersebut, saya tetap harus ikut mengawasi kesehatan mereka.

Timbul kekesalan saya dalam melihat mereka mulai sering tertular kutu karena “pergaulan bebas” mereka dengan berjenis-jenis anjing lain yang ditemuinya. Sedikit luka karena berkelahi terjadi juga. Sekarang si Jolly hanya memberi kegembiraan hati saya, karena amat penurut. Saya larang dia naik ke terras rumah, dia menurut tanpa perlu diawasi. Saya berikan aba-aba dengan suara berfrekuensi rendah agar masuk kandang, dia menurut tanpa kesukaran. Saya ajak bersalaman selalu memberikan kaki depan kanannya untuk bersalaman.

Makannya pun mudah, nasi dicampur air dan ditambah dengan sayur-mayur yang direbus, kecuali kangkung yang tidak disukainya. Wortel, kubis atau sayur pada umumnya, termasuk tauge dia mau. Makanan tambahan yang disukainya adalah telur rebus. Saya berikan juga sebagai selingan makanan buatan pabrik seperti merek Pedigree. Saya diberitahu agar tidak memberi tulang, saya mengikutinya, karena Jolly ini sudah lebih dari tiga tahun umurnya dan sudah biasa memakan sayur. Dengan setia ketiga anjing tersebut, Chokki, Choocho dan Jolly telah menemani saya berjalan kaki dengan rajin dan memberikan kesehatan prima kepada saya yang sudah tidak muda lagi.

Kejadian yang paling menonjol dalam saya berjalan kaki, saya sering menemui seseorang, baik pengasuh maupun ibu seorang anak atau anak-anak, selalu mengeluarkan peringatan dengan suara cukup keras: awas ada ajing nanti digigit.

Kalau kiranya situasi mengijinkan, saya selalu berhenti dan mengatakan kepada pendamping anak tadi dan berkata: Anjing saya hanya menggigit makanannya dan tidak pernah menggigit seorang manusiapun. Jangan menakut-nakuti dengan kata nanti digigit, karena sesungguhnya hampir semua anjing itu takut kepada manusia, bukan sebaliknya. Dugaan saya adalah: kata-kata saya amat sedikit berkesan kepada mereka pendamping anak atau anak-anak tadi, karena pola pikir mereka sudah kuat terbentuk sejak lama. Saya tambahi dengan kata-kata: nanti anak-anak akan takut kepada anjing untuk seluruh sisa hidupnya. Saya “agak memaksa” mengeluarkan kata-kata seperti itu, karena sembilan puluh persen anak atau anak-anak yang bertemu itu menunjukkan keinginannya untuk dapat bercengkerama dengan anjing saya, baik kepada Chokki, Choocho maupun Jolly. Tanpa ijin pendampingnya mereka bahkan dengan amat antusias berusaha mendekati dan mengelus anjing saya. Tidak pernah satu kalipun saya mengalami saat anjing-anjing saya tersebut menunjukkan sikap bermusuhan dengan manusia yang saya temui.

Yang sebaliknyalah yang sering saya jumpai.

Saya selalu berjalan kaki dijalan umum dijalur sebelah kanan, agar supaya dapat melihat datangnya lalu lintas kendaraan datang dari depan saya. Hal ini bukan sama sekali idea saya, karena hal seperti ini saya ketahui, diajarkan kepada orang Jepang sejak masa kanak-kanak, demi keselamatan dalam berjalan kaki.

Tetapi ratusan kali terpaksa saya pindah ke sebelah kiri jalan, karena dari jauh sudah saya lihat pejalan kaki lain, biasanya wanita yang berpakaian mengesankan sebagai penganut ajaran agama yang mengajarkan dia untuk tidak bersinggungan dengan binatang yang satu ini. Bahkan ada yang mempercayai dengan bersungguh-sungguh bahwa kalau bersinggungan dengan bulunya sajapun temasuk yang diharamkan. Saya berpindah jalur agar tidak menimbulkan masalah dengan siapapun. Setelah menyeberang, memang biasanya ibu tersebut kelihatan menarik napas lega dan kelihatan sangat berterimakasih kepada sikap saya. Kami biasanya saling mengangguk dan tersenyum sedikit. Saya memang selalu menghormati kepercayaan orang lain, siapapun dia. Saya tidak akan berusaha melakukan upaya perubahan apapun terhadap kepercayaan mereka, mengingat bahwa upaya tersebut akan tidak akan membuahkan hasil yang menyenangkan bagi siapapun. Yang penting saya senang hati dan tidak menggangu orang lain. Saya memang memendam banyak pertanyaan, antara lain mengapa hanya anjing yang memperoleh penilaian seperti itu? Dari bentuk physic, sebenarnya apa beda moncong anjing dengan kucing, sapi, kerbau bahkan serigala, harimau, kangaroo dan sapi? Bibir sapipun malah dimakan sebagai sebagian dari hidangan rujak cingur. Saya banyak mempunyai kenalan orang Sumatra Barat, yang menceritakan bahwa anjing adalah binatang andalan dan amat berguna dalam berburu binatang lain dihutan. Suku Dayak diseluruh Kalimantan biasanya juga mempunyai anjing untuk keperluan berburu.

Teman saya yang pernah mengunjungi Marokko di Tunisia dan Cairo di Mesir, menceritakan bahwa banyak orang yang lalu lalang dijalan sambil menggendong anjingnya dengan mesra sekali. Saya biarpun mempunyai anjing, saya belum pernah menggendongnya, apalagi mengalami dikencingi olehnya.

Pada waktu meninggalnya Raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Azis, digantikan oleh Raja Abdullah yang menganut ajaran salaf, beberapa bulan lalu, saya melihat diberitakan oleh televisi di channel CNN (Cable News Network) sebagai berikut. Untuk ikut menjaga keamanan para tamu negara yang terdiri dari para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan asing yang datang melayat dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya, para anggota Polisi menggunakan alat-alat electronic canggih, senjata-senjata modern dan anjing-anjing pelacak. Saya menggunakan istilah tempat peristirahatan terakhir karena istilah itulah yang sesuai, karena orang Arab maupun Rajanya sekalipun tidak menandai tempat dimana jenasah dimasukkan kedalam tanah. Jadi tidak ada kuburan seperti yang kita kenal di Indonesia. Kakak saya yang sudah lebih dari delapan kali umroh dan haji, menceritakan bahwa sekolah-sekolah dan gedung-gedung penting di Arab Saudi juga dijaga anjing-anjing jenis Herder maupun Dobberman.

Anjing jenis Saluki di Saudi Arabia tidak digolongkan sebagai anjing biasa yang disebut dengan kata Kalbun (diucapkan Kalb), karena jenisnya dianggap amat bermanfaat bagi pemiliknya, yakni dalam hal berburu binatang lain. Saluk ternyata adalah sebuah nama kota yang telah musnah didaerah Arab bagian Selatan. Orang-orang Turki juga mengaku bahwa saluki berasal dari daerahnya. Ternyata saluki ini adalah anjing yang pernah menjadi kesayangan Raja Mesir. Ada ukiran-ukiran kuno yang diperkirakan dikerjakan pada sekitar 4000 tahun Sebelum Masehi, yang menggambarkan Saluki sedang memburu kijang di gurun sahara. Dia bisa berlari dengan kecepatan tinggi dan mengandalkan pandangan matanya dari pada kemampuan penciuman hidungnya. Saluki ternyata menjadi binatang piaraan yang amat disukai dan dihargai lebih tinggi dari uang. Seekor saluki akan membawa hasil buruannya serta menyerahkannya kepada tuan-nya, membawanya dimulutnya dengan lari sambil menggigitnya. Sebuah kelompok orang Badui dengan semua wanitanya dan anak-anak mereka menyukai saluki ini demikian rupa sehingga mereka akan menolak jual beli saluki, dengan harga berapapun jua. Ada juga yang memperlakukan uang hasil pembelian saluki seakan-akan uang haram, jadi tidak patut diterima.

Begitu sayangnya mereka terhadap anjing saluki ini karena bukan dianggap sebagai kalbun (anjing biasa), seekor saluki akan dapat memasuki tenda para bangsawan yang kaya sedang anjing biasa tidak akan dibolehkan.

Saluki adalah sebutan anjing jenis ini bagi yang jantan, sedang yang betina disebut Silaqah, bentuk jamaknya adalah Sulqan dan Salaq. Orang-orang Inggris ada yang menyebut jenis saluki ini dengan Persian Greyhound atau Turkish Greyhound.

Meskipun sebagian kaum Muslim amat membeci anjing karena telah digolongkan sebagai binatang yang kotor, akan tetapi anjing boleh diimport ke Arab Saudi, tentu saja dengan syarat-syarat tertentu. Syaratnya harus anjing yang punya kemampuan menjaga dan berburu. Saya sungguh mengharapkan agar seorang seperti Abdullah Gymnastiar dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan terpendam saya yang selama ini tidak pernah saya kemukakan dalam bentuk tertulis. Orang bangsa Barat selalu menamakan anjing dengan ungkapan sebagai Man’s Best Friend.

Bagi saya ungkapan tersebut betul seratus persen.

—ooo000ooo—

Saya menyaksikan siaran pengetahuan di Channel Discovery bahwa hidung anjing diciptakan dengan bentuk besar, karena memang kemampuannya besar sekali dalam hal membau. Hidung anjing dapat menyimpan dan mengenali memory dari sebanyak lebih dari satu juta jenis bau

Anjing mempunyai pendengaran yang jauh lebih tajam dari yang dipunyai manusia. Pengalaman pribadi saya membuktikan bahwa pada waktu kita masih belum mendengar suara geledek tanda hujan, anjing sudah ketakutan dan ingin lari bersembunyi dari suara guntur dan petir