Salah satu tragedi ekonomi Indonesia, menurut saya, bisa digambarkan dengan kalimat “kita punya barang mereka punya harga”. Terms of trade dalam transaksi internasional, tentu saja mencerminkan posisi tawar yang dimiliki oleh satu produk. Sudah menjadi keprihatinan umum bahwa ekonomi yang menggantungkan diri pada  produk primer menghadapi kepincangan harga yang tajam bila berhadapan dengan pemilik teknologi. Bahan mentah kita dihargai terlalu rendah, sementara teknologi harus kita bayar dengan harga yang teramat mahal.  (juga dimuat di Bisnis Indonesia Maret 2007)

 

Tapi ungkapan “kita punya barang mereka punya harga” mencoba memotret gambar yang lebih buram dari itu. Coba kita simak beberapa fenomena berikut ini. Indonesia pernah menjadi penghasil kopi robusta terbesar di dunia (kini nomor dua setelah disalip oleh Vietnam). Tapi coba tanya berapa harga kopi robusta kepada para eksportir, para pedagang besar, pedagang pengumpul dan petani di ujung yang paling terhimpit, jawabnya akan sama: harga kopi robusta ditentukan di London (London International Financial Futures Exchange, LIFFE). Kita merupakan produsen CPO kedua terbesar dunia di belakang Malaysia, bahkan banyak pihak meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi yang terbesar dalam waktu singkat. Tapi harga CPO Indonesia didikte oleh harga yang terbentuk di Rotterdan untuk pasar spot, dan Kuala Lumpur untuk harga kontrak berjangka. Kita lanjutkan dengan kakao. Indonesia merupakan produsen nomor 3 dunia, dibelakang Pantai Gading dan Ghana. Dengan kondisi alam Indonesia yang menguntungkan kita punya peluang besar untuk menjadi produsen utama kakao dunia. Namun ironi harga itu berlanjut pula di sini: harga kako ditentukan di New York (New York Board of Tarde, NYBOT).

 

Ironis. Kita yang menghasilkan produk, kita yang paling dekat dengan kondisi-kondisi fumdamental yang memengaruhi harga, tapi kita tak punya banyak peran dalam proses pencarian dan pembentukan harga produk-produk kita. Ironis, karena harga-harga yang menjadi kiblat produk-produk kita, hanya berfungsi sebagai acuan. Seorang petani kakao pasti tidak bisa menjual biji kakaonya dengan harga NYBOT. Sebuah perusahaan grinda tidak dapat membeli biji kakao dengan harga NYBOT. Untuk menadapatkan pedoman harga riil di dalam negeri kita harus melakukan berbagai perhitungan penyesuaian, mulai dari diskon harga atas kualitas produk, ongkos angkut, asuransi, kurs mata uang asing dsb

 

Daftar ironi semacam itu bisa berlanjut menjadi panjang. Salah satu studi The Economist mutakhir menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tidak kurang dari 11 produk primer yang masuk dalam 10 besar dunia. Tapi anda boleh tertegun bila menyadari tak satupun dari komoditi itu punya “kiblat” harga di dalam negeri. Polemik Kwik Kian Gie menyangkut BBM mungkin bisa mempertajam gambaran. Ketika menghitung subsidi BBM, pemerintah menggunakan harga minyak yang terjadi di New York, padahal biaya produksi BBM di dalam negeri berbeda cukup jauh dengan harga yang terbentuk di New York tersebut.

 

Mereka, Negara-negara maju itu, sejak ratusan tahun lalu telah menyiapkan salah satu pilar ekonomi pasar yang bernama bursa berjangka. Bursa berjangka membangun sarana yang memungkinkan bertemunya semua permintaan dan penawaran dari seluruh pelosok dunia hinga terbentuk suatu harga yang terpercaya, yang kemudian dijadikan kiblat oleh pelaku ekonomi yang memiliki commercial interest terhadap produk bersangkutan, di seluruh dunia. Yang lebih hebat, mekanisme bursa berjangka tidak cuma menangkap permintaan dan penwaran terhadap satu produk saat ini, tapi juga permintaan danm penawaran produk tersebut di masa yang akan datang, yang mencerminkan ekspektasi para pelaku tentang kondisi pasar produk yang bersangkutan di waktu yang akan datang. Hasilnya? Mekanisme bursa berjangka tidak hanya memberikan acuan harga saat ini, tapi juga sinyal yang kuat tentang kecenderungan harga yang akan datang (road map to future prices)

 

Hadirnya sinyal tentang ekspektasi harga ang akan datang ini  memainkan peran yang sangat sentral dalam sistim pereknomian pasar, baik di tingkat makro maupun mikro. Dalam sistim perekonomian pasar harga berperan sebagai impuls yang menggerakkan semua keputusan ekonomi. Harga adalah penggerak utama (main driver) di balik keputusan ekonomi seperti: memproduksi, mengolah, membeli, menjual, menyimpan, membelanjakan, menabung dst. Dalam keputusan eknomi semacam itu, harga yang relevan, apa boleh buat, bukan harga saat ini. Tapi harga yang akan datang! Keputusan seorang petani untuk menanam jagung, misalnya, digiring oleh pengetahuannya tentang harga. Tanpa mekanisme perdagangan berjangka, informasi harga yang dimiliki petani adalah harga saat ini, yang sama sekali tidak relevan dengan keutusannya untuk menanam. Yang lebih dibutuhkan petani adalah petunjuk harga ketika nanti ia panen…………………………

 

Jakarta