Dalam kamus wikipedia disebutkan arti efek pygmalion adalah: The Pygmalion effect, Rosenthal effect, or more commonly known as the "teacher-expectancy effect" refers to situations in which students perform better than other students simply because they are expected to do so.

 
Kemudian dalam bagian lain dari wikipedia juga disebutkan kisah berikut: Pygmalion is a mythological figure found in Ovid's Metamorphoses. Pygmalion is a sculptor who falls in love with a statue he has made.
Pygmalion was a Cypriot sculptor who carved a woman out of ivory. According to Ovid, after seeing the Propoetides prostituting themselves, he is 'not interested in women', but his statue is so realistic that he falls in love with it. He offers the statue presents and eventually prays to Venus. She takes pity on him and brings the statue to life. They marry and have a son, Paphos.
 
Jadi sekarang apa yang bisa dipetik dari pelajaran diatas bagi pembentukan karakter setiap keluarga warga bangsa Indonesia ? Kita telah membaca tentang bagaimana seorang warga Jepang yang bernama Masaru Emoto menulis buku best-seller yang berjudul The Power of Water, dia mengadakan sebuah penelitian tentang bentuk kristal air yang berada dilingkungan yang damai dan sering dipuji dan didoakan, kristal tersebut berbentuk sangat indah. Coba baca sebagian tulisannya dalam bahasa Inggris: He found that water from clear springs and water that has been exposed to loving words shows brilliant, complex and colourful snowflake patterns. In contrast, polluted water, or water exposed to negative thoughts, forms incomplete, asymmetrical patterns with dull colours. The implications of this research create a new awareness of how we can positively impact the earth and our personal health.
 
Jelas bahwa kata-kata positip dan penuh cinta kasih serta doa-doa yang baik akan berpengaruh bagi setiap zat dimuka bumi ini. Kata-kata positip, cinta kasih serta doa bukanlah milik salah satu agama, mereka bersifat universal dan bisa dilakukan oleh setiap orang apapun latar belakang, suku, agama, golongan, kaya atau miskin.
 
Ada sebuah eksperimen yang pernah dilakukan oleh sahabat saya, seorang pelatih lembaga kepemimpinan. Anda boleh mencobanya sendiri untuk membuktikan eksperimen ini. Ambillah dua mangkuk nasi yang baru matang daris ebuah rice cooker, kemudian masing-masing mangkuk nasi tersebut Anda bungkus dengan plastik tipis. Mangkuk pertama berikan kode P, mangkuk kedua berikan kode N. Setiap pagi dan sore, masing-masing selama dua menit, katakanlah pada mangkuk nasi dengan kode P, hal-hal indah, kasih sayang, pujian, doa-doa yang baik, segala ucapan yang positip. Kemudian lakukan hal yang sama terhadap mangkuk nasi dengan kode N, namun katakanlah ucapan penuh kemarahan, kebencian, sumpah serapah, kutukan, dan segala ucapan yang bernada negatip. Lakukanlah hal yang sama pada mangkuk yang sama selama seminggu berturut-turut, pada hari ketujuh lihatlah apa yang terjadi pada kedua mangkuk tersebut, ternyata mangkuk nasi dengan kode N, warna nasi sudah hitam penuh jamur dan jadi sangat menjijikkan untuk dilihat, sedangkan mangkuk nasi dengan kode P, memang ada jamur disana sini karena proses alamiah, namun tingkat kerusakan dan warnanya tidak seperti pada mangkuk nasi dengan kode N. Cukup aneh bukan ??
 
Dari ketiga ilustrasi yang diambil dari tiga peristiwa dan sumber yang berbeda, semuanya menunjukkan fenomena alam yang sama, bahwa kata-kata positip dan cinta kasih serta keindahan, bisa merubah karakter suatu zat, dengan demikian juga alam dan manusia.
 
Ketika kita membaca tentang hal-hal negatip yang terjadi disekitar kita, dalam bentuk bencana alam banjir, lumpur, gunung meletus, kapal tenggelam, pesawat jatuh dan meledak, epidemi flu burung, banyak pertanyaan muncul, kenapa semua itu terjadi.
 
Jika dihubungkan dengan ilustrasi diatas, maka menurut saya semua itu terjadi karena lingkungan sekitar kita sudah sangat negatip, banyak kata-kata dan perbuatan busuk diucapkan dan dilakukan oleh para pemimpin kita, pemimpin spiritual tidak lagi menyuarakan kebenaran dan kedamaian, namun malah menyebar dendam dan permusuhan, ajakan damai dan rekonsiliasi dari satu golongan malah dihadapi dengan teror penuh kebencian, lingkungan pemerintahan juga masih dipenuhi oleh upaya dan perbuatan korupsi, bahkan tempat dimana nama Yang Maha Kuasa harus disanjung tinggi, dan tempat dimana upaya pendidikan bangsa dipertaruhkan, disana malah terjadi tingkat korupsi yang begitu busuk. Segelintir umat beragama, atas nama fanatisme agama, bukannya memerangi kejatuhan moral, namun malah menghunuskan pedang permusuhan, dengan seenaknya menutup rumah ibadah yang notabene menjadi tempat dimana doa dan puasa bagi bangsa ini dipanjatkan. Segelintir umat beragama, bukannya mengumandangkan berita damai dan ajakan membangun bangsa, namun isi khotbah hanyalah menyalahkan, mengkafirkan umat beragama lain. Sorga dan neraka yang menjadi hak mutlak Yang Maha Kuasa, menjadi bahan komoditi murahan ditangan para ahli agama, dengan dalil-dalil mutlak menyatakan bahwa agamamu salah dan hanya agamaku yang benar. Siapa dibawah muka bumi ini yang bisa tahu apa yang terjadi sesudah hidup ini berakhir, semua adalah bagian dari iman dan iman adalah hak masing-masing individu yang tidak bisa diganggu gugat atau diperdebatkan. Tidak adanya rasa saling toleransi, saling menghormati, tenggang rasa, memberikan dampak dan energi negatip pada kondisi bangsa ini.
 
Namun apa yang kita lihat bukanlah mewakili keadaan seluruh bangsa, kita yakin bahwa sebagian besar bangsa membawa dampak dan energi positip yang membuat kita tetap optimistik melihat masa depan bangsa ini.
 
Saya mempunyai sahabat dekat yang sungguh beruntung hidupnya, karena walaupun dilahirkan dari keluarga miskin, namun dia mempunyai seorang ibu dan ayah yang selalu dan selalu berbicara dan bercerita tentang hal-hal positip, pada saat sahabat saya ini masih kecil dan hidup bersama sepuluh saudara-saudaranya disebuah rumah yang kecil, masih belum ada listrik saat itu, namun sang ibu selalu bercerita tentang hal-hal yang besar dan positip, selalu berdoa dipagi hari dan malam hari dengan menyebut nama anak-anaknya satu persatu, yang terkadang membuat sahabat saya jadi bosan. Hasil dari kata-kata positip dan tebaran cinta kasih terbukti pada masa kini, mereka semua kini hidup cukup berbahagia dan sukses dalam ukuran cukup. Demikian juga sang ayah, selalu memberikan doa restu dan nasehat bagi anak-anaknya, kenangan indah ini membentuk masa depan mereka semua.
 
Sahabat ini juga sangat beruntung karena lahir ditengah-tengah keragaman suku, iman dan keyakinan, mungkin oleh karena sahabat ini lahir dari seorang ayah penganut aliran Kejawen dan ibu seorang Kristen, maka anak-anaknya menikah dengan orang-orang dari suku berbeda, dari suku Jawa, Padang, Tionghoa, Batak, Pakistan, Eropa, dan juga menjadi penganut agama dan keyakinan yang berbeda-beda pula, ada yang Muslim, Kristen, Katolik dan Budha.
 
Berbeda keyakinan bukannya malah membuat mereka tidak sungguh-sungguh dalam menghayati iman dan keyakinan, malahan menjadikan mereka militan dan serius dalam menjalani agama, yang Kristen ada yang menjadi pendeta, ada yang aktif dalam kegiatan pelayanan pengusaha Kristen, yang Muslim hampir semuanya menjadi haji, para wanitanya berjilbab dan hampir semuanya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, bahkan ada yang belajar agama sampai ke Mekkah, yang Katolik ada yang menjadi putra altar dan aktif dalam kegiatan gereja, demikian pula yang Budha.
 
Seorang dosen yang sangat saya hormati, seorang Muslim yang taat, pernah berkata demikian, sebuah taman tak akan menjadi indah jika semuanya terdiri dari bunga mawar, taman yang indah terjadi ketika bunga mawar, disandingkan dengan bunga melati, bunga kamboja, bunga anyelir dan beragam bunga dan tanaman lainnya.
 
Keindahan hidup keluarga sahabat saya bertambah oleh kenyataan bahwa walaupun terdiri dari beragam suku dan agama, mereka hidup dalam perdamaian satu sama lain, membantu satu sama lain, mendukung satu sama lain dan menjadi contoh tauladan bagi keluarga besarnya.
 
Keberhasilan-keberhasilan, walaupun sangat kecil, saling dibagikan, saling diceritakan, bukan untuk menyombongkan diri, namun untuk saling membangun, saling menguatkan dan saling merasakan. Bukankah keindahan akan menjadi lebih indah ketika keindahan itu diceritakan kepada orang lain. Warisan paling berharga yang diberikan oleh ayah dan bunda sahabat saya bukanlah rumah besar, harta permata atau deposito besar di bank, namun warisan berharga itu adalah rasa optimisme akan masa depan, rasa cinta kasih atas sesama saudara, saling membantu, saling memperhatikan. Memang adakalanya sahabat saya mendapat cicbiran ketika menceritakan sebuah keberhasilan kecil, misalnya ketika keponakannya lulus menjadi sarjana ekonomi, sahabat saya menceritakan kesemua kerabat dengan penuh sukacita, dengan maksud tulus, bahwa beriita itu juga akan membuat mereka bahagia, namun yang terjadi malah maksud baik itu diartikan kesombongan, dalam hidup memang tidak semuanya putih, selalu saja ada sisi gelap dalam diri setiap manusia. Selalu ada iri hati, kedengkian dan kecemburuan. Hal itu wajar dan bisa dimengerti.
 
Kenapa saya bercerita panjang lebar tentang kisah hidup sahabat saya ini, maksud dan tujuan hanyalah satu, wahai bangsaku, belajarlah dari keluarga sahabat kita ini.
 
Bisakah ??
 
Saya yakin bisa, akan tiba saatnya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang punya martabat tinggi ditengah persaingan antar bangsa, punya kesatuan kuat diantara para warganya, tidak saling memaki diantara para pemimpinnya, ada rasa saling menghormati diantara para penganut agama yang berbeda, bahkan ketika cinta sudah melekatkan dua hati yang berbeda, mereka tetap bisa menyatu dalam perbedaan.
 
Saya yakin akan tiba masanya bangsa ini meraih cita-cita luhurnya ketika republik ini diproklamirkan oleh bapak bangsa Soekarno – Hatta, yakni ketika yang lapar dan miskin sudah tidak ada lagi, yang korupsi sudah menjadi jera karena jerat hukum sudah begitu kuat, yang semena-mena tidak berani lagi karena pemerintah sungguh berwibawa dan income per capita negara ini sudah melonjak jadi yang tertinggi di ASEAN, karena seluruh kekayaan alam dipergunakan dengan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
 
Dari mana kita mulai keadilan, kerukunan dan kemakmuran ini ??
 
Dari keluarga kita masing-masing, diantara anak-anak, diantara para sepupu, antara paman dan keponakan, diantara saudara ipar, harus saling mengasihi, harus saling membantu, harus saling mendoakan, lalu jauhkanlah rasa iri hati, dengki, cemburu, dendam, permusuhan, jauhkanlah dari mencari perbedaan, marilah mencari kesamaan-kesamaan kita, marilah mengingat ayah dan kakek moyang kita, pada dasarnya kita ini satu, hidup di negara yang satu, Indonesia, hidup dibawah planet yang satu, bumi.
 
Ketika setiap keluarga menjadi satu, kuat, rukun, saling mendukung dan saling mengasihi, maka digabung-gabungkan, maka bangsa inipun akan menjadi satu, kuat, rukun, saling mendukung dan saling mengasihi.
 
Semoga !!!
 
Best Regards,
 
Yuki Wiyono
"Nothing great was ever achieved without enthusiasm !!" (Ralph Waldo Emerson)