Pergeseran Kekuatan Partai LINGKARAN SURVEI INDONESIA, 29/03/2007
"PDIP mendapatkan dukungan sebesar 22.6%. Di tempat kedua dan ketiga adalah Partai Golkar (16.5%) dan Partai Demokrat (16.3%). Sementara partai lain berada jauh di bawah tiga partai tersebut … "



Kalau hasil riset data lapangan dari LSI ini memang mendekati
kebenaran dengan kenyataan, mood dan persepsi dari masyarakat
Indonesia, maka mayoritas rakyat Indonesia sebenarnya masih tetap
menginginkan negara Indonesia yang berlandaskan sekularisme atau
nasionalisme (seperti yang dicita-citakan oleh bapak pendiri bangsa)
dan bukan sebuah negara yang berlandaskan hukum agama atau
teokratis.

Trend atau kecendrungan dengan bertambahnya suara yang diberikan
kepada-pada partai-partai sekuler seperti PDIP, Golkar, Partai
Demokrat dll ini, dapat diinterpretasikan sebagai pencerminan
daripada mood dan persepsi dari masyarakat Indonesia saat kini yang
bergeser lebih ke arah nasionalisme.

Kalau kecendrungan ini benar, maka timbul pertanyaan sekarang,
apakah peraturan-peraturan yang diinspirasikan oleh hukum agama
seperti rencana pelaksanaan Perda Syariah di beberapa daerah atau UU
Pornografi dan Pornoaksi yang belum lama berselang menjadi subjek
perdebatan nasional itu memang mencerminkan aspirasi dan keinginan
mayoritas rakyat sebenarnya seperti yang di klaim ? Ataukah
mungkin ada alasan politik lainnya?

Sekiranya semua suara dari partai-partai yang berbasiskan
platform keagamaan seperti PKS (5,6 %), PPP (3,6 %), PBR (0,5 %),
PBB (0,5%), PPNU (0,3 %), PDS (0,2 %, kristen) dijumlahkan, maka
angkanya baru mencapai 10,7 % dari keseluruhan jumlah suara.
Artinya gabungan dari partai-partai ini hanya dapat meraih posisi
ke empat terbesar dan masih dibawah Partai Demokrat (16,3 %) yang
sekuler dan merupakan partai ke tiga terbesar.

Diasumsikan bahwa kalau sekiranya PKB yang dianggap berorientasi ke
NU (4,7 %) dan PAN yang berorientasi ke Muhammadiyah (3,4 %)
dijumlahkan juga suaranya dengan partai-partai yang berbasiskan
keagamaan tersebut diatas, angkanya juga masih dibawah hasil
pencapaian suara PDIP (22,6 %) yang sekuler juga, yaitu 18,8%,

Kalau dijumlahkan angka yang diambil dari suara-suara partai yang
berbasiskan non-agama (sekuler) terbesar saja seperti PDIP (22,6
%), Golkar (16,5 %) dan Partai Demokrat (16,3 %), maka jumlahnya
meraih 55,4 % atau separuh lebih dari keseluruhan suara yang
diberikan, ini sudah termasuk juga suara yang belum diputuskan atau
abstain.

Dengan ini sekurang-kurangnya masyarakat dapat mempertimbangkan dan
membedakan, kebijaksanaan atau peraturan mana yang benar-benar
didukung oleh suara terbanyak dengan yang bukan, yang tak jarang
mengatasnamakan suara atau aspirasi suara rakyat terbanyak juga.

Terlalu dini dan spekulatif kalau sekiranya sekarang ingin
memprediksikan hasil pungutan suara pada pemilu 2009 mendatang dari
hasil survei ini, tetapi dengan hasil survei ini, maka masyarakat
mendapatkan sedikit gambaran tentang peta politik nasional dan peta
aspirasi masyarakat.

Salam
G.H.