Sejak setahun terakhir, tempat kerja saya kebanjiran anak-anak muda dari India. Dan tampaknya, para bos-bos di- tempat kerja sangat hangat menyambut kedatangan mereka. Saya dan puluhan pekerja immigrant dari daratan Eropah hanya bisa tersenyum-senyum penuh arti setiap kali para bos dengan sangat ceria mengantar mereka berkeliling ruangan kantor, Memperkenalkan mereka dengan kita-kita….



Acara plant-tour untuk pegawai baru sangat tidak lazim.
Saya, hari pertama datang langsung menghadap line manager
sesuai arahan yang didapat melalui telepon atau e-mail.
Selesai berkenalan, si manager langsung konfirmasi
keahlian yang saya miliki sesuai isi CV, lalu setelah
menunjukkan meja kerja, dia menceritakan "permasalahan"
yang sedang dihadapi kantor....dan dilepas sendirian.

Tapi mereka, Ashok, Kumar, Silvaraj, Raja, Srinivas,
Ameet dan puluhan teman-temannya selalu dalam "lindungan"
para bos. Setiap saat di-emong, tidak dikejar schedule.
Yang diceritakan kepada mereka pun selalu "keunggulan"
yang dimiliki perusahaan....tak ada permasalahan.

Dan ternyata menurut teman-teman TKI senasib saya, mereka
bukan cuma membanjiri Inggris yang bekas induk semangnya,
tapi juga membanjiri daratan Eropah dan Amerika utara.

Sesuai berita-berita koran dan TV, Mata dan telinga Orang-
orang Eropah sekarang sedang tertuju ke India dan China.
Tentu bukan karena disana ada bencana. Tapi karena hampir
semua barang ecek-ecek, industri raksasa, hi-tech sampai
urusan harga emas dunia selalu berbau India dan China.
Orang pinter bilang, sekarang India dan China sedang jadi
raksasa ekonomi....maksudnya negara yang punya banyak duit.

Banjirnya Indian ini, mungkin sama seperti tahun 80-an,
saat Indonesia sedang "dilirik" oleh mata dunia ?, entahlah.
Cuma bedanya, mungkin....Indian bukan cuma berjejalan duduk
dibangku University dan college, tapi mereka juga belajar
ngantor, magang kerja, sampai training menjadi "jobshopper".

Yang mengherankan adalah alasan kedatangan mereka...
Orang India ini semua sedang belajar mempertajam KNOWLEDGE
dari negeri yang sudah tahu arti-nya knowledge, dari Negeri
yang sudah terbukti bisa mengambil BENEFIT dari knowledge.

Belajar KNOWLEDGE ?.

Padahal saya tahu, India sudah punya bom nuklir, punya segala
macam dari otomotif, biotek, nano-tek, roket sampai sateleet.

Konon, KNOWLEDGE bukanlah isi kepala, bukan ingatan, bukan
sekedar "pengetahuan", dan pasti bukan pula "merasa tahu",
dan pasti bukan "sok-tahu" apalagi cuma modal berGAYA.
.
"Knowledge is what benefits."

Seperti Indonesia, India sungguh tidak kekurangan orang pintar,
banyak orang cerdas, keahlian dan pengetahuan serba ada dan
belimpah, tapi kemiskinan pun tetap saja lebih banyak tersedia.

Namun sekarang bangsa India sudah menemukan "KNOWLEDGE"
dan sedang belajar mengartikannya kedalam bentuk BENEFITS
Saat kita orang Indonesia celakanya sudah merasa completed
hanya dengan merasa banyak tahu....malah merasa GAYA.


Konon, "penemuan" tertinggi dari umat manusia bukan relativitas
Einstein, bukan gravitasi Newton, bukan psikoanalisa Freud,
bukan teori evolusi Darwin, bukan Mendel, bukan komputer,
bukan distribusi Pareto, bukan Emanuel Kant, bukan Da Vinci,
bukan pula yang bukan-bukan..... tapi pemahaman ORGANISASI.

Dengan organisasi...
maka semua penemuan-penemuan "besar"
dan juga bahkan setiap "kecerdasan yang kecil"
akan bisa menghasilkan MANFAAT.

Tapi lagi-lagi...celakanya adalah "pemahaman organisasi"
ternyata tidak terkait dengan kecerdasan.
Organisasi berpikir, organisasi bertindak, organisasi bersikap,
organisasi bekerja sama, organisasi rasa, organisasi system....
dan juga "well organized".... kita belum pernah punya.

Mungkin, keterampilan organisasi lebih mirip keterampilan
yang dimiliki TUKANG JAHIT langganan emmak saya di Bandung..

Segala macam harus diukur, tanpa harus jadi budak ukuran.
Selalu siap perubahan rasa enaknya emmak, tanpa perlu ngamuk.
segalanya harus pas, tidak berlebih tidak kekurangan bahan.
Baju yang dijahit malam takbiran, selalu bisa dipake lebaran.

sesungguhnya, Indonesia hanya tinggal memerlukan TUKANG JAHIT
yang bisa menjahit lebih 220 juta potongan-potongan keahlian,
keterampilan dan pengetahuan supaya bisa menjadi MANFAAT.


20070406
DjayaWikarta