4/1/2007 11:31:13 PM
Oleh karena manusia itu boleh kaya dan boleh miskin atau kalau dari sudut agama istilahnya bukan dikatakan boleh akan tetapi menggunakan kata takdir; yang harus diingat adalah saya belum pernah mendengar bahwa agama melarang penganutnya untuk menjadi kaya bahkan sebaliknya juga: menjadi miskin. Islam tidak melarang, demikian juga Kristen dan Budha Kong Hu Cu dan Shinto serta Aliran kepercayaan. Semua tidak melarang umatnya menjadi kaya. Apa kesimpulannya mengenai hal ini? Kesimpulan singkat adalah: menjadi miskin atau kaya amat tergantung dari kemampuan kita menyelia (meberikan supervision, to supervise) kemauan yang ada didalam tubuh kita atau batin kita atau budi pekerti serta dalam dan ketajaman ilmu pengetahuan kita. Kalau begitu, apalagi pasalnya kita membicarakan kaya miskin? Itu semua disebabkan oleh karena ukuran kaya dan miskin itu tidak ada. Apakah anda kalau mempunyai kekayaan satu juta Dollar (Canadian, US atau Hong Kong atau Singapura) bisa dijamin anda akan mengatakan cukup? Kalau anda mengatakan, misalnya anda sudah punya satu juta Hong Kong Dollar, belum cukup, maka anda masih “miskin”. Anda masih miskin dalam pikiran anda, karena hati anda dan mulut anda mengatakan demikian.

Dalam membicarakan hal inilah maka timbul istilah pendapatan sampingan, diluar gaji, yang membuat orang untuk mengejarnya mati-matian.

Dia mengejarnya mati-matian karena kebutuhan yang mendesak. Yang sudah bergaji, kecil atau besar, cukup atau tidak cukup, dia masih ingin pendapatan sampingan diluar gaji tadi, kita singkat saja: PSDG.

Iya lah. Diakui atau tidak, banyak orang, sudah bergaji cukup, bergaji kecil atau bergaji besar, kalau ada PSDG pasti mau di menerimanya. Yang menjadi masalah pokok sekarang PSDG ini sah atau tidak, itu akan mengundang perbedaan pendapat. Mengundang banyak penafsiran sesuai kecerdasan pikiran, sesuai bunyi hati nurani masing-masing.

Contoh-contoh:

  • Saya Pegawai Negeri yang bergaji tidak cukup karena tidak bisa hidup minimum untuk sebulan. Untuk mendapatkan PSDG saya mempunyai barang dagangan yang saya dagangkan diwaktu saya senggang. Dari meja kerja saya, dalam waktu saya selaku pegawai negeri, di dalam kantor saya. Saya melakukan kegiatan saya dalam mengejar PSDG yang sebesar mungkin. Dengan cara seperti ini saya telah melakukan kesalahan, karena saya menggunakan waktu bekerja kantor, dari meja kantor dan ruangan kantor ( yang mendapat imbalan berupa gaji) untuk menjual makanan kecil yang buatan istri saya sendiri. Dengan kesalahan seperti ini maka PSDG saya tidak sah, agama menggunakan istilah tidak halal.

Padahal atasan anda, yang juga pegawai negeri juga mempunyai barang dagangan yang lain, jual beli mobil bekas, misalnya. Itu sama saja, tidah sah dan haram hukumnya kata pak Kyai, hanya karena dilakukan didalam jam serta tempat, dan fasilitas kantor tempat mereka bekerja.

  • Apakah yang dilakukan diatas boleh dilakukan oleh pegawai lain yang bukan pegawai negeri? Juga tidak boleh kalau dia mengharapkan PSDG yang sah dan halal atau berkah. 
  • Sekarang kalau waktu mengerjakannya sesudah jam kerja seorang pegawai gajian seperti pegawai negeri, apakah sah? Ya tetap masih ada syaratnya, yaitu setidaknya tidak dilakukan di lingkup pekerjaannya sebagai pegawai (orang gajian). Jadi bukan waktu saja tetapi juga tempat dan fasilitasnya.

Semua idealisme seperti tersebut diatas, bisakah untuk diterapkan dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang merasa tidak terpaksa? Dengan iklas? Dengan legowo? Jawabnya: Sussssah. Ini kalau di Indonesia. Banyak faktor yang tidak mendukung: gaji kecil, ekonomi menyeluruh jelek dan kesadaran moral tidak seperti diharapkan serta cara pengawasan / kontrol hampir tidak mungkin!

Mari kita ambil contoh lain. Saya menjadi pegawai negeri mempunyai gelar Strata Dua. Pagi bekerja jujur seperti diharapkan oleh semua peraturan dan undang-undang. Selesai waktu bekerja saya meninggalkan lingkungan kerja dan fasilitas kantor, saya pergi mencari PSDG yang jujur. Yang sifatnya lain. Saya mengajar di suatu Universitas sore dan malam hari. Sampai disini semuanya sah, sampai pada suatu pagi saya sedang bekerja di kantor, salah seorang murid saya datang menemui saya di kantor karena keperluan tertentu, yang dia tidak dapat sampaikan pada jam pengajaran di Universitas. Saya seharusnya mengatakan, jangan berurusan dengan saya dalam jam kantor seperti ini. Okay, ini baik.

Tetapi saya tidak tega melihat murid mahasiswa saya yang telah mengusahakan sebatas kemampuannya, karena terpaksa. Kalau saya layani masalahnya, saya telah berdosa kepada kantor saya, apalagi saya sadar bahwa saya digaji disini oleh uang milik rakyat yang hidupnya juga sedang sussssaahhh. Saya tolong dia, PSDG saya tidak terganggu, batin saya sebagai pegawai negeri yang jujur menjadi terganggu. Saya layani mahasiswa ini, berarti saya akan mengundang, mau atau tidak mau, mahasiswa lain yang temannya mahasiswa ini untuk berbuat sama, yang nyata-nyata merepotkan saya.

Begitulah semestinya jalan ceritanya.

Masalah diatas akan menggambarkan bahwa batas yang baik itu seperti selembar bidang papan yang maya, yang amat tipis sekali. Kalau mahasiswa tadi tidak saya tolong, maka saya akan mendapat julukan yang pasti tidak menyenangkan.

Dalam hidup ini siapa mampu bisa bebas mendapatkan PSDG dengan sah seratus persen? Barangkali dan bisa jadi, mari kita amati bersama, tidak ada sepuluh persen dari semua angkatan kerja yang sedang aktip.

Menghadapi perubahan jaman seperti ini banyak rang terutama orang tua seperti saya, terperangah dan terkejut, tidak tahu harus berbuat apa.

Pernah sekitar lima belas tahun yang lalu saya berkata yang tidak menyenangkan kepada teman saya yang pegawai negeri, yang datang menemui saya. Dia bilang, karena dia mengamati kehidupan saya yang cukup materi, bahwa dia kepingin seperti saya. Jawaban saya ketika itu, saya sadari sepenuhnya, adalah pahit seperti berikut: “ Kalau begitu kemauanmu, maka kamu haus keluar jadi pegawai negeri dan masuk dunia swasta seperti saya. Tidak boleh dicampur aduk, supaya kalau tua nanti bisa tidur nyenyak”. Teman saya itu kaget setengah mati. Saya menduga waktu itu dia mengharapkan akan saya beri kesempatan bagi dia untuk ikut usaha saya dan tetap menjadi pegawai negeri. Tetapi jawaban saya tidak bisa lain, apa boleh bikin…… Pasti dalam batin dia mengumpat: “Kok begitu sih Anwari sekarang?” Kalau dia mengatakannya benar seperti itu, saya akan menjawab: “Saya terpaksa dan tidak bisa serta tidak mau berbuat yang sebaliknya! Yang pahit itu belum tentu adalah racun.” Sampai sekarang saya masih berteman kok sama dia, mungkin dia bisa menyerap kata-kata saya. Kalau dia keluar dan ikut usaha saya, sekarang dia tidak akan mendapat pensiun selaku pegawai negeri, karena usaha saya tidak mempunyai system yang menunjang masalah itu. Mungkin sekarang tidurnya nyenyak juga, tetapi saya juga nyenyak, by design. Karena saya design sendiri untuk tidur nyenyak dan ngorok pula !!

Saya dulu juga menjadi pegawai negeri, dan itu berlaku sejak saya menerima bea siswa dari Depernas (Dewan Perancang nasional yang kemudian berubah menjadi Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang tugasnya belajar dan sekolah diluar negeri. Selesai belajar dan diangkat menjadi pegawai negeri di Departemen Perhubungan Laut selama lima tahun; saya minta berhenti padahal jabatan saya adalah Kepala Biro Teknik dan Produksi di sebuah Galangan Kapal milik Pemerintah. Kalau saya mau menyalahgunakan kedudukan saya dan mengejar PSDG, pasti sekarang saya mendapat “imbalan” materi yang besar sekali. Gaji kecil, tetapi kesempatan korupsinya amat besarrr. Godaannya amat besar pula! Sebab pokoknya saya berhenti karena berpikiran dan diingatkan oleh suara hati: Ayahmu dulu masuk penjara empat kali dijaman penjajahan belanda dan Jepang, masa anaknya mau ikut-ikutan menjadi pencuri? Tetapi, ya, tetapi mungkin tidur saya bisa sekali kurang nyenyak. Atau menerima serangan penyakit-penyakit pada hari tua atau anak-anak dan cucu-cucu mempunyai masalah-masalah besar. Alhamdulillah semua itu tidak, saya berbadan sehat walafiat. Umur hampir tujuh puluh tahun. Tidur nyenyak, menulis apa yang saya suka dan menikmati makanan seperti biasa. Diet saya kebanyakan dalam volume (kuantitas) makanan bukan dalam kualitasnya. Ini bukan keluaran yang berupa kesombongan. Tetapi amat saya nikmati sekarang ini. Mungkin anda akan memilih yang sama atau yang lain dari pilihan saya, silakan! Adalah lumrah dan biasa di jaman edan seperti sekarang ini, everybody for himself !!

Seorang pujangga Jawa pernah mengatakan kata-kata yang terkenal dan kira-kira buntinya seperti ini; Pada jaman edan seperti ini, siapa tidak ikut edan akan tidak kebagian. Beruntunglah bagi mereka yang selalu ingat dan waspada. Betulkah sekarang ini jaman edan? Saya sendiri kan mendengarnya sejak saya masih kanak- kanak. Jadi kesimpulannya jaman seperti ini akan terus berkelanjutan. Saya berkesimpulan bahwa masyarakat adil dan makmur itu tidak pernah ada dan tidak akan terjadi dimasa kapanpun. Dimasa lalu sejak saya tinggal di Indonesia itu tidak pernah ada. Sekarang di Kanada, memang banyak hal lebih baik dari di Indonesia, tetapi adil dan makmur? Saat ini mungkin makmur, tetapi adil saya kira masih jauh panggang dari api !!

Bagaimanapun bagi yang masih napasnya sedang panjang pendek mengejar kehidupan disertai dengan iming-iming berupa PSDG, berhati-hatilah. Itu saja.

PSDG diantara orang yang sudah kaya dan bergaji besar itu ada contohnya. Bill Clinton yang sebelum menjadi Presiden sudah menjadi miilionair dengan beberapa juta Dollar Amerika, pernah menjadi Gubernur Arkansas. Menjadi Presiden gajinya sekitar US$200,000.—lebih plus fasilitas dan tunjangan yang lumayan. Dia catat semua kegiatan hidupnya didalam buku hariannya. Begitu selesai menjadi Presiden dia tulis memoire nya. Sebelum terbit saja dia duah menerima uang muka penjualan bukunya dari penerbitnya sebesar 10 juta Dollar.

Setelah bukunya yang berjudul “My Life” yang tebalnya sekitar 1000 halaman ini terbit, dia memberi ceramah.

Dia berkeliling dunia dan dengan hanya dua orang pengawal, mengunjungi banyak negara dan memberikan lebih dari seratus kali speeches dan ceramah lain. Hasilnya terkumpul sekitar duapuluh juta US Dollars. Padahal selama pension dia menerima pension sebagai bekas Presiden, apalagi dua masa jabatan, yang besarnya diatas seratus ribu Dollar setahun. Sekarang istrinya, Hillary Rodham Clinton, sedang berkampanye menjadi pengganti George Walker Bush dan minggu lalu dia mengumpulkan dana kampanye sebesar sekitar dua puluh enam juta USDollar, dalam tempo amat singkat. Mungkin suaminya tidak dirasa perlu untuk membantu finansial bagi upaya istrinya menjadi Presiden. Ini saya golongkan sebagai PSDG karena dia mengerjakan catatan/ketikan pada ketika dia sedang menerima gaji sebagai Presiden, sedang menerima fringe benefitsnya sebagai Presiden. Ingat Presiden adalah orang yang bekerja tanpa jam kerja, jadi dia harus bekerja selama dua puluh empat jam dikurangi waktu tidur dan pingsan serta waktu dia sakit.

Pernahkah anda tanyakan berapa gaji Sri Paus di Vatican? Gaji Sri Paus adalah nol Dollar dan nol Rupiah. Bagaimana mungkin seorang seperti beliau ini, masih memikirkan duniawi karena kedudukannya yang mulia seperti itu kan tidak patut kalau masih memikirkan biaya hidup sehari-harinya.

Negara Vatican adalah negara yang paling kecil diseluruh dunia. Luas tanah resminya adalah 0.44 square kilometre (nol koma empat puluh empat kilometer persegi).

Di area perbatasan dengan Itali, berbagi dengan sebuah area perbatasan dengan daerah yang hanya sekitar luas tanah 3,2 Sq, Km (tiga koma dua kilometer persegi). Sri Paus pun hanya kepala Negara yang memiliki status yang disebut dengan: monarchical-sacerdotal State, dan bukan pulaKepala Pemerintahan. Jabatan ini dipegang oleh seorang Archbishop Angel Cardinal SODANO sejak 1991.

Membaca tulisan saya tentang gaji diatas, menantu saya menulis kembali kepada saya antara lain seperti berikut:

  1. Gaji anggota DPR sekarang 34 juta rupiah sebulan, mungkin setara dengan 4000 CanadianDollar atau setara dengan gaji sehari Chief dari Hydro One).
  2. Yang anehnya bahwa banyak sekali anggota DPR yang mempunyai seorang pengawal atau body guard. Yang paling banyak justru Agung Laksono, sang Ketua, yang mempunyai pengawal sebanyak delapan orang.

Jawaban menantu saya itu karena mendapatkan informasi dari siaran TV beberapa hari yang lalu.

Gaji anggota DPR yang sekian itu, bagi orang Indonesia adalah angka yang besar juga, karena Jusuf Kalla mengaku menerima gaji sekitar empat puluh juta Rupiah. Jusf Kalla ini melakukan perjalanan keluar negeri dengan charter pesawat sekian Milyard Rupiah, mengajak anak dan menantunya, bersama robongannya ke China, dengan jumlah anggota meliputi angka 80 oramg. Perjalanan lanjutan ke Jepang dibatalkan oleh Presiden.

Ini karena kata Presiden negara sedang prihatin. Pembatalan perjalanan ke Jepang tetap mengeluarkan biaya. Lho?

Kita (mewakili rakyat) harus mengganti biaya pembatalan reserve kamar-kamar hotel (di Nagoya?).

Dalam tulisan saya berjudul Gaji ada saya sebut bahwa golongan menengah di Ontario sekarang, bergaji sekitar lebih dari 100.000 Canadian Dollar setahun. Mereka ini berjumlah banyak setelah golongan ini naik jumlahnya dengan significan, sekitar 24 % dari 2005 ke 2006. Didalam golongan ini termasuk Polisi, Guru, Tukang Pipa (Plumber) dan pengemudi kedaraan di TTC (Toronto Transit Commission) yakni pengemudi subway (kereta bawah tanah), bus dan streetcar (tram listrik).

Seorang Premier, sebutan ini setara dengan Gubernur seperti Ontario dan British Columbia mendapat gaji tidak sebesar plumber tadi, demikian juga tidak sebesar Walikota Toronto. Apalagi kalau dibandingkan dengan gaji Hydro One (PLN) Chiefnya yang kalau dibagi 365 (jumlah hari dalam setahun) mungkin akan mecapai angka empat ribu Canadian Dollar sehari .

Boleh saja saya atau anda bertanya didalam hati, orang-orang bergaji tinggi seperti ini, masih maukah mendapat PSDG, kalau datang menggoda, PSDG siapa takuuuuuut?