Sejak rentetan kejadian insiden pesawat terbang di Indonesia — tiba-tiba saja pamor penerbangan di Indonesia jadi sama suramnya dengan prospek karir profesional penari perut penderita diabetes yang sedang hamil 9 bulan. Paranoid massal.

(Tulisan ini dilengkapi dengan komentar Logdong)
 
Seolah-olah lebih gampang mati naik pesawat ketimbang overdosis obat cacing.

Bukan sekadar ingin beda - tapi saya nggak merasa ada alasan cukup
waras buat takut naik pesawat. Andai saja ada angkutan pesawat trayek
Slipi-Semanggi, sejauh harga tiketnya rasional (diukur berdasarkan
km/orang - seperti tarif argo taksi) - saya akan lebih rela naik
pesawat pergi dan pulang kantor ketimbang naik kendaraan apapun. Adam
Air? Garuda? Lion Air? Batavia Air? Bouraq? Monggo.

Belagu? Nggak dong. Karena semua itu pake hitungan. Itu yang
membedakan duduk tenang versus terkencing-kencing di kursi pesawat...

Gimana hitungannya? Sederhana saja, saya pakai data dari Biro Pusat
Statistik yang memuat jumlah penumpang udara dalam negeri di Indonesia
setiap tahunnya. Di buku Statistik Indonesia edisi 2005/2006 ditulis
bahwa jumlah penumpang pesawat reguler berjadwal pada tahun 2004
adalah 22,8 Juta penumpang. Bandingkan dengan angka tahun 2000 yang
cuma 8,6 Juta penumpang. Itu belum memperhitungkan penumpang luar
negeri yang jumlahnya sekitar 5 juta orang. Secara umum volume
angkutan udara dalam negeri di Indonesia tahun 2004 adalah 42,8 Milyar
Kilometer-Orang. OK saya ngalah -- angka penumpang luar negeri kita
abaikan dulu untuk sementara...

Nah sekarang kita bandingkan angka penumpang tadi dengan jumlah korban
tewas akibat kecelakaan pesawat udara. Secara umum tahun 2004 membawa
korban 26 orang, tahun 2005 104 orang (seluruhnya dari kecelakaan
pesawat Mandala yang stall mungkin gara-gara 2,7 ton durian), tahun
2006 12 orang, dan tahun 2007 sejauh ini membawa korban 124 orang.

Andai kita menggunakan angka paling besar 124 orang korban dibagi
dengan angka jumlah penumpang tahun 2004 (yaitu 22,8 Juta orang -
padahal tiap tahun angka ini tumbuh rata-rata di atas 10%) maka kita
akan menemukan sesuatu. Hasilnya? Tingkat fatalitas angkutan udara di
Indonesia adalah: 5,43 per sejuta penumpang -- atau sama dengan
tingkat fatalitas 0,000543%.

Maksudnya? Andaikan anda tiap hari bolak-balik naik pesawat - maka
secara statistik anda baru akan mati karena kecelakaan udara setelah
503 tahun! Lebih lama dari jaman sebelum Jan Pieterszoon Coen mendarat
di Batavia sampai ke ulang tahun ke 100 Mbah Suharto... Pendek kata,
jauh lebih mungkin Angelina Sondakh menang Hadiah Nobel ketimbang anda
mati di pesawat dalam rentang umur manusia normal...

Anda pasti ngeyel dan bilang: si Poltak itu bodoh sekali... masak dia
nggak ikut memperhitungkan jarak tempuh...? Semakin jauh jarak tempuh
pasti semakin beresiko. Anda berjalan ke pagar depan rumah
dibandingkan dengan pergi ke kantor atau ke Nusa Kambangan -- pasti
tingkat resikonya berbeda-beda... (kecuali kalau anda sedang "berumah"
di Nusa Kambangan).

OK... OK.... Kita ikut perhitungkan jarak. Kita membagi angka
fatalitas dengan menggunakan satuan kilometer-penumpang.

Kalau menggunakan angka itu -- maka fatalitas transportasi udara
adalah 2,8 per semilyar km-orang. Gambarannya? Kalau anda naik pesawat
keliling dunia (40 ribu km) setiap bulan (angka di mana Phileas Fogg
jadi kelihatan terlalu udik alias kurang kosmopolitan) -- maka hidup
anda baru berakhir di dalam puing-puing pesawat setelah anda menjajal
naik pesawat dan keliling dunia selama 719 tahun!

Mengerikan? Ya tentu saja -- karena setiap kali melewati Jalan Tol Dr.
Ir. Sedyatmo menuju ke Bandara Sukarno-Hatta dan melihat papan korban
jiwa kecelakaan di dekat pintu tol - lalu membandingkannya dengan
angka fatalitas di atas - kemungkinan anda mati karena kecelakaan lalu
lintas saat menuju bandara - adalah puluhan ribuan kali lebih besar
daripada kemungkinan mati karena kecelakaan pesawat! Mengapa? Jalan
Tol ke Bandara cuma 14,3 kilometer - tetapi sejak awal tahun sampai
kemarin ini sudah makan korban 2 orang tewas...

Anda mau selamat? Sekali anda naik pesawat, jangan pernah turun!
Sekali di udara tetap di udara...!

(dan itu semua angka fatalitas Indonesia -- angka fatalitas negara
yang punya lusinan musuh seperti Amerika masih 10 kali lebih rendah -
sekalipun sudah memperhitungkan peristiwa 9-11)

Alamat permanen blog isi blog ini ada di:
http://hotradero.multiply.com/journal/item/44
 
KOMENTAR Longdong: 
Yang saya harapkan bakal terjadi ialah munculnya "invasi asing" yang
berujung pada pengikisan terhadap elemen-elemen anak bangsa (lokal)
yang bercirikan tiga karakteristik ini: inkompeten, korup, dan tidak
mampu/mau menghargai customer sebagai manusia yang harus dihargai.

Rentetan musibah transportasi publik belakangan ini menggarisbawahi
terpenuhinya ketiga
karakteristik di atas sebagai sangat melekat pada pemilik dan operator
lapangan dari institusi transportasi tsb (udara, laut, darat). Satu
ciri khas karakteristik korup tadi ialah motivasi profit yang
mengalahkan segala-galanya--termasuk dan terutama faktor keselamatan
penumpang. Harga tiket pesawat dipangkas semurah-murahnya tetapi pada
saat yang sama berbagai kerusakan dan kecelakaan pesawat terjadi
secara beruntun. Inikah harga yang harus dibayar dari murahnya harga
tiket?

Bandingkan, misalnya, dengan maskapai Air Asia (Malaysia), yang mampu
menghadirkan harga tiket relatif murah tetapi dengan tetap tidak
mengkompromikan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Armada
pesawatnya pun masih baru dan mulus. Tidak seperti maskapai
lokal/nasional kita, yang usia pesawatnya rata-rata di atas 15 tahun.

O ya, tentu akan ada yang bilang bahwa baru/lamanya pesawat bukan
satu-satunya faktor penentu terjadinya kecelakaan. Betul, tetapi
dengan track-record usia pesawat kita yang rata-rata cukup tua tsb dan
berbagai kasus kecelakaan yang telah terjadi (yang mana [hampir] semua
melibatkan pesawat-pesawat usia di atas 10 tahun), sulit untuk tidak
membuat korelasi kausal antara usia pesawat dengan probabilitas
kecelakaan: semakin tua usia pesawat, semakin besar kemungkinan
beresiko kecelakaan.

Jadi, untuk ke depan tidak terlalu berlebihan jika masyarakat
menyambut kehadiran maskapai asing macam Air Asia sebagai alternatif
kuat terhadap maskapai-maskapai lokal. Semakin banyak maskapai asing
yang mampu menawarkan harga bersaing, semakin bagus. Dengan demikian
kompetisi benar-benar bisa dimulai dengan serius. Dominasi/monopoli
lokal selama ini rupanya telah menghasilkan mentalitas "berleha-leha"
dan "asal-asalan" terhadap prioritas maintenance pesawat, yang
berujung pada terkompromikannya keselamatan penumpang. Kehadiran
elemen asing akan membangunkan elemen-elemen lokal dari sifat
cepat-puasnya (complacency)--sekaligus merontokkan mereka yang tidak
punya kemampuan untuk bersaing.

Demikian juga dengan kehadiran elemen asing di bidang lain. Kehadiran
SPBU asing macam Shell, Caltex, dll, yang diharapkan akan semakin
banyak diharapkan dapat *melibas* SPBU-SPBU milik lokal yang saat ini
berpesta-pora dengan mencurangi customer (dengan cara bensin oplosan,
meteran yang tidak sesuai, dll). Masyarakat kita sudah cukup muak
dengan praktik-praktik korup dan curang dari SPBU-SPBU lokal kita. Dan
sudah saatnya elemen-elemen lokal yang korup ini dilibas saja oleh
kehadiran elemen asing yang jujur dan profesional.

Dalam konteks yang lebih luas, saya memimpikan "invasi asing" yang
lebih ekstensif terhadap segala sendi kehidupan bangsa dan negara RI;
sebab, telah terbukti bahwa pelayanan dan pengayoman yang selama ini
diberikan oleh unsur-unsur lokal (sesama anak bangsa) tidak membawa
kita ke mana-mana kecuali ke jurang self-destruction karena toh
bersifat kanibalistik dan predatorial. Korupsi, inkompetensi, dan
predatorialisme yang selama ini dipertontonkan para pemegang kekuasaan
lokal terhadap sesama anak bangsa (rakyat) Indonesia sungguh lebih
menyakitkan dan memuakkan daripada membayangkan keterjajahan oleh
unsur-unsur asing.

Sudahlah, tidak usah lagi bicara "nasionalisme"--istilah yang semakin
usang, obsolete, dan tidak relevan di dunia yang semakin border-less ini.

Longdong