Ketika membaca headline "2030 RI Capai 5 Besar Dunia" di harian Kompas saya langsung memelototkan mata. Dan karena melihat ada foto Presiden SBY di bawahnya, saya menyangka ini adalah visi baru lagi dari sang dari presiden. Karena itu saya langsung berkata dalam hati, "Sebuah bangsa yang sudah hampir setahun tak kunjung bisa menyelesaikan semburan lumpur, bermimpi mau menjadi 5 besar dunia? Ini ocehan apa lagi?"



Ketika membaca lebih jauh, maka barulah saya faham
bahwa ini adalah visi dari Yayasan Indonesia Forum
yang dimotori oleh konglomerat Anthony Salim, Chairul
Tanjung dsb. Tapi karena sebagai salah seorang (dari
mayoritas) rakyat Indonesia saya sudah pernah (dan
masih) hidup babak belur akibat ulah para konglomerat,
maka (maaf) wajar saja kalau saya langsung menjadi
curiga terhadap setiap move yang mereka lakukan.

Kata saya dalam hati: "Para pengemplang BLBI, anak
emas dari rezim 'trickle down effect' Suharto ini mau
bikin apa lagi? Lalu para ekonom di ISEI, di LIPI dan
di beberapa universitas, yang katanya ikut memotori
Yayasan Indonesia Forum ini, koq belum kapok-kapok
juga sih? Koor mereka tentang 'memperbesar kue ekonomi
dengan ujung tombak memperbesar konglomerasi
perusahaan' di bawah pimpinan Sang Dirigen Suharto
ternyata sumbang dan membuat negara nyaris
bangkrut..."

Tapi ketika membaca tanggapan Presiden SBY saya agak
terhibur juga. Presiden yang santun ini memang tidak
apriori menertawakan mimpi tersebut. Ia hanya
mengatakan, "Mari kita rame-rame bermimpi atau membuat
visi..." (Dan saya berdoa kepada Tuhan moga-moda ia
tidak mengadopsi visi para konglomerat itu menjadi
mimpi atau visinya juga).

Sejak kita tidak lagi mengenal sistem "GBHN" dalam
penyelenggaraan hidup berbangsa dan bernegara, memang
ada sekelompok orang yang merasa bahwa bangsa ini agak
kehilangan arah. Dan karena itu ada suara-suara yang
mengatakan agar kita kembali lagi menerapkan sistem
GBHN.

Saya menentang pemikiran seperti itu. GBHN yang dibuat
oleh sebuah parlemen yang sangat tidak demokratis
adalah juga sebuah visi yang konyol.

Visi sebuah negara dan bangsa sebaiknya dibuat oleh
berbagai unit dan elemen bangsa dan negara itu secara
"rame-rame" dan tak perlu diedit dan dikompilasi oleh
siapa pun. Arah atau visi bersama akan dihasilkan dari
diskusi yang luas dan intens dari visi yang ditawarkan
berbagai unit dan elemen itu sendiri.

AS, Inggeris, Jerman dan banyak negara-negara besar
dan demokratis di dunia ini tak mengenal GBHN. Tapi
sebagai bangsa dan negara mereka tetap memiliki "sense
of direction". Bagaimana hal itu bisa terjadi? Semua
menawarkan visinya (tentang negara dan bangsa dimana
dia berada) dan saling berdiskusi. Presiden Bush punya
visi. Partai Demokrat atau Republik punya visi.
Masing-masing senator (sebagai anggota partai) punya
visi. MIT atau Universitas Harvard sebagai institusi
punya visi. Masing-masing profesor di institusi
tersebut punya visi. NASA punya visi. Astronot dan
insinyur di NASA punya visi. Angkatan Darat punya
visi. Setiap prajurit di dalam matra angkatan tersebut
punya visi. Hasil pertukaran dan diskusi yang
terus-menerus dari berbagai visi itulah yang kemudian
menjadi visi atau arah bangsa.

Saya berharap hal yang sama berlaku di Indonesia.
Disamping Anthony Salim dkk yang bergabung di Yayasan
Indonesia Forum, maka saya juga ingin mendengar apa
visi Muhammadiah, apa visi Din Syamsudin sebagai
anggota Muhammadiah, apa visi NU, apa visi Gus Dur
sebagai anggota NU, apa visi Angkatan Darat, apa visi
Golkar, apa visi Yusuf Kalla, apa visi KADIN, apa visi
Bupati Bantul, apa visi Lurah Cempaka Putih Timur, apa
visi Fauzi Bowo (sebagai calon Gubernur DKI Jakarta),
apa visi HKBP, apa visi PGI, apa visi Akademi Jakarta,
apa visi Goenawan Mohamad (sebagai anggota Akademi
Jakarta), apa visi isteri saya, apa visi tukang ojek
di depan rumah saya tentang bangsa dan negara dimana
ia berada.

Para konglomerat yang bergabung dalam Yayasan
Indonesia Forum telah menyampaikan visinya. Memang,
kalau kita duduk di puncak pencakar langit "Wisma
Metropolitan" atau "Menara Trans-TV", kamar kita
ditutupi karpet yang tebal, dan penyejuk kamar
berfungsi baik (sehingga kita tidak perlu membuka
jas), maka visi kita tentang bangsa dan negara ini
cenderung optimistis.

Tapi visi bupati di Sidoarjo (yang sebagian wilayahnya
ditutupi semburan lumpur yang tak kunjung henti) tentu
akan lain lagi. Demikian juga dengan visi seorang
kepala sekolah SD atau Komandan Koramil di Pulau
Miangas (di ujung Sangir Talaud), visi seorang
mahasiswa perguruan tinggi swasta (yang perguruan
tingginya hanya diberi status terdaftar oleh
Pemerintah), atau visi seorang uztad di sebuah desa di
Sukoharjo.

Ada pun visi saya tentang bangsa dan negara ini
adalah: Saya membayangkan Indonesia yang adil (dan
kalau bisa, ya juga sejahtera). Saya tidak perduli
negara ini mau menjadi kekuatan ekonomi nomor berapa
di dunia. Tapi semua warganya harus bisa memperoleh
makan, pendidikan dan kesehatan yang paling elementer.
Tidak ada korupsi. Tidak perlu ada segelintir orang
yang masuk dalam "Daftar 500" Fortune atau Forbes
kalau masih ada orang yang bunuh diri karena tak
sanggup menyekolahkan anaknya atau membiayai perawatan
isterinya di rumah sakit.

Saya juga membayangkan sungai yang airnya jernih dan
hutan yang hijau. Pada liburan hari raya orang duduk
menggelar tikar dan menyantap makanan yang sederhana
tapi dalam suasana damai di pinggir sungai atau hutan
tersebut. (Bukan hanya melongok-longok sambil menahan
air liur di mall atau supermall yang wuah). Saya juga
membayangkan orang Indonesia yang tidak serta-merta
tercerabut dari akar tradisi dan budayanya, dan bisa
berdamai dengan dirinya..."

Bagaimana visi anda?


Horas,

Mula Harahap