18 Januari, 2005

Stroke adalah suatu keadaan sebagai akibat dari penyakit. Dengan demikian Stroke sendiri bukanlah penyakit. Lebih tepatnya apabila disebut sebagai muara dari penyakit-penyakit. Penyakit yang menjadi penyebab paling utama yang mengakibatkan stroke adalah tekanan darah tinggi dan juga cholesterol. Tentu dapat juga terjadi karena disebabkan penyakit lain seperti diabetes atau karena benturan dan cedera dikepala.

 Stroke adalah serangan mendadak pada bagian otak yang merusak sel-2 otak sehingga mengganggu fungsi memerintah dari otak ke seluruh atau sebagian tubuh kita. Otaklah yang memerintahkan segala bentuk dan jenis gerak dan segala fungsi alat sensor didalam tubuh melalui jaringan urat syaraf. Aliran darah yang menjadi terhambat alirannya disebut ischemic (clogging/menjadi buntu/menyumbat) pada sebagian atau keseluruhan pembuluh. Pembuluh darah yang clogging tidak dapat mengalirkan darah ke otak. Dan pembuluh darah yang hemorrhage (pecah) menyebabkan aliran darah keluar dari salurannya dan mengalir langsung menggenangi otak sehingga akan merusak (sebagian kecil atau lebih besar) sel-sel otak. Apabila otak gagal memberi perintah atau gagal mengontrol bagian tubuh yang dimaksud, misalnya kaki, maka mungkin sekali kaki ini akan lumpuh. Lumpuh ini bisa sementara, tergatung penanganannya pada jam-jam pertama serangan ke otak terasa. Masa penanganan yang dalam kurun waktu tiga jam ini disebut The Golden Period. Apabila serangan dapat diketahui lebih dini dan penderita dapat ditangani oleh para ahli dalam kurun waktu tiga jam, maka kerusakan lebih mungkin bisa dicegah. Dalam tiga jam sebaiknya penderita sudah ditangani dokter ahli syaraf dan lebih baik lagi kalau sudah dilakukan scan (pengideraan) dengan alat yang terkenal dengan nama CT Scan (Computerized Tomographic Images) Scan.

Hasil scan ini cukup bagi dokter spesialis syaraf untuk meneliti bagian otak mana yang mengalami pendarahan atau bagian saluran darah yang mana yang buntu sebagian ataukah seluruhnya. Dengan analisanya kepada sipenderita akan dapat diberikan tindakan medis yang sesuai.

Inilah pertolongan pertama yang sekarang paling mungkin bagi penderita gangguan tekanan darah tinggi atau kolesterol. Kalau seseorang sudah mengalami gangguan tekanan darah yang tinggi, sebaiknya dengan rajin memantau tekanan darahnya sendiri secara teratur. Sebaiknya memiliki alat sendiri untuk memantau tekanan darah tersebut. Demikian juga halnya bagi siapapun yang kadar cholesterolnya tidak seimbang. Ukuran kolesterol saat ini menuruti tiga bagian yakni: 

  • Total Cholesterol batasnya 0(nol) sampai dengan 200 miligram per desi liter
  • Triglyseride ———————————idem ditto—————————-
  • HDL (High Density Lipoprotein) batasnya 30 s/d 65 mg per dl
  • LDL (Low Density Lipoprotein) batasnya 100 s/d 130 mg per dl

Tekanan darah terdiri dari systolic dan diastolic. Tekanan darah seorang diatas umur lima puluh sebaiknya systolic sekitar 120 atau 130 dan diastolic 80 atau 90. Kalau Systolic mencapai angka 160 sebaiknya berhati-hati karena sudah dapat dikategorikan lampu kuning dan 180 lampu merah. Kalau sebelum lampu merah, masih mudah upaya menurunkannya dengan jalan mengontrol makanan yang dikonsumsi. Diatas 180 mungkin sekali sudah diperlukan pertolongan dokter yang akan menasihati masalah pola makan dan mungkin memberikan obat. Memang banyak orang yang sudah mencapai systolic yang lebih dari 200 tetapi masih dapat bekerja normal, akan tetapi dia sudah melampaui lampu merah, dan risikonya lumayan tinggi untuk cedera. Kalau cedera di pembuluh darah di otak, maka risiko stroke sudah amat rentan. Stroke ini penyembuhannya sampai saat ini belum diketahui yang sembuh seratus persen. Paling tinggi adalah 90% sembuh, mungkin dapat menolong dirinya sendiri dalam beraktivitas sehari-hari.

( PERINGATAN BAGI SIAPA SAJA: Ada yang disebut dengan istilah TIA – Transient Ischemic Attack. Ini adalah stroke ringan dan akan sembuh dalam 24 jam seperti orang yang tidak sakit. Agar tidak sembrono karena stroke akan tetap berulang, dan tiba-tiba datang !!! )

Saya pernah menanggapi seruan seseorang yang menyebarkannya di internet melalui email-email dan sempat menyebar kemana-mana. Sebelumnya memang sudah pernah menyebar dari mulut ke mulut sejak sepuluhan tahun yang lampau. Yang disebar luaskan adalah beberapa nasihat untuk menangani orang yang mengalami gejala stroke. Nasihat yang dianjurkan oleh isi email adalah antara lain:  * Sisakit yang jatuh biarkan dalam posisinya seperti saat dia terjatuh. Ini bertentangan dengan nasihat dokter yang biasa menangani stroke. Dokter mengatakan dan menganjurkan agar sipenderita dibaringkan, bagian belakang leher ditaruh diatas bantal sehingga merasa enak dan nyaman dan miringkan kepalanya kekiri ataupun kekanan, agar kalau muntah tidak tertahan.

            * Tusuk semua ujung jari dengan jarum sehingga darah mengalir keluar dan akan menyembuhkan keadaan stroke. Ini saya kira barangkali hanya bisa dilakukan kalau kejadiannya ditengah hutan belantara atau ditengah lautan atau sedang diatas pesawat udara, dimana diketiga tempat tersebut kebetulan tidak ada tenaga medis termasuk dokter yang paham mengenai stroke. Saya memaklumi apabila dilakukan karena sebagai aksi yang berbentuk panik dan suasana keputus-asaan. Jadi tindakan ini adalah tindakan yang mempunyai risiko tinggi dan membahayakan nyawa bagi orang yang sedang mengalami serangan di otaknya. Tindakan ini tidak dianjurkan sama sekali.

Mengerjakan kedua anjuran tersebut sudah mengurangi waktu yang disebut sebagai The Golden Period tersebut. Kerusakan lebih berat akan pasti terjadi. Yang mestinya tidak mengalami kelumpuhan berat mungkin sekali akan mengalaminya.

Bagi yang menemukan seseorang yang sedang terkena keadaan gejala stroke, anjurannya yang benar adalah: bawalah sipenderita kerumah sakit terdekat, segera, terutama yang memiliki alat C T Scan yang masih bisa aktip beroperasi. Nah nasihat bagi sipenderita tekanan darah tinggi yang akut (acute), punyailah informasi lengkap mengenai rumah sakit seperti dimaksud, catatlah nama dokter syaraf yang dikenal.

Jangan lupa nomor- nomor teleponnya masing-masing. Kalau bisa janganlah tinggal terlalu jauh dari lokasi rumah sakit yang memenuhi syarat tadi.

Keadaan Stroke ini juga bisa tidak permanent. Orang yang telah mengalami serangan stroke ini dan mungkin mencapai peringkat kesembuhan, disebut IPS singkatan dari Insan Pasca Stroke. Kondisi mereka ada yang 80% sudah bisa berjalan tertatih-tatih dan kalau syaraf bicaranya juga kena serangan, maka bicaranya juga agak cadel atau sengau. Agar selalu diingat bahwa stroke bisa diatasi sampai peringkat 90% yang bicaranya bisa dimengerti dan mungkin sudah pandai mengemudikan mobil sendiri. Satu hal lagi mungkin harus diantisipasi selama-lamanya: STROKE BISA BERULANG. Gus Dur sudah beberapa kali kena brain attack. Akibat yang amat tidak dikehendaki adalah adanya perubahan sikap dan perilaku (change of behaviour) dari yang bersangkutan. Dari yang biasa saja bisa menjadi pemarah atau berkelakuan aneh.

Kondisi yang diakui sebagai sembuh 100% belum diketahui sampai saat ini. Tetapi kalau memang ada yang 100% itu hanya keadaan strokenya, penyakitnya sendiri tetap harus diobati. Banyak dokter yang menasihati pasiennya agar menjaga kondisi terbaik pulihnya, dengan hati-hati. Jangan membiarkan kondisi 85% turun menjadi 70%, karena untuk kembali mencapai 85% itu akan memakan waktu yang lama dan memakan upaya yang luar biasa. Akibat upaya-upaya menaikkan peringkat kesembuhan ini tidak saja terjadi kepada sipenderita tetapi akan dialami oleh semua anggota keluarganya dan teman-teman akrabnya. Waktu terbuang sia-sia dan uang segudangpun tidak akan menolong. Karena itu segala ceramah mengenai darah tinggi, cholesterol yang tidak balanced, tentang hidup sehat dan sebagainya wajib diikuti bukan oleh IPS saja akan tetapi justru oleh keluarga terdekat (istri dan anak-anak) atau orang-orang terdekat dengan IPS. Seorang IPS juga bisa menjadi over sensitive apabila dibandingkan dengan sebelum kena serangan. Kalau tertawa terbahak-bahak dan kalau menangis sedih, amat susah menghentikan tawanya maupun tangisnya.

Bisa juga karena tidak siap mental dan kurangnya kemauan untuk sembuh, justru akan menyembunyikan dirinya seakan-akan masuk ke gua yang paling dalam. Dia mengurangi bergaul dan tidak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk famili dekatnya. Dia menjadi manja dan tidak mau melakukan olah raga yang dianjurkan para physiotherapist. Ini semua menjadikan peringkat penderitaannya akan memburuk.

Disitulah peran orang terdekatnya menjadi amat besar sekali.

Stroke adalah hal yang baru disadari masyarakat dunia belum lama, belum dua puluh tahunan.

Pada jaman kakek saya dulu, stroke ini namanya lumpuh. Titik.

Menyerah nasib saja. Titik.

Tidak semua dokter dapat menangani keadaan ini dengan sigap dan cukup tanggap. Mungkin perlu diceritakan adanya seorang dokter pernah menganggap pasiennya yang mengalami gejala stroke disuruh pulang saja karena dokternya tidak bisa mendeteksi, atau karena “malas” (?) atau masih belum paham masalah stroke atau karena pasiennya kelihatan tidak mampu secara financial. Saya tidak prejudice atau berburuk sangka, tetapi ini saya dengar sendiri dari seorang IPS. Dan IPS telah harus menderita stroke sepanjang sisa umurnya. Didunia ini masih ada raja-raja tega seperti ini. Marilah kita waspada; agar diingat yang sudah waspada saja belum berarti akan bebas dari serangan mendadak yang berakibat stroke. Risiko harus kita tekan serendah mungkin, akan tetapi akibat upaya kita yang kuat untuk mengurangi risiko, akan dapat mengakibatkan stress, yang tinggi juga riskonya.

Perlakuan masyarakat yang tidak mengerti juga menjadi factor, sebagaimana dialami seorang IPS dari Club Stroke Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo. Dia seorang sarjana ITB dan sudah bertahun-tahun menjadi IPS. Sebagai anggota Club Stroke RSCM, dia pergi ke RSCM pagi sekali agar mendapat tempat parkir diarea parkir khusus untuk penderita cacat. Tetapi apa dikata? Tempat inipun kadang-kadang dipakai oleh orang yang tidak cacat badan. Dia sudah mengenakan kaos yang ada tulisannya Club Stroke dengan huruf besar, tetapi dia mengalami seperti dibawah ini.

Dia, IPS ini, mau masuk kedalam lift dia harus berdesak-desakan dan tidak diperdulikan oleh orang-orang yang non cacat lain, yang kebetulan masih dikaruniai Allah SWT dengan badan yang sehat.

Anda tahu bagaimana perlakuan masyarakat di Negara lain yang sudah lebih “beradab” ? Di kebanyakan Negara lain, semua orang cacat physic didahulukan, bagi yang duduk diatas korsi roda disediakan ramp-ramp khusus.

Pernah saya melihat teman saya yang sudah hampir empat puluh tahunan menggunakan korsi roda melakukan “protes” kecil di Hotel Arya Duta karena tidak adanya ramp tadi. Malah saya mendengar dia mengatakan sudah pernah menulis surat kepada Management Hotel, tanpa memperoleh tanggapan apa-apa. Karena itu marilah kita bangun sikap mental yang prima untuk memperlakukan sesama manusia dengan manusiawi dan juga memperlakukan semua mahluk dengan lebih baik Tidak cukup semboyan yang muluk-muluk tanpa memperdulikan alam sekeliling kita. Indonesia yang sudah menganut Pancasila, taat beragama, terkenal dengan senyum manisnya, selalu tertawa, bangsa yang periang dan segala macam yang bagus-bagus. Mau menyandang predikat-predikat tersebut tetapi sopan santunnya rendah sekali. Padahal kita sudah hampir enampuluh tahun merdeka dan berdaulat.