Senin, 16 Januari 2006  19:13:09

Saya sudah biasa dibingungkan atau dibuat bingung oleh politikus dan ekonom. Bahasa mereka tidak beda jauh dengan bahasa para dokter dan para kyai yang "agak" terpelajar. Kyai ini kalau menerangkan kepada para santri pelajar atau hadirin umum selalu memperlihatkan kepandaiannya dalam bahasa Arab di Al Quran, jadi bukan bahasa Arab sehari-hari. Yang saya masalahkan adalah para santri pelajar dan hadirin umum itu tidak semuanya, malah kemungkinan sebagian besar tidak mempunyai pengetahuan bahasa Arab sehari-hari sekalipun. Jadi sebenarnya pak kyai itu tidak mengenal hadirin yang ada dihadapannya. Akibat komunikasinya hanyalah berupa angguk-anggukan kepala sambil memejamkan mata. Mereka takut kelihatan sinar matanya yang mencerminkan ke-tidak-mengerti-an nya mengenai apa yang telah di-kuliah-kan oleh sang Kyai. Pokoknya berada disitu sudah merupakan suatu kehormatan tersendiri dan apalagi berhadapan dengan kyai kondang yang terkenal pintar. Itu bidang agama!

 

Bukankah sama saja kalau dokter mengatakan: Saudara menderita kelainan dalam darah. Dan dokter mulai menyebut haemoglobin, arteri, dan istilah-istilah kedokteran yang biasanya dari bahasa Latin. Perduli amat apakah pasiennya mengerti atau tidak, yang penting kepada si pasien bisa diberitahukan bahwa penyakitnya akan membutuhkan perawatan dan obat anu-anu (mulailah lagi bahasa Latin). Makin takut si Pasien maka makin gagahlah sang Dokter dan mulailah dia menulis resep. Tahu kan tulisan dokter? T i d a k g a m p a n g dibaca oleh mata awam seperti mata saya atau sang Pasien tersebut.

Alangkah terkejutnya istri saya pada suatu kali, ketika sang Apotheker langsung menelepon dokter penulis resep dan menanyakan apa yang dimaksudkan dengan apa yang tertulis didalam resep yang sedang dipegangnya. Saya sendiri berharap dengan sangat semoga Apotheker mendapat jawaban yang jelas dan dimengerti olehnya sehingga obatnya tidak salah nama dan ukuran dosisnya. Akhirnya saya menyalahkan komunikasi yang tidak jelas hanya karena bahasa Arab dan tulisan resep dokter.

Ada sedikit yang perlu saya kutip dari internet:

Tulisan dokter akan lebih mudah dibaca kalau dia menulis kuitansi

 

Bahasa Arab dan bahasa dokter itu sudah membingungkan apalagi bahasa politikus dan bahasa ekonom. Kalau para anggota DPR itu tidak sedang reses, saya tentu saja tidak bisa mengerti mengapa kursi ruang sidang pada waktu sidang sedang aktif berlangsung, banyak yang kosong. Padahal sidang sedang membicarakan kenaikan gaji mereka yang akan dirapel (berlaku surut) sekian bulan. Bagaimana dengan masalah quota pungutan suara kalau ruang sidang kosong?? Tapi ajaib sekali kenaikan gaji disetujui.

Saya terpaksa tidak tertawa kali ini.

Saya muak sekali, mohon maaf karena saya mengungkapkan perasaan tanpa menggunakan kata-kata bersayap. Kata bersayap adalah senjata ampuh para politikus dan birokrat. Contohnya ?? Saya ingin menunjuk penggunaan kata-kata: keamanan yang kondusif, rakyat sekarang sudah cerdas, atau rakyat kurang cerdas dalam menangkap maksud baik Pemerintah. He. He. Siapa yang harus cerdas sebenarnya?

Saya pernah sentuju gaji Eksekutip dan Legislatip itu tinggi, mengingat beban dan tanggung jawab mereka besar. Waktu pemerintahan Gus Dur dan Mega saya pernah berkhayal agar mereka bergaji sekitar tiga ratus juta atau lebih. Kalau tigaratus enampuluh lima juta maka berarti satu juta satu hari. Gunakanlah gaji lebih itu untuk membayar para pembantu yang amat mereka perlukan. Toh gaji awal sdr. Wimar Witoelar selaku Public Relation Man nya Gus Dur hanya dua juta Rupiah saja? Hal ini ditulis oleh sdr. Wimar sendiri dalam bukunya mengenang masa dimana dia membantu Gus Dur!

Para ahli yang mereka perlukan misalnya ahli hubungan masyarakat, ahli Information Technology (I.T.), Ahli Bahasa dan ahli apapun sepanjang membuat mereka "kelihatan" cerdas !! Setidaknya ada back up dari para ahli tersebut. Kalau tidak kelihatan cerdas atau malah benar-benar tidak cerdas sebaiknya ya mengundurkan diri saja, sebelum dimundurkan.

Tidak penting apa mereka ini memang cerdas atau memang tidak cerdas. Yang penting "kelihatan" begitu kan? Bukankah acting itu menempati sebagian besar seperti yang diperankan oleh para politikus dan para "pemimpin"? Ingat Fidel Castro dengan baju revolusionernya dan cerutunya? Presiden John Fitzgerald Kennedy dan Bill Clinton dengan tata rias rambutnya? Bukankah gaji Presiden Amerika Serikat adalah 300 ribu Dollar lebih?? Berapa itu? Ya, uang sekarang sekitar tiga milyard Rupiah setahun? Katanya sih gaji Presiden tertinggi adalah Singapura yakni sekitar 750 ribu Dollar Amerika setahun?! 

Ekonomi selalu dikendalikan orang yang tidak sadar bahwa segala "kebijakan ekonomi" tidak akan kelihatan effect jeleknya sampai beberapa bulan bahkan tahun kemudian. Kalau jelek mereka mengatakan bahwa politik dan keamanan tidak kondusif. Politikus tidak menerima keadaan kacau itu karena ulah dan kelakuan mereka sendiri, tetapi menyalahkan ekonomi yang tidak kondusif!

Saya sendiri pada tahun 1991 pernah membuat kurva awam yang memantau fluktuasi harga emas dan harga US Dollar. Ternyata dalam kurun waktu 10 tahun kebanyakan ditempati oleh kurva yang selalu berpotongan. Kurva menunjukkan gerakan berlawanan dari gerak fluktuasi kedua komoditi tersebut. Itu bukti bahwa pergerakan yang amat klasik dari pasar. Saat ini, malam ini tanggal 16 Januari 2006 harga emas (ini biasanya adalah yang kadarnya sembilan puluh sembilan dan empat angka sembilan dibelakang koma – 99.9999 – dalam persen) adalah US$ 561.5 per troy ounce. [ 1 troy ounce adalah 31,103 gram ] . Padahal harga emas pada dua minggu sebelumnya yakni pada tanggal 1 Januari 2006 adalah sekitar US$505 per troy ounce.

Kenaikan lebih dari sepuluh persen untuk kurun waktu dua minggu lamanya. Pernah terjadi pada akhir tahun 1980-an. harga tertinggi emas pernah mencapai US$800 lebih, harga tertinggi selama beberapa belas tahun terakhir. Sudah agak lama sekitar satu tahun ini para pelaku tambang emas dan mineral pengikutnya memberikan prediksi bahwa kenaikan harga emas akan mencapai sekitar US$1000,–. Kalau kita kembali kepada yang saya katakan mengenai kurva saya sebagai orang awam, benar USDollar sedang menurun nilainya, karena harga emas naik luar biasa (ataukah sebaliknya?). Tetapi yang digembar-gemborkan dikoran adalah Rupiah menguat. Kalau saya bingung lagi, mengingat saya bukan ekonom, tentu dapat dimaklumi, kan?

Saya ingat pada akhir abad yang lalu pada tahun 1997 – 1998 harga USDollar dibanding dengan Canadian Dollar adalah 1 : 2. Apa yang terjadi pada hari ini adalah perbandingan harga USDollar : Canadian Dollar adalah 1.1 : 1. Memang saya tidak tahu apakah Canadian Dollar yang naik harganya (menguat) ataukah karena USDollar yang melemah. USDollar saat ini melemah secara Global, ini berarti amat baik bagi Amerika Serikat, karena Amerika akan dapat menjual barang-barangnya dengan lebih leluasa. Tetapi dengan "menguat"nya Rupiah, apa yang terjadi?

Harga BBM dan beras tinggi sekali bagi daya beli rakyat kecil yang hampir punah. Saya dengar dari pembantu Rumah Tangga yang bekerja dirumah saya dan pembantu di rumah tetangga saya, kalau sekarang belanja di Cianjur ataukah di Bumiayu, baik beras dan sayur mayur termasuk cabai, terbukti lebih mahal dari yang dijual di Jakarta. Sekali lagi, Rupiah menguat, apa untungnya???

Saya terpaksa muak lagi mengingat kita telah pernah melalui DEKON (Deklarasi Ekonomi), Paket Oktober dan lain-lain termasuk Ekonomi Pancasila dan sebagainya dan sebagainya ……… .

Bahasa yang lugas amat dibutuhkan sekarang, saat ini!

Supaya rakyat tidak lagi dikatakan sebagai tidak cerdas dalam ……. wah …