Setelah menunggu lima jam terkantuk-kantuk karena harus transit di bandara Abu Dhabi, akhirnya saya bisa ikut masuk barisan. Terselip sendirian diantara antrianpanjang kaum perempuan selalu saja menyenangkan.


Tidak seperti saat antri pergi dari Sukarno-Hatta, atau
queing di Gatwick yang sunyi dari suara percakapan.
Antri di Abu Dhabi betu-betul meriah. Semua perempuan
dalam barisan tidak pernah kehilangan percakapan. Akumulasi
suara ratusan percakapan bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa
secara simultan hanya menghasilkan satu bunyi...dengung.

Sangat mengagumkan, perempuan-perempuan muda ini masih
bisa mendengarkan lawan bicara dan sekaligus menanggapinya.
Dan daya pilah frequensi suara mereka sangat luar biasa,
mereka bisa mengenali frekuensi suara bisikan teman bicara
diantara kebisingan yang memenuhi lorong antrian.

Walhasil, selama masa antrian dan boarding, saya tidak
bisa memetik satu-pun cerita. Padahal mereka kelihatannya
sangat ceria, bersemangat dan berbinar-binar bercerita.
Dan cerita-cerita minor tentang TKWI sepertinya mustahil
terjadi. Saya tidak melihat muka mereka ada yang sedih.

Abu Dhabi untuk mereka selalu identik dengan KOLEGA BARU
dan INFO PELUANG terbaru. TKWI segala penjuru rendevous disana.

Layaknya LAPANG GOLF untuk anggota DPR, Pejabat dan Pengusaha.
Yang berdiskusi merundingkan cara MENGOSONGKAN duit negara.

Sementara di Abu Dhabi, para perempuan itu "berseloroh"
untuk bisa lebih banyak dan langgeng NAMBAH devisa negara.

Saya seperti biasa memilih kursi aisle rada dibelakang,
supaya gampang kalau mau ke WC. Sejauh mata memandang
kedepan, kebelakang dan kesamping.....semua perempuan.
Dikursi tengah namanya Dedah, di kursi window...Ida.

Pesawat Boeing 777 yang hampir penuh oleh perempuan pun
merangkak ke angkasa dengan ringan dan hening....
Namun ke-hening-an hanya dirasakan a couple of minutes,
dan keriuhan celoteh pun kembali kumat seperti tadi.

Untung saja, akustik kabin pesawat tidak seburuk bandara.
Disini kita bisa menangkap semua percakapan dan obrolan.
Lalu-litas percakapan sekarang lebih sporadis dan riuh.
Lawan bicara bukan cuma orang yang duduk disamping, Ida
yang duduk di jendala kanan, dengan asyiknya ngobrol
dan ngegosipin majikannya dengan Ningsih di jendela kiri.

Juga Titin di kursi ekor yang nyender ke aft bulkhead
pesawat dengan leluasanya mendiskusikan suaminya yang
nganggur dengan Romlah di kusi tengah didaerah sayap.

lama sekali saya menunggu kesempatan untuk bisa mendapat
kesempatan bicara dengan Ida, yang tampaknya sudah senior
dalam pengetahuan "handling majikan" di arab...
Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika waktu makan,
saat yang terdengar hanya deru mesin jet dan suara-suara
kecipak mulut mengunyah.

Ida, ternyata berusia "sudah tua dua-enam tahun", katanya.
pengalaman "baru delapan lebih setengah" tambahnya pula.

"Dulu saya pernah di Kuwait, tapi jahat-jahat, terus saya
pindah ke Doha, sekarang saya di Riyadh....alhamdulillah
yang sekarang mah ....baik-baik", mulut Ida senyum
menunjukkan sisa daging ayam tika masala di-gigi-nya....

"Lho...koq, Kuwait jahat-jahat bagaimana, kan yang jahat
mah agen-agen yang suka meres dan nilep upah ?, saya coba
diskusi dengan modal pengetahuan berita koran Indonesia.

"Kalau agen-nya jahat mah atuh gimana...?" Ida malah nanya
sambil matanya fokus kearah garpu stainless mengkilat.

Lalu ....sambil memasukkan garpu kedalam saku jaketnya....

"Iya betul jahat-jahat...kan biasanya mah paling dua atau
sampai enam bulan nggak dapat upah...teman saya malah
sampai pulang dua tahun nggak dapat juga upah-nya", panjang
lebar Ida cerita tentang banyaknya "kejahatan". Tapi
berita HOT yang saya tunggu-tunggu tidak juga keluar...
Berita hot tabloid, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan.

Waktu saya pancing-pancing bahwa ada TKWI yang disiksa...
malah Ida melongo....malah

"O..ya...terus UPAH-nya dikasih ?", Ida nanya tanpa berkedip.

Rupanya, untuk Ida dan teman-teman-nya dan mungkin juga saya...
Ada yang lebih penting dari SIKSAAN....atau kematian.


20061212
DjayaWikarta