Anak perempuan teman saya pengen banget nanti jadi LAWYER, untuk itu harus jadi sarjana hukum dulu. Sekarang dia sedang menempuh A-Level, semacam matrikulasi university atau mirip-mirip bimbingan belajar ….tapi koq ada ujiannya ?, entahlah.



Bolak-balik dia konsul sama guru-nya, minta pengarahan.
Bolak-balik juga guru-nya yang penuh perhatian dan dengan
bijaksana menyarankan agar memilih bidang lain saja...

"Matematika kamu tidak cukup bagus" katanya.

Si anak (dan ibunya) bandel, cari konsultan lain,
sampai coba test psikologi...ke-dukun belum.
Hasilnya...tetap saja tidak disarankan jadi Lawyer.
Karena katanya, "si Anak kurang minat matematika..".

Aneh....apa hubungan-nya hukum dengan matematika ?.

Akhirnya, minta saran sama saya....saya tahu fakultas
Hukum di Indonesia termasuk jalur IPS yang non matematik
dan nyaris un-logik.
Tapi penjelasan saya blass tidak nyambung dengan kondisi
yang ada disini.

Maka, kita rame-rame menanggap guru-konsul pendidikan...
mendengarkan panjang lebar dia cerita tentang jurusan
kuliah tingkat Bachelor degeree di PT United Kingdom.
Si guru-konsul akhirnya ngasih jalan keluar....

"Kamu kuliah Hukum tanpa matematika dulu di Indonesia
setelah lulus....nanti pasti kamu bisa kuliah hukum
disini tapi level Master...
Banyak jalan menuju Roma koq"....katanya.

Memang banyak cara untuk menjadi ahli hukum....

Tapi, yang tetap ng'ganjel...koq ahli hukum harus pandai
matematika, harus cerdas memainkan logika segala rupa ?.

Sepengetahuan saya,
untuk menjadi ahli hukum Indonesia mah...
cukup kerongkongan kita tetap basah,
agar tidak cepat serak karena setiap saat buka mulut.

kalau pun kerongkongan kering....
tapi yang lain-lain pasti akan selalu basah...

Aneh memang.


DjayaWikarta