Jelas saja orang Jerman mulai dari rakyat biasa sampai menteri lingkungan hidup menolak seruan Uni Eropa agar kecepatan di autobahn dibatasi. Seruan itu demi menghindari efek rumah kaca. Menteri lingkungan hidup mengatakan: "Jangan kami dikuliahi cara yang baik untuk melindungi cuaca". Bahkan sampai2 jubir kementrian transportasi berbohong:"Paling banter kalau mobil kita kendarai dengan kecepatan konstan 100 km/jam emisi gas CO2 hanya berkurang 0.6%". Yang benar adalah 10% (angka US Dept of Energy).

http://news.yahoo.com/s/ap/20070311/ap_on_re_eu/germany_speed_limits


Memang orang Jerman mencintai kecepatan berkendara.
Kenyataan itu saya ketahui sejak mula pertama saya
menjelajahi jalan raya super cepat autobahn. Bulan
Maret tahun 1983 saya bersama istri dan anak perempuan
berumur 7 tahun masuk Jerman dari kota perbatasan
Belanda di Arnhem. Kota yang saya tuju adalah Munchen
di Bavaria bagian selatan Jerman. Kota2 yang saya
lintasi hanya berupa papan nama saja (Dusseldorf,
Koln, Frankfurt, Stuttgart) karena autobahn lewat
diatasnya. Mulai dari Dusseldorf matahari sudah
tenggelam tetapi jalan raya terang benderang.

Ada benarnya menyamakan autobahn dengan jalan toll di
pulau Jawa. Bedanya autobahn sambung menyambung, ruas
jalannya panjang sekali dan GRATIS. Lajur untuk satu
mobil lebar sekali. Sekalipun dengan kecepatan tetap
120 km/jam, saya terpaksa berkendara di lajur paling
kanan yaitu lajur untuk kendaraan lambat. Sekali
waktu dengan kecepatan seperti itu, saya pindah lajur
lebih kiri, eh, tiba2 dari arah samping kiri muncul
mobil polizei dengan lampu atas kelap-kelip melalui
sebuah loudspeaker menyuruh saya kembali ke lajur
semula. Dasar orang kampung pikir saya, di autobahn
rupanya dilarang berjalan lambat.

Kendati begitu ada rasa aman berkendara di autobahn.
Permukaan jalannya mantap tetapi tidak licin. Kelokan
dikurangi, sekalipun melintas gunung dan menyeberangi
sungai jalan terasa tidak naik-turun. Menembus bukit
dibuat terowongan yang sama lebarnya dan terang
benderang siang-malam. Kalau ingin exit, dari jauh
sudah ada tanda sampai dua tiga kali dengan sangat
jelas. Boleh dikata mustahil tersesat di autobahn.
Sekalipun secara umum tidak ada batas kecepatan di
autobahn, di ruas2 tertentu terpampang jelas batas
kecepatan. Tapi lebih banyak ruas jalan dimana mobil
mak wwzzzz sebentar lenyap dari pandangan mata. Jelas
kecepatan mereka diatas 190 km/jam.

Jangan harap ada mobil lain yang tailgate dibelakang
Anda dengan gaya mengancam seperti yang sering terjadi
di jalan toll Jakarta-Ciawi. Juga tidak ada yang
menyalib dari sisi terlarang (dalam hal ini dari
kanan). Apalagi menyalib menggunakan bahu jalan.
Selain perbuatan hina-dina, dendanya membikin kita
bokek.

Tiap berapa belas kilometer ada tanda exit menuju
restoran, pompa bensin, atau tempat istirahat yang
rindang, asri dan w.c.nya bersih. Atau kalau Anda
ingin istirahat, tunggu exit yang ada tulisan
'Rasthaus'. Penginapan begini kamarnya bersih.
Disitu dengan membayar $10 (waktu itu) Anda bisa
beristirahat menunggu pagi hari, termasuk sarapan
sederhana plus minum kopi.

Sekalipun pengendara mengendarai mobil dengan
kecepatan gila2an, konon di autobahn sangat jarang
terjadi suatu kecelakaan. Ini dimungkinkan oleh
disiplin pengendara. Heran, padahal dijalan banyak
gast arbeiter dari Turki dan Yugoslavia yang
dinegaranya sendiri suka melanggar aturan.

Salam,
RM