Tag

 Sudahkah anda berkunjung ke Musium 'MULTATULI' ?  Pertanyaanku ini relevan untuk orang-orang Indonesia yang tinggal, sedang studi di Belanda, atau pas sedang berkunjung di Belanda. Mengingat arti penting MULTATULI dalam sejarah Belanda-Indonesia. Multatuli adalah suatu 'link', suatu 'penghubung' antara Belanda dan Indonesia. Suatu 'link' yang punya arti mendalam dalam hubungan dua negeri dan dua bangsa. Hubungan solidaritas dan persahabatan!



Pada awal musim semi ini, hari Minggu tanggal 11 Maret 2007 kemarin,
cuacanya memang luar biasa indah! Kemarin itu dengan megah dan
ramahnya sang Surya menampakkan diri, dan hampir sehari penuh
melimpahkan kehangatannya ke bumi negeri dingin ini. Sehingga terasa
kehangatan musim semi. Orang pada keluar. Jalan-jalan di taman-taman,
bersepeda, atau duduk-duduk berjemur di beranda muka cafe, sambil
minum kopi dan teh. Atau nge--bir! Angin sejuk sepoi-sepoi basa yang
bertiup tak dihiraukan lagi. Pada cuaca yang indahnya di musim semi
seperti ini, siapa pula yang ingin tinggal di rumah saja.

* * *

Berangkatlah kami berdua saja, aku bersama isriku, Murti, ke suatu
tempat di Korsjespoortsteeg, No. 20, yang letaknya di antara Singel
dan Herengracht, Amsterdam Centraal. Gedung nomor 20 di lorong yang
khas Amsterdam itu, adalah MUSIUM MULTATULI.

Sudah lebih dari 20 tahun kami sekaeuarga bermukim di Amsterdam. Sejak
mula jadi penduduk ibu kota ini, ingin sekali aku, dan berrencana
berkunjung ke Musium Multatuli. Ingin tahu kayak apa sih, yang disebut
Musium Multatuli itu. Putri sulung kami Tiwi, pernah kuajak untuk
sama-sama ke Musium Multatuli. Ia menyambut dengan gairah dan
antusias. Tetapi entah mengapa dari tunda ke tunda lagi, sehingga 20
tahun berlalu, Musium Multatuli itu masih saja belum dikunjungi.

Baru kemarin siang tadi itulah, didorong pula oleh cuaca indah, maka
terlaksanalah idam-idaman selama ini. Seorang Meneer yang masih muda
dan punya cukup pengetahuan tentang Multatuli menyambut kami di pintu
masuk. Ketika sedang mengisi buku tamu, datang lagi sepasang muda-mudi
Londo Bulé. Rupanya di kalangan muda-mudi Belanda tidak kurang
perhatian terhadap Multatuli. Ternyta mereka memang sedang studi sejarah.

Bicara soal perhatian 'masyarakat suka-baca-buku' di Belanda, baru
saja kudengar berita, bahwa melalui suatu angket yang diadakan dalam
rangka PEKAN BUKU 2007 , ternyata buku Multatuli 'MAX HAVELAAR', yang
ditulis oleh novelisnya, Eduard Douwes Dekker lebih 150 th yang lalu,
menduduki perangkat ketiga sebagai novel terbaik. Nomor satu ditempati
oleh novelis top Belanda dewasa ini, Harry Mulisch, dengan bukunya
'De Ontdekking van de Hemel' <'The Discovery of Heaven'>. Mulisch juga
adalah penulis dari roman terkenal "De Aanslag" <'The Assault'>. Yang
mengisahkan akibat yang diderita oleh suatu keluarga Belanda, pada
zaman pendudukan Jerman Hitler. Karena dekat rumahnya ada pengkhianat
anték Jerman yang ditembak mati oleh kaum gerilyawan perlawanan
bawah tanah. Buku nomor dua terbaik diraih oleh Kader Abdollah
(Penulis Belanda asal Iran), dengan bukunya 'Het Huis v.d. Moskee'
<'Rumah Mesjid'> .

* * *

Gedung Musium Multatuli itu sungguh kecil. Amat kecil dan sederhana
sekali. Hanya terdiri dari dua tingkat dan masih ada satu ruangan
lagi di bawah tanah. Melihat gedung sekecil itu untuk manusia yang
begitu besar artinya di dalam sejarah Belanda maupun sejarah 'mantan'
koloni Belanda, --- Indonesia --- yang sekarang sudah merdeka,
terus terang muncul perasaan sedih dan tak énak ---- Aku fikir,
bagaimana Belanda ini, untuk seorang manusia begitu besar seperti
Eduard Douwes Dekker yang membikin sejarah dan bersejarah, kok cuma
sebegitu saja perhatian yang berwewenang di Belanda, khususnya
Amsterdam. Tambah lagi ngenes hatiku, ketika mendengar dari Meneer
yang sedang 'dinas' di musium itu, bahwa Kotapraja Amsterdam tidak
lagi memberikan subsidi untuk Musium Multatuli. Dulu, kata Meneer,
kami dapat subsidi. Sekarang tidak lagi. Terlalu, . . .
schandalig, kataku dalam bahasa Belanda. Ah, tak jadi apa, kata
Meneer. Kami berdikari, kok. Disampaikannya juga bahwa pemerintah
hermaksud membeli gedung itu, entah apa yang hendak dibangun di situ.
Yang terang, berarti Musium Multatuli itu harus pindah. Padahal itu
gedung bersejarah, TEMPAT KELAHIRAN MULTATULI <02 Maret 1820 - 19 Fe-
bruari 1887>. Keruan saja 'Perhimpunan Multatuli', suatu perkumpulan
swasta pencinta Multatuli menolak dengan tegas. Bravo!

Betapapun, hatiku lega dan puas. Karena telah berkunjung ke tempat
kelahiran seorang penulis Belanda, yang punya arti besar dalam sejarah
kebangkitan dan kesadaran bangsa Indonesia. Tidak kebetulan pula
bahwa, salah seorang keturunan Douwes Dekker, kemudian bersama Ki
Hajar Dewantoro, pendiri Perguruan Taman Siswa, mendirikan 'INDISCHE
PARTIJ'. Dalam sejarah kebangkitan bangsa kita, parpol itu memainkan
peranan penting. Menyadari bahaya pengaruh dua orang penting pendiri
'Indische Partij' itu terhadap masyarakat di bawah kekuasaasn
kolonialnhya, maka Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantoro dibuang,
dijadikan orang-orang eksil oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

* * *

Sebuah buku yang diterbitkan di Belanda dalam tahun 1993, berjudul
Literatur Belanda, Sebuah Sejarah, --- menulis bahwa MULTATULI
alias Eduard Douwes Dekker, penulis dari novel satiris 'MAX
HAVELAAR' , adalah seorang zeni, seorang yang luar biasa di dalam
dunia sastra Belanda, maupun dunia. Dalam novelnya itu, yang
ditulisnya dalam jangka waktu empat minggu saja, di dalam sebuah kamar
di sebuah hotel di Brussel, Multatuli mengungkap tentang peri
kehidupan rakyat di sebuah kota kecil di Banten, Lebak.

* * *

Bagi yang ingin menyegarkan ingtannya: Multatuli, nama asli Eduard
Douwes Dekker, dilahirkan
pada tanggal 02 Maret tahun 1820. Dalam usia muda ia berangkat ke
Indonesia , (dulu namanya) Hindia Belanda, jajahan Belanda. Sebagai
pegawai negeri ia menduduki jabatan asisten residen di Lebak, Banten.
Disitulah Multatuli menyaksikan betapa penguasa feodal setempat
(tuan-tuan feodal tumpuan kekuasaan kolonial Belanda) dengan OK dari
penguasa kolonial Belanda tentunya, melakukan pemerasan dan
penindasan kejam terhadap penduduk bangsa sendiri. Hati nurani
Multatuli berontak! Tetapi usaha Multatuli untuk mengakhiri praktek
pemerasan kekuasan feodal setempat, berakhir dengan pemecatan
kekuasaan kolonial terhadap Multatuli. Ia kembali ke Eropah. Di
Brussel ia menulis romannya MAX HAVELAAR, yang menurut seorang
anggota parlemen Belanda, telah menyebabkan getaran <khawatir/takut>
di seluruh negeri.

Kaum progresif Belanda amat menilai tinggi Multatuli dan peranannya
dalam kebudayaan dan politik Belanda. Ia dinilai punya arti besar
bagai sejarah sastra <yang dengan novel satirisnya memelopori gaya
penulisan baru>, kebudayaan dan politik. Karena Multatuli adalah orang
Belanda pertama yang berhasil menarik perhatian masyarakat yang
luas terhadap urusan penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Multatuli
juga punya arti besar terhadap gerakan buruh dan gerakan perempuan
Belanda.

Buku Multatuli, MAX HAVELAAR, dan karya-karya sastra lainnya dalam
jumlah besar, banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing lainnya.
Kebetulan ditunjukkan pada kami hari itu, antra lain terjemahan buku
Multatuli ke dalam bahasa Inggris, Jepang dan Vietnam. Dengan
sendirinya edisi bahasa Indonesia buku Multatuli kami lihat juga di situ.

Edisi bahasa Indonrsia yang diterbitkan oleh 'Penerbit Jambatan',
adalah terjemahan penulis H.B. Jasin. Pertama terbit tahun 1972.
Seterusnya berturut-turut diterbitkan edisi kedua dan selanjutnya
dalam tahun-tahun 1973, '74, '77, '81, '85 dan 1991.

* * *

Bagi kalangan masyarakat Belanda yang berfikiran maju, jelas bahwa
Multatuili adalah pengarang besar yang mengungkap pemerasan kejam kaum
feodal di Lebak terhadap rakyat. Bahkan ada yang mengangapnya sebagai
sastrawan terbesar Belanda. Bahwa adalah jelas Multatuli melakukan
perlawanan terhadap kekejaman feodalisme yang berlangsung di Banten
ketika itu. Sebagai seorang asisten residen, sebagai alat birokrasi
kolonial Belanda, Multatuli adalah ORANG PERTAMA di kalangan mereka
itu, yang bertindak atas himbauan hati nurani dan rasa keadilan. Yang
dilakukan Multatuli adalah peralwanan terhadap ketidak adilan
feodalisme dan kolonialisme. Adalah pembelaan terhadap rakyat Lebak
yang tertindas dan terhisap. Multatuli menanggung akibat dipecat dari
jabatannya. Tetapi sebelum dipecat, ia mendahului penguasa. Ia sendiri
yang ambil inisiatif minta berhenti.

Tetapi, 'Penerbit Jambatan', yang menerbitkan edisi Indonesia buku
Multatuli, lain lagi penjelasannya. Tulis Penerbit Jambatan <kiranya
itu juga penilaian penterjemah H.B. Jasin> antara lain sbb:
'Multatuli punya arti khusus bagi Indonesia. Ia bertugas di Hindia
Belanda pada pertengahan abad ke-19, menyaksikan penderitaan,
pemerasan dan penindasan terhadap bangsa Indonesia; lalu menggugat
yang berwajib dan membongkar segala kejahatan yang menjadi
tanggungjgawabnya'.
Kutipan dari halaman cover buku edisi Indonesia terbitan 'Penerbit
Jambatan' selesai.

Kan, anéh. Dari buku Multatuli jelas, bahwa yang kejam, yang memeras,
yang menindas, yang disaksikannya sendiri dengan mata-kepalanya,
pertama-tama adalah kekuasaan feodal setempat, adalah (bangsa
setempat). Sedangkan yang mengggugat, yang memprotes dan mengungkap
adalah seorang asisten residen ORANG BELANDA. 'Kan jelas itu. Tapi itu
dirumuskan begitu rupa oleh edisi bahasa Indonesia buku Multatuli,
sehingga kejahatan dan kekejaman feodalisme bangsa Indonesia sendiri,
terselubung dan tersembunyi. Mungkinkah sikap 'Penerbit Jambatan',
atau HB Jasin, yang plintat-plintut itu. Soalnya: Kekuasaan rezim
Orba tidak mengizinkan kejujuran dan keobyektifan. Dan kaum
intelektuil 'kita' masa Orba umumnya 'manut' saja.

Menjadi jelas duduk perkaranya, ketika film 'MAX HAVELAAR', produksi
Belanda, tidak diizinkan beredar di Indonesia semasa Orba. Alasan
<lisan> yang diberikan oleh penguasa Orba melarang film Multatuli itu,
ialah sbb: 'Tidak bisa dong dipertunjukkan, kok ada film yang
menggambarkan orang Belanda (Multatuli) lebih baik dari orang-orang
Indonesia? Titik!.
Kalau hendak melihat pembodohan intelektuil semasa Orba, inilah contoh
yang pas sekali!

* * *

Tulisan Multatuli memang benar-benar menggemparkan masyarakat Belanda,
terutama penguasanya, karena Multatuli alias Eduard Douwes Dekker,
mengungkap tabir selubung yang selama itu menutupi kekejaman
fedoalisme dan kolonialisme di negeri, yang ketika itu dinamakan
'Hindia Belanda'. Juga masyrakat di Hindia Belanda, lebih-lebih lagi
terkejut, karena sang penulis noevel yang mengungkap kekejaman
feodalisme dan kolonialisme itu, adalah mantan seorang 'asisten
residen', seorang yang memegang kekuasaan kolonial Belanda di Lebak.
Bagaimana mungkin hal demikian itu bisa terjadi, fikir orang-orang
feodal dan kolonial di Hindia Belanda ketika itu.

* * *

Tulisanku ini terutama dimaksudkan untuk minta perhatian pembaca
terhadap seorang Belanda, Eduard Douwes Dekker, yang semula menjabat
asisten residen Lebak (Banten) pada zaman kekuasaan kolonial Belanda.
Kemudian dipecat oleh atasannya karena kepeduliannya terhadap rakyat
kecil, masyarakat tani di Lebak, dan perlawanannya terhadap sistim
kekuasaan dan pemerasan yang berlangsung di Lebak ketika itu. Bukankah
itu suatu keteladanan!

* * *