Damai didunia adalah mahal sekali dan itu tidak sedang kita alami. Dalam bahasa China kata damai digambarkan dalam tiga huruf yang menggambarkan “rupa” yang berlain-lainan. Huruf pertama menggambarkan nasi didalam mulut (kemantapan ekonomi), huruf kedua menggambarkan atap diatas perempuan (kemantapan sosial) dan huruf ketiga menggambarkan dua hati yang berdetak bersama-sama (kemantapan kemanusiaan).

Sampai dengan tahun 2002 yang lalu ketika Amerika memutuskan untuk menyerang Irak, sepertiga penduduk dunia sebenarnya sudah dalam keadaan perang. Amerika menyerang Irak dengan segala alasannya yang ternyata kemudian adalah bohong belaka, sebenarnya dipicu oleh sifat serakah. Titik. Serakahnya kapitalisme dipandang oleh para penganutnya adalah dinamika kehidupan yang semakin maju. Bagi saya yang tidak melakukan kapitalisme dengan murni, tidak sependapat dengan cara pandang diatas. Saya belum pernah bertempat tinggal dilingkungan kehidupan dan masyarakat murni kapitalistis, meskipun telah sering mengunjungi tempat dan masyarakat seperti itu. Ciri-ciri khas masyarakat dan tempat yang lekat dengan kapitalisme adalah ketergantungannya dengan minyak. Presiden Amerika Serikat George W. Bush baru-baru ini berpidato dalam acara State of the Union, intinya menyiratkan keinginannya mengajak rakyatnya untuk melepaskan diri dari ketergantungan kehidupan mereka terhadap minyak, terutama sekali yang dari Timur Tengah. Yang tidak diakuinya dalam pidato tersebut secara jelas adalah timbulnya sifat serakah karena adanya minyak dan karena adanya keinginan selama ini untuk menguasai dunia dan menguasai minyak. Apa saja yang tidak dikerjakan Amerika Serikat dalam memenuhi hasratnya itu?

Sejak tahun 1950 an seingat saya Amerika berperang selalu diluar negerinya sendiri, di Korea, di Viet Nam, di Somalia, di Beirut, di Panama dan di Irak. Berapa nyawa dan harta yang hilang karena perbuatan-perbuatan perangnya dinegeri lain itu tidak mudah menilainya. Amerika seperti menderita sekali dengan harta dan korban nine eleven di World Trade Center di New York. Dengan tidak mengurangi rasa simpati terhadap semua korban, saya menganggap Amerika lebih banyak merusak diluar negeri sendiri dari kerusakan dan kerugian nine eleven WTC New York. Belum selesai Irak Amerika mngutak atik Korea Utara dan Iran. Bahkan Indonesia pernah disebut-sebut sebagai salah satu negara yang membentuk the Axis of Evil. Kelihatan bingung sekali Amerika dalam memenuhi hasratnya menguasai dunia terutama melalui ekonomi dan tentu saja melalui minyak.

Sekali lagi minyak pada saat ini telah merepotkan kehidupan manusia. Manusia Indonesia yang negaranya, Republik Indonesia selaku producer minyak yang cukup besarpun sekarang pusing tujuh keliling. Telah lama sekali kita tidak dimudahkan di arena dan kancah dunia dalam “menikmati” keberadaan minyak. Minyak yang mestinya memudahkan hidup, sekarang terasa sekali menjadi mudarat(kesukaran)nya bukan maslahat(faedah)nya. Banyak sekali manusia tidak melihat bahwa kesukaran didunia ini adalah akibat ditemukannya minyak. Minyak yang seharusnya amat berguna sekarang karena dinodai dengan sifat keserakahan, maka menjadi sesuatu yang kurang manfaatnya. Pada tahun 1970-an saya pernah terlibat pembicaraan serious dengan seseorang yang amat menggeluti dunia perminyakan. Saya katakan bahwa lebih baik kita hentikan menambang minyak dan membeli saja secukupnya untuk kehidupan sendiri. Biarlah minyak tetap didalam bumi, jangan dikeluarkan. Tanpa menyadari pada waktu saya mengatakan hal tersebut, sebenarnya Amerika Serikat telah menjalankan policy seperti itu selama berpuluh-puluh tahun. Kita dan negara-negara di Timur Tengah telah dengan gagah berani dan ceroboh memompa minyak keluar dan “menikmatinya” tanpa memikirkan masa depan dengan lebih dalam.

Bukan hanya memboroskan uang hasil penjualannya saja, para pegawai dan kroni-kroninya di perusahaan yang besangkutan telah mencurinya dan hidup berlimpah kemewahan yang wah. Apa yang terjadi sekarang sudah seperti judul film Maju Kena Mundur Kena.

Kita haruslah berani mengakui bahwa minyak tidak sebaik seperti kita rasakan selama ini. Minyak mentah yang telah diolah menjadi bermacam-macam jenis, saat ini adalah penyebab utamanya mengapa manusia berperang dengan manusia lain. Semua dalam rangka membela negaranya, bangsanya dan dirinya sendiri. Mereka semua merasa bahwa apa yang dikerjakannya adalah benar seratus persen. Yang agak sadar tentu tidak seratus persen berpikir bahwa dirinya benar, tetapi tetap melakukannya juga, karena “terpaksa”. Dia terpaksa karena lingkungan dimana dia hidup. Pada waktu ada beda yang cukup besar terhadap keuntungan penjualan kalau dijual di luar negeri dibanding kalau dididalam negeri, minyak solar banyak diselundupkan , KELUAR NEGERI. Siapa yang melakukan penyelundupan?? Banyak sekali pejabat yang ditindak akan tetapi kelihatannya pejabat kecil di lingkungan Pertamina. Padahal ada orang yang berbisik bahwa banyak pejabat dari Departemen lain diluar Pertambangan dan Energi. Ada yang dari Depatermen Keuangan dan ada yang dari Departemen Hukum dan HAM. Mereka ini biasanya bertindak selaku pribadi karena tidak melakukannya untuk Instansi. Hal ini terjadi karena harga didalam negeri disubsidi dengan “maksud baik” oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pemerintah telah berdebat dengan para kritikus yang menguasai dan mendalami “ilmu perminyakan”, akan tetapi subsidi berjalan terus dan penyelundupan tidak pernah berhenti. Kami yang rakyat awam bingung dan tidak berani ngomong apa-apa lagi. Itu salah satu phenomena soal minyak didalam negeri. Bagaimana dengan OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries)?? Saya pernah mendengar bahwa Indonesia sebenarnya apa masih layak untuk menyebut dirinya sebagai anggota OPEC karena sekarang sudah mengimport kebutuhan minyaknya sendiri dengan jumlah yang amat tinggi.

Mari kita tinjau satu tahun setelah Amerika menyerang Irak. Apa khabar minyak Irak?? Amerika melalui Tuan Paul Wolfowitz, mantan Duta Besarnya di Jakarta Indonesia, dan waktu itu adalah Deputy Secretary of Defense, pernah mengemukakan bahwa minyak Irak akan menghasilkan jumlah uang yang fantastis. Dalam kurun waktu tahun 2003 sampai 2006 akan diperoleh uang hasil minyak sekitar 50 sampai 100 milyard Dollar AS. Pandangan ini amat optimis sekali mengingat sebagai akibat perang keadaan pompa-pompa minyak tidak bekerja dengan baik dan benar serta lancar. Belum sempat Tuan Paul ini membenahi Departemen Pertahanan, sekarang setelah dia menjabat menjadi Pimpinan World Bank, dia kebakaran jenggotnya yang tidak ada dijanggutnya. Dia meributkan korupsi didalam tubuh World Bank selama ini terutama selama dia belum menjabat. Itu baru berita!!

Harapan Pemerintah Amerika bahwa suasana perbaikan sesudah perang ini akan dibantu dengan hasil minyak Irak yang seperti sebelum tahun 1990-an yakni sebesar tiga juta barrel per hari. Pada waktu dia berbicara didepan Congress pada bulan Maret 2003 itu, dia tidak lupa untuk mengatakan bahwa biarpun kondisi buruk yang menimpa lingkungan penambangan minyak di Irak dan kondisi negara Irak yang diharapkan stabil setelah invasi akan menyebabkan Irak pulih dari kesukaran. Estimasinya yang menyebut bahwa minyak Irak pada tahun 2010 akan dapat ditambang sebanyak 6 juta barrel per hari dan pada tahun 2020 adalah 7 sampai 8 juta barrel per hari, tidak terbayang kalau kita melihat keadaan di Irak sekarang. Ada sekitar 4300 mil panjang pipa yang rusak disana sini karena adanya pencurian dan sabotase. Angka produksi yang dikehendaki sebesar 2,4 juta barrel per hari dan angka export sebesar 1,6 juta barrel per hari menurun dengan drastis menjadi sebesar produksi sebesar 1,95 juta barrel per hari dan export sebesar hanya 0.86 juta barrel per hari. Fakta-fakta tersebut berbicara sebagai akibat keserakahan dan kebingungan Amerika memprediksi angka-angka yang sebenarnya bukan miliknya. Milik rakyat Iraklah sebenarnya semua itu. Kondisi menyeluruh yang stabilpun juga tidak tercapai.

Masalah ruwet di Irak yang demikian kompleks hanya menambah beban pikiran belum usai dan tidak menghasilkan hasil yang baik, sekarang ditambah mengancam Iran dengan issue nuklirnya.

Sebenarnya adakah sesuatu pihak yang memperoleh untung karena kekacauan ini?? Seperti biasanya kalau kita melepaskan persoalan minyak dengan sejenak menjauh, maka pikiran kita yang tenang akan dapat mendeteksi pihak yang untung. Saat ini kelihatan yang untung adalah para produsen alat-alat perang dan para kontraktor asal Amerika Serikat. Suasana perang sejak jaman dahulu selalu menguntungkan mereka ini. Apa perusahaan Halliburton ada di Irak?? Demikian juga apa ada perusahaan lainnya yang satu golongan ?? Siapa pemilik-pemiliknya dari perusahaan kontraktor-kontraktor itu?? Anda dapat mencari sendiri jawabannya dan itu akan mengejutkan anda sendiri. Saya jamin anda akan terkejut.

Dengan gaya “I told you so…….” atau “Kan sudah saya bilang…..” saya memang akan bisa menunjuk bahwa saya pernah mengatakan pada tahun 1970-an agar minyak jangan ditambang…. . Tetapi yang demikian apa gunanya. Sesal kemudian tiada berguna… . Lagi pula saya ini siapa sih….. . Para ahli strategi Pemerintah Indonesia tentunya harus melakukan perbaikan menyeluruh cara berpikir dan cara beroperasi karena selain Amerika sudah sekian ribu langkah didepan kita, kita masih saja senang dengan mengobok-ngobok bangsa sendiri. Obok-oboklah Amerika seperti yang telah mereka kerjakan kepada negara kira sejak berdiri sampai sekarang. Pro aktiflah dan berpikirlah seribu atau sepuluh ribu langkah kedepan. Jangan hanya jadi jago kandang.