Wahyudibaca: "Bencana di Indonesia bagai "Arisan" – semua wilayah nanti dapat kalau; yang belum nanti bisa usul, minta bencana apa atau silahkan baca menu bencana yang ada di Indonesia sekarang ini, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir, longsor atau gunung meletus. Mungkin Tuhan sudah tidak tinggal di Indonesia, karena malu karena dana/bantuan untuk korban bencana banyak di korupsi. Atau Tuhan sembunyi karena banyak pejabat sedang "tobat cabe" habis itu dilupakan lagi kalau sudah tidak dibutuhkan lagi."

Tuhan?

Ah, kata neuroscientist Tuhan itu cuma ada dibenak manusia kok.

Jadi nyebut-nyebut Tuhan dalam soal malapetaka yang beruntun di
Indonesia itu - sekarang ini - adalah bahagian dari kedunguan.

Nipu diri sendiri.

Yang jelas, yang kudu menyelesaikan urusan di dunia ini adalah manusia
dan hanya manusia dan bukan bukan Tuhan yang kayaknya cuman ada
dibenak manusia itu.

Agar jelas:

banjir, tanah longsor, kecelakaan kereta api, kecelakaan kapal dan
kapal terbang, tidak bisa sama sekali dihindarkan atau dikendalikan
(di negeri lain juga kecelakaan itu terjadi) tapi di negeri maju yang
sekuler bisa dikurangi.

Artinya banyak yang (benernya) bisa dihindarkan.

Atau diusahakan agar pertolongan terhadap korban bisa cepat diberikan.

Ambil soal banjir:

di negeri Belanda yang sebahagian daerahnya berada dibawah permukaan
laut banjir itu bisa relatif terkendali - masih terjadi sih, tapi
setelah banjir gede tahun 1953 nggak ada lagi banjir yang gawat.

Ada Deltawerk yang "menjinakkan" sungai-sungai di negeri Belanda.

(Bagi yang ingin tahu kerja yang menakjubkan itu bisa cari informasi
di internet).

Dan dari sekarang sudah ada orang Belanda yang mulai memikirkan cara
menghadapi naiknya permukaan laut sebagai akibat pemanasan bola bumi.

Agar jelas: orang Belanda berfikir dan mempersiapkan diri untuk
menghadapi setiap malapetaka.

Mereka nggak manggil-manggil nama Tuhan kok.

Saya ambil contoh lain - ini kelihatan kecil : kebakaran.

Di Amsterdam barisan pemadan kebakaran diorganisir sedemikian rupa
hingga mobil pemadam kebakaran disertai mobil polisi dan kendaraan
ambulance kudu sampai ketempat kebakaran lima setengah menit setelah
tilpon pemberi tahuan adanya kebakaran diterima.

Dan jalan-jalan di Amsterdam itu banyak yang sempat-sempit lho.

Dan suka macet juga.

Saya ada pengalaman pribadi: musim panas tahun yang lalu dapur kami
di Leiden kebakaran ketika kami sedang makan malam.

Tidak lama setelah nomor 112 saya tilpon tiga mobil kebakaran, sebuah
ambulance dan polisi sampai di alamat kami.

Lux.

Dan dalam beberapa menit api bisa dipadamkan oleh barisan pemadam
kebakaran yang sedemikan cekatan, terlatih dan terorganisir hingga
mereka segara tahu apa yang harus dilakukan.

Nggak ada yang lenggang-lengang kangkung.

Setelah api dipadamkan dan segala kemungkinan bahaya dipastikan tidak
ada (gas, listik, kemungkinan dinding amruk, gas atau asap beracun
dll.) maka mereka segera pergi.

Dua jam kemudian perusahaan 'calamiteit" (malapetaka) mengangkut
barang-barang elektronik ke gudang untuk dibersihkan...

Perusahaan asuransi diberi tahu oleh orang yang dihubungi oleh barisan
pemadam kebakaran ...

Sementara itu kami diperiksa oleh ambulance untuk mengetahui apakah
kami terhirup asap berbahaya....

Yang kemudian perlu kami lakukan hanyalah mencari tempat tinggal
sementara, selama rumah dibetulkan, yang biayanya diganti oleh
perusahaan asuransi.

Dan perabotan yang terbakar atau rusak (kulkas, oven, lemari, panci
piring dll.) juga diganti asuransi.

Semua ini perlu organisasi, perlu perencanaan, perlu...perlu...

Tapi di negeri Belanda juga masih terjadi kebakaran yang memakan jiwa
manusai lho, seperti yang terjadi di rumah tahanan pencari suaka di
Schiphol beberapa waktu yang lalu...

Tapi orang Belanda nggak nyebut nyebut Tuhan ketika itu, mereka
diskusikan kenapa kebakaran seperti itu bisa terjadi.

Apa yang salah, siapa yang salah dan apa yang perlu dilakukan untuk
menghindarkan terulangnya kejadian yang sama.

Inilah kedungan kebanyakan orang Indonesia:

ditahun 2007 ini mereka masih mengira bahwa Tuhan itu yang mengurus
urusan yang mestinya adalah urusan manusia, yaitu berfikir untuk
memperbaiki urusan dunia ini dan menghadapi malapetaka yang bukan
kerja Tuhan itu.

Lagian Tuhan itu kayaknya cuma ada dibenak manusai kok.