Hari-hari belakangan ini, itu kursi kebesaran daripada Pekmo taikoan (pembesar berambut putih) sungguh tida enak diduduki, ibarat kursi yang alasnya dilapisi beberapa to (golok) yang disusun berdiri tegak, kalu tida mempunyai sinkang dan gwakang yang ampuh pada bagian bokong, itu kursi sudah lama dipastikan lepas dari cengkeramannya pekmo taikoan.


Perkara kecelakaan datang beruntun yang tida berenti pada pengangkutan darat,
laut dan udara sungguh-sungguh membuat pinceng boleh bersedih hati. Itu perkara
nyawa ren-min sepertinya menjadi murah sekali atawa tida mempunyai harga sama
sekali. Kata suhu pinceng “wang yang pu lao” yang mempunyai artian ‘memperbaiki
kandang setelah kehilangan kambing’. Sesudah kejadian perkara kecelakaan
berulang-ulang barulah menyusun kouwkoat2 untuk mengatur. Cilakanya, terkadang
sudah hilang itu kambing pun, itu kandangpun tidalah dibetulin. Benar2 bikin
pinceng kek-sim (kecewa).

Perkara kecelakaan yang terakhir kejadian pada Eng-tiauw Hui-ki (pesawat garuda)
sempat membikin heboh dunia bulim lagi. Kendati ren-min yang hilang nyawanya
lebih sedikit daripada Adam Hui-ki yang jatuh ke Hai-te (dasar laut),
persoalannya yang membuat heboh adalah ada satu lomo dari mokauw yang juga ikut
itu hui-ki. Entah karena itu lomo sedang panik atau hun-hun kerna menemui
kecelakaan, itu lomo mengaku sempat mengerahkan ginkang sekuatnya untuk melewati
seorang kouwnio didepannya sehingga itu lomo boleh selamat dari kecelakaan.
Kendati selamat, itu lomo tida tau apakah itu kouwnio juga selamat.

Para bulim hengtay menjadi heboh. Ada yang mengumpat dan menyayangken kenapa itu
kecelakaan tidalah sekalian merengut nyawa itu lomo sekalian. Sungguh satu
kouwkoat yang sangat beracun menurut penilaian daripada pinceng. Wahaya!

Ada pula yang menilai rendah itu lomo kerna selaku seorang bengcu (pimpinan)
dari satu mokauw pang, tida semestinya bersikap pengecut dalem itu kondisi dan
langsung mengeluarkan jurus ke 36. (Sun tse, jurus 36: lari.)

Tidak kurang pula para hengtay dari mokauw yang mengeluarkan jurus2 pembelaan.
Kendati sebagai seorang bengcu dari salah satu mokauw pang, itu bengcu adalah
seorang siucay yang tida bun bu coan cay. Lomo itu lebih suka belajar bun,
sehingga tida punya lweekang cukup untuk menolong para ren-min yang terjebak.

Namun ada pula yang membandingkan dengan satu shang-ren (businessman) dari
Ou-couw (Oz) yang telah mengerahkan jurus Tie-touw yi-shan (dengan kepala besi
memindahkan gunung) untuk merobohkan itu pintu darurat. Dengan bermodal ilmu
tie-touw yang belom sempurna, itu shang-ren berhasil juga merobohkan itu pintu
darurat, kendati dengan kepala yang berdarah-darah. Itu shang-ren langsung
mendapatkan pujian-pujian kerna telah menyelamatkan nyawa daripada ren-min di
dalam pesawat. Diberi gelar Tayhiap atawa Toa Enghiong. Yang menjadi bahan
gunjingan dan debatan adalah kerna itu shang-ren sendiri tida lagi ingat pernah
mengeluarkan jurus tie-touw yi-shan.

Ada hengtay yang memperhatikan angka2 di itu Hui-ki, terus di cak, dicari
tai-shennya, di-mistik ketemu angka 7-3-7, penanggalannya sa gwe ce cit, taonnya
tujuh. Haiya,.. boleh juga dipasang di judi buntut atawa hwahue. [Laughing]

Siancai2…

Pinceng kembali ke pokok perkara (baca:laptop). Boleh dikatakan, Pekmo ini tidak
seberuntung hopengnya sesama tai-koan, yang mana boleh duduk dengan nyaman dan
santai di itu kursi kebesaran masing-masing sembari menebar jurus2 pesona. Tida
demikian dengan ini taikoan, lweekang dan gwakang benar2 dikerahkan
habis-habisan sembari memperkokoh kuda2 bhesinya, supaya itu kursi tetap dapat
diduduki. Kouwkoat demi kouwkoat dari kitab Kong kalikong kheng satu per satu
dikerahkan seantero tenaga supaya itu kursi dapat tetap dalam cengkeraman.

Sebelum kejadian itu perkara Eng-tiauw Hui-ki, pekmo taikoan sudah mengeluarkan
jurus haiya sip pat ciang (18 jurus menyelamatkan bokong) yaitu dengan menukar
atawa memutar kursi para bawahannya. Yang satu ditendang, yang lain disuruh
duduk di kursi lain, yang di sini dipindahken ke sana, yang di sana dipindahkan
ke sini. Harapan Pekmo taikoan ini tida lain dan tida bukan supaya toa ongya dan
jie ongya mengira ia telah melakukan upaya untuk membereskan masalah perjalanan
ini. Padahal apa yang dilakukan adalah sekedar jurus menyelamatkan pantatnya
agar tetap dapat duduk di itu kursi kebesaran.

Namun serangan kecelakaan yang datang beruntun kelewat dahsyat, jurus Haiya Sip
pat ciang keliatannya sudah tidak boleh berjaya lagi, pekmo taikoan mengeluarkan
jurus terakhir, jurus tangan kosong, menyerahkan nasib sembari mengharapkan
kemurahan hati dari toa-ongya yang terkenal orangnya pai-sengki (ga enakan).


Siancai2,



cpt