Seringnya kecelakaan dan bencana yang berulang-ulang di indonesia membuatku terpikir dengan istilah yang satu ini, Anget-anget tai ayam. Koq jorok sih pakai kotoran ayam? Hehe, jangan diperhatiin yang joroknya, tapi yang ‘anget’nya. Sesuai dengan kenyataannya, angetnya tai ayam itu cuman sebentar doang. Meskipun istilahnya jorok, tetapi aku kira perilaku ini sudah meresap sampai ke sumsum tulang orang indo. Aku bisa sebutin banyak kejadian tentang ini.


Ketika terjadi berulang kali kecelakaan pesawat terbang, ramai2lah orang bicara
soal low cost airlines, soal pesawat yang sudah tua. Tidak ketinggalan pejabat2
terkait langsung mengeluarkan sejumlah aturan tentang umur pesawat (Emang
sebelumnya ga ada aturan itu?), harga tiket Adam air langsung anjlok. Seorang
teman membelikan tiket Adam Air kepada relasinya yang mau ke Bali dari Jakarta
ditanya dengan sopan :”Ada ga mas, penerbangan lain?” “Ada, Garuda tetapi
harganya hampir 5X, mau?” Nah, sekarang Garuda juga terbakar. Ah, biarin deh,
nanti sebentar lagi juga pada lupa. Lupa soal low cost airlinesnya, lupa soal
aturannya.

Waktu jakarta dilanda banjir Februari lalu, lantas deh ramai2 bicara bagaimana
supaya jakarta tidak banjir. Kompas di halaman 6 dalam beberapa hari penuh
dengan opini tentang masalah ini. (Tidak ketinggalan Superkoran juga [Wink] ).
Gubernur bicara soal BKT. Lah, selama 4-5 tahun ngapain aja? Sibuk busway dan
monorel? JK dengan jeli langsung bilang, “Okay, sementara HPH kita hentikan
dulu!” Loh, koq sementara, Pak? Tunggu tai ayam sudah dingin baru nebang lagi?
Sekarang banjir sudah berlalu, Bang Yos kita kemb ali ke mainannya semula,
monorel, busway dan peremajaan Pasar?

Sekarang orang sudah lupa dengan kebakaran hutan. “Belum musim kemarau, mas! Tai
ayamnya belum anget. Sabar dong!” Pejabat dan masyarakat sudah lupa tentang
kebakaran ini. Mana ada upaya mencegah supaya kejadian2 seperti ini tidak
terulang. Soalnya begitu musim hujan, kita sudah sibuk tangani banjir. Begitu
musim kemarau, eh sudah kebakaran hutan. Cape deh!

Musim liburan, rame2 masyarakat berkunjung ke batu raden. Kelebihan beban,
jembatannya putus, makan korban. Kebun Raya Bogor kaget, buru2 jembatan
gantungnya diperiksa, ternyata ada beberapa bautnya yang juga kendor atau lepas.
Untung tai ayamnya anget duluan di batu raden, begitu pikir pejabat Kebon Raya
Bogor. Kenapa sih ga rutin itu di cek? Mesti nunggu ada kejadian baru diperiksa.
Kalau sudah dingin tai ayamnya ya sudah. “Sudah dingin, mas! Ga seru lagi.”

Ada satu masa, rame2 orang latihan kebakaran dan proses evakuasi di gedung.
Sekarang? Boro2 mau cari hangetnya tai, malahan tai2nya juga kaga kelihatan.
Coba kalau ada kebakaran, jangan heran kalau hydrant ga ada airnya, karyawan
pada panik dan lari terbirit-birit (ingat siapa ya [Laughing] ) lupa prosedur
evakuasi.

Masih sering diperiksa petugas satpam ketika berkunjung ke mal atau hotel atau
kantor? Iya, tapi sudah agak dingin tainya, maksudnya periksanya sudah ogah2an
dan formalitas saja. Coba, kalau ada kejadian bom lagi (amit2 jangan deh!),
langsung anget deh itu tai ayam. Semua langsung ketat lagi.

Habis banjir, JK menawarkan program rumah susun untuk mengatasi masalah
kepadatan rumah tinggal. “Tidak dapat ditawar lagi, perumahan harus dibangun ke
atas” kata Om JK. Ya, memang mulai trend orang memilih tinggal di apartemen.
Dari ekonomi lemah gemulai sampai gagah perkasa. Tetapi, perangkat utilitasnya
sudah siap belum? Ada ga helikopter pemadam kebakaran ataupun untuk
penyelamatan? Berapa ketinggian yang dapat dicapai oleh mobil pemadam kebakaran?
Ah, jangan gitu dong, masa doain kebakaran. Habis, mau tunggu tainya anget dulu?

wiro