Aku mulai menulis kalimat ini dengan pikiran yang terasa tumpul. Tidak normal seperti biasanya.

Sebelum menulis yang ini aku membaca tulisanku sendiri, yang kutulis pada beberapa waktu yang lalu dalam tahun 2005. Judul tulisan adalah “Gengsi”. Waktu aku membaca tulisan itu, aku berpikir bahwa kalaupun misalnya hal itu terjadi pada hari ini, sekarang, mungkin aku tidak akan dapat menuliskannya sama baiknya. Isi dan susunan kalimatnya terasa seperti bukan berasal dari kepalaku sendiri, pada hal aku ingat benar bahwa yang tertulis di situ semua aku tulis sendiri dengan lancar. Hampir tanpa henti dari awal sampai akhir kalimatnya.

Lalu aku sedikit termenung dan memulai menulis ini.

Aku pernah menulis bahwa seluruh kehidupanku dapat dibayangkan seperti kurva Sinus dan Cosinus (Inggris: Sine and Cosine) seperti diajarkan dalam Ilmu Ukur Sudut atau Goniometrie. Kurva itu garis lengkung yang memulai geraknya dari axis-X maju dan menanjak dengan teratur dan setelah mencapai jarak tempuh tertentu kurva mulai menurun kembali lagi sampai mencapai garis axis-X. Sebelum gerak kurva ini kembali menurun maka geraknya akan mencapai titik tertinggi.

Titik ini disebut titik kulminasi. Sampai dititik ini maka gerak kurva akan harus, mau atau tidak mau, siap untuk bergerak kearah sebaliknya dari yang berupa gerak menanjak, jadi menurun. Itulah kehidupan ku, tergambar dengan jelas. Aku lahir didunia pada awal kurva yang menanjak dan aku mati pada waktu kurva menyentuh garis axis-X kembali. Itulah mengapa aku umpamakan jalannya kehidupan (yang baik): gerak kurva sinus dan cosinus.

 Mengapa saya sebut sinus dan cosinus adalah curva garis kehiupan yang baik? Ada kurva yang kurang baik kalau dipakai sebagai gambaran kehidupan seseorang. Geraknya serba cepat dan meteoric, yakni pada kurva Tangens dan Kotangens (Inggris: Tangent and Cotangent). Gerak kurva dimulai juga dari axis-X akan tetapi bergerak maju dengan cepat baik dalam kecepatan maupun dalam arah. Kurva akan bergerak keatas dan akan berakhir sejajar dengan axis-Y sehingga akan bertemu dititik yang tak terhingga. Kalau kurva ini menggambarkan lintasan sebuah roket, maka sang roket tidak akan pernah kembali ke axis-X atau ke planet Bumi.

Hilang di angkasa atau entah di mana.

Kalau sinus dan cosinus sering saya ungkapkan sebagai kehidupan orang normal. Tidak terlalu menonjol-nonjol dan tangens dan kotangens mewakili kehidupan yang kurang atau tidak normal. Aku mengira begitulah kehidupan para politikus, para bintang film atau bintang tarik suara serta para celebrity lainnya.

Di manakah Yoshua, atau Heintje? Jangan-jangan orang sudah melupakannya. Anda masih ingat Dara Puspita? Masih ingat Rita Hayworth dan Marilyn Monroe?

Itulah contoh kehidupan yang geraknya meniru gerak kurva tangens dan kotangens. Kehidupan normal itu, menurut versiku sendiri adalah: lahir sebagai bayi dan tumbuh menjadi orang muda, berjuang mencari kehidupan dibekali dengan pengetahuan yang dikuasainya sampai hari tua. Ditengah kehidupannya, entah pada waktu umurnya mencapai empat puluh lima tahun, entah lima puluh lima tahun, dia mencapai titik tertinggi dan memulai kehidupan yang menurun arahnya. Titik tertinggi ini adalah titik kulminasi atau juga banyak dikenal dengan nama titik kritis, dalam Ilmu Falak disebut sebagai Zenith.

Apa titik kritis atau Zenith ini? Aku dapat berikan sebuah contoh yang tidak banyak dipikirkan orang.

Berikut ini adalah sebuah cerita hasil percakapanku dengan seorang Pilot Kapal Terbang penumpang komersial yang sering menjalani route mengelilingi dunia.

Saya bercakap-cakap dengan dia di Anchorage, sebuah kota di Alaska, dibenua Amerika Utara, sudah dekat dengan titik Kutub Utara, dimana penumpang mendarat untuk transit selama sekitar satu jam lamanya. Mula-mula aku bicara mengenai Kapal Terbang Korea yang ditembak oleh sebuah pesawat pemburu (MIG-25?) milik Sovyet Russia. Dia jawab dengan sebuah cerita.

Ya, itu bisa saja telah terjadi karena human error atau karena kesalahan alat, alat navigasi atau alat komunikasi.

Dia bilang kalau dia terbang dan berada tepat diatas titik Kutub Utara planet Bumi, maka dia tidak akan mengalami keadaan yang biasa kita kenal dengan istilah Mata Angin.

Dia tidak akan tahu dimana Timur dan dimana Barat serta dimana Utara. Yang dia ketahui, kemanapun matanya memandang, dia akan memandang kearah Selatan. Kearah kiri: Selatan, kekanan: Selatan, kedepan, kebelakang dan kearah bawahpun dia akan bilang: Selatan juga. Dengan demikian terjawab yang menjadi sebab telah terjadinya penembakan Pesawat komersial Korea tadi. Kalau salah membelokkan kemudi Pesawat satu derajat saja bisa masuk ke Tokyo, bisa juga salah ke Seoul, atau bahkan Russia. Apalagi anda pasti tahu, sewaktu tepat diatas titik Kutub Utara tadi, kompas jenis apapun akan mati karena tidak dapat menunjuk kearah Utara. Jarum magnetic yang ada didalam kompas istilahnya akan haywire atau morat marit tidak menentu arah penunjukannya.

Mari kita kembali ke awal masalah yang aku sebut tadi.

Perasaan tumpul pikiranku tadi mungkin adalah salah satu dari kejadian yang menunjukkan awal jalan menurun dari kurva sinus atau cosinusku. Aku mungkin sedang memasuki daerah titik kulminasi kehidupanku. Aku membayangkan bahwa disekitar titik kulminasi itu, ada sebuah daerah yang sempit atau luasnya tergantung dengan subyek yang mengalaminya. Apakah itu manusia, seperti aku ini, atau air yang pada titik kulminasinya akan bisa berupa sebagai uap dan gas sekaligus (bersama-sama, simultan). Apakah dia seorang Kyai atau pendeta atau seorang mantam menteri sebuah kabinet, luas daerahnya tidak akan sama.

Aku dan kyai dan pendeta serta menteri akan mempunyai daerah yang berlainan, baik luasnya ataupun sempitnya.

Apakah daerah lebih luas lebih menguntungkan atau tidak, itu tidak penting karena kadang-kandang tidak terjangkau kalau dipikirkan. Apalagi oleh otak awam yang aku punyai.

Yang aku inginkan dan aku harapkan akan terjadi dengan ijin Sang Pencipta, aku akan dapat bertahan karena akan ditimpa penyakit-penyakit atau rasa-rasa sakit seperti dialami seorang tua pada umumnya. Aku mengharapkan juga agar aku bisa mengatasi masalah pembiayaan kalau kesehatan membutuhkan biaya. Sudah banyak contoh hadir didunia yang aku saksikan sendiri; seorang kaya raya tidak dapat berbuat sesuatupun terhadap penyakit yang dideritanya, padahal harta bukanlah permasalahan bagi dirinya. Tidak juga dapat mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Selama ini aku telah melakukan banyak hal yang mungkin akan mengurangi penderitaan pada hari tua nanti. Aku dalam keadaan memiliki kondisi badan yang sehat pada umur enam puluh delapan saat ini, cholesterol normal, tekanan darah juga dan tidak ada kanker serta kelainan lain yang meminta diperhatikan. Aku masih makan apa saja dengan pedoman: tidak berlebihan dalam menyukai dan meng-konsumsi-nya pada setiap saat. Yang aku punyai ini baik kondisi kesehatan dan penampilan, telah banyak membuat teman-teman ku maupun orang yang baru berkenalan, mengatakan bahwa aku memiliki penampilan yang jauh lebih muda dari umur sebenarnya.

Meskipun aku bersenang hati dengan compliment seperti ini, aku tidak menjadi mabok kepayang, karena ini justru aku anggap sebagai peringatan agar selalu berhati-hati. Aku tahu tidak semua temanku mendapat kondisi seperti yang aku miliki. Bersyukur dan berdoa? Tidak cukup. Harus selalu waspada. Sampai saat ini aku masih dalam jalur yang benar dan normal. Yang menyebabkan aku akan berubah adalah hanya kondisi mentalku dan pikiranku.

Pikiranku tumpul? Aku pikir itu bisa terjadi pada siapa saja pada waktu yang manapun. Tetapi kalau benar itu akan berkelanjutan, aku juga siap diri dengan telah mulai membaca buku-buku yang membahas masalah memory otak kita. Aku juga sedang mengikuti kelas yang mempelajari ilmu menulis dengan focus kearah jenis Memoir.

Memoir mempunyai hubungan dengan kata memory yang berasal dari kata pada jaman Pertengahan English/Anglo-French: memoirie. Diambil dari kata bahasa Latin: memoria yang ditarik dari kata memor yang ada hubungannya dengan kata memory yang arti dasarnya adalah mindful (artinya: sadar atau hati-hati). Betapapun hati-hatinya aku dalam menghadapi hari tua maka aku tetap akan menerima kalau terjadi yang tidak seperti aku harapkan. Setidaknya sudah kulakukan tindakan-tindakan yang memang benar-benar seperlunya.