Pagi tadi secara tidak sengaja saya "mendengar" CNN di Internet menyiarkan berita tentang terbakarnya pesawat Garuda di Jogjakarta, otomatis saya lalu langsung menghidupkan TV dan mencari sumber berita dari TV Indonesia, namun baru kira2 15 menit setelah saya mendengar berita CNN, saya melihat Breaking News mulai disiarkan oleh Metro TV.

 
Pikirku, canggih juga CNN ini, kita sendiri belum tahu, mereka yang ada diluar negeri sudah tahu duluan. Pantesan banyak sekali "issue2 negative" yang tidak terdengar dikita, tapi ramai dibicarakan di luar negeri, seperti misalnya berita tentang Korupsi.
 
Setelah mengikuti beritanya dari macam2 berita TV hari ini, saya jadi teringat akan peristiwa yang mungkin hampir sama yaitu kecelakaan yang terjadi pada tanggal 3 Agustus 2005 yang menyangkut pesawat Airbus A340 milik Air France flight number AF358 di Airport Toronto, Canada..
Beda dan persamaannya yang saya dapat simak adalah sbb.:
 
1. Di Airport Toronto pada waktu itu sedang bad weather, hujan deras dan kilat menyambar, sedangkan tadi pagi di Jogja cuaca cerah.
 
2. Baik AF maupun GA mengalami "masalah" waktu mendarat, sehingga "overshoot" lalu pesawat meluncur melewati batas runway masuk nyelonong ke rerumputan/jalan akhirnya berhenti, pesawat terbakar dan rusak berat.
 
3. Lampu mati sebelum pesawat berhenti, penumpang panik mau turun lewat pintu2 darurat yang tidak semuanya bisa terbuka. Beberapa menit kemudian asap tebal yang menyelubungi pesawat berubah menjadi nyala api yang tidak terpadamkan. Menurut berita di Canada, waktu itu hanya ada 90 or 120 seconds antara pesawat berhenti dan pesawat terbakar. Kejadian di GA200 juga hampir sama.
 
4. AF358 mengangkut 297 penumpang + 12 awak, sedangkan GA200 mengangkut 127 penumpang + 6 awak kabin.
 
5. Tidak ada kematian akibat kecelakaan AF358 kecuali ada 43 orang yang luka2 ringan (non fatal), sedangkan GA200 "menghasilkan" lebih dari 30 yang meninggal dan entah berapa lagi yang luka tidak ringan.
 
6. Menurut berita dikoran Canada pada waktu itu, first officer mereka adalah orang terakhir yang meninggalkan pesawat, sedangkan di liputan camera Bapak Wayan dari Channel 7 Australia, menunjukkan paling tidak ada 2 stewardess yang termasuk dalam rombongan pertama yang lari menjauhi pesawat, sedangkan dilatar belakang masih terlihat banyak penumpang lain yang baru saja keluar dari pesawat. Sedangkan berita lain menunjukkan bahwa sang Pilot (Capt Marwoto?) langsung loncat dari cockpit sehingga "beruntung" hanya luka ringan saja. Pada waktu meloncat ternyata "beliau" lupa mematikan mesin pesawat sehingga terdengar nyaring sekali dalam gambar liputan Sdr Wayan.
 
7. Menurut beberapa artikel di Canada pada waktu itu, terselamatkannya seluruh penumpang dalam waktu sesingkat itu bukanlah suatu "miracle" saja, melainkan juga dapat terjadi karena upaya seluruh awak pesawt untuk menolong para penumpang sebelum menolong didrinya sendiri. Faktor inilah yang menentukan sekali apakah korban bisa kecil atau besar, karena dalam kecelakaan pesawat, banyak penumpang yang tidak tahu bagaimana cara untuk menyelamatkan diri dan juga untuk tidak menghalangi orang lain, sedangkan para awak pesawat sudah dilatih untuk bertindak bagaimana yang terbaik selama emergency ini dan "memimpin" para penumpang yang sedang panik.
 
8. Dalam satire Republik Mimpi beberapa waktu yang lalu, pernah ditanyakan apa ciri2 seorang nasionalis? Secara sinis, dijawab bahwa seorang nasionalis adalah orang yang memikirkan keselamatan/kepentingannya sendiri terlebih dahulu, lalu kepentingan keluarganya, lalu konco2 nya, lalu "partai"nya baru kemudian memikirkan orang lain.
Memang awak Garuda telah menunjukkan sebagai seorang nasionalis tulen dalam peristiwa GA200 ini.
 
Benarkah penglihatan saya? Barangkali ada yang bisa membetulkan kalau saya salah.
 
Terima kasih atas perhatiannya.
 


 
Tambahan dari diskusi di Forum Apakabar – Thread: Din Syamsuddin Selamat Dari Terbakarnya Pesawat Garuda
 
Oom PB bener! Orang awam tidak terbeban untuk melakukan heroicstapi 'pemimpin' apapun jabatannya lebih diharapkan menunjukkan kepemimpinannya. Salah satu bukti kepempimpinan seseorang ialah kepeduliannya thdp orang di bawahnya.
Lama sebelum aku lahir ada seorang sodara aku yg terlibat dlm musibah Garuda jatuh & terbakar di Manado. Meski dia selamat dia berulang kembali masuk pesawat yg terbakar untuk menyelamatkan tiga orang penumpang lain yg luka2 dan tak bisa keluar sendiri. Sayangnya pesawat meledak dan dia mati terbakar di dlmnya tapi sesudah menyelamatkan 3 jiwa. Nama dia Bert Kawilarang, seoran Pamen KKO (sekarang Marinir). Dia pulang cuti ke Manado sesudah menang dlm suatu parachute jumping competition. Nah, kepedulian dia thdp orang2 yg lemah yg less fortunate dari dirinya serta disiplin KKO membuatnya melakukan the unselfish act tsb.
Gabriela K. Rantau

Opa Paul kirim SMS sesudah dia baca posting aku di bawah ini. Dia bilang sodara aku yg mati sbg pahlawan jatih & terbakarnya GA (Electra) di Manado all those years ago, namanya BERT PANGALILA.

Sorry for the mistake. Habis aku cuman denger ceritan yang terjadi 40 taon-an lalu, long before I was born.

Gabriela K. Rantau