02 Februari 2006
Banyak sekali bentuk ketergantungan / kecanduan yang meliputi jenis addiction dari kata asal addict. Ketergantungan hidup seperti anak kepada orang tuanya tidak saya golongkan kepada addiction yang dimaksud. Contoh anak-orang tua adalah bentuk alami dan paling positive. B

 

uktinya: saya mengisi formulir berisi pertanyaan-pertanyaan di situs Real Age.com antara lain pertanyaannya adalah apakah orang tuamu berganti-ganti pasangan? Berapa umur mereka waktu mereka meninggal dan apakah selama masa kanak-kanakmu kamu tetap hidup dibawah asuhan mereka? Hal ini amat menentukan dalam memperoleh hasil dari tujuan mengisi formulir. Umur saya 67 koma 7 tahun dinilai dengan hasil umur “sebenarnya” adalah 62 koma 3 tahun. Jadi ketergantungan kepada kedua orang tua yang sama amatlah dinilai positive.

Saya menghisap cerutu dalam beberapa belas tahun terakhir ini dan merokok putih sekitar tahun 1967 s/d 1977 kemudian berhenti selama sepuluh tahun, tidak merokok sama sekali. Saya mulai mencerutu pada sekitar 1993 sampai sekarang. Dalam masa hisap cerutu ini saya pernah mencoba berhenti selama dua minggu hanya untuk sekedar testing dan berhasil. Jadi saya menganggap bahwa saya tidak terlalu amat kecanduan dalam menghisap cerutu. Kalau saya sakit flue biasanya saya juga berhenti dan tidak memegang cerutu selama sekitar lima hari, tidak apa-apa. Moga-moga pada pertengahan tahun ini setelah keluar visa Permanent Resident, saya bersama istri akan pindah ke Kanada, saya sudah tidak perlu menghisap cerutu lagi.

Masalahnya disana hanya ditempat-tempat khusus saja bisa mencerutu, biarpun penggemar dan penghisap cerutu amat banyak. Saya tidak mau kalau diberi sebutan sebagai seorang yang addicted. Perkataan addict sendiri mempunyai konotasi kurang baik. Meskipun yang dengan niat baik tetapi berakhir kurang baik.

Ada contohnya: saya amat gampang jatuh kasihan dan iba hati kepada seseorang yang mengeluh kesusahan karena musibah dan karena nasib. Sudah terbukti kemudian, bahkan seringkali, yang saya kasihani dan saya iba-i hati itu adalah penipu. Saya tahu dan saya ikhlaskan saja lahir dan bathin. Niat baik dalam memberikan pertolongan, tetapi ternayata secara “sukarela” telah mau menjadi korban dan dibohongi. Ada dua sisi seperti sebuah koin dari “addiction” semacam ini.

Sebenarnya addict yang ingin saya fokuskan adalah isi pidato G.W. Bush dua tiga hari yang lalu, siorang semak – karena bush berarti semak, mengenai keadaan Amerika yang addictive to oil. Amat tergantung kepada minyak dalam kehidupan sehari-hari Amerika Serikat, dan kebetulan import minyak Amerika Serikat sebagian besar datang dari Timur Tengah. Hampir semua tindakan Amerika Serikat yang tidak disukai dunia selalu dilatar-belakangi oleh kebutuhan minyaknya. Hausnya rumah tangga dan industri serta kegiatan lainnya di Amerika Serikat memang harus dipuaskan dan diminyaki oleh bermacam-macam minyak. Dari masalah minyak inilah muncul keserakahan Pemerintah Amerika Serikat dalam memperolehnya. Saya menduga bahwa Amerika telah siap dengan rencana jangka panjang untuk dapat hidup diatas dunia ini dengan cara standard yang telah mereka tentukan. Cara standard mereka tersebut kira-kira seperti ini: Dengan gerak ekonominya sejak tahun limapuluhan maka mereka akan harus menyimpan minyaknya sendiri didalam tanah dan pengadaan persediaan minyaknya dengan mengimport dari manapun. Dengan demikian maka kalau persediaan dunia menurun dan akhirnya habis, maka mereka masih dapat meminyaki kehidupan Amerika Serikat. Mau bukti?

Bacalah buku berjudul Confessions of an Economic Hit Man (EHM) karangan John Perkins. Dia bekerja “di” perusahaan bernama Main yang sebenarnya perusahaan swasta yang resminya perusahaan bidang Engineering (Rekayasa), tetapi kemungkinan besar terkait erat dengan Pemerintah.

Si John ini mengaku pekerjaan engineering yang tercantum dinama perusahaan, sebenarnya tidak dilakukan oleh Main, akan tetapi yang dilakukannya adalah bertindak sebagai consultant yang dipercaya oleh World Bank, International Monetary Fund, Asian Development Bank atau badan-badan keuangan lainnya yang sesungguhnya dikendalikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Si John ini telah melanglang buana dan memberi prediksi tinggi tentang pertumbuhan Ekonomi di Venesuela, Equador dan Negara-negara Amerika Latin lainnya, Panama, Afghanistan, Iran dan Negara-negara Timur Tengah dan Asia Tenggara dan Indonesia. Dengan jasa rekayasa ini semua Badan Keuangan Dunia yang tersebut diatas berhasil mengucurkan dana-dana besar yang merupakan loan (pinjaman) kepada negara-negara tersebut tadi. Khusus kepada Indonesia secara ngawur diprediksikan bahwa Pertumbuhan Ekonominya akan mencapai 25 % (dua puluh lima persen). Itu terjadi pada tahun 1971-an yang seperti kita alami maka hal tersebut tidak pernah terjadi. Untuk apa diciptakan angka fantastis tersebut? Tidak lain adalah karena agar ada justifikasi terhadap pengucuran dana tadi. Di Indonesia ini dia pernah tercatat sebagai consultant untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam rangka “membantu” Indonesia untuk project Elektrifikasi Pulau Jawa. Secara lahiriah memang bukan main hebatnya, Indonesia akan dibantu untuk meningkatkan kehidupan penduduknya dan industrinya. Apalagi sudah disebar luaskan hal ini akan menyebabkan Indonesia tidak akan pro Komunis. Malah disebutkan juga bahwa tuan Suharto akan dibentuk dan diarahkan agar menjadi kaya raya seperti Shah Iran Reza Pahlevi, mengepalai sebuah negara kaya akan minyak. EHM yang satu ini, si John Perkins, selalu menginap di Hotel Borobudur yang mewah dan megah, bergaji tinggi melebihi gaji seorang anggota CIA atau FBI. Di Hotel ini selalu menginap atau berkumpul, keluarga dari para pekerja Pertambangan Eksplorasi minyak dan juga Perusahaan Eksploitasi Minyak. Perusahaan-perusahaan ini amat optimistis dengan cadangan minyak bumi Indonesia.

Project Elektrifikasi Pulau Jawa sungguh merupakan gambaran sesuatu yang amat menjanjikan dan kelihatan viable dan feasible.

Dana mengucur dari mana-mana untuk Indonesia demi agar negara kita tidak masuk kedalam lingkungan komunis, akan tetapi dengan tidak terasa Indonesia ternyata masuk kedalam lingkungan Lintah Darat yang disebut Pemerintah Amerika Serikat, dan ini memang terbukti benar. Saat ini tahun 2006 (buku John Perkins ini dicetak pada tahun 2004) terbuktilah: dengan mengikat utang-utang yang “dibantu” kemudahannya oleh Amerika Serikat, Indonesia tidak sanggup melepaskan diri dari utang-utang dan tetap membèbèk secara politis kepada Pemerintah Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lebih dari dari 5% dan utang-utang tersebut menjadi beban anak-anak dan cucu-cucu kita. Istilah John Perkins adalah: Pemerintah Amerika Serikat membangun Kekaisaran Dunia (World Empire). Setelah lebih dari tiga puluh tahun lamanya hal tersebut kelihatan hampir menjadi kenyataan. Orang miskin dibuat kaya dan enak-enak tidak memajukan diri, ditambahi kekacauan-kekacauan yang sengaja diciptakan untuk dapat diambil keuntungan daripadanya. Terhadap masalah ini semua, kalau kita mau memperhatikan lebih teliti, akan bertambah gamblanglah pandangan kita. Lihatlah Panama yang diserbu, Presidennya Noriega ditangkap dinegerinya sendiri dan dibawa ke Amerika, Marcos dari Philipina, Afghanistan dan lain-lain, bukan hanya Indonesia saja. John Perkins ini sekarang penuh penyesalan dan amat membenci sebuah bendungan (istilah yang digunakannya adalah si jelek berwarna abu-abu) untuk pembangkit listrik ditengah alam hutan indah di Venesuela. Dia juga menyesali telah ikut merusak lingkungan alam dan budaya karena telah “terpaksa” berbohong dengan prediksi-prediksinya yang keterlaluan.

Sebenarnya “bantuan” keuangan yang katanya dari Amerika Serikat itu tidak pernah mengalirkan uang dari negara dan pemerintah Amerika Serikat ke Indonesia. Uang pembangun project dikeluarkan oleh kontraktor-kontraktor seperti perusahaan Bechtel, Brown&Root, Halliburton dan Stone & Webster dan kawan-kawannya.

Sekarang kita mengerti mengapa Indonesia pada waktu itu pernah membangun secara physic semua sektor dengan lancar seperti tidak kekurangan uang saja. Pembangunan melaju dengan pesat, malah Suharto pernah dinobatkan menjadi Bapak Pembangunan.

Negara-negara yang pernah “ditangani” oleh John Perkins banyak yang bermasalah dan dalam keadaan dililit utang. Cover up yng amat rapi pernah digunakan agar operasi kegiatannya lancar terjadi, sekarang diungkap sendiri karena perang bathin yang belangsung didalam dirinya. Dia juga menceritakan bahwa di negara Equador: dari setiap jumlah minyak mentah yang ditambang bernilai sebesar US$100,– , maka perusahaan minyak yang mengoperasikannya memperoleh US$75.– . Sisanya yang sebesar US$25.– untuk digunakan pada pembiayaan Militer dan Pemerintah Equador dan menyisakan hanya US$2.5 (dua setengah Dollar AS) dalam menangani masalah kesehatan, pendidikan dan program-program yang menolong rakyat yang memerlukannya. Jadi dari US$100,– tidak lebih dari US$3,– (tiga Dollar AS) saja yang menètès ke rakyat yang paling membutuhkannya. Mereka inilah yang menderita karena digusur oleh pembangunan dam (bendungan), penggalian minyak, pengaliran minyak melalui pipa-pipanya, yang telah hidup setengah mati karena terpaksa menggunakan air yang tidak layak minum untuk kehidupannya.

Itulah sebagian rencana Amerika yang menyengsarakan dan sekarang terbongkar dengan cepat dan tidak dapat dicegah lagi. Jadi “keserakahan” kapitalisme telah demikian pesatnya sekarang telah menjerumuskan Amerika kedalam kesukaran karena output dari energi bumi yang ternyata amat terbatas.

Seperti diketahui didunia ini tidak ada yang langgeng karena yang langgeng itu adalah perubahan itu sendiri. Saat ini demokrasi sebenarnya bukan pilihan yang paling baik, akan tetapi belum ada yang bisa melebihinya. Tetapi disuatu saat nanti mungkin akan ada lebih banyak pilihan terjadi.

Kalau kita amati sampai hari ini Saudi Arabia tidak pernah berubah menjadi negara demokrasi karena model kerajaan yang sekarang telah menjadi pilihan yang mantap. Demikian juga halnya dengan negara-negara lain di jazirah Arab.

Marilah kita hentikan ketergantungan kita terhadap sesuatu yang fanatik sehingga akan menyusahkan diri sendiri. Begitu senangnya makan nasi sehingga tidak mau makan kalau tidak ada nasi, hal seperti itu bisa berakibat yang menumbuhkan kekecewaan dan pengeluaran biaya yang ekstra besar. Berubahlah dan bersedialah untuk ber-metamorphose sesuai keadaan sekeliling anda.