Satu lagi film mengenai taliban yang tidak kalah menarik adalah “Kandahar”. Film ini mengisahkan tentang seorang wartawati yang berusaha menunjungi adik perempuannya yang ingin bunuh diri di saat gerhana matahari pada akhir abad 20. Adik perempuan ini tertinggal di Kandahar dan kehilangan kedua kaki akibat terkena ranjau, sementara seluruh keluarga yang lain berhasil mengungsi ke Kanada.


Perjalanan “Nafas” ke Kandahar untuk mencegah adiknya bunuh diri tidak lah
mudah. Sebagai orang yang sedang mengasingkan diri tidak mungkin mendapat visa
kunjungan ke Afganistan, apalagi dia seorang jurnalis. Maka ditempuhlah cara
dengan menyelundup melalui Iran lalu membelah gurun menuju Kandahar.

Karena perempuan tidak boleh keluyuran sendirian, maka Nafas harus ikut dan
berpura pura menjadi salah satu isteri sesepuh suku yang akan pergi ke Kandahar.
Mereka menumpang kendaraan roda tiga mirip bajaj namun dibagian belakang serupa
bak pick-up yang tertutup kanvas. Sepanjang perjalanan Nafas dan isteri-isteri
sesepuh suku ini tidak boleh memperlihatkan wajah, harus selalu tertutup di
dalam burkah. Meski tubuh para perempuan ini tertutup burkah, namun pada saat
istirahat setelah makan siang, mereka mencat kuku, dan memoles bibir dengan
lipstik dari balik burkah mereka setelah selesai makan.

Setengah perjalanan rombongan ini di rampok, menyebabkan sesepuh suku dan
keluarganya memutuskan kembali ke Iran dan Nafas harus melanjukan perjalananya
sendiri. Disini dia bertemu seorang bocah laki laki yang di keluarkan dari
sekolah, karena anak yang bernama Khak ini tidah bisa melafalkan Quran dengan
benar.
Di sekolah ini,Mullah yang mengajar mengaji ini kadang secara tiba tiba meminta
semua anak yang sedang mengaji berhenti dan bertanya bagaimana menggunakan
pisau, anak yang di tunjuk harus bisa menjawab dengan tepat dan detail, dilain
kesempatan Mulah juga bertanya tentang Kalashnikov, dan anak yang di tunjuk
harus menjawabnya dengan tepat dan rinci. Pada saat mengaji seluruh anak harus
mengangukkan badan dan kepala mereka sambil melafalkan ayat suci.

Karena dikeluarkan dari sekolah Khak perlu pekerjaan untuk bisa makan, anak anak
yang di sekolah mendapat makan dari taliban. Sementara itu Nafas membutuhkan
penunjuk jalan untuk melanjutkan perjalanan, Khak perlu uang dan dia tahu jalan
menuju Kandhahar, maka terjadilah transaksi tawar menawar biaya jasa menjadi
penunjuk jalan. Sebelum si bocah ini memerima tawaran Nafas sebanyak USD 50,
Khak meminta untuk melihat wajah Nafas yang tertutup burkah, untuk memastikan ia
tidak akan ditipu atau dibohongi.

Perjalanan bersama Khak di lakukan berjalan kaki, bila bertemu wadi mereka
berhenti sejenak dan minum air wadi. Karena tak terbiasa minum air mentah, Nafas
menderita sakit perut dan pergi menemui dokter. Antara dokter dan pasien
dibatasi oleh tirai yang berlobang sebesar bola pingpong untuk memeriksa pasien.
Dokter yang laki laki ini tidak berbicara langsung kepada pasien wanita, tapi
melalui perantara.

Dizaman ini penyakit yang banyak berjangkit, adalah kelaparan, kekurangan gizi,
diare, cacingan dan malaria, penyakit umum bagi masyarakat miskin, dan
sesungguhnya pula dokter ini tidak pernah sekolah kedokteran, modalnya cuma
pengetahuan mengenai kesehatan di dunia barat.

Dokter ini seorang amerika hitam yang berpetualang mencari Tuhan, dia membantu
rakyat afgan berperang mengusir Soviet karena yakin Tuhan ada di pihak Afgan.
Setelah Soviet pergi dia berperang untuk Pastun melawan Tajik, karena Pastun
mengklaim Tuhan ada dipihaknya. Dilain waktu dia membela Tajik melawan Pastun
dengan alasan yang sama, sampai satu hari dia menemukan dua anak yang terluka
sedang menghadapi maut, yang satuTajik dan lainnya Pastun, ditengah kebimbangan
siapa yang harus di tolong dia berkesimpulan menolong umat manusia adalah cara
yang tepat dalam usaha mencari Tuhan.

Salah bagian dialog yang juga menarik dari sang dokter ini adalah mengenai
harapan, tentang apa yang membuat manusia tetap hidup. Dikatakan olehnya bahwa
harapan memang membuat manusia hidup, tapi tergantung juga dengan situasinya.
Air akan membuat orang haus tetap hidup, roti akan membuat si lapar tetap hidup,
dan wanita yang terbungkus burkah mempunyai harapan untuk dapat terlihat kembali
yang membuatnya tetap hidup. Di jaman taliban wanita harus tertutup burkah dan
dijadikan manusia kelas tiga, anak perempuan tidak boleh sekolah. Laki laki
harus berjenggot dan mengenakan turban.

Kaki palsu menjadi barang yang paling dicari oleh penduduk Afganistan, karena
banyak yang kehilangan kaki akibat ledakan ranjau. Dan kaki palsu ini di jadikan
barang dagangan oleh orang yang mencari keuntungan pribadi ditengah situasi yang
sulit.

Film keluaran tahun 2001 yang di buat oleh sutradara Iran, Moshen Makhmalbaf
mengambil gambar di Iran, dan di Afganistan secara sembunyi sembunyi dari
taliban. Film ini adalah campuran antara dokumenter dan fiksi yang sebelumnya
kurang dilirik, tapi kemudian dicari orang setelah peristiwa 911 termasuk juga
Mr. Bush.
Para pemain di film ini juga para amatir, namun bermain sangat baik. Film yang
berdurasi 90 menit ini sangat layak untuk di tonton.

Salam,
KA