4 December 2005  Hantu itu ada atau tidak?

 

Silakan kalau mau menjawabnya. Saya ingin berbagi memberikan pengalaman saya sejak anak-anak sampai saya sekarang berumur enam puluh tujuh tahun. Simaklah peristiwa-peristiwa ini. Pada tahun 1947 karena kota Malang diduduki Belanda, keluarga ayahku semuanya pindah mengungsi dari kota Malang ke Blitar. Rumah kita terletak di Jalan S.G.P. nomor 11. Rumahnya cukup lumayan besar ada tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga dan satu deret selasar untuk menuju kamar pembantu, kamar gudang, dapur dan kamar mandi serta sumur. Seluruh halaman mungkin sekitar 400 meter persegi. Garasi terbuka terletak disamping kiri depan rumah. Ayah saya hanya sebentar bisa berkumpul dengan keluarganya karena banyak melakukan perjalanan ke Jombang dan Mojokerto untuk melakukan perundingan dengan Van Mook, pejabat dan pembesar pemerintahan pendudukan Belanda. Selain itu juga sering ke Djogdjakarta yang waktu itu adalah Ibu Kota Republik Indonesia dimana Presiden Soekarno menetap. Sayapun pernah ikut ke Djogdja dan tinggal beberapa hari, di Jalam Merbaboe.

Waktu berlalu dengan cepat, saya murid kelas dua di Sekolah Rakjat di Jalan Penataran. Untuk praktisnya dari pada melalui jalan besar yang lebih jauh, ada jalan pintas yang saya sukai, berjalan kaki dengan kaki telanjang menuju sekolah melalui pematang sawah. Memang semua murid tanpa tanpa alas kaki karena memang tidak mampu dan memang tidak ada barangnya, jadi itu tidak menjadi masalah apa-apa.

Maklum dalam keadaan darurat perang. Perbedaannya dengan keadaan sekarang adalah waktu itu saya anak seorang Wakil Gubernur Jawa Timur.

Belanda sudah mencapai kota Kepanjen dan mendekati Blitar, segera kemudian mencapai kota Wlingi yang jaraknya hanya 11 Kilometer dari Blitar.

Selama menjalani route pematang sawah, saya pernah bertemu ular yang sekitar dua sampai tiga meter panjangnya, atau ada pesawat Belanda menembaki apa saja yang dibawahnya.

Memang saya tidak ditembak akan tetapi saya sempat takut dan menceburkan diri kedalam sepetak sawah yang baru selesai dibajak sehingga mungkin saya tampak seperti mummi dari Mesir atau tokoh dalam film The Swamp Thing. Pakaian Cuma dua pasang, jadi pulang dulu, biarpun yang satunya belum kering saya berangkat juga kesekolah dengan pakaian basah sedikit.

Jalan pintas favourite saya ini terletak dibelakang Sekolah dan Asrama SGP tersebut. Akhirnya SGP tersebut dijadikan markas dan asrama tentara pendudukan Belanda yang terdiri dari tentara KNIL campuran Belanda totok, tentara Cakra yang isinya orang Madura dan tentara dengan prajurit bekulit hitam asal Ambon. Jarak dari rumah saya dengan tembok belakang SGP sekitar tiga atau empat ratus meter jauhnya. Bila sore hari maka semua anggota keluarga ayah saya mau atau tidak mau harus masuk kedalam rumah, karena ada peraturan jam malam. Entah karena posisinya strategis para gerilyawan Tentara Rakyat Indonesia dan pemuda-pemuda kita sering bersembunyi di garasi. Mereka pada malam hari seperti itu “mengganggu” tentara Belanda dengan tembakan langsung ke SGP. Kelihatannya tentara pendudukan Belanda juga melakukan pembalasan dengan tembakan-2 kerumah dimana seluruh keluarga ayah yang sedang berada didalam rumah. Kami juga mengetahui dan mendengar para pejuang kita digarasi, akan tetapi tidak pernah berhubungan langsung atau bertemu muka dengan mereka. Pagi hari sekelompok tentara pendudukan ini berpatroli dan selalu mengawasi rumah kita mungkin karena saling tembak pada malam sebelumnya.

Kejadian seperti ini berlangsung cukup sering, sehingga pada keesokan pagi harinya saya selalu aktip mencari bekas peluru didinding di garasi, dan menjadikannya koleksi untuk souvenir.

Hidup kami amat susah, karena tidak ada uang, seperti pada umumnya orang-orang lainnya. Sering saya menyaksikan Ibu “menjual” baju-baju ayah, jas, kemeja dan celana. Saya tulis menjual dalam tanda kutip karena pada prakteknya adalah barter, alias tukar guling. Satu celana dengan sekian kaleng susu berisi beras. Dua tiga hari habislah itu. Lauk? Tentu saja mencari tumbuhan sekitar yang bisa dimakan, Saya sendiri sering mencari jamur yang disebut Jamur Barat. Pedomannya adalah tidak boleh mengambil jamur yang tumbuhnya satu sama lain kurang dari satu meter, karena kemungkinan beracun kalau dimakan.

Selama menghuni rumah tersebut semua anggota keluarga kita mengalami persinggungan dengan roh-roh halus yang makin hari makin menumpuk dan bertambah variasinya. Ayah saya sebelum pergi bergerilya di gunung Kelud, kalau sedang berada di rumah Blitar, juga merasakan hal-hal seperti itu. Beliau siang hari pernah lari dari kamar gudang di belakang, kedalam rumah. Beliau mengatakan melihat tumpukan tikar didalam kamar gudang tersebut sedang bergerak-gerak sendiri keatas dan kebawah pada hal semua tahu tidak ada orang didaerah situ.

Ada saatnya semua orang mendengar orang mandi pada malam hari, padahal kamar mandi ini setelah saya ikut menimba air dari sumur dan mengisi bak mandi, pada malam hari selalu dikunci dan anak kuncinya dibawa kedalam rumah.

Semua anggota keluarga biasanya berkumpul didalam ruang keluarga dan biasanya memakai lampu teplok / minyak tanah atau lilin. Dari garasi ini kalau tidak ada gerilyawan datang, biasanya terdengar suara juga seakan-akan ada orang disitu. Karena penasaran keesokan harinya saya menebarkan pasir diseluruh garasi dan memasang benang melintang dibeberapa titik dan menghubungkan ujung-ujung benang tersebut dengan kaleng dan apapun yang bisa berbunyi kalau jatuh. Malam itu tidak terjadi tembak-menembak tetapi ada suara-suara digarasi.

Pagi harinya saya lihat tidak ada bekas kaki dan tidak ada benda yang diujung benang-benang tadi yang berubah tempatnya.

Kalau memang ada orang maka seharusnya ada jejak kaki dan benda-benda pasangan saya akan jatuh. Semua tetap utuh dan tidak terganggu. Lama-kelamaan ibu saya mulai mendengar ada suara delman (dokar – mungkin asalnya dari perkataan dog cart) lewat, itu tidak masuk akal, karena ada jam malam. Pembantu laki-laki bernama Moesdi yang tidur dikamar tamu depan, bangun dipagi hari di halaman diluar rumah diatas tanah, tanpa ingat bagaimana dia pindah tidur, apalagi pintu rumah tetap terkunci. Wah makin lama makin merajalela kejadian-kejadian ini dan dokar malah bersuara masuk kedalam rumah, malam hari melalui kita semuanya yang sedang didalam rumah, lengkap suara roda dokar, suara kaki kuda dan suara khas gemerincing hiasan-hiasan kuda. Kita tidak berani berteriak atau bergerak, toh tidak ada apapun yang terlihat. Cerita berkembang dan ditambah dengan kelengkapan bumbu cerita, saya yang masih berumur kurang dari sepuluh tahun, ketakutan juga.

Akhirnya dari pada kita menunggu ayah yang tetap berada digunung Kelud ibu memutuskan untuk kembali ke Malang, biarpun berjalan kaki.

Ketika mendengar bahwa desa Sawahan dimana ayah bersembunyi dijatuhi bom dan diserbu Belanda, seluruh keluarga sudah siap mental untuk berjalan kaki menuju kota Malang. Akhir tahun 1949, ada konfirmasi bahwa ayah telah tertangkap di Sawahan dilereng Gunung Kelud oleh tentara pendudukan Belanda. Kalau tidak salah Pak Roeslan Abdoelgani juga tertangkap didaerah situ beberapa hari sebelumnya.

Rombongan kita dengan disertai bersama keluarga lain sekitar lima belas orang, berangkatlah semuanya ke kota Malang, berjalan kaki. Jarak kota Blitar dan kota Malang sekitar 84 kilometer, dan kita hanya sebagian kecil saja melalui jalan aspal biasa. Yang sering adalah melalui jalan-jalan pintas dari desa satu menyeberang jalan besar dan masuk desa lainnya.

Begitulah cara kita menuju kota Malang. Lama perjalanan sampai di kota Malang mencapai sepuluh hari lamanya.

Hari terakhir kita sudah masuk daerah pendudukan Belanda di sekitar Pakisadji beberapa kilometer sebelah selatan kota Malang. Kita semua bisa naik kendaraan umum menuju rumah kakek saya, M. Sjarbini yang saya sebut mBah Gede, di Temenggungan gang dua, dimana saya dulu lahir, tanpa bidan dan ditolong oleh nenek saya, yang ibu dari ibusaya. Hal ini baru saya ketahui ketika saya selesai belajar did an pulang dari Jepang, padatahun 1964. mBah Gede itu tinggi besar berkulit putih bersih dan kumisnya melintang gagah perkasa. Saya tidak terlalu berani memandang beliau, karena segan dan takut. Waktu kita datang dari Blitar, beliau setelah melihat kita semua menyatakan kegembiraannya dengan kata-kata: “Inilah yang saya tunggu-tunggu sejak lama”, sambil saya merasakan pandangan matanya yang tajam. Dirumah beliau ini kami semua tidak pernah merasakan gangguan “makhluk halus”. Beliau meninggal dunia beberapa hari sebelum sebelum Hari Penyerahan Kekuasaan dari Pemerintahan pendudukan Belanda (NICA) kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Ayah saya pun sudah bebas dari tahanan dan jabatan beliau sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur dengan pangkat Residen pun secara effektif dapat dilaksanakan. Pada awal 1950 kita sekeluarga pindah ke Surabaja (Surabaia) dan menempati rumah di Jalan Ondomohen nomor 84 yang letaknya tepat berhadapan dengan rumah kediaman resmi Walikota Surabaja, Jalan Ondomohen nomor 61.

Menempati rumah Ondomohen nomor 84 itu beberapa bulan, suatu sore ayah membaca surat kabar yang berbahasa Belanda De Vrije Pers.

“Wah lumayan juga”, kata beliau.

Saya tanya: “Apanya yang lumayan, Pak?”

Jawab ayah: “Ini dikatakan aku mau diangkat menjadi burgemeester van Soerabaia!”

“Apa itu?” saya tanya kembali karena saya tidak dapat meniru untuk mengucapkan kata burgemeester.

Kata ayah: “Walikota”.

Saya juga masih tolol dan menjawab “Oooo”. Maklumlah biarpun hari-hari aku mendengar bahasa Belanda disekeliling, tetapi karena benci sama Belanda, maka saya masukkan kedalam kategori saya: benci juga bahasa Belanda. Sampai hari ini biarpun saya mengerti sedikit kalau ada terdengar bahasa Belandanya orang Indonesia, saya tidak pernah punya perhatian.

Dan terjadilah kepindahan rumah lagi, kali ini hanya menyeberangi jalan yang lebarnya hanya sekitar enam atau tujuh meter saja. Kediaman resmi Walikota ini, saya tidak tahu persis berapa lebarnya, tetapi amat besar sekali, sampai saya dapat bermain badminton didalam ruangan yang disebut dengan istilah: Receptie Zaal atau setara dengan Balai Pertemuan. Perkiraan saya sekarang mungkin sekali luas tanahnya saja sekitar tiga ribu meter persegi. Kalau saya ingin menyendiri saya naik keatas genteng dan tidak seorangpun yang bisa mengira bahwa saya disitu.

Di rumah inilah mulai lagi kisah makhluk halus. Disamping kanan rumah waktu itu ada tempat sekitar lima puluh meter persegi berupa sebidang tanah yang menonjol keatas dan ditutupi oleh rumput. Disitu, saya dengar dari banyak orang, adalah tempat perlindungan kalau ada serangan udara. Waktu Jepang kalah dari Sekutu sekitar tahun 1945 dan kekuasaan diambil alih oleh Republik Indonesia, orang-orang dari prajurit sampai Perwira Jepang banyak yang dibunuh dan dimasukkan kedalam lubang perlindungan tersebut. Apapun cerita orang, saya sering menggunakan tempat itu sebagai tempat saya duduk dan bermain.

Waktu itu saya adalah murid di Sekolah Rakyat di Jalan Ambengan sebelah Kantor Polisi, yang sekarang baik sekolah maupun Kantor Polisi itu masih ada. Di sekolah inilah saya duduk satu kelas, kelas enam, dengan istri saya, Jekti.

Saya bermain badminton dan menendang-nendang bola didalam receptie zaal.

Di salah satu ujung ruangan ditumpuk kursi-kursi sekitar empat puluh buah, karena memang demikian mengaturnya kalau ruang sedang tidak dipergunakan secara resmi.

Suatu saat pada sekitar pukul tiga siang saya menendang bola dan bola masuk kedalam daerah tumpukan kursi-kursi tersebut.

Dengan pertolongan beberapa pegawai kantor Kotamadya Surabaya yang kebetulan berada didekat tempat itu, satu per satu kursi diangkat dan dipindahkan ketempat lain, akan tetapi bola tersebut sama sekali tidak ketemu. Setelah jelas seperti itu, saya cepat menuju kamar tidur saya dan memejamkan mata, bukan untuk tidur tetapi karena hati saya amat kencang berdebar.

Kejadian lain yang berkali-kali adalah suara orang berjalan sepanjang gang didepan kamar tidur ayah dan ibu saya, justru pada waktu siang hari. Bukan saya saja yang mendengar akan tetapi banyak orang. Masalahnya suara orang jalan itu tidak ada orangnya. Puncaknya saya alami pada sekitar pukul satu siang sewaktu saya baru datang dari sekolah. Saya tahu didalam rumah tangga ayah dan ibu saya, tidak ada seorangpun yang berada dirumah saat itu. Saya mendengar suara tersebut dan melihat dari pintu kamar saya sepasang sepatu perang serdadu Jepang tanpa siapapun yang memakainya dan berada dari saya kira-kira tujuh meter, berjalan seperti seorang tentara berjalan dengan derap militer. Dibelokan menuju gang panjang tersebut dia menghilang dan saya kejar kearah gang. Apa yang saya lihat? Tidak sesuatupun dan kembalilah saya kekamar.

Cerita mengenai adanya gerakan setan dirumah itu dan diketahui seorang wartawan menginterview ayah saya. Ayah bercerita bahwa beliau pernah dipanggil-panggil dengan kalimat seperti berikut: “Doel, Doel, turunkan harga beras!!” Karena dimuat dikoran saya sempat jadi sasaran pertanyaan siapapun karena saya adalah salah satu anak ayah saya, Doel Arnowo.

Suara memanggil seseorang misalnya ibu dipanggil dengan suara menyerupai suara ayahpun diketahui masyarakat. Jadi pada suatu saat saya sudah pindah ke SMP Praban, berkumpul di Pavillion di sebelah kanan rumah, menghadap ke Jalan Sedap Malam.

Lima orang kawan-kawan saya duduk di teras dan bermain kartu remi pada sekitar pukul setengah tiga siang hari. Mereka sudah tahu mengenai suara “ghaib” itu, dan salah satu mengatakan ayo main sambil menunggu dipanggil.

Karena asyik bermain dan ngobrol kita lupa dengan masalah suara memanggil. Tetapi ketika ada suara memanggil nama saya, saya segera mengetahui itu suara ayah saya. Saya menyahut sambil berdiri dan berjalan setengah berlari mencari sumber suara. Apa yang saya dapati? Beliau sedang tertidur ditempat tidurnya. Saya kembali dan hampir serempak mereka menanyakan kepada saya diperintahkan sesuatukah oleh ayah saya? Tadi dengan jelas mereka semua juga mendengarnya. Saya jawab ayah sedang tidur dan mereka kabur pulang segera dan tergesa-gesa.

Ayah saya dengan ibu sering duduk digang depan kamar tidurnya dan menghadap halaman rumput kearah garasi. Saya juga duduk disamping mereka, sore hari sekitar pukul tujuh. Ayah dan ibu mengatakan melihat anak-anak kecil dan semuanya tidak berbaju, berlari-larian kesana kemari. Sungguh mengherankan bahwa saya sama sekali tidak melihat sesuatu apapun.

Tetangga dan orang lain juga pernah melihat bola api yang sebesar buah kelapa melesat diudara dan berakhir diatas genteng rumah tersebut serta meninggalkan bunyi seperti petasan besar. Itu kata mereka sering sekali. Saya sendiri tidak melihatnya!!

Saya kira hanya itulah pengalaman yang tidak pernah saya bisa dan sanggup menerangkan lebih jelas lagi dari apa yang saya alami dan rasakan disekitar saya sampai waktu itu.

Ayah saya menjabat jabatan Walikota pada tahun 1950 selama hampir dua tahun. Selesai dengan jabatan Walikota, keluarga ayah saya pindah ke jalan Ronggolawe 14, Surabaya dan kira-kira beberapa bulan kemudian pindah lagi ke Jakarta dan saya tidak lagi mengalami yang aneh-aneh sampai sekarang.

Terakhir kali ada kejadian yang terjadi sekitar tahun 1990 di Desa Pasir Putih, Kecamatan Kuala Kuayan, Kabupaten Kota Waringin Timur di Propinsi Kalimantan Tengah, jauh sekali ditengah hutan belantara.

Saya bersama seratusan karyawan dan sebelas orang satpam mendirikan dan mengelola sebuah fasilitas pertambangan mineral berikut logam pengikutnya, antara lain: mineral emas.

Diatas area seluas sekitar seratus hektar, kami mendirikan semua fasilitas kegiatan menambang pasir alluvial untuk diextract emasnya, termasuk fasilitas tempat tinggal dan rekreasinya.

Banyak kejadian macam-macam yang saya dapatkan dari cerita para karyawan dan penduduk setempat.

Dari adanya perempuan berdandan resmi berkebaya malam hari pukul satu malam, sampai jenis binatang yang menakutkan. Saya membuktikan sendiri beberapa malam bangun tengah malam dan sendiri, tanpa ditemani siapapun, sambil mengontrol para petugas jaga. Saya tidak menemui sesuatu apapun yang tidak biasa. Jadi kesimpulan saya mungkin yang bercerita kepada saya mengalami halusinasi, mungkin terlalu lama berpisah dari keluarganya.

Tetapi pada suatu hari, pagi sekitar pukul sepuluh, seorang operator bulldozer yang saya tugaskan membuat lintasan sebuah jalan baru, datang berlari dan terengah-engah setengah menangis sambil mengatakan alat beratnya mogok dan dia mendapatkan firasat dari luar untuk berhenti.

Saya dengan tetua di Camp yang menjadi Komisaris perusahaan yang memang sedang berada di hutan meninjau camp, segera bergegas menuju kelokasi dimana bulldozer berada. Kami hanya berdua, saya membawa pisau besar dan kamera still siap memotret. Sampai dilokasi saya lihat bulldozer posisinya agak miring kalau diurut dari axis jalan yang dimaksudkan akan dibuat. Mesin alat berat tersebut dalam keadaan mati dan saya mulai memotret. Saya tidak melihat kejanggalan apa-apa yang lain lagi. Saya kembali menemui operator bulldozer yang sudah agak lebih tenang. Saya bilang kepadanya, kamu menenangkan dirimu saja dulu, cerita kepada saya nanti saja. Bapak Komisaris datang kemudian, saya tanyakan apa yang dikerjakannya disana? Dia tersenyum masam sedikit dan berbisik kepada saya, disaksikan orang banyak.

Cuma saya yang mendengar kata-katanya, yakni: “Saya hanya buang kotoran besar disana”. Hampir tergelak dan tertawa saya, tetapi saya tahan. Dengan muka saya yang serious saya ajak beliau kedalam ruangan dan setelah berdua beliau menceritakan kepada saya sebagai berikut.

Bahwa sesungguhnya segala bentuk hantu, setan, demit, kuntilanak dan jin sekalipun akan kabur, kalau diberi kotoran seperti itu. Saya sepakat kita diamkan saja masalah ini dan tidak cerita apa-apa kepada siapapun kecuali kita berdua saja yang tahu. Tidak beberapa lama mesin bulldozer terdengar distart seseorang dan beroperasi seperti biasa.

Saya tanyakan bagaimana operator yang tadi. Mereka menjawab bahwa dia sudah tenang dan akan akan bertugas lagi siang sesudah waktu istirahat siang. Kemudian sekali saya dengar dari pimpinan perusahaan pertambangan lain, seorang Malaysia, yang mendengar dari salah satu karyawan perusahaan saya, mereka berpendapat bahwa saya mempunyai kekuatan tertentu dalam masalah seperti ini. Saya katakan kepadanya: “You do not have to believe in those craps, I am just an ordinary human being” == bahwa dia tidak usah percaya yang seperti itu, karena saya orang biasa saja.

Saya tidak pernah menyinggung apapun masalah ini, dan saya duga banyak diantara karyawan malah berpendapat seperti itu dan makin menjadi-jadi, bahwa saya seorang yang tidak biasa. Saya biarkan saja karena saya pikir mereka mungkin memang ingin dipimpin oleh seseorang yang bisa dikategorikan bukan orang biasa. Yang penting saya tidak membohongi mereka apapun!! Dua minggu kemudian saya ingat film negative photo-photo saya pada peristiwa tersebut dan saya buat print copiesnya di kota Sampit. Memang photo-photo memperlihatkan cahaya-cahaya dengan warna kemerahan yang berada di tempat-tempat yang bukan semestinya. Saya tidak bisa menganalisa dan saya tidak ingin masalah seperti ini berlanjut-lanjut tidak menentu. Saya tidak menghendaki suasana yang counter productive bagi jalannya operasi perusahaan disana.

Saya memang tidak pernah diganggu binatang apapun kalau berada didalam hutan di Kalimantan ataupun ditemui makhluk yang berasal dari alam lain. Ini amat saya syukuri terutama setelah merenungkannya sebagai berikut.

Kalau kita memepercayai bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah pencipta seluruh alam dan isinya, termasuk jin dan setan, maka kita harus kukuh mengakui yang berikut ini. Manusia adalah makhluk ciptaanNya yang berperingkat derajat paling tinggi, mengalahkan s jenis makhluk ciptaanNya yang lain. Jadi kalau ada gangguan seperti yang saya alami sewaktu saya masih kecil seperti tersebut diatas, saya berpendapat bahwa sebaiknya kita jangan hirau terhadap makhluk seperti ini. Sebagai manusia yang merupakan makhluk lebih tinggi peringkatnya janganlah pongah, bertindaklah dan berlakulah seperti semestinya diharapkan.

Jangan menurunkan derajat manusia dengan cara lebih percaya kepada yang berkelas lebih rendah. Apalagi menggunakan mereka: setan, hantu, jin dan sebangsanya untuk memenuhi keinginan dangkal kita sebagai manusia, makhluk yang sudah ditakdirkan sebagai yang paling unggul. Pendapat seperti ini saya praktekkan sejak lama sekali, sejak saya berada di kuburan Karet pada tengah malam hari bersama beberapa teman saya sepetualangan setelah saya lulus dari Sekolah Menengah Pertama, sekitar tahun 1954 / 1955. Kami berada didalam kuburan itu berlomba siapa paling lama. Saya mengalami bahwa didalam kuburan baik pada malam hari maupun siang hari cuma biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Saya nomor dua terakhir yang keluar dari kuburan dan masih mencari, memanggil-manggil dan berteriak-teriak teman yang terakhir. Setelah bertemu dia juga cuma cengar-cengir dan tersenyum-senyum, bahkan sempat terpikir oleh saya dia ini apa menjadi gila atau bagaimana. Ternyata dia baik-baik saja. Justru satu orang yang tidak berani turun dari mobil, tinggal di mobil sendirian, malah membuat mobil jadi becek karena terkencing-kencing ketakutan!!

Sewaktu saya belajar di Jepang tahun 1959 dalam waktu satu bulan pertama masih tinggal di Seinenkan Hotel, apabila menuju ke Asrama Mahasiswa Indonesia di Iidabashi, Tokyo, selalu melalui pekuburan. Suatu saat saya datang malam hari kesana, saya baru menyadari, bahwa saya selama ini, kalau ke Asrama selalu berjalan didalam area pekuburan pada malam hari.

Ini adalah sesuatu hal yang tidak akan dilakukan orang Indonesia pada malam hari. Tetapi karena saya sudah berkali-kali melaluinya saya tidak menghiraukannya lebih jauh.

Kejadian berikut adalah susatu yang lain. Seorang teman wanita Jepang yang saya kenal dan telah beberapa kali bertemu mengajak jalan-jalan dan tiba-tiba saya bertanya kepadanya: “Mengapa kita sekarang menuju kuburan?”

Dia bilang “Ohaka wa steki desyo”. Kaget juga saya, karena katanya tadi adalah: “kuburan adalah tempat yang indah”. Jangan-jangan dia menganggap itu seperti rumahnya.

Makhluk apa perempuan ini?

Sesampainya disana pada jam empat sore, ternyata banyak sekali pasangan remaja atau lebih berumur, bermesraan terbatas. Wah, rupanya dia mempunyai niat seperti itu. Tetapi sebagai orang Indonesia saya belum bisa mengikuti cara begini ini. Akhirnya mungkin saya bertingkah laku seperti layaknya seorang pelawak karena serba salah, dan dengan gaya kikuk mengajaknya keluar dari situ!!