Perayaan daripada imlek sejatinya berlangsung selama 15 hari, dan berakhir pada cia gwe cap goh (bulan 1 tanggal 15, penanggalan holand/londo jatuh pada hari minggu tanggal 4 bulan 3 taon 2007). Pada itu malam biasanya dimeriahken dengan perayaan yang dinamakan capgomeh, yang berarti malam cap goh (15).

Seperti perayaan daripada imlek dan perayaan2 lainnya yang ada pada
negeri leluhur pinceng itu banyak hubungannya dengan para nong-jin
(petani). Kalau pada perayaan imlek, para nong-jin merayakan datangnya
musim chun (sin chun=musim semi baru) yang berarti datangnya harapan
baru agar hasil daripada pertanian akan berlimpah ruah. Maka pada ini
perayaan capgomeh, para nong-jin akan mulai melakukan itu usaha cocok
tanam.

Sudah menjadi satu kebiasaan perayaan capgomeh dimeriahken dengan festival
lampion. Anak2 bocah yang selalu paling gembira ria setiap menyambut datangnya
satu perayaan (makanya pinceng mau jadi bocah terus, biar bisa bergembira
terus). Ada lampion yang diboeat menyerupai rupa binatang yang menarik dan
bentuk2 lainnya yang dimaksudkan untuk menarik itu perhatian dari pada
orang-orang. Keluarga berkumpul lagi makan bersama. Ada pula penghormatan untuk
leluhur yang sudah meninggal. Semenjak lewatnya jaman kekacauan 98, barongsai
dan liong kembali ikut memeriahken ini perayaan.

Cerita mengenai perayaan daripada capgomeh mungkin sudah banyak diulas oleh
banyak siucai, termasuk mengenai dia punya histori dan lain2nya. Apa yang hendak
pinceng bagi ini waktu adalah suatu kegiatan yang juga dilakuken pada masa
perayaan capgomeh, yaitu Gotong Toa Pekong.

Sudah beberapa kali pinceng mengikuti ini perayaan. Pada taon lalu, pinceng
mengikuti ini perayaan gotong tao pekong yang diadaken oleh satu kelenteng
bernama Toa sebio yang terletak di bilangan perkampungan tionghua di kotapraja,
tepatnya di jalan kemenangan. Penanggalan holand / londo jatuh pada hari minggu
tanggal 12 bulan 2 taon 2006. Nama yang diberikan oleh taikoan yang berkuasa
untuk ini acara adalah Pawai Budaya. Ribuan ren-min dari berbagai lapisan, baik
itu toa-ya yang kaya raya atau pun ren-min yang bersahaja, ikut meramaikan ini
kejadian.

Arca dari pada shen (dewa) yang akan digotong telah disusun rapih dan kokoh pada
tandu supaya bisa bertahan terhadap goncangan di perjalanan nantinya. Tandu
dihias dengan meriah dengan warna merah yang sangatlah menonjol. Ada 4 shen
(dewa) yang sempat dicatat oleh pinceng yaitu Kongco Cheng Goan Cheng Kun, Thien
Khau Ciang Kun, Ma Kwan Im (Avalokitesvara) dan Ma Co Po.

Yang menggembirakan pinceng, disamping peragaan yang berdasarkan tradisi dari
negeri leluhur, seperti barongsai, Liong, pawai orang2 yang menyamar menjadi
pat-sian (8 dewa) dan lainnya, juga ikut memeriahken suasana kesenian dan budaya
setempat dari pada negeri pinceng. Pinceng mencatat ada itu Reog Ponorogo,
Sisingaan, Jejangkungan, Tanjidor dan lain-lain. Satu suasana pembauran yang
sangat bagus.

Rute perjalanan juga disusun dengan rapih, dimulai dari Toa Sebio menyusuri
jalan Glodok Pancoran, toko tiga, taman fatahilah, memutar balik ke bios, terus
menuju hayam wuruk dan memutar di olimo memasuki gajahmada dan masuk kembali
glodok pancoran.

Sepanjang jalan, bukan main-main renmin yang datang meramaikan ini perayaan
sampai tumpah ruah ke jalan, sehingga yang namanya kuda pedati untuk sementara
tempo tidaklah dapat melalui ini jalan. Secara silih bergantian, itu tandu yang
menggotong shen digotong secara bergantian dibantu renmin yang ikut menggotong
sembari melakukan atraksi memutar tandu secara angker dan wibawa. Ada 1-2 tosu
(pendeta tao) yang ‘kemasukan dewa’ melakukan peragaan diatas tandu dengan
pedang memainkan jurus2 silat sembari mengarahkan itu pedang ke punggung secara
berulang-ulang secara gesit untuk memperlihatkan keampuhan sinkang yang didapat
dari pengaruh shen. Akhirnya tosu menggores itu lidahnya dan dipakai untuk
menulis hu (semacam jimat dalam kepercayaan Tao).

Disamping tosu yang unjuk kemahiran kiamsut-nya, ada juga ahli lweekang yang
unjuk kebolehan dengan duduk diatas tandu yang alasnya dibuat daripada to
(golok) yang dijajarkan bangsa 4-5 buah. (Kursi mana mengingatkan pinceng pada
pekmo taikoan, seorang taikoan yang mengurus perjalanan. Bencana yang silih
bergantian dialami baik kuda pedati, burung besi atawa kapal laut telah membuat
itu kursi kebesaran yang sejatinya empuk menjadi seperti kursi dari to (golok).
Pekmo taikoan mau tidak mau kudu mengerahkan segenap lweekang dan gwakang
sembari pasang kulit badak pada muka dan pantatnya supaya boleh bertahan di
kursi kebesarannya.)

Selain daripada ikut memeriahkan ini perayaan gotong toa pekong, pada umumnya
ren-min melakukan doa dan harapan sesuai dengan keinginan masing-masing. Anak
muda yang belom bertemu pasangan mengharapkan cepat-cepat mendapatkan jodoh
setimpal, para pedagang tentu mengharapkan niaganya ramai dan mendapatkan hoki
yang berlimpah, para locianpwe berdoa dan mengharapkan agar diberi kesehatan dan
umur yang panjang, dst.

Haiya, pinceng hampir lupa memberikan sedikit kouw-koat (tips) jikalau ada para
cuwi enghiong lihiap yang akan mengikuti acara serupa di ini taon.
1. Siapkan badan dan pikiran yang segar, tidur yang cukup satu hari sebelumnya.
Sinkang di-charge sampai penuh, jangan sampai nanti ditengah-tengah perayaan,
sinkangnya sudah low-batt.
2. Pakailah pakaian dan sepatu yang ringkes sehingga anggota badan dapat gesit
dan lincah bergerak. Janganlah sekali-kali memakai pakaian pesta dengan sepatu
tinggi. Kerna disamping menjadi tidak gesit, jugalah dapat menjadi bahan
gunjingan orang-orang.
3. Bawa itu barang2 pribadi secukupnya sahaja, cukup surat pengenal diri dan
uang tael secukupnya. Bila perlu membawa hape, simpanlah di dalam kantong yang
aman. Jangan lupa, banyak anggota daripada Jeng-ji Sintouw (Raja maling
bertangan seribu) yang juga ikut meramaikan ini perayaan.
4. Kalu ikut menggotong toa pekong, jangan lupa kuda2 dan bahu harus kokoh.
Konon, dari gunjingan2 yang beredar, kalu sewaktu menggotong itu tandu shen,
kita tidak merasa berat, maka ada 2 kemungkinan. Pertama, shen merestui atawa
kata lain mengabulkan doa2 kita. Kedua, kemungkinan bahu kita lebih pendek
daripada yang lain, sehingga kitanya tidak merasakan itu beban tandu di bahu,
ini berarti bahu orang di sebelahnya akan merasakan beban yang lebih berat dan
mengakibatkan orang tersebut berpikir itu shen tidak merestui dia punya doa
atawa harapan.

Selama perayaan capgomeh, pinceng malah kesusahan mencari lontong capgomeh.
Malahan, itu lontong capgomeh berlimpah ruah tempo-tempo ada pesta nikahan.

Kionghi2…

cpt